Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Februari 04, 2020

(Ida Martalogawa)

Lamun bagja eunteup
Sanajan ngan sakerejep
Tangkeup sing pageuh
Ku hate anu deudeuh

Lamun bagja hiber deui
Diselingan ku kapeurih
Tampa sing pasrah
Ku hate nu sadrah

Hirup teh rupa kangkalung
Tiiran bagja reujeung tunggara
Anu meulit kana ati
Satungtung urang kumelip

Ulah aral ngarasula
Lamun anjeun manggih tunggara
Ulah lali ka purwadaksina
Lamun rajeun pinanggih bagja

Angger sujud tarimakeun
Kasusah ku hate sabar
Kasuka ku hate sukur


Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hawe Setiawan


Bila kebahagiaan hinggap
Meski hanya sekejap
Dekaplah sekuat tenaga
Dengan hati penuh cinta

Bila kebahagiaan terbang lagi
Berseling rasa pedih
Terimalah dengan pasrah
Dengan hati yang sadrah

Hidup bagai kalung seuntai
Suka dan duka sama terangkai
Membelit hati
Selama hayat kita jalani

Janganlah gundah gulana
Jika duka datang menimpa
Janganlah diri terlupa
Jika suka datang menyapa
Tetaplah sujud menerima
Duka dengan hati yang sabar
Suka dengan hati yang sukur
(Ida Martalogawa)

Mangka maneuh kadeudeuh sing pageuh
Mangka meulit kaasih sing dalit
Kangkalungkeun dina manah anu ihlas
Salendangkeun dina ati anu wening
Tanda bakti ka Yang Widi
Bawaeun urang mulang

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hawe Setiawan
Teguhlah cinta teguh tertanam
Eratlah kasih erat membelit
Kalungkan pada hati yang ikhlas
Selempangkan pada hati yang bening
Tanda bakti pada Hyang Widi
Bekal kita pulang nanti

Maret 04, 2011


oleh Bayu Bharuna

I decided that adventure was the best way to learn about writing. - Lloyd Alexander

Membaca selembar demi selembar catatan perjalanan Ibnu Battuta akan terasa ada kedekatan didalam hati dibandingkan membaca cerita para penjelajah lainnya. Antara lain karena catatannya merupakan yang pertama dalam mengulas keberadaan Kerajaan Islam pertama di nusantara yaitu Samudera Pasai. Kala sampai di Aceh pada tahun 1345 Ibnu Batuta melukiskan Samudra Pasai sebagai negeri yang hijau dengan kota pelabuhan yang besar dan indah. Penguasa kerajaan adalah Sultan Mahmud Malik al-Zahir yang dinilainya berpengetahuan luas dan memerintah dengan baik. Ia juga sempat menyinggung mengenai kerajaan Majapahit di Jawa.

Meski kepulauan nusantara telah lama dikenal oleh para geograf Arab, baru Ibnu Battuta yang menuliskan hasil kunjungannya kala itu, sehingga kisah perjalanannya lebih penting dari sudut sejarah. Bahkan ia mungkin satu-satunya pengelana yang menulis perjalanannya di seluruh dunia Islam di zaman Klasik.

Walau terkadang penulis dari Barat menggambarkan Ibnu Battuta sebagai pengelana gagah berani yang kerap mempertaruhkan nyawa menuju terra incognita, sebenarnya ia lebih mirip ulama yang selalu berkelana sambil memberikan pelayanan keilmuannya. Ia bukanlah seperti para pionir dari Eropa yang datang dengan kapal perang. Alih-alih ia merupakan cendikiawan yang setia terhadap nilai-nilai spiritual, moral dan sosial diatas ketaatan lainnya.

Pada tahun 1325 saat berusia 21 tahun Ibn Battuta memulai pernjelajahannya dengan mengarungi lautan dan menjelajah daratan sepanjang 117.000 kilometer. Ia menjelajahi Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, jazirah Arab, India, Asia Tenggara hingga Cina. Petualangannya yang terakhir adalah safari melintasi gurun Sahara menuju kerajaan Mali dengan rombongan unta. Setelah petualangannya yang terakhir tahun 1355 ia kembali untuk menetap di tanah kelahirannya di Maroko untuk melayani tugas kerajaan dalam bidang peradilan dengan jabatan terakhir sebagai pejabat kehakiman di sebuah provinsi. Sang maestro meninggal pada tahun 1363 meninggalkan kelautan ilmu yang luas.

Karena Ibnu Battuta bukan seorang ahli seni sastra, ia dibantu oleh Ibnu Juzayy dalam menyiapkan sebuah laporan perjalanan mengenai pengalaman-pengalamannya, untuk disajikan demi kesenangan Kerajaan Maroko. Penguasa Maroko sendirilah yaitu Sultan Abu ‘Inan yang secara pribadi meminta Ibnu Battuta menuliskan cerita-ceritanya. Ibnu Juzayy menyusun laporan perjalanan Ibnu Battuta dalam suatu bentuk karya sastra yang baik, sesuai standar kesusasteraan sebuah rihla.

Karya sastra rihla merupakan laporan perjalanan yang dipusatkan pada perjalanan ke Mekah. Sebagai suatu jenis sastra Arab, rihla merupakan karya yang populer di Afrika Utara antara abad ke-12 hingga abad ke-14. Rihla bukanlah sebuah buku harian atau suatu himpunan catatan harian sesuai kronologis perjalanan, sehingga amat berbeda dengan catatan perjalanan terkenal lainnya seperti Book of Marcopolo. Kadang dituangkan dalam bentuk syair, mengungkap hal-hal yang aneh dan kesimpulan-kesimpulan retoris. Laporan perjalanan itu dituangkan ke dalam suatu kisah yang menghibur dan memberi kenikmatan bagi telinga dan mata.

Laporan perjalanan ini lebih menyerupai karya sastra, sebagian berupa riwayat hidup dan sebagian merupakan ikhtisar yang ditulis pada akhir riwayat pekerjaannya. Penyusunan rihla ini sendiri baru dilakukan setelah Ibnu Battuta kembali dari petualangan-petualangannya dan menetap di tanah kelahirannya. Karena bentuk sastranya, dapat dipahami bila dalam rihla yang ditulis jauh setelah petualangannya selesai itu memiliki beberapa keraguan, kekeliruan dan terkadang memaksakan sikap kritis pembaca. Namun walau terhalang oleh kabut, dengan mempelajari secara lebih seksama para sejarawan akan dapat menarik ketepatan yang mengagumkan secara keseluruhan.

Tulisannya tak akan seperti catatan perjalanan lain yang mencatat hanya risalah geografi empiris, namun rihla secara keseluruhan menggambarkan kepribadian sang musafir, merekam budaya kosmopolitan sebuah peradaban, kesalehan yang terjaga dan keilmuan yang terang benderang. Perjalanan-perjalanannya memperlihatkan betapa luasnya dunia Islam di abad tersebut, dan ia dengan penuh kerendahan hati memperlihatkan sikap setianya terhadap nilai-nilai universal, moral dan sosialnya sebagai warga Dar al-Islam.

Sesuatu yang lain bisa dipelajari dari rihla karya Ibnu Battuta selain pengembaraannya itu sendiri, adalah bahwa sebagai pengelana seseorang tak terlepas dari pribadinya sendiri. Ia datang dari sebuah tempat yang jauh, latar belakang yang berbeda, pola pikir yang berlainan dan ide-ide yang tak sama. Menjadi menakjubkan bila perjumpaannya dengan pengalaman-pengalaman baru di tempat yang asing kemudian dapat diramu dalam sebuah “kisah yang menghibur dan memberi kenikmatan bagi telinga dan mata” tanpa ada tendensi apapun.

Desember 28, 2010

oleh Bayu Bharuna

Great river need to be respected, sick river need to be loved.

Agar merasa enjoy melakukan rafting di sungai Cikapundung orang harus menyukai olahraga arung jeram atau ia memang orang yang sadar lingkungan sehingga ingin memelihara kebersihan sungai atau warga yang penasaran asal muasal aliran sungai yang membelah kotanya. Dengan kondisi tersebut maka tak akan terlalu masalah dengan kondisi sungai yang memprihatinkan saat melakukan rafting. Jangan berharap menemui aliran yang jernih seperti di sungai Cikandang dengan pemandangan tepiannya yang indah, bahkan sungai Citarum yang terpolusi pun masih terlihat segar dibandingkan warna kecoklatan yang mendominasi aliran sungai Cikapundung. Maka bila hanya ingin berwisata menikmati keceriaan alam anda harus siap-siap kecewa dengan kondisi aliran sungai disini.

Jalur rafting sungai Cikapundung mulai dari Dago Bengkok hingga Babakan Siliwangi cukup aman untuk dilalui namun pada beberapa check point beresiko tinggi sehingga kalau tak terkendali akan fatal sekali akibatnya. Pada beberapa titik ada drop-an dan hidraulik yang lumayan, apalagi kalau debet airnya agak naik. Beberapa titik juga main stream nya berubah-ubah (acak) dalam jarak yg dekat, dan jalur nya hanya bisa masuk satu perahu jadi manuver harus sedikit cepat.


Setelah jeram rata-rata langsung flat jadi selalu ada waktu untuk menarik nafas dan rescue bila diperlukan, atau scouting untuk jeram berikutnya . Beberapa chek point yang menjadi patokan kala penyusuran kemarin adalah sebagai berikut:

Check point 1, air terjun Curug Dago setinggi 30 meter , andai “lebos” masuk ke air terjun..ya sudahlah..nanti dikasih nisan disitu.
Check point 2, dam water fank setinggi sekitar 3 meter, kalau lebos masuk sini masih bisa selamat bahkan sebenarnya sangat menantang untuk dituruni perahu karet. Lebih bagus lagi bila ada fotografer yang telah siap di bawah waterfank sehingga difoto biar keren, jadi memar-memar tak akan sia-sia.
Check point 3 jeram Leuwi Beurit, kalau masuk sini masih bisa lompat kepinggir tapi harus sigap bila tidak konsekwensinya akan tersedot ke dalam pusaran air di bawah dan baru muncul 3 hari kemudian. Untuk lining perahu memasuki celah batu ini harus dengan posisi miring.

Ada saatnya kala sungai selalu memberi penghidupan dan perlindungan pada manusia antara lain dengan menampung luapan air supaya tidak banjir dan menyediakan air bagi keperluan penduduk. Namun kekuatan sang sungai pun memiliki batas. Suatu ketika ia takkan sanggup lagi menyenangkan segenap peduduk kota. Ia bagai pekerja yang sudah menguras tenaganya selama 24 jam sehari tanpa istirahat namun beban kerjanya terus ditambah tanpa belas kasihan. Suatu hari sang sungai yang dulu perkasa, ramah dan ceria itu pun akan frustasi. Hanya tinggal waktu saja ia akan mengungkapkan kemarahannya. Berdoalah agar kita tak melihat amarah alam pada manusia.

Lihatlah sungai Ciliwung yang kerap memperlihatkan otot-otot kemarahannya dengan menenggelamkan sebagian Jakarta bila ia sudah terlalu muak dengan perilaku manusia yang tak tahu diri. Namun sungai Cikapundung belum pundung pada warga Bandung, ia masih mencoba melayani keperluan warga Bandung –walau didera keletihan.

Awak dari ketiga perahu karet tim Palawa yang menyusuri aliran sungai dari Dago Bengkok hingga Babakan Siliwangi merasakan benar rintihan sakitnya sungai ini. Toh walaupun dengan kondisinya itu, sungai Cikapundung tetap memberikan atraksi yang memukau dengan jeram-jeramnya. Seakan ia gembira kami mengunjungi dan mengajaknya bermain bersama. Barangkali inilah yang ia nantikan selama ini, bukan mereka yang menumpukkan kotoran dan sampah ke alirannya namun sekelompok orang yang memang ingin bermain, berbagi keceriaan, dan mengerti keadaannya. Dengan kondisi debet air yang memadai, anda akan merasakan rafting yang mengasyikan di sepanjang alirannya.

Namun seraya bercengkerama dengan sang sungai mereka mengayuhkan dayung dengan masygul yang tak biasa, tak lepas seperti kala mengarungi sungai-sungai lainnya. Terkadang samar-samar mereka bisa merasakan rintihan dari sang sungai, tempat mereka semua pernah dibesarkan dan menuntut ilmu. Bagaimanakah perasaan anda kala ada orang tua yang sedang sakit namun masih bersemangat bermain dengan anak-anaknya, hanya untuk menyenangkan sang anak. Ia masih memperlihatkan tenaga dan kecerian nya yang tersisa. Ada sakit terasa kala menyadarinya, namun tak seorangpun memperbincangkan. Hanya kegelisahan yang tak tuntas.

Foto by Ayung W Sachi
Lokasi Waterfank, check point 2

Oktober 15, 2010


Ijinkan aku berdoa,
bukan agar terhindar dari bahaya,
melainkan agar aku tiada takut menghadapinya
Ijinkan aku memohon,
bukan agar penderitaanku hilang,
melainkan agar aku teguh menghadapinya
Ijinkan aku tidak mencari sekutu dalam medan perjuangan hidupku,
melainkan memperoleh kekuatanku sendiri
Ijinkan aku tidak memohon keselamatan dengan ketakutan dan kegelisahan, melainkan memiliki harapan dan bersabar untuk memenangkan kebebasanku

Berkati aku, sehingga aku tidak menjadi pengecut dengan merasakan kemurahanMu dalam keberhasilanku semata
Tapi biarkan aku menemukan genggaman TanganMu dalam kegagalanku.



(Rabindranath Tagore)

kredit foto : thefamouspeople.com

Oktober 11, 2010




Kami kaum pengembara
Senantiasa mencari jalan yang lebih sepi,
Tak pernah menyongsong pagi di tempat yang sama
Seperti kemarin masih kami huni
Dan tak pernah menyambut fajar di tempat yang sama
Seperti kemarin kami akhiri Bahkan dikala bumi tidur, berkelana jualah kami
Kami benih tanaman, dari jenis yang kuat bertahan
Dalam keranuman dan isi hatilah letak segala alasan
Mengapa senantiasa kami pawana
Dan tersebar kemana - mana

(Kahlil Gibran)

Februari 11, 2010

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja belukar,
Tetapi . . . .
Belukar yang baik, yang tumbuh ditepi danau.

Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput,
Tetapi . . . .
Rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi . . . .
Jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Tidak semua menjadi Kapten, tentu harus ada awak kapalnya.
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu . . . .
Sebaik-baik dirimu sendiri

(Iwan Abdurrahman)
(Douglas Mc Arthur)

Tuhanku, jadikanlah anakku
seorang yang cukup kuat mengetahui kelemahan dirinya

berani menghadapi kala ia takut yang bangun
dan tidak runduk dalam kekalahan yang tulus

serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan

Oh Tuhan, jadikanlah anakku
seorang yang tahu akan adanya Engkau

dan mengenal dirinya, sebagai dasar segala pengetahuan


Ya Tuhan, bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah
tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran
Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai
dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil


Ya Tuhan jadikanlah anakku seorang yang berhati suci,
bercita-cita luhur
sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu
Sesudah semuanya membentuk dirinya aku mohon ya Tuhan
Rahmatilah ia, dengan rasa humor sehingga serius tak berlebihan
berilah kerendahan hati, kesederhanaan dan kesabaran


Ini semua ya Tuhan dari kekuatan dan keagungan Mu itu
jika sudah demikian Tuhanku beranilah aku berkata:
"Tak sia-sia hidup sebagai bapaknya"
Tekadku hanya menuju tujuan utama


Herry (NPA S 1403006 PDR)

Kutanamkan kaki dalam - dalam di bumi
Kupeluk erat - erat bintang di langit
Kini aku terentang teguh - kuat
Diantara bumi dan bintang
Takkan runtuh oleh penyakit hidup
Takkan goyah karena badai
Takkan lekang karena panas
Dan mulailah aku meniti, menapak dan melangkahkan kakiku
Dengan pasti pada tempatku berpijak
Dengan berpedoman seutas cita -cita yang kutambatkan disini, dibelahan dada
Seiring detak peraduan jantungku


Pergi mengembara selagi usia masih muda
Sebab nanti bila janggut sudah turun bagai salju putih,
tak kan punya lagi waktu

Selain berbaring dengan muka sedih


Pergi mengembara kemana saja
Misalnya ke desa - desa melihat segala yang dapat dilihat
Mencatat segala yang dapat dicatat
Petani yang bagai kerbau dan kerbau bagai petani
yang selalu punya harapan,
betapapun kecilnya hasil yang mereka dapatkan

Pergi mengembara selagi usia masih muda
Sebab jika pantat sudah kapalan karena terlalu lama duduk di bangku sekolah
dan sudah kelewat lelah buat memahami segalanya
Pergi....
Pergi kemana saja menjelajahi kehidupan dunia
Dan jangan sekedar ikut kursus buat memerintah dan jadi pengurus


Pergi mengembara sampai batas kehidupan dunia
Dimana orang tiada lagi tahu apa sebenarnya yang dituju
Linglung kepada hal yang baik, bingung kepada hal yang buruk
Sebab kehidupan tidak seperti ujar kyai
Cukup dengan hanya mengaji, lalu mengunci diri
Sedang baris ayat suci jadi beku, lapuk dan basi
Dimana orang mulai merasa, dengan kehidupan ikut terlibat
Kebaikan hanyalah sekedar aturan minuman obat
Tunggu waktunya, nantikan saat yang tepat

Bagai sembahyang, tidak sembarang waktu kau kerjakan
Karena itu lebih baik pergi, cari apa yang bisa didapat
Selagi badan masih kuat, selagi pikiran masih sehat

II

Dan dikala matahari berangsur turun masuk ke kampuh pelupuk
Badan akan pelan - pelan membungkuk
Berat oleh dosa, ringkuh oleh usia
Dan sejak itu, siapapun mulai rindu

Inginkan ayat - ayat
Haus akan ilmu
Dahaga kalimat mu'jizat
Hingga suara kliningan penjual es kau sangka lonceng gereja

Atau suara lantang penjual ikan kau kira modin adzan

Nikmat mengenang waktu yang lewat
Itupun semacam kesibukan
Waktu sekedar rileks melemaskan urat - urat
Dan sambil membopong cucu kau sumpahi anak menantu
Karena keterlaluan, pulang dari luar negeri cuma membawa televisi

Dan kau marah garang melihat kehidupan jaman sekarang
Sebab dengan hanya membaca komik berani terjun ke dalam politik
Atau sambil memutar film cabul, berapat lalu membuat usul

III

Itulah semua, jika usia sudah tua

Bahwa selain encok, batuk dan selesma

Kau pun diserang nostalgia

(Dodong Djiwapradja)

Kredit Foto : Danis Aryo (HJL)


Februari 10, 2010

Sebuah puisi yang dibuat oleh bapaknya Dhinar (HNG) – Pendidikan Dasar Sadagori V Tahun 1985. Puisi ini menceritakan kebanggaan seorang ayah melihat anaknya yang berhasil mencapai cita-cita mendapatkan syal kuning Sadagori. Yang aslinya di tulis dalam bahasa sunda, terjemahan oleh Kang Nirwan (RBL)

JAJATEN SADAGORI
(Jati Diri Sadagori)


Saha nu teu reueus, anjeun nu pageuh ngeukeuhan kahayang
Nu teu meunang dihalang – haling
(Siapa yang tidak bangga akan dirimu yang teguh mengejar cita-cita)
Saha nu teu reueus, anjeun nu pageuh ngeukeuhan niat Nguatkeun tekad pikeun milampah nu pamohalan
(Siapa yang tidak bangga akan dirimu yang teguh memegang niat mengepal tekad menempuh sesuatu yang tidak mungkin)
Pageuhna kahayang kuatna tekad, Megatkeun kakabeh kamelang jeung kahariwang
(Kuatnya keinginanmu, kuatnya tekadmu, memutus semua kekhawatiran)

Tekadna pamadegan teguhna ngahontal tanda cinta,
Kuanjeun geus dibuktikeun
(Telah engkau buktikan kekuatan tekadmu mencapai tanda cinta)

Dina diri anjeun gening aya kakuatan anu luar biasa
(Dalam dirimu ternyata ada kekuatan yang luar biasa)
Dina diri anjeun gening aya tanaga nu teu kungsi Disangka - sangka
(Dalam dirimu ternyata ada tenaga yang tidak pernah aku sangka-sangka)
Dina diri anjeun aya kasabaran jeung wawanen
(Dalam dirimu ada kesabaran dan keberanian)

Sadagori, tutuwuhan lambang tekad anu kuat
(Sadagori, tanaman lambang tekad yang kuat)
Sadagori, jadi lambang kakuatan diri anjeun
(Sadagori, menjadi lambang kekuatan dirimu)
Sadagori, najan peurih jadi peurah sangkan gerah
(Sadagori, walau sakit tapi jadi kelebihan agar menjadi kuat)

Kareueus bapa bareng jeung ragragna cimata kabungahan
(kebanggaan Bapak beriring dengan jatuhnya airmata bahagia)

Kareueus bapa kabungahan anjeuna..
(Kebanggaan Bapak, kebahagiaanmu...)
Kareueus bapa bareng jeung saliwir koneng nu ngagantung dina beuheung
anjeun
(Kebanggaanku seiring dengan syal kuning yang menggantung di lehermu)
Saliwir koneng, tanda meunang ngalawan perjuangan meuntasan alam Alam endah nu ku anjeun dipicinta
(Syal kuning, tanda kemenangan melawan perjuangan melintasi alam. Alam yang indah yang engkau cintai)


Sumber : milis Sadagori – email Nirwan Nugraha (RBL)
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff