Tampilkan postingan dengan label Lingkungan dan Konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan dan Konservasi. Tampilkan semua postingan

Agustus 14, 2012



Sekelompok ilmuwan menyatakan bahwa laut es Arktik meleleh lebih cepat dari perkiraan dengan laju pencairan es 50 persen lebih tinggi dari perkiraan ahli lingkungan. 

The Daily Mail mengutip pernyataan Badan Antariksa Eropa yang menyatakan bahwa menurut pantauan satelit 900 kilometer kubik es Arktik menghilang tahun lalu.

"Hasil analisis awal data kami menunjukkan bahwa laju penurunan bolume es di Arktik bisa jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya," kata Dr Seymour Laxon dari Centre for Polar Observation and Modelling di University College London (UCL), dimana data CryoSat-2 dianalisis.

Jika perkiraan itu terbukti benar maka perlahan kawasan itu akan bebas es.

Para ilmuwan meluncurkan CryoSat-2 tahun 2010 khusus untuk mempelajari ketebalan es dan kemudian kebanyakan studi difokuskan pada tutupan es.

Kapal selam juga digunakan untuk menganalisis es Arktik, yang dikatakan akan memberikan gambaran perubahan es di sekitar kutub utara sejak 2004. 

Hasil studi mengungkap bahwa kedalaman es sudah mengalami penurunan. Menurut data hasil eksplorasi menggunakan CryoSat, pada musim dingin 2004, volume es di tengah Arktik mendekati 17.000 kilometer kubik namun musim dingin kali ini volumenya tinggal 14.000 kilometer kubik. 

Volume es yang pada musim panas tahun 2004 mencapai 13.000 kilometer kubik juga menurun jadi 7.000 kilometer kubik pada musim panas tahun ini.

"Sebelum menggunakan teknologi CryoSat-2, kami bisa melihat tutupan es di Arktik pada musim panas menurun. Tapi kami hanya melihat sekilas apa yang terjadi pada ketebalan es. Terlihat jelas pula penurunannya, penurunan es pada musim panas bahkan tampak makin nyata," kata Prof. Chris Rapley dari UCL.

Temuan itu terungkap setelah publikasi hasil penelitian Universitas Kopenhagen awal bulan ini yang menyatakan bahwa es di kawasan Greenland tidak lebih rentan mencair dari perkiraan.

Beberapa foto yang diambil dari udara menggambarkan penipisan es gletser di sebelah utara Greenland dari tahun 1985 sampai 1993. Sementara pencairan es terlihat sejak 2005-2010, demikian menurut tulisan ahli dari Denmark, Inggris dan Belanda. 

Namun dalam pernyataan di jurnal Science, ketua peneliti Kurt Kjaer mengatakan masih terlalu dini untuk menyebut "masa akhir lapisan es" disebabkan oleh pemanasan global.

Tinggi permukaan air laut diperkirakan akan naik hingga tujuh meter jika semua es di kawasan Greenland meleleh.

(tri)

Editor: Maryati

Sumber : Antara

Agustus 06, 2012


Kini sudah tidak ada lagi kita bisa menemukan keberadaan kelompok kambing hutan dan kijang di bentang hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) di Senamat Ulu.

Jambi (ANTARA News) - Pejabat Pemerintahan Desa Senamat Ulu Kabupaten Bungo mengungkapkan saat ini keberadaan satwa langka khas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) seperti kambing hutan, rusa dan kijang tidak dapat ditemui lagi.

"Kini sudah tidak ada lagi kita bisa menemukan keberadaan kelompok kambing hutan dan kijang di bentang hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) di Senamat Ulu tersebut, kini sudah habis dikonversi hingga lebih 30 hektar," kata Rio atau Kades Senamat Ulu, Jefri SPd I di Jambi, Rabu.

Padahal, kata Jefri, hutan lindung Bujang Raba adalah hutan berstatus hutan konservasi sebagai penyangga TNKS.

"Dulu ada banyak satwa langka yang sampai bermain masuk ke kampung kita seperti kijang, rusa, beruang bahkan kambing hutan, datang bahkan berbaur dan bermain dengan ternak warga, kini semua hewan itu sudah tidak pernah lagi terlihat semenjak 2009 lalu Bujang Raba di tebang perusahaan Malaka Agro Perkasa (MAP) dan dua perusahaan grupnya," ujar Jefri.

Sebagai hutan lindung penyangga TNKS satwa-satwa TNKS memang memiliki teritorial sampai ke Desa Senamat Ulu dan 7 desa di sekitarnya, termasuk merupakan teritorial bagi satwa Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumtrea).

Karena terdesak, maka satwa herbivora termasuk kambing hutan lari masuk ke dalam hutan TNKS, sementara predator dan karnivora seperti harimau tidak bisa kembali masuk ke dalam hutan TNKS tersebut karena di dalam telah ada harimau lain.

"Harimau yang memiliki wilayah jelajah sampai 20 kilometer itu terdesak menghadapi dilema yang sulit, jika memilih masuk ke hutan TNKS maka mereka berisiko harus bertarung mati-matian dengan harimau lain yang lebih dulu berada di tempat itu," kata Jefri.

Sementara, tambah dia, jika mereka bertahan atau keluar dari kawasan yang dikonversi maka mereka akan terjebak masuk ke dalam kebun-kebun karet dan sawit milik warga yang berisiko terjadinya konflik dengan manusia.

(ANT-144)
Editor: Ella Syafputri
Sumber : Antara

Agustus 05, 2012




Peningkatan frekuensi dan intensitas badai musim panas akibat pemanasan global dapat menciptakan lubang-lubang baru pada lapisan ozon.


Dari beberapa penelitian dikatakan, fenomena badai musim panas mengarah kepada berkurangnya lapisan ozon yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi sinar ultraviolet. Badai akan menghasilkan lebih banyak uap air—yang berpotensi sebagai gas rumah kaca, ke stratosfer yang merupakan lapisan tengah dari atmosfer (sekitar 14-35 kilometer di atas permukaan Bumi).


James Anderson, seorang kimiawan atmosfer dari Harvard University menjelaskan bahwa kondisi seperti itu, meski belum terkonfirmasi, akan mampu untuk menyebabkan kehilangan ozon fatal (greater ozone loss). "Berdasarkan observasi terbaru, pada kondisi yang baik, uap air memicu reaksi kimia yang menipiskan lapisan ozon," tuturnya menambahkan.


Serangkaian penelitian Anderson dan para rekannya di Amerika Serikat menyimpulkan, bahwa unsur kimiawi di Kutub Utara saat ini berada pada tingkatan mendekati sangat potensial untuk menghancurkan ozon.






Pada penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science ini, diperhitungkan hilangnya ozon adalah 4 hingga 6 persen per hari di area stratosfer yang kaya uap air. Dampak tersebut bertahan selama beberapa minggu setelah badai.


Padahal para pakar mengatakan, bahkan reduksi minim dari lapisan ozon bisa memiliki dampak signifikan, yakni membuat orang-orang makin rentan terpapar kanker kulit dan kerusakan mata.


(Gloria Samantha)


Sumber: National Geographic Indonesia

Agustus 03, 2012

Hiu ini termasuk spesies langka dan statusnya terancam punah. Di Australia, jumlah hiu ini sekitar 200-400 ekor



 NGI - Hiu tutul atau disebut hiu paus (whale shark) terdampar di pantai baru Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (1/8), kemarin. Hiu ini memiliki panjang sekitar 13 meter, lebar tiga meter, sirip empat meter, dengan berat tiga ton.


Menurut Program Manager Animal Friends Jogja Dessy Zahara Angelina, hiu tutul tersebut sudah sampai pantai sekitar pukul 18.00 WIB dalam keadaan hidup. Namun, karena perlakukan warga sekitar yang tidak benar yakni mengikat ekor dan menyeret ke daratan maka hiu ini akhirnya mati.


Berdasarkan pengamatan awal, hiu ini berasal dari Australia dan terseret ketika sedang mencari makanan. Tak hanya itu, hiu ini juga diperkirakan mengalami disorientasi karena perubahan iklim drastis. Dessy melanjutkan, hiu ini adalah jenis ikan yang memiliki tubuh terbesar dan hidup di perairan basah dan tropis. Hiu ini memakan plankton dan tidak berbahaya bagi manusia.


Di Australia, hiu ini dilindungi karena keberadaannya sudah terancam di punah yakni sekitar 200-400 ekor. Namun, di Indonesia, hiu ini belum masuk sebagai hewan laut yang harus dilindungi.


Hingga sekarang, kata Dessy, keadaan hiu ini masih terdampar di bibir pantai dan mendapat perlakukan tidak etis dari masyarakat. Karena merupakan penemuan baru dan pertama, maka warga yang menonton justru mencongkel mata hiu dan menginjak-injak tubuhnya. Bahkan, warga pun ingin memotong-motong tubuhnya dan bermaksud menjualnya.


“Kami sangat berharap hiu ini segera mendapatkan pengamanan. Tadi ada yang mengusulkan agar hiu tersebut dijadikan sumber edukasi di universitas. Namun, hingga saat ini belum ada pihak pemerintah atau kepolisian yang mengambil tindakan atas hiu ini,” ungkapnya.


Suparman salah satu anggota Tim SAR Pantai Baru Pandansimo menambahkan, saat ini hiu ini tengah dijaga pihak SAR agar tidak dijarah oleh warga sekitar.


“Potongan tubuh hiu ini terutama siripnya sangat mahal. Untuk itulah, perlu penjagaan ketat terhadap hiu ini,” ungkapnya.


Beberapa hari sebelumnya, paus jenis sperm whale juga tewas di perairan Indonesia. Paus ini terdampar di Pantai Tanjung Pakis, Pakis Jaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (27/7). Meski berhasil diselamatkan dari Pantai Tanjung Pakis, paus ini ditemukan tewas beberapa jam kemudian di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 


(Olivia Lewi Pramesti
Sumber : National Geographic Indonesia



QUEENSLAND, KOMPAS.com - Upaya penelitian dengan mengebor dasar laut Antartika membuahkan hasil yang tak terduga. Ilmuwan menemukan bahwa hutan hujan tropis terdapat di Antartika 52 juta tahun yang lalu.


Dalam studi tersebut, dengan jalan pengeboran di wilayah timur Antartika, ilmuwan menemukan fosil pollen milik tanaman tropis yang menutupi benua Antartika pada masa Eocene, sekitar 34 - 56 juta tahun yang lalu.


Kevin Welsh, peneliti asal Australia yang melakukan riset tahun 2010 mengungkapkan, analisis molekul yang sensitif temperatur yang dilakukan menunjukkan bahwa temperatur Antartika sangat hangat 52 juta tahun lalu, sekitar 20 derajat Celsius.


"Dulu ada hutan di daratan, tak akan mungkin ada es, saat itu akan sangat hangat," kata Welsh seperti dikutip AFP, Kamis (2/7/2012). 


"Ini cukup meyakinkan, sebab pastinya imajinasi kita tentang Antartika adalah lingkungan yang dingin dan penuh es," tambah Welsh.


Welsh menuturkan, level karbon dioksida (CO2) di atmosfer diperkirakan menjadi faktor pemicu adanya hutan hujan tropis di Antartika. Kadar CO2 saat itu diperkirakan mencapai 990 hingga beberapa ribu ppm (parts per million).


Sebagai perbandingan, CO2 saat ini diperkirakan sekitar 395 ppm. Prediksi paling ekstrim dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menjelaskan bahwa es akan sangat surut di Antartika pada akhir abad ini.


Welsh meng merupakan pakar palaeoklimatologi menjelaskan, penemuan kali ini sangat penting untuk memahami dampak perubahan iklim, terutama menjelaskan seberapa banyak air yang disimpan di Antartika dalam bentuk es di permukaannya.


"Ini menunjukkan bahwa jika kita melewati periode dimana konsentrasi CO2 di atmosfer makin tinggi, sangat mungkin akan ada perubahan dramatis di area yang sangat penting dimana es eksis ini," papar Welsh.


"Kalau kita kehilangan banyak es di Antartika maka kemudian kita akan melihat perubahan dramatis pada ketinggian permukaan laut di seluruh planet ini," tambahnya.


Kehilangan es dan permukaan air laut naik akan menyebabkan banyak daratan hilang. Selain itu, Bumi juga kehilangan salah satu mekanisme pendinginan suhu lewat es. 


Es di Antartika bagian timur diperkirakan memiliki ketebalan hingga 3-4 km. Es ini mulai terbentuk sejak 34 juta tahun lalu. 


Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis kemarin.


Sumber :AFP
Editor :Asep Candra
Sumber Gambar : Puyol

Oktober 04, 2011




Gunung es di Austria menyusut secara dramatis musim panas ini, yang paling besar sejak udara sangat panas pada 2003, terutama karena sedikitnya jumlah salju pada musim dingin lalu, kata beberapa ilmuwan.

Gunung es Goldbergkees di Alpen, misalnya, rata-rata dua meter lebih tipis dibandingkan dengan kondisinya pada 2010. Gunung es itu kehilangan sebanyak tujuh persen massanya, kata lembaga meteorologi nasional ZAMG.

Gunung api biasanya menyusut selama musim panas dan bertambah lagi pada musim dingin, dan dalam beberapa tahun belakangan lebih banyak es telah mencair dibandingkan dengan yang telah menggantikannya. Namun tahun ini, hilangnya lapisan es sangat mencolok, kata ZAMG.

"Kendati musim panas 2011 tidak terlalu panas, kehilangan lapisan es itu sama banyaknya dengan yang terjadi selama musim panas 2003," ahli iklim Berhard Hynek.

Tingkat es jauh lebih sedikit daripada kondisi normal di Alpen timur, setelah udara sangat panas dan musim dingin yang kering. Di Hoher Sonnblick, yang memiliki ketinggian 3.000 meter, misalnya, tingkat tersebut hanya dua-pertiga dari kondisi rata-rata 80 tahun pada 1 Mei.

Gletser di gunung dan lapisan salju di kedua belahan Bumi telah merosot dalam beberapa dasawarsa belakangan akibat perubahan iklim Bumi, yang diduga oleh banyak ilmuwan disebabkan oleh peningkatan buangan gas rumah kaca.

Sumber : Antara

September 28, 2011

Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan 5 kota besar di Indonesia dalam hasil pemantauan polusi udara 1.082 kota di 91 negara. Hasilnya polusi udara di kota Medan tercatat yang paling tinggi melampaui Surabaya, Bandung, Jakarta dan Pekanbaru.



Survei tersebut dirilis WHO pada Senin 26 September 2011. Angka polusi tersebut disusun berdasarkan laporan tahunan kadar pasrtikel udara dalam udara yang disebut PM10.

PM10 merujuk pada sebuah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang yang bergerak di udara. Batas maksimal PM10 yang direkomendasikan WHO adalah kurang dari 20 mikrogram PM10 per meter kubik. Pada angka tersebut, polutan di udara dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang serius bagi manusia.

Menurut WHO, penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi. Industrialisasi serta penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik berkualitas rendah paling banyak menjadi sumber polutan yang berbahaya.

Data WHO menunjukkan Kanada dan Amerika Serikat memiliki kota-kota dengan tingkat polutan terendah. Hal itu mungkin disebabkan sebagian besar sampel diambil di kedua negara tersbut. Anehnya, negara besar seperti Rusia hanya diketahui kadar polusi pada ibu kotanya saja, Moskow, namun tidak dengan kota-kota lainnya seperti pada negara lain.

Seperti dilansir dari Guardian dan Huffingtonpost, Rabu (28/9/2011), beberapa orang menuding bahwa sampling tersebut menunjukkan data yang dimiliki WHO tidak sempurna dan seringkali berasal dari data tahun yang berbeda-beda. Meskipun demikian, ketersediaan data adalah langkah pertama untuk memperbaiki setiap kumpulan data yang tidak sempurna.

Rata-rata global PM10 di kota-kota dunia adalah 71 mikrogram/m3 kita. Iran, Mongolia dan Botswana menempati rangking teratas buruknya polusi udara.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut daftar WHO, Medan adalah kota dengan polutan tertinggi di Indonesia dengan kadar PM10 sebesar 111 mikrogram/m3. Medan menempati peringkat ke-59 kota dengan polutan udara tertinggi dari 1.082 kota yang disurvei.

Peringkat berikutnya adalah Surabaya pada peringkat ke-128 dengan kadar PM10 sebesar 69 mikrogram/m3. Disusul oleh Bandung pada peringkat ke-192 dengan kadar PM10 51 mikrogram/m3.

Jakarta menempati peringkat ke-238 dengan kadar PM10 sebesar 43 mikrogram/m3.

Kota terakhir di Indonesia yang disurvei WHO adalah Pekanbaru yang menempati peringkat ke-1001 dengan kadar PM10 sebesar 11 mikrogram/m3, atau sama dengan beberapa kota di Kanada dan Amerika Serikat seperti Edmonton, Honolulu, Quebec, dan lebih baik dibandingkan Sydney yang menempati peringkat ke-992 dengan kadar PM10 sebesar 12 mikrogram/m3.

WHO hanya menyebutkan penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi, seperti cepatnya industrialisasi dan penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik yang berkualitas rendah.

Pembakaran batubara dan kayu juga ikut menyumbang kotornya udara. Asap pembakaran itu berkumpul dengan emisi kendaraan yang menciptakan selimut kabut asap yang menutupi beberapa kota di dunia.

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Mei 04, 2011


PANGKAL PINANG, - Mayoritas terumbu karang transplantasi di Teluk Limau, Bangka mati. Kematian diduga akibat tutupan sedimen yang berasal dari penambangan laut.

Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung (UBB) Indra Ambalika mengatakan, 100 terumbu karang transplantasi ditanam pada 2009.

"Pada pemantuan Oktober 2010 diketahui empat terumbu karang buatan itu mati. Terumbu karang itu tertutup lumpur. Sisanya terlihat masih hidup dan mulai menempel di konsentrat balok semen yang dirancang untuk terumbu karang transplantasi itu," ujarnya di Pangkal Pinang, Senin (2/5/2011).

Namun, tim UBB pesimis terhadap terumbu karang lain saat memantau lokasi pada Maret 2011. Saat itu ada 17 kapal hisap timah dan puluhan tambang apung beroperasi di sekitar lokasi transplantasi. Kami khawatir karena kapal-kapal hisap dan tambang apung itu membuang berton-ton lumpur limbah penambangan. Arus laut membawa lumpur ke lokasi penanaman terumbu karang, tuturnya.

"Kekhawatiran itu terbukti dalam pemantauan pada Minggu (1/5/2011). Hanya dua terumbu karang bertahan. Sementara 98 lain mati karena tertutup lumpur. Terumbu karang tidak bisa bertahan karena sedimen lumpur terlalu tinggi. Air terlalu keruh dan tidak cocok untuk pertumbuhan. Padahal, dulu lokasi itu kami pilih karena ekosistemnya masih mendukung. Setelah kapal hisap beroperasi, daya dukung ekosistem menyusut drastis," tuturnya.

Sementara Kepala Dinas Kelautan Kepulauan Bangka Belitung Sugianto mengatakan, hal itu dampak ketidakjelasan tata ruang di Bangka Belitung. "Peraturan tata ruang tidak kunjung selesai dibahas karena banyak faktor. Belum ada pembagian jelas suatu wilayah untuk apa. Jadi, terbuka kemungkinan semua wilayah dipakai untuk apa saja," tuturnya.

Pihaknya sudah membuat ketetapan penambangan harus beroperasi minimal 1,5 mil dari pantai. Wilayah dalam radius 1,5 mil itu dianggap tempat berkembang biak ikan. Selain itu, sebagian nelayan juga lebih aman bergerak dalam wilayah itu.

Namun, banyak penambangan beroperasi di dalam wilayah 1,5 mil itu. Tambang apung dengan jarak kurang dari 200 meter dari pantai bisa terlihat di hampir seluruh pantai di Pulau Bangka. Tambang apung akan lebih banyak lagi beroperasi bila ada kapal hisap atau kapal keruk di suatu pantai.

Sampai saat ini, PT Timah saja mengoperasikan 11 kapal keruk. Sementara mitra PT Timah mengoperasi 55 kapal hisap. Tidak di ketahui berapa jumlah kapal keruk dan kapal hisap yang dioperasikan pihak lain di perairan Bangka Belitung. Pasalnya, tidak ada data pasti.

Sumber : Kompas


Jambi - Kegiatan illegal logging di Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah mengikis kelestarian taman nasional Berbak (TNB) yang sebagian besar berada di daerah itu.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Desa (Fokmades) Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Arie Suriyanto, di Muarasabak, ibu kota Kabupaten Tanjabtim, Selasa.

Arie menjelaskan, kawasan membentang di dua kabupaten yakni Kabupaten Tanjabtim dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) dengan luas mencapai 162.700 hektar. Sementara, sekitar 139.000 hektar diantaranya berada dikawasan Tanjabtim.

"Diperkirakan kerusakan kawasan TNB di Tanjabtim mencapai 60 persen dari luas keseluruhan di daerah ini sejak 2001 silam," ujarnya.

Menurut dia, dari 60 kerusakan tersebut terbagi dalam beberapa jenis kerusakan. 40 persen diantaranya termasuk kategori sangat parah karena dinilai telah punah akibat ulah manusia melalui illegal logging dan perambahan liar. 20 persen termasuk kerusakan sedang dan ringan, sehingga bisa dilakukan peremajaan kawasan hutan melalui reboisasi.

Hanya saja, upaya reboisasi juga dinilai belum bisa mengembalikan kelestarian TNB dikawasan Tanjabtim seperti sediakala.

"Yang patut disayangkan, kegiatan illegal logging sangat tersistem dan mengindikasikan adanya keterlibatan oknum aparat hukum dan pemerintah daerah," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, hampir setiap hari puluhan kubik kayu hasil olahan yang bersumber di kawasan TNB keluar dari sejumlah anak sungai dan bermuara di sungai Batanghari.

"Setiap ada yang ditangkap itu hanya pelaku di lapangan. Sementara aktor intelektual dibalik kegiatan illegal itu belum terjamah. Ini harus menjadi catatan khusus bagi aparat hukum agar lebih tegas mengungkap kegiatan illegal logging di Jambi," ujarnya.

Dia menambahkan, meski sering diadakan razia di kawasan TNB yang melibatkan pihak kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, upaya tersebut tetap saja bocor dan tak jarang berbuah tangan kosong.

"Untuk itulah, perlu adanya upaya konkret dan menyeluruh. Harus ada niatan yang baik mulai dari pemerintah dan kepolisian, sebab, TNB merupakan salah satu warisan bagi anak cucu kita di masa depan," tambahnya.

TNB dengan luas 162.700 hektar memiliki potensi alam menjanjikan yang tidak dipunyai daerah lain.

Sebagai Taman Nasional, Berbak mempunyai ekosistem yang masih asli, serta keunikan ekosistem lahan basahnya yang merupakan satu kesatuan ekosistem hutan rawa gambut dengan luas dua pertiga bagian dan hutan rawa air tawar yang sepertiga bagian, serta adanya kawasan pantai yang merupakan kawasan persinggahan burung-burung migran ditiap tahunnya.

Sebagai kawasan konservasi lahan basah yang masih asli dan unik serta kepentingannya bagi dunia internasional, maka melalui Keppres No. 48 tahun 1991 kawasan ini dimasukkan kedalam kawasan konvensi Ramsar yaitu perlindungan lahan basah secara internasional.

Sebelumnya Berbak merupakan kawasan suaka marga satwa yang penetapannya dilakukan sejak tahun 1935 oleh pemerintah Belanda.

Sumber : ANTARA News

Maret 24, 2011



Sabtu terakhir pada bulan Maret 2011 akan diadakan kembali sebuah kegiatan global yang di organisir oleh WWF berupa pemadaman lampu dan alat-alat listrik yang tidak terpakai selama satu jam. Pada tahun ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 8.30 malam sampai 9.30 malam waktu lokal.

Earth Hour yang pertama kali terselenggara pada tahun 2007 ini telah memasuki tahun kelima dimana jumlah peserta di tahun 2011 ini 224 negara telah bersedia berpartisipasi mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang hanya diikuti oleh 126 negara. Ada peningkatan 77% dari tahun sebelumnya membuktikan bahwa kampanye ini semakin diterima oleh banyak negara di belahan dunia.

Pada tahun 2010 dilaporkan setelah mematikan lampu selama 1 jam telah berhasil menghemat konsumsi listrik sebanyak 811 megawatt untuk Jakarta dan Bali. Jakarta dan bali merupakan konsumen listrik terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 78% dari total seluruh konsumsi nasional.

Di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 90 juta warga Amerika Serikat berpartisipasi, termasuk Las Vegas, Empire State Building dan Air Terjun Niagara. Di Filipina 1.067 kota dan lebih dari 15 juta warga Filipina berpartisipasi, di Vietnam negara ini berhasil menghemat 500 megawatt pada tahun 2010 tersebut, tiga kali lebih besar ketika negara itu berpartisipasi pertama kali pada tahun 2009.

Dan..lebih dari 4000 kota diseluruh dunia ikut ambil bagian termasuk bangunan-bangunan terkenal seperti Big Ben, Empire State Building, Sydney Opera House, Menara Eiffel, Parthenon, Gerbang Brandenburg, dan Kota Terlarang.




Tahun ini tema yang diusung adalah "Setelah 1 jam, jadikanlah gaya hidup" ,pada kesempatan ini Gubernur Jakarta sangat mendukung program ini dan berharap hemat energi dapat diajdikan pola hidup kita kedepan.

"Earth Hour jangan dilihat sekadar matikan lampu, menghemat listrik, tetapi kita ingin melihat ini sebagai way of life. Menghemat energi sebagai bagian pola hidup kita ke depan," Fauzi Bowo kepada Antara

Menurut WWF-Indonesia, jika 10% warga Jakarta berpartisipasi, maka Jakarta akan menghemat konsumsi listrik sebesar 300 Mwh selama satu jam. Jumlah tersebut setara dengan mematikan satu pembangkit listrik dan dapat menyalakan sekitar 900 desa serta mengurangi emisi karbon setara dengan 267,3 ton, menghemat lebih dari 267 pohon, oksigen untuk lebih dari 535 orang dan menghemat biaya sebesar 200juta.

Pada tahun 2010 perayaan earth Hour di Jakarta dipusatkan di taman Monas Jakarta Pusat, dan Pemrpov DKI memadamkan lima ikon kota lainnya yaitu Bundaran HI dan air mancurnya, Monas dan air mancur menarinya, Gedung Balaikota, Patung Pemuda, dan Air Mancur Patung Arjuna Wijaya (depan gedung Depbudpar). Selain itu dilakukan aksi dibeberapa kota lainnya seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Sayangnya di Bandung, solidaritas Earth Hour 2010 kurang tampak, seperti yang ditulis oleh Kompas




WWF-Indonesia menjelaskan tujuan Earth Hour 2011 adalah untuk melanjutkan target efisiensi energi dan perubahan gaya hidup di kota-kota besar di dunia dengan konsumsi listrik tinggi, dan berusaha mengaitkannya dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang lebih bersih dan berdampak minimal pada lingkungan.

Pada intinya, kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti: menggunakan kendaraan umum atau bersepeda untuk bepergian, hemat air, menanam pohon, dan lain-lain

Dalam jangka panjang, diharapkan Earth Hour mengangkat dan memancing semangat kepemimpinan di semua sektor agar bisa diadaptasi oleh pemerintahan dan korporasi di negara-negara partisipan untuk secara signifikan memasukkan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai bagian dari kebijakan yang mereka miliki supaya penurunan emisi gas rumah kaca bisa dilakukan secara komprehensif.

Jadi Earth Hour tidak bisa berhenti di 1 jam saja, melainkan diharapkan bisa diadaptasi oleh pemerintahan di negara-negara partisipan dan publik yang telah berkomitmen menjadi partisipan.

Harapan lainnya adalah untuk menjadikan hemat energi menjadi suatu gaya hidup di masyarakat dunia. Solidaritas tiap kota merupakan salah satu faktor yang menyebabkan partisipan Earth Hour terus bertambah. Dan terakhir sekedar mengingatkan..."sisakan" energi untuk anak cucu kita...

sumber : wikipedia, wwf, kompas

Maret 23, 2011


Hari Air Sedunia (World Water Day) diinisiasi oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 pada tanggal 22 Maret akan diperingati dan dilaksanakan oleh seluruh anggota PBB sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day). Peringatan ini diumumkan pada Sidang Umum PBB ke 47 pada tanggal 22 Desember 1992 dan setiap negara anggota PBB berkewajiban dan berkomitmen untuk berpartisipasi pada peringatan tersebut.





Peringatan ini ditujukan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Peringatan tiap tahun ini biasanya mempunyai tema, seperti pada tahun 2009 temanya adalah "Shared Water, Shared Opportunities, tahun 2010 bertema "Clean Water for a Healty World" dan untuk tahun ini 2011 bertema "Water for Cities:Responding To The Urban Challenge"

Indonesia, berdasarkan data dunia memiliki 6 persen ketersediaan air dunia. Apakah jumlah ini besar? Seperti kita ketahui, bumi kita ini terdiri dari 70% air dengan jumlah sekitar 1,4 ribu juta kilometer kubik. Angka yang sangat besar, sayangnya yang bisa benar-benar dimanfaatkan hanya sekitar 0,003 persen saja. Dan 6 % dari dari angka tersebut berada di Indoensia.

Seperti yang dikutip dari Kompas, berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2010 baru 36,6 persen penduduk Indonesia yang benar-benar bisa mengakses air bersih secara optimal, yakni minimal 100 liter per orang per hari. Secara nasional, penduduk yang kesulitan air bersih (di bawah 20 liter per orang sehari) jumlahnya berkurang dari 16,2 persen jadi 14 persen.

Namun, lima provinsi kondisinya berkebalikan, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Gorontalo, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah. DKI Jakarta— ibu kota negara—justru yang terparah. Pertambahan penduduk yang kekurangan air bersih (2007-2010) mencapai 11 persen. Ancaman penyakit akibat infeksi pencernaan, seperti diare, muntaber, tifus, dan kolera, kerap muncul.





Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih.

Tidak mengherankan jika ketersediaan air bersih menjadi menjadi masalah utama. Misalkan yang terjadi di Afrika 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan negara, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Sumber : wikipedia

Maret 22, 2011

Maret 09, 2011

Salam Alam...

Saya menerima surat ini di milling list gpid - volunteers , dan atas ijin dari Morgan Adrian, saya mempublikasikannya di Sida Acuta. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang terjadi di Belitung, dan tulisan ini adalah suatu penyataan sikap dari warga belitung yang diwakili oleh saudara Morgan Adrian.

Tidak ada tendensi lain selain menyuarakan apa yang terjadi di Belitung...


oleh Morgan Adrian

Masyarakat Belitung Menolak Proyek DOLPHIN ISLAND dan KAPAL ISAP di Perairan Kulauan Belitung

Belitung, 25 February 2011

Belitung, Propinsi Babel dikenal sebagai Pulau yang indah panorama dengan Panorama baharinya, namun sangat Disayangkan Pulau ini penuh dengan Bekas Tambang Berupa ’kolong-kolong’ dan lahan ex-tambang ...yang tidak terurus secara kasat mata dapat disaksikan dari udara. Menurut Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun Anggaran (TA) 2007 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pengendalian Kerusakan Pertambangan Umum Dan Penerimaan Royalti Tahun 2003 – 2007 di Bangka Belitung, diperkirakan lahan bekas pertambangan yang belum direklamasi sekurang-kurangnya mencapai 10.544, 95 ha. Dengan luas pulau Belitung yang hanya 480.010 hektar, lahan dan kolong ex-tambang yang belum direklamasi merupakan permasalahan serius terkait dengan kelestarian lingkungan hidup dan kelangsungan hidup masyarakat.

ilustrasi Pulau Belitung

Namun ironisnya di tengah gencar-gencarnya Belitung berupaya mempromosikan diri sebagai destinasi baru pariwisata nasional bahkan internasional, bukannya mereklamasi ribuan ha lahan kritis bekas tambang dan mengoptimalisasikan ratusan pulau-pulau/pantai alam tak terurus yang potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata namun nir-infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Belitung justru melakukan reklamasi 4.237 ha kawasan perairan Tanjungpendam dan sekitarnya, kawasan pesisir kuasa penambangan PT Timah yang sudah direklamasi beberapa waktu lalu menggunakan Kapal Hisap, dalam mega-proyek pulau buatan bernilai investasi Rp 3 Trilyun yang dinamakan Dolphin Island. Berdasarkan Memorandum of Understanding (MOU) yang sudah dilakukan pada akhir tahun 2010 lalu, Bupati Kab. Belitung akan menyerahkan investasi dan pembangunan proyek tersebut kepada PT Mekar Mulia Mandiri, perseroan baru berdiri tahun 2009.

Dolphin Island adalah rencana pemerintah Kabupaten Belitung untuk ‘membuat’ sebuah pulau, konon akan dijadikan sebagai kawasan wisata baru yang akan dibangun dengan menghisap material dasar laut dari kawasan perairan seluas 4.237 ha menggunakan 5 kapal hisap di sepanjang Pesisir Desa Juru Sebrang, Pantai Tanjung Pendam, Air Saga, hingga ke Batu Itam. Diatasnya akan dibangun lapangan golf, mall, fasilitas olah raga, dan sebagainya. Jika diasumsikan pengerukan sejauh kurang lebih 4-6 km ke arah laut maka panjang pesisir yang akan dikeruk sekitar 7-11 km selama kurun waktu 5 tahun yang direncanakan.

Pembangunan proyek pulau buatan Dolphin island di kawasan Pantai Tanjungpendam dan sekitarnya sebagai konsep pengembangan kawasan wisata bahari di Kabupaten Belitung patutlah dipertanyakan. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Tim Program Magister Ilmu Geografi Universitas Indonesia beberapa waktu lalu dan sempat dipresentasikan di Badan Pengembangan Daerah Kabupaten Belitung, bahwa kawasan pesisir-pesisir tesebut adalah kawasan yang mempunyai tingkat kesesuaian yang rendah untuk dikembangkan sebagaimana diatur dalam Keputusan Dirjen Pariwisata Nomor : Kep-17/U/II/1988 yang didasarkan analisis terhadap variabel perairan, variabel fisik pantai, serta variabel sosial ekonomi masyarakat, dikarenakan mempunyai penduduk yang padat yang merupakan perkotaan (Tanjung Pandan), serta bahan dasar lautnya berlumpur dengan arus dan gelombang yang cukup kuat. Bahkan beberapa kawasan pantai seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi

Penggunaan kapal hisap dengan alasan reklamasi menunjukkan rendahnya komitmen otoritas Kabupaten Belitung khususnya dan Pemprov Babel terhadap kelestarian lingkungan hidup daerahnya. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Laboratorium Perikanan FPBB Universitas Bangka Belitung dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), pengoperasian kapal hisap di peraritan Bangka telah membuat kerusakan parah di ekosistem terumbu karang (coral reef) di sejumlah perairan Kepulauan Bangka.

Degradasi terumbu karang (coral reef) yang parah ini berdampak pada turunnya produksi perikanan tangkap, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Berdasarkan penelitian Walhi Simpul Babel, pengoperasian Kapal Hisap di desa Permis, Rajik dan Sebagin (Bangka selatan), telah mengakibatkan penurunan 80% (Rp 300.000/sekali melaut) pendapatan nelayan di sekitar perairan tersebut. Proyek Dophin Island dikatakan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, namun kalau berpotensi menghilangkan pendapatan ratusan Nelayan di sekitar perairan sebesar Rp 300.000/sekali melaut selama minimal 5 tahun, di manakah letak kesejahteraannya?

Berdasarkan Pasal MOU yang ditandatangani oleh Bupati Kab. Belitung, Darmanshay Hussein dan perwakilan PT Mekar Mulia Mandiri, disebutkan bahwa kandungan mineral yang didapatkan dari reklamasi akan manjadi kepemilikan PT MMM. Hal ini menunjukkan adanya motivasi penambangan Timah di balik proyek reklamasi pesisir dan pariwisata sebagaimana yang sering disampaikan kepada publik oleh pihak Bupati dan Pemkab Belitung. Apabila memakai skema perhitungan yang digunakan oleh Pemerintah Kota Pangkal Pinang dalam proyek yang hampir serupa yaitu Water Front City di pantai Pasir Padi Bangka, maka diperkirakan bahwa reklamasi proyek Doplhin Island berpotensi menghasilkan 34. batang timah dengan kapitalisasi kurang lebih sebesar Rp 4 Trilyun dibandingkan dengan nilai investasinya sebesar Rp 3 trilun.

Berbagai misteri dan ketertutupan proses pembangunan Dolphin Island telah menimbulkan keresahan dan pertanyaan di dalam masyarakat Belitung bahwa proyek Dolphin Island adalah proyek penambangan timah berkedok reklamasi dan pariwisata. Untuk itu 42 RT/RW masyarakat di pesisir proyek DI yang terkena dampak langsung, masyarakat Belitung di perantauan dan berbagai LSM seperti LIRA dan Walhi simpul Sumatra Selatn telah menyatakan penolakan terhadap proyek Dolphin island dan kapal hisap di perairan Belitung. Bahkan tanpa sepengetahuan dan keterlibatan masyarakat sebagaimana dijamin oleh Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, proses AMDAL dan ijin prinsip pengoperasian kapal hisap sudah diam-diam berlangsung. Bupati dan jajaran Pemkab Belitung telah nyata melanggar UU Np.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ketidak-transparanan proses proyek Dolphin Island ini sekalipun tidak menggunakan APBN/APBD berpotensi tereksploitasinya kekayaan alam negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Atas kenyataan tersebut, masyarakat belitung yang concern menyatakan :
1. MENOLAK TANPA SYARAT PROYEK DOLPHIN ISLAND DAN KAPAL HISAP DI KABUPATEN BELITUNG. Dan mendesak Bupati Kab, Belitung, Darmansyah Hussein dan DPRD Kabupaten Belitung untuk segera membatalkan MOU dengan PT Mekar Mulia Mandiri dan menghentikan segala proses izin yang sedang berlangsung.
2. Mendesak Presiden SBY, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kelautan, Komisi II, Komisi IV, Komisi VII, Komisi X DPR RI, Gubernur dan DPRD Provinsi Bangka Belitung untuk melakukan intervensi menghentikan segala proses dan izin yang tengah berlangsung untuk proyek Dolphin Island.

Rapat Akbar Warga Belitung Tolak Pembangunan Dolphin Island

BELITUNG - Rapat akbar dihadiri lebih dari 1000 warga Belitung untuk menolak proyek pembangunan Dophin Island. Rapat akbar ini sekaligus menolak kehadiran kapal isap di perariran Belitung.

Rapat akbar digelar di halaman Gedung Nasional Tanjungpandan, Belitung, Sabtu (26/2/2011). 13 orator bergantian berorasi membakar semangat warga.

Sebelum aksi berakhir, perwakilan warga yang datang dari seluruh pesisir Kabupaten Belitung diminta membubuhkan tandatangan di atas sehelai kain putih sepanjang sekitar 20 meter. Tanda tangan tersebut sebagai bentuk kebulatan tekad menolak proyek Dolphin Island dan kehadiran Kapal Isap di peraiaran Kabupaten Belitung.

"Kepada seluruh warga yang hadir di Gedung nasional ini dipersilahkan menuliskan tandatangan di atas kain putih yang ada di depan saudara. Tandatangan ini akan kami bawa ke pusat sebagai bukti penolkan masyarakat Belitung terhadap Dolphin Island.

Mendengar ajakan Idil tersebut beberapa warga yang belum sempat membubuhkan tandatangan bergegas menghampiri kain yang dibentangkan di halaman Genas di depan panggung orasi. Kain sepanjang kurang lebih dua meter tersebut akhirnya penuh dengan tandatangan dan kesab pesan warga.
"Pertemuan ini bukan yang terakhir, tapi ini adalah awal kebangkitan masyarakat Belitung untuk lebih perduli terhadap lingkungan di Pulau Belitung ini.

kreadit foto : berita unik

Maret 07, 2011


Masyarakat yang masih menganggap luhur nilai kearifan tradisional, yang selalalu mengedepankan kesetimbangan antara kebutuhan mental spiritual dan fisik material.

Keseimbangan mereka terapkan pada setiap orang dan harus dilakukan setiap hari, Cinta kepada Pencipta, cinta pada Alam lingkungan dan cinta pada sesama manusia.Walaupun masyarakat adat ini telah berinteraksi dengan masyarakat luar adat mereka selama 150 tahun, tetapi tetap setia pada nilai kearifan tradisional yang mereka anut.

Filosofi cinta mereka kepada pencipta yaitu dengan ngabaratapakeun – ngabaratanghikeun (meng hayati dan mengamalkan) titipan dari Adam Tunggal; yaitu dengan mengadakan beberapa upacara adat ritual yang mengakui eksistensi keberadaan sang pencipta. Cinta kepada lingkungan Dengan pemahaman filosofi “ Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang di sambung “ (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, yang dianut oleh masyarakat adat Baduy, arti dari filosofi tersebut lebih mengingatkan pada manusia untuk tidak melawan hukum alam dan selalu tunduk dan bertasbih sebagaimana mahluk tuhan lain dan jagat raya, dan melalui upaya menjaga kelestarian lingkungan alamnya.

Homo hominus socius bukan hanya jargon semata tapi istilah ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, dengan selalu menjalin hubungan silaturahmi, menjauhi sifat kekerasan. Bahkan bila hutan larangan mereka dirusak oleh masyarakat di luar masyarakat adat masyarakat Baduy ini tidak main hakim sendiri, mereka melaporkan hal ini pada pihak pemerintah (Pengurus Kabupaten setempat) alangkah malunya masyarakat kota yang konon katanya terpelajar dan beradab, tetapi dalam kenyataannya masih ada yang kurang ajar dan tak biadab.

Keasrian dan keindahan alam baduy dilengkapi pila oleh rasa kebersamaan mereka, bila kita masuk ke daerah baduy dalam sepanjang jalan antara kempung ada beberapa rumah yang terletak diluar perkampunyan, manakala kita masuk ke halaman rumah tersebut di amben (teras rumah bamboo) kita akan menemukan buah2an dan kendi yang berisi air dan itu boleh dimakan oleh siapapun yang lewat dan memerlukan itu. Alangkah luhurnya budi mereka yang selalu menanamkan rasa kasih, sayang dan hormat pada sesama mahluk Allah…

Nu keur sono jarambah . . .

# Deni Rahadian 06032011- 22 : 25 #

Februari 21, 2011


Berdasarkan data yang dirilis oleh Yayasan Lupus Indonesia, penderita Lupus yang terdeteksi di Indonesia jumlahnya terus meningkat. Pada tahun 1998, penderita Lupus mencapai 586 orang dan pada tahun 2006 meningkat pesat menjadi 7.693 orang. Berarti penderita lupus di Indonesia bertambah sekitar 800 orang pertahun. Data terakhir yang diperoleh adalah pada tahun 2010 terdapat 10.314 odapus dan 9 dari 10 adalah perempuan.

Di masyarakat Indonesia, Lupus merupakan penyakit yang langka dengan jumlah relatif sedikit, dan pada umumnya masyarakat kita tidak banyak mengetahui penyakit ini. Pada penderita Lupus, produksi antibodi menjadi berlebihan sehingga menyerang jaringan sel dan tubuhnya sendiri dan dapat menyerang organ tubuh vital. Namun resiko lupus dapat dikendalikan dengan penanganan yang dini dan tepat, sehingga mereka dapat hidup dan beraktivitas dengan normal.

"Equatorial Peaks for Lupus" (E4L) yang dilakukan pada 16-31 Januari 2011 lalu merupakan misi pendakian sepuluh wanita demi penggalan dana bagi penderita lupus di tanah air. Mereka melakukan pendakian ke Gunung Cambaye di Ekuador, Amerika Selatan. Pendakian ini merupakan salah satu rangkaian misi pendakian tiga puncak tertinggi di ekuator, sebelumnya mereka melakukan pendakian ke puncak Kalapatar, Nepal pada tahun 2006, serta ke puncak Kilimanjaro, Tanzania pada tahun 2009.

Seluruh pendaki adalah perempuan berusia di atas 40 tahun. Mereka berasal dari berbagai latar profesi. Mereka adalah psikolog Ami KMD Saragih (46) sebagai ketua ekspedisi, Amalia Yunita (43), Diah Bisono (45), Veronica (47), Miranda Wiemar (43). Kemudian ikut serta pula Tejasari (42), Dwiastuti Soenardi (53), Heni Juhaeni (44), Myrnie Zachraini Tamin (47), serta seorang ibu ramah tangga Imas Emi Sufraeni (45). Dalam pendakian ini mereka akan didampingi oleh seorang pelatih tim, yang merupakan satu-satunya lelaki. Sedangkan satu-satunya pria yang menjadi pendamping pendakian adalah Rahmat Rukmantara, sebagai pelatih tim. Tim ini melakukan misi sejak 16 Januari 2011 hingga 1 Februari 2011.

Selain untuk misi kemanusiaan dalam rangka sosialisasi penyakit Lupus, serta penggalangan dana bagi odapus melalui Yayasan Lupus Indonesia (YLI), mereka juga ingin memberi inspirasi kepada masyarakat luas, khususnya perempuan. “Kami ingin membuktikan bahwa kami mampu melakukan sesuatu yang dianggap tidak mungkin bisa dilakukan oleh perempuan di usia 40 tahun ke atas,” ungkap Ami Saragih dalam jumpa pers di Jakarta.

Seluruh kisah perjalanan ekspedisi ke tiga Puncak Ekuator yang mereka lakukan tersebut, rencananya akan dituangkan ke dalam sebuah buku. Di mana hasil dari penjualan buku tersebut akan didonasikan untuk program sosialisasi penyakit Lupus, serta membantu para penderita Lupus (Odapus) yang kurang mampu.

Melalui pendakian ke Cayambe dan Chimborazo kali ini, YLI berharap dapat menarik perhatian masyarakat untuk mengetahui lebih jauh tentang penyakit Lupus. Serta yang tidak kalah pentingnya, yaitu dapat menggalang donasi dari berbagai pihak, seperti perusahaan, organisasi, maupun donatur perorangan.

Pencapaian pertama di Ekuador terjadi pada 25 Januari 2011, saat 10 pendaki ini melakukan pendakian selama 10 jam untuk menaklukan Gunung Cayambe. Dalam pendakian yang berlangsung sejak tengah malam hingga pukul 9.20 pagi waktu Ekuador atau pukul 21.20 WIB, akhirnya Veronica Moeliono (47) diikuti tiga pendaki yang tergabung dalam E4L berhasil mencapai puncak gunung.

"Saya terharu karena perjalanan pendakian ke puncak setinggi 1.000 meter ini dilakukan sejak jam 23.30 malam. Pendakian panjang yang sangat melelahkan, melalui gletser es terjal dan dinding es menjelang puncak," ujar Veronica dalam rilis yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Rabu 9 Februari 2011.

Sedangkan Gunung Cotopaxi berhasil mereka taklukan pada 28 Januari 2011. Saat pendakian keadaan cuaca tidak bersahabat, suhu di bawah nol derajat dan hujan turun terus menerus, menjadikan medan es lebih tebal dan cair. Selain itu ada tantangan batas waktu pendakian yang mengharuskan para pendaki bergerak cepat.

"Beruntung misi pendakian kami kali ini mendapat dukungan sponsor perusahaan suplemen kesehatan. Kami selalu mendapat tambahan tenaga, yang akhirnya bisa membantu kita menyelesaikan misi pendakian," kata Koordinator Tim, Ami Kadarharutami Saragih.

Pendapat Ami juga dibenarkan anggota tim lainnya, Amalia Yunita. "Kami belum pernah mendaki dua gunung sekaligus dengan masa istirahat hanya dua hari saja. Namun dengan meminum suplemen kesehatan, kami merasa penuh tenaga," katanya.

Gunung Cotopaxi adalah alternatif lain dari rencana semula tim ini akan menaklukkan Gunung Chimborazo (6300 meter) dengan lima puncaknya yang diakui sebagai gunung berapi tertinggi di Ekuador.

Perubahan rencana ini, karena pada saat itu salju telah menghilang dari Gunung Chimborazo dan hanya menyisakan bebatuan dan bongkahan es saja. "Kami tidak memiliki persiapan teknik memanjat gunung dengan kondisi seperti itu," kata Vera. (imt)

sumber viva news, national geographic Indonesia


Februari 09, 2011

Rhabdothamnus solandri nzpcn.org.nz

Penulis: Yunanto Wiji Utomo

Kepunahan burung ternyata bisa memicu kepunahan tanaman berbunga. Mau tahu alasannya? Jadi, beberapa tanaman bunga ternyata sangat bergantung pada burung untuk membantu proses penyerbukannya. Jika burung absen, maka proses pernyerbukan yang mengawali perkembangbiakan terganggu dan akhirnya akan memicu kepunahan.

Fakta tersebut telah dijumpai pada herba Rhabdothamnus solandri yang banyak hidup di wilayah North Island, Selandia Baru. Populasi tanaman herba tersebut menurun drastis sejak hilangnya dua spesies burung dari wilayah itu, yakni Anthornis melanura dan Notiomystis cincta. Dua spesies tersebut punah setelah tikus diintroduksi pada tahun 1870 dan menjadi pemangsanya.

Sebelumnya, ilmuwan dari Universitas Canterbury di Christchurch, Selandia Baru, membandingkan tanaman herba yang ada di North Island dengan tanaman herba di tiga pulau kecil lain, di mana 2 spesies burung tersebut masih dijumpai. Mereka membantu penyerbukan 79 tanaman herba dan membandingkan hasilnya dengan penyerbukan alami.

Ilmuwan menemukan, 70 persen tanaman di North Island dan ketiga pulau lainnya yang penyerbukannya dibantu ilmuwan menghasilkan buah. Tanpa bantuan manusia, hanya 22 persen saja tanaman di North Islands yang menghasilkan buah. sementara di ketiga pulau lainnya, persentase tanaman yang berbuah tanpa bantuan mencapai 58 persen.

Selain itu, peneliti menjumpai bahwa ukuran buah yang dihasilkan oleh tanaman di North Island lebih kecil. Biji yang dihasilkan juga 84 persen lebih sedikit, bukti bahwa tanaman sebelumnya tak terserbuki dengan baik. Jumlah biji yang lebih sedikit tercermin dari ratio populasi tanaman muda dan tua yang tak seimbang.

Dave Kelly, peneliti yang melakukan riset ini mengatakan, manusia masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Rhabdothamnus solandri dari kepunahan. "Kepunahan tumbuhan berlangsung lebih lambat dari kepunahan hewan, sebab tumbuhan bisa hidup lebih lama. Kita memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya," katanya.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, menurut Kelly, adalah mengembalikan populasi dua spesies burung ke wilayah North Island. Dengan demikian penyerbukan yang sempurna bisa berlangsung, membantu kelestarian spesies. Kelly memperkirakan bahwa tanaman herba yang kini berkurang populasinya bisa bertahan hingga 150 tahun.

Sementara itu, pakar burung dari Universitas Queensland di Brisbane, Australia, Martin Maron, mengatakan bahwa kejadian tersebut menggambarkan pentingnya peran burung. "(Kehilangan burung) tidak hanya kehilangan satu spesies dari muka bumi. Kehilangan spesies kunci di area tertentu bisa membuat ekosistem kolaps," katanya.

Sumber : Kompas

Januari 31, 2011


Kawasan hutan lindung Taman Nasional Kutai (TNK) di Desa Martadinata, Desa Suka Rahmat dan Desa Suka Damai di Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur kian hancur oleh berbagai aktifitas merusak lingkungan.

ANTARA di Sangata, Selasa melaporkan bahwa kawasan konservasi lingkungan itu sebelumnya sudah rusak akibat aktifitas pembalakan liar dan pembukaan lahan tanpa izin kini kian parah akibat kegiatan penambangan galian C, yakni menggali dan mengambil batu gunung kebutuhan bangunan.

Taman Nasional Kutai disebut-sebut "benteng terakhir hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Kaltim" dengan luas 189.000 Ha. Maraknya kasus perusakan hutan di kawasan itu, diperkirakan hampir 75 persen kawasannya sudah rusak baik dalam tingkatan biasa, parah dan sangat kritis.

Di kawasan itu, selain terdapat hamparan hutan damar terbesar di dunia juga memiliki berbagai satwa langka antara lain, Rusa Sambar, Uwauwa, Orangutan dan Buaya Maura.

Terlihat, puluhan warga yang melakukan kegiatan ilegal atau tanpa izin tetap nekat dengan mendirikan tenda-tenda di sekitar lokasi untuk melakukan kegiatannya sejak pagi hingga sore.

Dilaporkan bahwa warga yang melakukan kegiatan menambang batu gunung sekitar tidak saja melibatkan laki-laki, tetapi puluhan ibu-ibu rumah tangga ikut bekerja sebagai buruh harian.

Mereka seperti berlomba menggunakan alat tradisional, seperti cangkul untuk menggali dan palu besar untuk memecahkan batu berukuran besar itu.

Sejumlah kendaraan roda empat dan roda enam antri dilokasi penambangan untuk mengangkut batu berbabai ukuran ke Kota Bontang dan Sangata Kutai Timur

Petugas keamanan seperti tidak berdaya, padahal kegiatan penambangan ilegal itu berjarak sekitar 50 meter dari pos polisi unit Teluk Pandan Sektor Sangata, Kutai Timur.

Irwan (34) warga Desa Martadinata mengatakan bahwa kegiatan warga itu memang tanpa izin dan menyalahi peraturan namun para penambang liar berkilah bahwa hal itu akibat desakan kebutuhan hidup.

"Apalagi, kini akibat kondisi ekonomi tidak menentu, kehidupan warga sekitar daerah kian terpuruk," paparnya.

Bahkan, sebagian penambang liar itu, menurut Irwan adalah orang upahan karena sudah ada cukong baik dari Kutai Timur maupun Bontang --daerah terdekat lokasi-- yang menyiapkan gaji, peralatan dan transportasi untuk membawa keluar batu gunung yang dimanfaatkan untuk proyek bangunan atau jalan tersebut.

Hal senada dikatakan Syamsuddin (55) salah seorang buruh penambang batu yang mengaku kesulitan ekonomi untuk menghidupkan tiga orang anaknya.

Ketua Komisi III DPRD Kutai Timur Kasmidi Bulang, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa dewan akan membuat raperda inisiatif galian C.

"Potensi galian C di Kutai Timur cukup besar, makanya perlu ada produk hukum yang mengaturny," imbuh dia

Terkait status kawasan itu adalah TNK maka tindakan warga untuk melakukan penambangan liar di kawasan itu melanggar UU tentang Lingkungan Hidup.

Sumber : Antara

Foto : Greenpeace

Januari 13, 2011



Indonesia menjadi pemilik dari 1.594 jenis spesies burung dan menjadi negara ke lima terbesar dunia dari 10.000 jenis satwa itu yang kini berkembang biak.

Manajer program konservasi Perhimpunan Burung Liar Indonesia atau Burung Indonesia, Ria Saryanthi, di Bogor, Selasa, mengatakan, Indonesia telah menjadi satu negara "Mega Bird Diversity" dengan banyaknya populasi burung.

Hanya saja populasi yang banyak itu kini terancam punah akibat rusaknya habitat mereka yang menjadi tempat berkembang biak dan mencari makanan. Kini lima puluh persen jenis burung di dunia terancam punah karena habitatnya terusik kegiatan manusia.

Ria mengatakan, kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia. Dari seluruh jenis burung yang terancam punah, lebih dari setengahnya tinggal di hutan sebagai habitat utamanya.

Namun begitu, lanjut Ria, keragaman burung di Indonesia juga menghadapi ancaman. Pihaknya mencatat, 122 jenis terancam punah dan masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

"Rinciannya, 18 jenis berstatus `kritis`, 31 jenis `genting`, sementara 73 jenis tergolong `rentan`. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang burungnya paling banyak terancam punah," katanya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, selain perburuan dan perdagangan, penyebab utama terancam-punahnya berbagai jenis burung di Indonesia adalah gangguan atau tekanan pada habitat.

"Kegiatan manusia mengubah lingkungan alami (hutan) menjadi lahan pertanian, perkebunan, hingga pembangunan infrastruktur untuk kegiatan industri, merupakan serangkaian aktifitas yang menyebabkan berkurang bahkan hilangnya habitat burung," kata Ria.

Ia mengatakan, jenis-jenis merpati hutan (Columba sp.), uncal (Macropygia sp.), delimukan (Chalcopaps sp. dan Gallicolumba sp. ), pergam (Ducula sp.), dan walik (Ptilinopus sp.) merupakan keluarga merpati yang memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan habitat hutan.

"Tak mengherankan jika dari 122 jenis yang terancam punah, 12 jenis di antaranya juga merupakan suku Collumbidae," katanya.

Meningkatnya tekanan terhadap hidupan liar dan ekosistem alami ini, ujar Ria, disebabkan bertambahnya jumlah penduduk serta kebijakan ekonomi dan pembangunan.

Lebih lanjut ia mengatakan, timbulnya tekanan terhadap habitat alami juga erat kaitannya dengan kemiskinan, pemanfaatan sumber daya dan lahan hutan, serta pengembangan pertanian.

"Faktor-faktor ini yang mendorong terjadinya kerusakan habitat, meningkatnya polusi, dan pemanfaatatan sumber daya alam secara berlebihan," katanya.

Untuk mencegahnya, kata Ria, prioritas konservasi perlu dilakukan untuk mencegah semakin tingginya tekanan terhadap habitat. Pendekatan melalui pengelolaan kawasan konservasi oleh masyarakat dan kesepakatan pelestarian dengan pemilik lahan bisa dilakukan.

"Pendekatan ini memberikan kesempatan yang lebih fleksibel bagi pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan," katanya.

Ia menambahkan, di sisi lain, pendekatan alternatif dapat memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan angka kemiskinan di sekitar kawasan, yang sangat bergantung kepada sumber daya alam yang tersedia.

Sedangkan penguatan kapasitas masyarakat dapat dilakukan melalui pembentukan Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan, yang merupakan gabungan dari beberapa desa di sekitar kawasan konservasi.

"Kelompok masyarakat bersama pemerintah dapat bersama-sama menyusun strategi pengelolaan berdasarkan kesepakatan antara para pemangku kepentingan. Berbekal penguatan kapasitas masyarakat, diharapkan kawasan prioritas dapat dikelola secara partisipatif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat sekitar kawasan," katanya.

Selain itu, kata Ria, alternatif pengelolaan lain dapat dilakukan dalam bentuk konsesi untuk restorasi ekosistem yang bertujuan mengembalikan kondisi biotik dan abiotik sehingga tercapai keseimbangan hayati.

Melalui restorasi ekosistem, hutan yang sebagian telah rusak dapat diselamatkan dan dikembalikan sebagaimana kondisi aslinya.

"Restorasi ekosistem tidak hanya meningkatkan produktifitas hutan dan pelestarian keragaman hayati, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi sumber daya hutan untuk kesejahteraan masyarakat," kata Ria.

Ria mengatakan, rilis ini diterbitkan Burung Indonesia untuk memperingati Hari Sejuta Pohon yang diperingati pada 10 Januari setiap tahun.

Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia yang menjalin kemitraan dengan Bird Life International, Inggris. Burung Indonesia.

sumber : Antara
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff