Februari 11, 2010

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja belukar,
Tetapi . . . .
Belukar yang baik, yang tumbuh ditepi danau.

Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput,
Tetapi . . . .
Rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi . . . .
Jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Tidak semua menjadi Kapten, tentu harus ada awak kapalnya.
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu . . . .
Sebaik-baik dirimu sendiri

(Iwan Abdurrahman)
(Douglas Mc Arthur)

Tuhanku, jadikanlah anakku
seorang yang cukup kuat mengetahui kelemahan dirinya

berani menghadapi kala ia takut yang bangun
dan tidak runduk dalam kekalahan yang tulus

serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan

Oh Tuhan, jadikanlah anakku
seorang yang tahu akan adanya Engkau

dan mengenal dirinya, sebagai dasar segala pengetahuan


Ya Tuhan, bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah
tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran
Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai
dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil


Ya Tuhan jadikanlah anakku seorang yang berhati suci,
bercita-cita luhur
sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu
Sesudah semuanya membentuk dirinya aku mohon ya Tuhan
Rahmatilah ia, dengan rasa humor sehingga serius tak berlebihan
berilah kerendahan hati, kesederhanaan dan kesabaran


Ini semua ya Tuhan dari kekuatan dan keagungan Mu itu
jika sudah demikian Tuhanku beranilah aku berkata:
"Tak sia-sia hidup sebagai bapaknya"
Tekadku hanya menuju tujuan utama


Herry (NPA S 1403006 PDR)

Kutanamkan kaki dalam - dalam di bumi
Kupeluk erat - erat bintang di langit
Kini aku terentang teguh - kuat
Diantara bumi dan bintang
Takkan runtuh oleh penyakit hidup
Takkan goyah karena badai
Takkan lekang karena panas
Dan mulailah aku meniti, menapak dan melangkahkan kakiku
Dengan pasti pada tempatku berpijak
Dengan berpedoman seutas cita -cita yang kutambatkan disini, dibelahan dada
Seiring detak peraduan jantungku


Pergi mengembara selagi usia masih muda
Sebab nanti bila janggut sudah turun bagai salju putih,
tak kan punya lagi waktu

Selain berbaring dengan muka sedih


Pergi mengembara kemana saja
Misalnya ke desa - desa melihat segala yang dapat dilihat
Mencatat segala yang dapat dicatat
Petani yang bagai kerbau dan kerbau bagai petani
yang selalu punya harapan,
betapapun kecilnya hasil yang mereka dapatkan

Pergi mengembara selagi usia masih muda
Sebab jika pantat sudah kapalan karena terlalu lama duduk di bangku sekolah
dan sudah kelewat lelah buat memahami segalanya
Pergi....
Pergi kemana saja menjelajahi kehidupan dunia
Dan jangan sekedar ikut kursus buat memerintah dan jadi pengurus


Pergi mengembara sampai batas kehidupan dunia
Dimana orang tiada lagi tahu apa sebenarnya yang dituju
Linglung kepada hal yang baik, bingung kepada hal yang buruk
Sebab kehidupan tidak seperti ujar kyai
Cukup dengan hanya mengaji, lalu mengunci diri
Sedang baris ayat suci jadi beku, lapuk dan basi
Dimana orang mulai merasa, dengan kehidupan ikut terlibat
Kebaikan hanyalah sekedar aturan minuman obat
Tunggu waktunya, nantikan saat yang tepat

Bagai sembahyang, tidak sembarang waktu kau kerjakan
Karena itu lebih baik pergi, cari apa yang bisa didapat
Selagi badan masih kuat, selagi pikiran masih sehat

II

Dan dikala matahari berangsur turun masuk ke kampuh pelupuk
Badan akan pelan - pelan membungkuk
Berat oleh dosa, ringkuh oleh usia
Dan sejak itu, siapapun mulai rindu

Inginkan ayat - ayat
Haus akan ilmu
Dahaga kalimat mu'jizat
Hingga suara kliningan penjual es kau sangka lonceng gereja

Atau suara lantang penjual ikan kau kira modin adzan

Nikmat mengenang waktu yang lewat
Itupun semacam kesibukan
Waktu sekedar rileks melemaskan urat - urat
Dan sambil membopong cucu kau sumpahi anak menantu
Karena keterlaluan, pulang dari luar negeri cuma membawa televisi

Dan kau marah garang melihat kehidupan jaman sekarang
Sebab dengan hanya membaca komik berani terjun ke dalam politik
Atau sambil memutar film cabul, berapat lalu membuat usul

III

Itulah semua, jika usia sudah tua

Bahwa selain encok, batuk dan selesma

Kau pun diserang nostalgia

(Dodong Djiwapradja)

Kredit Foto : Danis Aryo (HJL)


Februari 10, 2010

Sebuah puisi yang dibuat oleh bapaknya Dhinar (HNG) – Pendidikan Dasar Sadagori V Tahun 1985. Puisi ini menceritakan kebanggaan seorang ayah melihat anaknya yang berhasil mencapai cita-cita mendapatkan syal kuning Sadagori. Yang aslinya di tulis dalam bahasa sunda, terjemahan oleh Kang Nirwan (RBL)

JAJATEN SADAGORI
(Jati Diri Sadagori)


Saha nu teu reueus, anjeun nu pageuh ngeukeuhan kahayang
Nu teu meunang dihalang – haling
(Siapa yang tidak bangga akan dirimu yang teguh mengejar cita-cita)
Saha nu teu reueus, anjeun nu pageuh ngeukeuhan niat Nguatkeun tekad pikeun milampah nu pamohalan
(Siapa yang tidak bangga akan dirimu yang teguh memegang niat mengepal tekad menempuh sesuatu yang tidak mungkin)
Pageuhna kahayang kuatna tekad, Megatkeun kakabeh kamelang jeung kahariwang
(Kuatnya keinginanmu, kuatnya tekadmu, memutus semua kekhawatiran)

Tekadna pamadegan teguhna ngahontal tanda cinta,
Kuanjeun geus dibuktikeun
(Telah engkau buktikan kekuatan tekadmu mencapai tanda cinta)

Dina diri anjeun gening aya kakuatan anu luar biasa
(Dalam dirimu ternyata ada kekuatan yang luar biasa)
Dina diri anjeun gening aya tanaga nu teu kungsi Disangka - sangka
(Dalam dirimu ternyata ada tenaga yang tidak pernah aku sangka-sangka)
Dina diri anjeun aya kasabaran jeung wawanen
(Dalam dirimu ada kesabaran dan keberanian)

Sadagori, tutuwuhan lambang tekad anu kuat
(Sadagori, tanaman lambang tekad yang kuat)
Sadagori, jadi lambang kakuatan diri anjeun
(Sadagori, menjadi lambang kekuatan dirimu)
Sadagori, najan peurih jadi peurah sangkan gerah
(Sadagori, walau sakit tapi jadi kelebihan agar menjadi kuat)

Kareueus bapa bareng jeung ragragna cimata kabungahan
(kebanggaan Bapak beriring dengan jatuhnya airmata bahagia)

Kareueus bapa kabungahan anjeuna..
(Kebanggaan Bapak, kebahagiaanmu...)
Kareueus bapa bareng jeung saliwir koneng nu ngagantung dina beuheung
anjeun
(Kebanggaanku seiring dengan syal kuning yang menggantung di lehermu)
Saliwir koneng, tanda meunang ngalawan perjuangan meuntasan alam Alam endah nu ku anjeun dipicinta
(Syal kuning, tanda kemenangan melawan perjuangan melintasi alam. Alam yang indah yang engkau cintai)


Sumber : milis Sadagori – email Nirwan Nugraha (RBL)

Februari 09, 2010


1. Bentuk dan Struktur

Gunung Kerinci adalah puncak tertinggi di Sumatera dan merupakan gunung aktif tertinggi di Indonesia dengan tinggi 3.805 m dari permukaan laut. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Gunung ini menjadi gunung tertinggi di Indonesia di luar pegunungan Irian Jaya. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Di tengah taman terdapat celah lembah kota sungaipenuh, perkebunan kopi, dan danau Kerinci.
Gunung ini memiliki memiliki tipe strato (masih aktif dan memiliki kawah seluas 400 x 320 meter) masuk dalam TNKS seluas 1.484.650 hektare yang terletak di empat provinsi, sebagian besar taman nasional terletak di wilayah Jambi, Menurut M. Neumann van Padang (1951). Gunung berapi ini terhimpit diantara dua pegunungan di barat dan di timurnya, kerucut yang paling muda gundul dan kawah gunung ini terletak di timur laut sisa dinding kawah Berapi- Elok (3655 - 3649 mdpl), TNKS sendiri merupakan bukit barisan yang memanjang dari utara ke selatan pulau Sumatra. Penyebaran bahan hasil letusan dari puncak ataupun dari lereng Kerinci ke utara dan selatan adalah seluas lebih dari 25 km, sedang ke timur dan ke barat hanya 13 Km2. Kerucut yang termuda dan gundul, serta kawah terletak di timurlaut sisa dinding kawah. Kawah Kerinci biasanya terisi air berwarna hijau kekuningan. Pada Maret 1934 air danau ini sebagian bersar hilang dan bahkan kering. Sejak Februari 1937 sebuah danau baru muncul kembali. Dinding kawah bagian atas pada titik ketinggian antara 3645 – 3800 m berukuran 600m x 580m. Dasar kawah berukuran 120m x 100m, pada ketinggian 3360m. Sedang danaunya dalam 1932 berukuran 400mx 320m, ketinggiannya  3514m dml.

2.Cara Mencapai Kawah Puncak

Menurut van Hasselt (1878) pendakian dimulai dari Lubuk Gadang di Lembah Liki, mengikuti dasar Sungai Timbulun; pada hari pertama dan kedua tidak merintis. Hari ketiga mulai merintis dan akhirnya sampai pada tepi kawah. Lamanya pendakian satu minggi pulang-pergi.
Sudarmo dan Merto (1952) dengan Wiryosumarto (1964) mendakinya dari pesanggrahan perkebunan Kayuaro ( 1400m). Lamanya pendakian pulang pergi selama 3 hari, melewati pasanggrahan kehutanan di dekat puncak. Reksowirogo (1972), melaksanakannya dari Kampung Kersiktua (1500m). Hari pertama Kp Kersik Tuo – Pesanggrahan Kehutanan. Hari kedua Pasanggrahan Kehutanan – puncak pulang pergi . Hari ketiga Pesanggrahan Kehutanan – Kp Kersiktua. Untuk mencapai puncak Gunung Kerinci dari Desa Kersik Tuo dengan waktu tempuh 10-12 jam yang telah ada jalur pendakian berupa jalan setapak, dilengkapi papan keterangan dan interpretasi di beberapa lokasi. Desa Kersik Tuo berada sekitar 49 kilometer sebelah utara ibukota Kabupaten Kerinci, Sungai Penuh. Waktu tempuh dari Sungai Penuh dengan kendaraan umum sekitar satu jam.

3. Keadaan Gunung Kerinci Pada Tahun 1972


Menurut Reksowirogo (1972) keadaan topografi sekitar puncak, jika dibandingkan dengan keadaan dalam 1952, sedikit sekali perubahannya. Runut erosi lereng selatan agak menenggara kira-kira mempunyai kedalaman sekitar 100m. Daerah ini merupakan pinggiran kawah yang terendah. Daerah gundul mulai pada ketinggian  3300m sampai dengan puncaknya. Sisa lava pada lereng selatan sebagian besar terlihat agak lapuk. Sisa lava yang terlihat jelas pada titik ketinggian 3400m dml terletak di dekat hulu ketiga barangko tsb. Sisa lava tersebut ditaksir berukuran  50 x 20 x 10 x 1m3 , berwarna putih kemerehan dan terubah. Dinding kawah bagian dalam umumnya terdiri dari lava, kekar kolom yang jelas tampak di bagian selatan agak menenggara. Longsoran terdapat pada tebing utara. Kegiatan di dasar kawah bagian utara, berupa dua kelompok terbusan fumarola. Terlihat juga dua buah kolam air berbentuk lonjong. Dalam kolam air sebelah tenggara terdapat sedikit bualan dan airnya berwarna hitam, sedangkan di timurlaut, airnya berwarna putih kemerahan tanpa bualan asap.

4. Batas Daerah Bahaya

Gunung Kerinci terjepit di antara dua buah pegunungan tua, yaitu rangkaian G. Kapur (2405m) di sebelah timur dan rangkaian G. Selasi (2301m), G. Manduraibisa (2481m) sebelah barat. Daerah bahaya, baik berhubungan dengan lava,lahar, ataupun awan panas terbatas pada daerah yang terapit di antara kedua pegunungan tadi ke utara dan selatan lebih meluas.


Daerah bahaya sementara terbagi menjadi :

4.1 DAERAH BAHAYA
Berdasarkan bahaya bom gunungapi dan eflata lainnya daerah bahayanya hamper berbentuk sebuah lingkaran berjari-jari 6 km yang berpusatkan tengah kawah. Dan berdasarkan aliran lava, penyebaran awan panas dan lahar diperluas mengikuti lembah yang menuju ke utara, yakni S. Lambar, S. Belangir, B. Timbulun, dan B. Taluk Airoutih; ke timur S. Sangir dan ke selatan, S. Kering, S. Kumbang, S. Siulakderas kanan dan Siulakderas kiri. Perluasan rata-rata  panjang 3 km dan lebar 1/4 sampai 1 km.
Luas daerah bahaya  165,7 km2 di dalamnya tak terdapat kampung.

4.2 DAERAH WASPADA

Berdasarkan bahaya eflata, daerah ini adalah daerah di luar daerah bahaya yang terbentuk lingkaran dengan jari-jari 9 km berpusatkan tengah kawah. Dan berdasarkan bahaya lava dan lahar, meluas mengikuti lembah yang menuju arah barat dan timur hingga menumbuk deretan perbukitan. Perluasan ke utara rata-rata 8 km sepanjang S. Lambai, S. Belangir, B. Timbulun, S. Aro, B. Belanduk, S. Kumbang, S. Siulakderas kanan, S. Siulakderas kiri dan S. Indrapura kecil. Luas daerah waspada  165,8 km2, dengan sebelas kampung dan jumlah perduduknya  8,2 ribu jiwa, dalam 1972. Puncak gunung ini sangat sering tertutup kabut sehingga agak sulit dilihat dari kejauhan. Suhu udara di daerah puncak berkisar antara 5-10 derajat celcius, bahkan dapat mencapai di bawah 0 derajat celcius pada musim kemarau.

Februari 08, 2010



1. Literatur
Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi ketiga tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur. Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah hingga pegunungan tinggi dan savana di Nusa Tenggara.

Potensi tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Gunung Rinjani antara lain jelutung (Laportea stimulans), dedurenan (Aglaia argentea), bayur (Pterospermum javanicum), beringin (Ficus benjamina), jambu-jambuan (Syzygium sp.), keruing (Dipterocarpus hasseltii), rerau (D. imbricatus), eidelweis (Anaphalis javanica), dan 2 jenis anggrek endemik yaitu Perisstylus rintjaniensis dan P. lombokensis.
Selain terdapat satu jenis mamalia endemik yaitu musang rinjani (Paradoxurus hemaproditus rinjanicus), juga terdapat kijang (Muntiacus muntjak nainggolani), lutung budeng (Trachypithecus auratus kohlbruggei), trenggiling (Manis javanica), burung cikukua tanduk (Philemon buceroides neglectus), dawah hutan (Ducula lacernulata sasakensis), kepudang kuduk hitam (Oriolus chinensis broderipii), dan beberapa jenis reptilia.

Secara administratif gunung ini berada dibawah tiga kabupaten yaitu: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang kearah timur anda barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m.
Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut "Segara Anak". Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut. Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (Gunung Baru Jari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 - 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir meletus pada tahun 2004.


1.1 Jalur Pendakian
Terdapat banyak jalur pendakian untuk mencapai puncak diantaranya melalui :
a. Bayan Senaru (Utara)

b. Sembalun Lawang (Timur)
c. Torean (Timur laut)
d. Sajang (Timur laut)

e. Kumbi /Sesaut (Barat daya)
f. Santong (Utara)


1.2 Sumber Air
Selama pendakian sumber air dapat di peroleh di lokasi :
a. Pos 2 ( Jalur sembalun)

b. Pelawangan Sembalun

c. Segara Anakan
d. Sungai Koko Putih (Jalur Torean)

2. Perencanaan

2.1 Waktu
Di rencanakan pelaksanaan perjalanan adalah tgl 4 April – 12 April 2009
2.2 Route Pendakian Jalur yang akan di gunakan dalam pendakian : Sembalun – Puncak Rinjani – Segara Anakan – Senaru

3. Detail Perencanaan


3.1 Perizinan
Perijinan melalui Taman Nasional Gunung Rinjani, langsung di pos pendakian di Sembalun maupun di Kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani di Jalan Arya Bajar Getas Lingkar Selatan Kota Telp (0370) 6608874 Mataram.

3.2 Transportasi, Akomodasi dan Konsumsi


3.2.1 Transportasi
Bandung - Jakarta Bus 60.000
Jakarta - Mataram Pesawat 800.000
Mataram - Sembalun
Angkutan elf 100.000
Mataram - Jakarta Pesawat 800.000
Jakarta – Bandung Bus 60.000

Total 1.920.000

3.2.1 Akomodasi
Mataram Penginapan/Hotel 100.000

Sembalun Penginapan/Hotel 50.000
Senaru Penginapan/Hotel 50.000

Total 150.000

3.2.2 Konsumsi
Untuk konsumsi selama pendakian 4 hari di kumpulkan dan di belanjakan di Mataram.
4 hari x 30 rb = 120.000. Secara keseluruhan persiapan untuk konsumsi setiap individu sekitar 8 hari x 30 rb = 240.000

Biaya
Total Biaya keseluruhan : 1.920.000 + 150.000 + 240.000 + 10.000 (Tiket masuk) = 2.360.000

3.3 Detail Route Pendakian

Sembalun koordinat ; S8 20.417 E116 30.055 ketinggian ;999 m waktu ; 0 jam
Pos 1 Sembalun S8 21.687 E116 28.550 1432 m 2 jam
Pos 2 Sembalun S8 21.934 E116 27.975 1523 m 1 jam

Pos 3 Sembalun S8 22.568 E116 27.478 1807 m 1 jam

Pelawangan Sembalun S8 23.603 E116 26.437 2708 m 3.5 jam
Rinjani Summit S8 24.702 E116 27.483 3736 m 3 jam
Segara Anakan S8 23.522 E116 25.171 2024 m 3 jam

Pelawangan Senaru S8 22.745 E116 24.084 2484 m 2 jam
POS 3 Senaru S8 22.154 E116 23.954 2128 m 40 mnt
POS 2 Senaru S8 20.937 E116 23.734 1622 m 1 jam

POS 1 Senaru S8 19.722 E116 24.124 1021 m 1 jam
Senaru Gate S8 19.158 E116 24.160 907 m 30 mnt
Senaru S8 18.316 E116 24.046 640 m 20 mnt

Howgh

S090LBP


Kredit foto : http://fromindonesiawithlove, www.rinjaninationalpark.com

Februari 05, 2010

Prolog

Salam Rimba...
Dalam rentang bulan Juli - Oktober, beberapa Anggota melakukan Pengembaraan yang mengambil tempat di Gn. Manglayang - dan Gn Bukit Tunggul. Pengembaraan ini dilakukan dalam 2 kali periode yaitu pada tanggal 28 Juli - 2 Agustus 2009 dan 24-25 Oktober 2009. Pada intinya, Tim Manglayang-Bukit Tunggul ini melakukan perjalanan menempuh rimba yang masih jarang dilalui, walaupun lokasinya masih sangat dekat dengan Kota Bandung. Tambahan pula tim ini memfokuskan penelitiannya terhadap Curug-Curug yang banyak terdapat di kawasan ini. Tim Penjelajahan ini terdiri dari :
Widiana (HJR)
Restu Nurul (THJ)
Lauravista (THJ)
Rezki Naufan (BWN)
Rizky Firmansyah (BWN)

dengan pembimbing Nizar Adityo
187 BDG
Inilah sekelumit Catatan Perjalanan mereka...

Penjelajahan Gn Manglayang - Gn Bukit Tunggul (1)

Data Geografi Gn Bukit Tunggul

G.Bukit Tunggul terletak kurang lebih 30 km sebelah utara kota Bandung. Kawasan Bukit Tunggul merupakan pertemuan 3 batas daerah administratif, yaitu Kab. Sumedang, Kab. Subang, dan Kab Bandung. Secara geografis batas – batas kawasan Bukit Tunggul adalah 7o12’ LS – 107o04’ BT.
Di sekeliling kawasan ini banyak terdapat gunung – gunung yang bersatupunggungan dengan ukuran relatif kecil. Di sebelah utara terletak G.Kembar, G.Orem, dan G.Buleud. G.Canggak dan G.Ipis terletak di sebelah Timur Laut. Tepat sebelah timur terdapat G.Sanggara dan G.Pangparang Selatan terdapat G.Palasari, sedangkan sebelah Barat dibatasi oleh G.Ciruangbadak dan G.Cikoneng.
G.Bukit Tunggul memiliki ketinggian 2.209 mdpl. Kawasan utara bertebing cukup terjal terutama pada koordinat lintang 47,10. Sedangkan kawasan selatan lebih landai.

Di pegunungan ini dapat ditemui beberapa jenis tumbuhan, diantaranya tumbuhan obat seperti babadotan, kayu manis, burahol, kina, pacing, lumut kerak, dan kecubunG.Ada juga jenis tumbuhan makanan seperti ganyong, gandapura, saliara, paku harupat, ko
nyal, dan honje. Tumbuhan beracun antara lain biduri, kecubung wulung, dan kecubung gunung.
Bentuk G.Bukit Tunggul sangat kerucut bila dibandingkan dengan gunung-gunung lain di sekitar Bandung. Pada puncaknya terdapat punden berundak seperti kolam yang bertingkat-tingkat. Punden berundak ini disebut juga babalongan oleh masyarakat Desa Sunten Jaya, Kab. Bandung karena bentuknya yang menyerupai kolam. Punden berundak ini adalah peninggalan karuhun Bandung dari kebudayaan megalitik yang umurnya cukup tua, paling tidak 3.000 tahun yang lalu atau 1.000 tahun SM.

Catatan Perjalanan

Hari 1 (Selasa, 28 Juli 2009)
Kami berkumpul di sekretariat Sadagori pada pukul 15.00 sambil mempersiapkan barang-barang kami. Semua persiapan sudah lengkap kecuali laura yang datang terlambat sekitar pukul 17.00 . Akhirnya dia datang juga dengan ransel yang sangat besar dan semua orang heran, apa aja yang dia bawa di dalam ransel itu. Berangkat ke rumah Dinar setelah maghrib yaitu pukul 18.50. Kami lalu berencana untuk mem-packing ulang barang kami di rumah Dinar. Sebelum berangkat, kami berpamitan pada teman-teman di sekretariat dan sempat berfoto-foto terlebih dahulu. Akhirnya, kami berangkat setelah shalat maghrib dengan mencarter angkot jurusan Panghegar-Dipatiukur dan ransel kami telah dibawakan oleh Danis.
Biaya dari SMAN 5 Bandung ke rumah Dinar, Desa Cilengkrang sebesar Rp10.000,00/orang.Kami tiba sekitar pukul 19.50 dan langsung meminta izin kepada Ibu Dinar untuk menginap semalam. Kami makan malam disana dan berbincang-bincang menceritakan berbagai pengalaman seru. Kami pun diberi nasihat agar safety first untuk melakukan segala hal dalam perjalanan dan tidak memaksakan bila kondisi tidak sesuai rencana. Setelah makan malam kami lalu mem-packing barang ulang dan membagi rata barang-barang di ransel kami.
Ternyata, ransel Laura yang terlihat penuh itu diisi oleh tupperware yang akhirnya tidak kami bawa dan ditinggal di rumah Dinar. Setelah beres semua kami bersiap-siap untuk tidur dan menikmati kasur empuk yang tidak akan kami rasakan untuk empat malam ke depan. Akhirnya kami tertidur pulas sekitar pukul 00:00 dini hari.


Hari 2 (Rabu, 29 Juli 2009)

Jam menunjukkan pukul 5:30 dan kami langsung mengambil air wudhu dan melakukan shalat bersama. Dinar telah bersiap dengan seragam sekolahnya untuk pergi ke sekolah. Dia pamit untuk pergi duluan ke sekolah. Setelah mandi dan shalat kami lalu sarapan pagi di rumah Dinar dan sebelum bersiap untuk berpamitan kami menyempatkan diri untuk buang air besar karena tidak tahan dengan makanan pedas yang tadi disajikan.
Pukul 7:00 kami berpamitan dan berfoto terlebih dahulu sebelum pergi. Jam 7:50 kami tiba di kantor kepala desa untuk sosiologi pedesaan di Desa Cilengkrang dan menunggu hingga jam delapan karena kantor belum buka. Ternyata rumah kepala desa di depan kantor tersebut dan kami pun bercakap-cakap dengannya menceritakan hasrat perjalanan kami. Kami diberi sesuap nasehat agar selamat dalam perjalanan. Pukul 9:15 kami berpamitan dan berfoto sejenak dengan kepala desa dan pergi ke Gunung Manglayang serta menempatkan diri ke Curug CilengkranG.Ternyata disana telah ada papan penunjuk jalan untuk mencapai curug itu. Jalan dari kantor kepala desa menuju Curug Cilengkrang cukup mudah dicapai, jaraknya sekitar 500 m Sedangkan dari pintu masuk Curug Cilengkrang menuju Curug Dampit medannya cukup sulit. Karena melalui jalan setapak, menyisir jurang, dan rawan longsor. Jaraknya sekitar 2 km. Di Curug Dampit sama sekali tidak terdapat air.
Sekitar pukul 9:30 kami tiba di Curug Cilengkrang yang terdiri dari Curug Batupeti dan Curug Panganten. Di sana terlihat banyak sampah dan ada busa yang sepertinya telah digunakan untuk mandi atau mencuci. Sekitar pukul 10:00 kami tiba di Curug Dampit yang terletak paling ujung dari Curug Cilengkrang dan disana tidak ada setetes airpun yang jatuh karena biasanya curug itu sangat kering pada musim kemarau. Setelah mengambil foto kami lalu berjalan naik ke atas punggungan untuk masuk ke jalur plot kami pada peta. Ternyata jalan setapak susah ditemukan dan akhirnya kami menebas langsung ke atas dan mencari jalan setapak itu.
Sekitar pukul 12:30 kami menemukan juga jalur setapak yang resmi dan mengikuti jalur itu. Di persimpangan kami belok kanan sesuai jalur plot kami dalam peta. Setelah lama berjalan ternyata jalannya menghilang dan kami diharuskan kembali menebas hingga puncak. Sekitar pukul 14:00 kami menyempatkan untuk istirahat dan makan siang sejenak. Menu makan siang kami yaitu hot dog dan pocari sweat. Sejam kemudian kami meneruskan perjalanan dan sepakat untuk menebas ke atas daripada balik mencari jalur resmi. Kami membagi tugas untuk mencari jalur dan menebas jalur itu.
Sekitar pukul 17:15 akhirnya kami menemukan jalur setapak resmi hingga puncak dan kami nge-camp di puncak jam enam kurang dan memberi kabar ke sekretariat . Lalu kami membagi tugas untuk mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan masak. Dari Curug Dampit ke puncak G.Manglayang, kami melakukan perintisan sekitar 2 km dengan beda ketinggian 600 m. Perintisan ini cukup sulit sehingga pergerakan lambat. Hal yang paling istimewa ketika kami harus memanjat serangkaian batu besar yang kami temui ketika merintis.
Setelah makan malam dan evaluasi, kami berencana untuk mengganti jalur jika kondisi tidak memungkinkan, karena pada malam itu juga Restu sakit panas tinggi dan radang.

Hari 3 (Kamis, 30 Juli 2009)
Kami bangun pagi pukul 05:30. Lalu kami shalat dan kemudian menyiapkan sarapan. Demam restu pun mulai berangsur membaik meskipun radang dan flunya masih belum pulih. Sementara yang lain packing dan menyiapkan sarapan, Rizky dan Rezki mencari jalan untuk turun dan menyamakan jalur plot pada peta. Jalur yang kami plot pun ternyata harus menebas pula karena vegetasi di sana sangat lebat. Setelah menemukan punggungan yang benar Rizky dan Rezki balik lagi ke basecamp untuk sarapan. Kami berangkat sekitar pukul 08:00 dan melanjutkan perjalanan sesuai jalur plot pada peta. Ternyata jalur yang kami lalui itu sangat curam dan harus berhati-hati karena itu bisa dipastikan jalur air dan lumayan longsor.

Ketika mencapai persimpangan untuk menuju desa genteng dan desa Nanggerang, kami beristirahat sejenak dan memutuskan untuk mengevakuasi ke desa terdekat karena salah satu dari tim kami mengalami sakit. Akhirnya kami berjalan ke desa Nanggerang dan selanjutnya ke singkup untuk membeli makanan disana dan merubah jalur sesuai kondisi tim. Sekitar pukul 13.30 kami tiba di singkup dan beristirahat serta memplot jalur ulanG. Jalan yang dilalui cukup terjal dan licin. Membutuhkan kehati-hatian yang ekstra karena rawan longsor, banyak batu-batu baik yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Terdapat tumbuhan berduri sehingga cukup menyulitkan pergerakan. Vegetasinya cukup padat sehingga walaupun jalan setapak terlihat jelas, tetap saja dibutuhkan golok tebas untuk membuka jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Cileat dengan merintis di bagian timur Gunung Bukittunggul. Sekitar pukul 16.00 kami berjalan kembali dan akhirnya nge-camp diatas singkup. Sebelum perjalanan meninggalkan singkup, kami sempat mengisi perbekalan air minum karena bisa dipastikan kami tidak akan menemukan air sungai.

Hari 4 (Jumat, 31 Juli 2009)
Pada pukul 05:30 kami semua bangun, kemudian cepat-cepat shalat dan menyiapkan sarapan. Kami bergerak dari tenda dengan perlahan karena udara disana cukup membuat kami menggigil. Lalu laura membuat sereal hangat untuk kami semua. Matahari pun beranjak dan kami menikmati sereal dan sarapan roti. Setelah makan kami semua mempacking barang kami dan menggerakan otot-otot kami untuk dipakai berjalan jauh kembali. Di sela-sela packing, ada orang yang lewat dan kami bertanya-tanya kepadanya arah tujuan kami dan meminta sedikit nasehat. Akhirnya, pukul 08:15 kami mulai berjalan untuk sampai di kaki bukittunggul. Jalanan yang kami lalui banyak tanjakan dan kami banyak istirahat karena dua orang diantara kami masih belum pulih dari demam dan kaki lecetnya. Karena kami harus menghemat waktu, Rezki sebagai operasional berjalan paling depan untuk mencari jalur yang benar dan dia membawa hatonk sebagai alat komunikasi dengan ketua tim, Rizky.

Sekitar pukul dua belas kurang, kami sampai di gunung kasur dan kami beristirahat disana serta shalat jumat bagi yang laki-laki. Kami memesan makanan di warung yang dekat dengan musholla. Setelah kenyang dengan makanan yang dimasak di warung, kami pamit pergi kepada ibu warung dan minta sedikit air untuk perbekalan. Kami berjalan cepat dan sampai di kaki bukittunggul jam 17:00. Kami mulai mendirikan tenda dan mencari kayu bakar. Sayang, di daerah camp kami tidak ada sungai jadi kami harus mengirit perbekalan air yang tinggal 7L lagi. Kami berhasil membuat api unggun disana, setelah dari camp-camp sebelumnya tidak bisa membuat api yang bertahan lama, kami lalu memulai pesta dengan masak jagung bakar, kentang, sosis bakar, marshmallow. Setelah pesta api unggun, kami mulai masak nasi ditemani lauk pauk kentang kering dan dendeng sapi. Makanan habis, kami langsung evaluasi dan planning untuk esok hari. Kami bertekad untuk sampai cileat keesokan hari dilihat dari kondisi tim yang kedua orang itu berangsur membaik. Kami pun tertidur pulas dalam mimpi masing-masing setelah akhirnya kenyang dan puas pada pesta api unggun hari ini

Hari 5 (Sabtu, 1 Agustus 2009)
Seperti biasa, kami bangun pagi pada pukul 05:30, keadaan diluar tenda sangat basah karena embun pagi yang sangat tebal. Kami shalat lalu menyiapkan sarapan roti dan sereal. Matahari pun menyinari kami setelah kami selesai sarapan dan kami berdiam dalam keheningan menikmati keindahan pagi di kaki gunung itu. Sebelum meninggalkan tempat camp, kami berdoa sejenak agar tujuan perjalanan hari ini tercapai dan selalu diberikan kemudahan. Pukul 08:00 kami berjalan, Rizky sebagai ketua tim berjalan paling depan untuk menebas jalan dan Rezki memastikan jalan yang dilalui benar dengan melihat jalan dari GPS. Kami berjalan diatas punggungan dengan samping kanan kiri juranG.Kami sempat bolak-balik mencari arah jalan yang benar. Di jalur plot itu ternyata ada banyak string line di sepanjang jalan dan ada bekas tempat camp. Kami mengikuti string line itu dan sempat tersasar karena arah string line itu menuju sumber mata air cileat yang bukan tujuan kami. Lalu kami berjalan kembali mengikuti jalur plot pada peta.
Pada pukul 13:00 kami beristirahat, lalu Rizky dan Rezki mencari jalan serta air sungai untuk dimasak. Ternyata jalur yang mereka lalui terus tidak berujung pada sungai, dan mereka kembali pada posisi dimana teman-temannya beristirahat dan akhirnya kami makan seadanya dengan biskuit dan sedikit air minum karena perbekalan air telah menipis. Kami mulai berjalan kembali dan pukul 13:45 kami melihat Curug Cileat dari atas pada ketinggian sekitar 1200mdpl. Kami lalu mencari jalur untuk sampai kebawah. Tapi jalur yang kami lalui hanya memutari punggungan terus dan menjauhi curug itu dan tidak menuju kebawah. Di peta juga jalur yang kami lalui menuju desa bunikasih. Akhirnya, pukul 15:00 kami sampai desa bunikasih dan memesan makan di warung.Kami bertanya-tanya tentang cileat dan bagaimana akses kesana. Setelah makan dan shalat disana, kami mulai berjalan kembali pada pukul 16:00 dan mengikuti jalan sesuai arahan jalur plot pada peta. Pukul 17:30 kami masih tidak menemukan curug itu dan akhirnya terpaksa ngecamp di dekat Sungai Cileat. Kami akhirnya membagi tugas untuk esok hari, agar menemukan Curug Cileat itu sebelum siang hari. Di sungai itu kami mengisi kembali persediaan air untuk perbekalan dan masak. Setelah makan malam dan evaluasi, kami langsung tertidur lelap setelah kecapean dengan jalur yang kami lalui hari ini yang cukup banyak menguras tenaga.

Hari 6 (Minggu, 2 Agustus 2009)
Matahari menyinari tenda kami dan kami telah beranjak dari tidur masing-masing serta telah menyantap sarapan pagi. Rizky, Widi, dan Nizar lalu bergegas mem-packing barang lalu pergi duluan mencari jalur ke Curug Cileat sesuai koordinat yang kami lalui diatas Curug Cileat kemarin. Kami bertiga menyusuri ke atas punggungan dan seketika jalan setapak yang kami lalui berujung pada kebun cabe dan jalan itu menghilanG.Lalu kami merintis jalan ke atas langsung dan menemukan hasil yang nihil, karena jika kami semua memakai ransel untuk memakai jalur itu, akan memakan waktu yang sangat lama dan tidak tahu jalur rintisan itu berujung pada apa. Jalan menuju Curug Cileat ini sangat bervariasi sehingga tidak membosankan. Mulai dari jalan turunan yang terjal dan licin, jalan setapak yang dihiasi tanaman berduri sampai harus melewati pematang sawah yang membutuhkan keseimbangan. Akhirnya kami bertiga memutuskan kembali ke tempat camp dan mengajak mereka untuk memutari punggungan untuk ke Desa Mayang untuk bertanya lebih lanjut.
Pukul 09:00 kami semua berjalan ke arah desa mayang dan semakin menjauhi koordinat Curug Cileat yang kami lalui kemarin. Kami berjalan semakin turun ke bawah dan kemudian melihat sawah di atas desa mayang itu. Ketika di persimpangan untuk menuju desa mayang, kami bertemu wisatawan asing dan bertanya darimana mereka itu. Ternyata, mereka dari Curug Cileat dan kami pun bertanya kepadanya arah jalan ke curug itu. Mereka memberi tahu agar mengikuti jalur bebatuan yang mengarah ke tenggara dan dari persimpangan itu untuk menuju ke curug sudah dekat. Lalu kami memutuskan ke curug meskipun salah seorang kami tidak ikut karena dia tidak kuat berjalan naik lagi. Dia beristirahat di persimpangan itu dan kami berlima berjanji untuk kembali dalam setengah jam lagi. Kami berjalan cepat ke arah tenggara dan di tengah perjalanan itu banyak wisatawan pula yang berdatangan. Akhirnya, setelah susah payah dicapai, semangat yang tak patang arang, perjalanan penuh makna, kami menemukan Curug Cileat yang indah itu dan kami memanjatkan puji syukur tak henti-henti kepada Yang Maha Kuasa. Kami lalu berfoto dan menikmati keindahan alam yang memesona itu. Setelah berfoto ria, kami lalu memutuskan untuk kembali ke persimpangan lagi dan langsung pulang ke Bandung. Setengah jam yang dijanjikan kami berlima kami tepati, kami lalu menceritakan kepadanya bahwa kami sampai di Curug Cileat. Dia pun ikut senang meskipun kami sempat tidak enak kepadanya melihat kondisinya yang tak kunjung benar-benar pulih. Akhirnya kami berjalan kembali ke desa mayang yang selanjutnya langsung ke Bandung.
Sekitar pukul 16:00 kami sampai di Cibogo, daerah paling atas di desa Mayang.Lalu kami beristirahat sejenak di warung terdekat dan mencari ojek untuk sampai ke Jalan Cagak. Ibu warung itu dengan baik hati mencarikan ojek untuk kami berenam. Setelah mendapat ojek, kami berpamitan kepadanya dan berterima kasih. Sekitar pukul 18:00 kami sampai di Jalan Cagak dan langsung naik elf jurusan Ledeng yang selanjutnya naik Kalapa-Ledeng untuk sampai sekretariat Sadagori. Akhirnya, sekitar pukul 19:00 kami sampai di sekretariat Sadagori dan disambut oleh saudara-saudara kami disana. Kami menceritakan kepada mereka bahwa jalur yang seharusnya kami tempuh tidak kami lalui karena berbagai kondisi yang tidak memungkinkan.



Februari 04, 2010

Sering kali kita dikecewakan oleh peralatan kita seperti tenda, poncho, ransel, dan sleeping bag. Pasalnya peralatan tersebut baru saja kita beli dan setelah dua sampai tiga kali kita pakai, peralatan tersebut sudah kehilangan anti airnya. Berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu. Bagaimana caranya mengembalikan anti air tersebut???

Pertama
Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi. Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.

Kedua Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin. Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam, keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.

Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita. Selamat mencoba!
Diambil dari buku “Perkemahan” karya Suardiman Ranu Widjojo Semoga bermanfaat

Kredit foto : nexternal.com

Sumber : situs cartenz adventure shop


Herwin Tiranda FRB


Sejarah dan Konservasi

Gunung Gede Pangrango ditetapkan sebagai salah satu dari 5 taman nasional pertama di Indonesia oleh pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian tahun 1980.
Sejarah awal konservasi di kawasan ini hanya sedikit diketahui, walaupun hutan dan gunung merupakan bagian dari legenda-legenda di tanah Sunda. Tampaknya ada jalur sejarah dari kota tua Cianjur sampai Bogor melalui Cipanas. Bagian lereng pegunungan yang rendah, tidak rata dan berteras-teras dulunya digunakan untuk pertanian dengan pergiliran tanaman. Dengan luas 21.975 hektar, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta.Di dalam kawasan hutan TNGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp); berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya. Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa, sejenis kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll, serta 250 jenis burung. Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili dan Lutung dan Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah.

Sejarah panjang kegiatan konservasi dan penelitian dimulai sejak tahun 1830 dengan terbentuknya kebun raya kecil di dekat Istana Gubernur Jenderal Kolonial Belanda di Cipanas, dan kemudian kebun raya kecil ini diperluas sehingga menjadi Kebun Raya Cibodas sekarang ini. Pemerintahan Kolonial Belanda sangat antusias untuk meningkatkan tanaman-tanaman penting dan bernilai ekonomis serta perkebunan komersial, sehingga dibanguna suatu stasiun penelitian dan percobaan pertanian di dataran tinggi ini. Tidak lama setelah itu, botanis-botanis lokal kemudian mulai tertarik untuk meneliti keanekaragaman tumbuhan disekitar pegunungan ini. Abad 19 merupakan masa-masa terbesar dan penting dalam sejarah koleksi tumbuhan , dan Cibodas menjadi salah satu lokal koleksi tumbuhan saat itu.

Tahun 1889, areal hutan antara Kebun Raya Cibodas dan Air Panas ditetapkan sebagai Cagar Alam. Setelah tahun 1919, suatu kawasan cagar alam ditetapkan. Komitmen utama dimulai tahun 1978, ketika kawasan seluas 14,000 hektar, yang terdiri dari 2 puncak utama dan lerengnya yang luas, ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Gunung Gede Pangrango. Akhirnya, tahun 1980, seluruh kawasan terpisah-pisah ini digabung menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Legenda dan Kepercayaan

The “holly man” in Cikundul fall at CibeureumPencarian sampai bagian dari kawasan Gunung Gede dan Pangrango yang terdalam, anda tidak akan terkejut untuk menemukan bahwa kawasan ini kaya dengan sejarah dan legenda. Cerita-cerita tersebut menjadi kunci kepada kekaguman kita terhadap gunung ini.

Di Cibeureum, ada suatu batu besar di air terjun Cikundul. Menurut legenda setempat, tempat formasi batu tersebut berada dahulu merupakan tempat dimana seorang yang dipercayai sangat sakti sedang bersila dan melakukan meditasi, saking lamanya bersila dan meditasi, akhirnya orang sakti tersebut berubah menjadi batu. Pada hari kiamat, dipercayai bahwa dia akan berubah wujud menjadi manusia kembali. Dalam cerita ini, kejadian alam dan spritual tidak dapat dipisahkan.

Akses

Ada 6 pintu masuk menuju kawasan TNGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung.

Kantor Balai TNGP, pusat informasi (visitor center) dan tempat pendaftaran pendakian berlokasi di Cibodas. Pintu masuk Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana merupakan akses utama menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango. Pintu masuk Situgunung merupakan pintu menuju Danau Situgunung yang sangat sesuai untuk rekreasi keluarga. Sedangkan, Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol dengan kanopi trail sepanjang 4 km memiliki daya tarik bagi pengunjung dan masyarakat umum yang ingin berekreasi dengan merasakan keindahan hutan hujan tropis. Cisarua juga pintu masuk yang dekat dari Jakarta, mempunyai fasilitas untuk kemping yang cocok bagi keluarga, anak sekolah dan kelompok-kelompok pecinta alam.

Peraturan Pendakian
  • Melapor kepada petugas di pintu masuk dan di pintu keluar. Petugas akan memeriksa perlengkapan bawaan Anda dan SIMAKSI anda sebelum dan setelah pendakian.
  • Dilarang membawa binatang dan tumbuhan dari luar kedalam kawasan TNGGP.
  • Dilarang memberi makanan kepada satwa.
  • Tidak diijinkan membuat api di dalam kawasan, kecuali pada lokasi yang sudah diijinkan.
  • Dilarang merusak, memindahkan, mencoret-coret sarana dan prasarana di dalam kawasan.
  • Dilarang memetik, memindahkan, dan mengambil tumbuhan dari dalam kawasan.
  • Jangan berjalan di luar jalur / track utama yang sudah ditentukan.
  • Jangan membuang dan meninggalkan sampah di dalam kawasan, bawa sampah Anda ketika turun dari gunung.
  • Dilarang membawa shampo, sabun, odol dan bahan detergen lain yang dapat mencemari air tanah.
  • Dilarang membawa radio, alat musik, minuman beralkohol, dan narkoba kedalam kawasan.
Bagi siapa saja yang ingin mendaki ke Gunung Gede dan Pangrango wajib untuk mendapatkan ijin SIMAKSI di Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan melakukan booking sebelumnya. Lama maksimum pendakian adalah 2 hari 1 malam.

Untuk mengurangi dampak negatif kepada lingkungan dan agar pengalaman saat mendaki memuaskan, maka TNGGP menetapkan sistem kuota,yaitu 600 orang pendaki per hari melalui 3 pintu masuk dengan pembagian: Cibodas 300 orang, Gunung Putri 200 orang, dan Selabintana 100 orang.

Sumber : Portal Taman Nasional Gede Pangrango

Kredit Foto : Satellite images : Gede Pangrango National Park, West Java, Indonesia (4 Aug
www.crisp.nus.edu.sg/
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff