Oktober 06, 2010

oleh YUNI IKAWATI, Kompas

Anak-anak berendam dalam genangan air di sebuah petak sawah di kawasan Kali Kedinding, Surabaya, Jawa Timur, untuk mengurangi rasa gerah akibat cuaca panas, Selasa (22/6). Cuaca panas dengan tiupan angin kencang dalam beberapa hari ini menandai masa pancaroba yang rawan mendatangkan penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan akut dan dehidrasi.

Memanasnya suhu muka laut dan tidak terjadinya musim kemarau pada tahun ini merupakan kondisi penyimpangan yang tergolong paling ekstrem pada data pemantauan cuaca yang pernah dilakukan di Indonesia. Anomali ini diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2011.

Pemantauan kondisi kelautan dan cuaca di Indonesia yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan memanasnya suhu muka laut yang luas di wilayah perairan Indonesia telah terlihat sejak Juli tahun 2009 dan bertahan hingga kini.

”Anomali cuaca ini akan bertahan hingga Februari tahun depan saat akhir puncak hujan pada musim hujan ini,” ujar Edvin Aldrian, Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG. Prakiraan ini juga disampaikan BMKG dalam rapat koordinasi tentang antisipasi terhadap iklim dan cuaca ekstrem yang diadakan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Senin (4/10/2010).

Menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia mulai terpantau pertengahan tahun lalu, meski ketika itu terjadi El Nino dalam skala moderat. ”Ketika anomali cuaca ini muncul, suhu muka laut di timur Indonesia biasanya mendingin. Namun yang terjadi sebaliknya,” ujar Edvin, yang sebelumnya adalah peneliti cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Suhu permukaan laut di atas normal ini berlangsung hingga masuk periode musim kemarau tahun ini. Suhu laut yang hangat pada Mei lalu ditunjang oleh munculnya fenomena La Nina di Samudra Pasifik yang diikuti terjadinya Dipole Mode di Samudra Hindia. Kedua fenomena ini mengakibatkan suplai massa udara dari dua samudra itu ke wilayah Indonesia.

Berdasarkan data curah hujan yang tinggi sepanjang periode kemarau tahun ini, Edvin menyimpulkan tidak tampak pola musim kemarau. Hanya pada bulan April tingkat curah hujan tergolong normal pada musim kemarau. ”Karena itu dapat dikatakan tidak ada musim kemarau pada tahun 2010,” ulas Edvin.

Suhu muka laut di atas normal terjadi hampir di seluruh perairan Indonesia berlangsung sejak Juli 2009 hingga kini dan diperkirakan berlanjut sampai Februari 2011.

Fenomena langka

Kondisi ini merupakan fenomena cuaca yang langka. Bahkan, periode kejadian anomali ini pun tergolong berlangsung paling lama berdasarkan data yang dimiliki BMKG selama ini. ”Meningkatnya pemanasan suhu muka laut ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2012,” ujar Sri Woro B Harijono, Kepala BMKG belum lama ini.

Namun, sejauh ini belum diketahui penyebab pasti munculnya anomali ini, lanjut Edvin. Hal inilah yang mendorong BMKG akan mengembangkan pemodelan iklim laut atau maritim yang operasional dan meningkatkan layanan informasi iklim maritim.

Pemodelan itu dilakukan berdasarkan data hasil observasi laut menggunakan kapal survei dan satelit. ”Tahun ini dibuat rencana desain atau cetak biru pemodelan iklim laut di Indonesia. Pengembangannya mulai tahun 2011,” jelas Edvin yang meraih gelar doktor bidang meteorologi dari Institut Max Planck Universitas Hamburg, Jerman.

Perubahan iklim

Tingginya suhu muka laut yang mengakibatkan musim hujan berkepanjangan—tanpa kemarau—di Indonesia pada tahun ini diperkirakan merupakan dampak dari pemanasan global—yaitu fenomena meningkatnya suhu bumi disebabkan akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang bersifat menahan energi panas matahari di permukaan bumi.

Berbagai dampak negatif pun muncul, seperti melelehnya es di kutub, merebaknya penyakit parasit, dan meningkatkan keasaman air laut. Perubahan iklim ini ditandai dengan perubahan pola curah hujan, terjadinya cuaca ekstrem berupa munculnya gelombang udara panas, peningkatan frekuensi hujan lebat hingga menimbulkan banjir di satu tempat dan kekeringan di tempat lain.

Pola turunnya hujan juga tidak merata di seluruh daerah. Akibat pemanasan global, hujan akan banyak terjadi di wilayah dekat garis ekuator. Menurut penelitian BMKG bekerja sama dengan Badan Meteorologi Jepang, rupanya 15 tahun lagi Jawa akan kurang hujan, urai Sri Woro yang juga Kepala WMO (World Meteorological Organization) Regional V.

Langkah antisipatif

Pemanasan global atau perubahan iklim lebih lanjut akan mengacaukan pola tanam dan meningkatkan pertumbuhan hama tanaman hingga menggagalkan panen. Selain petani, para nelayan pun akan terpukul akibat gangguan cuaca itu. Mereka tidak dapat melaut karena gelombang laut yang tinggi.

”Hal tersebut jika tidak segera diantisipasi akan menimbulkan kerawanan sosial,” ujar Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di sela rapat koordinasi, Senin. Karena itu, pemerintah akan meningkatkan sistem peringatan dini munculnya fenomena cuaca dan iklim ekstrem dalam melakukan upaya mitigasi, adaptasi, dan penguatan kelembagaan.

Sementara itu, Edvin berpendapat, pemerintah dan masyarakat harus lebih mencermati informasi iklim dan cuaca ekstrem. Selain itu, memanfaatkan saat jeda periode kering untuk membersihkan saluran air. ”Waspadai daerah aliran sungai di bantaran yang berkelok atau meander untuk mengatasi banjir kiriman dari hulu,” ujarnya.

Curah hujan yang tinggi hendaknya dimanfaatkan untuk mengisi cadangan air bawah tanah dengan sistem injeksi. Hal ini dapat mencegah terjadinya intrusi air laut di kota besar pesisir. Fungsi PLTA pun dapat dioptimalkan.

Untuk mendukung komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi karbon dioksida (CO) sebesar 26 persen pada tahun 2020, BMKG mengusulkan penambahan dua Stasiun GAW (Global Atmosphere Watch) di Sulawesi Tengah dan Papua untuk meningkatkan observasi CO di Indonesia. Ini memerlukan dukungan seluruh sumber daya yang ada, seperti anggaran, kemauan politis pemerintah, dan kemampuan sumber daya manusia.

Sumber : Kompas

Oktober 04, 2010



Keterbatasan Jakarta mendapatkan air baku untuk diolah menjadi air bersih sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan air laut yang melimpah. PT Pembangunan Jaya Ancol bukan cuma mengolah air laut menjadi air tawar, melainkan juga mengolahnya menjadi kolam apung berkadar garam tinggi.

Inovasi yang dilakukan, antara lain, 7.000 meter kubik air laut diubah menjadi 5.000 meter kubik air tawar per hari. Sisanya, sekitar 2.000 meter kubik, menjadi air berkadar garam tinggi yang digunakan untuk kolam apung, salah satu wahana wisata di Ancol Taman Impian.

”Teknologi desalinasi ini menjadi inovasi untuk tidak semata-mata meraih hasil air minum dari sumber air laut tak terbatas,” kata Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya.

Kolam apung merupakan manfaat wisata edukatif lain, di samping perolehan air tawar dari proyek Ancol Newater-Sea Water Desalination Plant. Bambang Tutuko selaku Wakil Direktur Arkonin yang menjadi konsultan proyek ini, Selasa (28/9/2010), menguraikan, desain rancang bangunnya bisa untuk memproduksi sampai kapasitas 15.000 meter kubik per hari.

”Desainnya sudah selesai dirancang dan konstruksinya sekarang masih dikerjakan. Akhir tahun ini bisa selesai,” kata Bambang.

Osmosis terbalik

Reverse osmosis atau osmosis terbalik merupakan proses yang ditempuh secara umum untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Caranya dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya.

Larutan itulah yang kemudian menjadi bagian dari 2.000 meter kubik per hari yang kemudian disalurkan ke Kolam Apung Wahana Atlantis Ancol.

Dalam kandungan garam tinggi, air kolam itu mampu mengapungkan manusia. Namun, untuk menikmati kolam apung ini, ada beberapa ketentuan yang diberlakukan untuk menunjang keselamatan dan kesehatan.

”Reverse osmosis atau RO ini ditempuh setelah ada berbagai perlakuan terhadap sumber air bakunya,” kata Bambang.

Menurut Bambang, air baku itu diambil dari Danau Ancol. Danau Ancol dirancang untuk menampung pula air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih yang digunakan berbagai fasilitas publik di kawasan wisata tersebut.

Pemasukan air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih merupakan upaya untuk menurunkan kadar garam danau payau tersebut. Dengan demikian, diharapkan proses osmosis terbalik menjadi lebih ringan dengan air baku yang rendah kadar garamnya. ”Ini ada kaitannya dengan usia produktif dari teknologi desalinasi ini,” ujarnya.

Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. ”Sekarang ini rata-rata listrik per kilowatt jam mencapai harga Rp 1.000,” ujar Bambang.

General Manager Perencanaan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Sandy Rudiana mengatakan, perusahaannya memiliki kebutuhan air tawar sebanyak 15.000 meter kubik per hari. Saat ini belum bisa terpenuhi seluruh kebutuhannya.

”Dari perusahaan air minum daerah hanya diperoleh 9.000 meter kubik per hari sehingga masih kekurangan 6.000 meter kubik per hari,” kata Sandy.

Selain faktor kekurangan suplai air bersih, menurut Sandy, juga ditemui kendala harga yang terlampau tinggi. Produksi air bersih dari proses desalinasi bisa bersaing dengan tarif air bersih kelas komersial yang mencapai Rp 12.500 per meter kubik. Bahkan, tarif air bersih industri mencapai Rp 15.000 per meter kubik.

Nilai produksi air bersih dengan teknologi desalinasi yang dikembangkan sekarang mampu menekan harga hingga Rp 9.000 per meter kubik.

Pengembangan model

YJ Harwanto, selaku General Manager Ancol Taman Impian PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, mengatakan, proyek desalinasi ini sebagai pengembangan model tatkala ada tuntutan penghentian pengambilan air tanah di Jakarta, terutama di kawasan pesisir Jakarta Utara.

”Model seperti ini harus dikembangkan oleh pihak-pihak lainnya,” kata Harwanto.

Dia mengatakan, perusahaannya tidak pernah mengambil air tanah untuk mencukupi kebutuhan. Namun, mereka menerima imbas paling parah berupa penurunan tanah paling cepat di Jakarta. Saat ini diperkirakan kawasan Ancol mengalami penurunan tanah 26 sentimeter per tahun.

Seperti lokasi kuburan yang dipelihara Pemerintah Belanda di dalam kawasan wisata Ancol, sejak belasan tahun yang lalu masih 1 meter sampai 2 meter di atas permukaan laut. Namun, sekarang sudah berada di bawah permukaan air laut sehingga diperlukan pemompaan air ketika tergenang air laut.

Pengurukan, menurut Harwanto, dilakukan setiap tahun. Lokasi-lokasi yang tidak diuruk pada akhirnya mudah tergenang air hujan atau luapan air laut pasang.

Desalinasi sebagai jawaban teknologi atas tuntutan penghentian pengambilan air tanah di Jakarta. Pengelola kawasan wisata Ancol sudah memulainya. Ditunggu yang lainnya.


Untuk mengurangi laju penurunan permukaan tanah Jakarta, penggunaan air bawah tanah harus dikurangi dan jika bisa dihentikan secara total. Desalinasi bisa menjadi salah satu alternatif solusi guna memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat.

Sementara itu, perusahaan daerah air minum (PDAM) harus memenuhi kebutuhan industri dan sebagian masyarakat lainnya akan air bersih.

”Sekarang adalah saatnya untuk membuat kebijakan guna menghentikan eksploitasi air tanah,” kata Robert Delinom, peneliti utama hidrogeologi pada Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Penghentian yang dimaksud adalah merupakan jalan terakhir setelah peraturan tentang pengambilan air bawah tanah sudah ada sejak dahulu. Namun, penegakan hukumnya tidak pernah dilakukan.


Penelitian Lambok M Hutasoit, ahli hidrogeologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, di wilayah Kamal, Jakarta Utara, pada akhir 1990-an saja menunjukkan, hanya 5 persen sumur bor yang berizin. Namun, sanksi terhadap sumur bor ilegal hanya sebagian kecil saja.

”Penggunaan air bawah tanah harus dikurangi, jika bisa harus dihentikan secara total. Sebagai gantinya, kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan industri harus dipenuhi oleh PDAM,” ujar Lambok.

Berdasarkan data terbaru hasil evaluasi dari sumur pantau di Jakarta, meliputi Kamal Muara, Sunter, Senayan, dan Jagakarsa, antara 2006 dan 2010 terjadi penurunan tanah dengan laju kecepatan 25 sampai 30 sentimeter per tahun.

Menurut Robert, jika tidak ada kebijakan untuk menghentikan eksploitasi air tanah, kondisi tersebut akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan ”meledak” dan akan menjadi persoalan yang sulit diatasi.

Kota San Francisco telah membuat komitmen Deklarasi Kota Hijau pada 2005 yang menyebutkan akan menghentikan penyedotan air tanah pada 2012.

Tentang hal itu, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Masnellyarti Hilman menyatakan, sulit bagi DKI Jakarta melarang penyedotan air tanah pada 2012, sebagaimana komitmen San Francisco. Di DKI Jakarta ada keterbatasan jaringan pipa air minum. ”Sebanyak 50 persen penduduk DKI Jakarta menggantungkan pemenuhan kebutuhan air kepada penyedotan air tanah,” ujar Masnellyarti.

Persoalan terkait penyediaan air minum oleh PDAM juga terkendala oleh terbatasnya sumber air permukaan.

Lambok mengusulkan, ”Untuk PDAM, sebaiknya hanya fokus memanfaatkan air permukaan itu untuk masyarakat kelas menengah bawah. Sedangkan untuk kelompok menengah atas, industri, hotel, dan apartemen dapat menggunakan sumber air laut yang diolah menjadi air bersih melalui proses desalinasi.”

”Jika PDAM mampu memenuhi kebutuhan industri, mereka tentu mau menggunakan air produksi PDAM karena mengebor air bawah tanah itu sulit,” katanya.

Biaya produksi air melalui desalinasi memang tidak murah. Namun, teknologinya sederhana. ”Jika penggunaan teknologi desalinasi dilakukan secara massal dan besar-besaran, harga air yang dihasilkannya tidak akan mahal lagi,” ujar Lambok.

Saat ini desalinasi sudah menjadi pilihan Taman Impian Jaya Ancol. General Manager Taman Impian PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk YJ Harwanto menuturkan, ”Pengolahan air laut untuk air minum menjadi model solusi menghentikan pengambilan air tanah di Jakarta.”

”Jika seluruh kebutuhan air minum hanya boleh dicukupi dengan air permukaan, berarti kita akan mengandalkan air sungai. Sungai di Indonesia begitu tercemar, hanya memenuhi kriteria mutu air kelas III dan IV. Padahal, bahan baku air minum seharusnya air permukaan kelas I,” kata Masnellyart

Saat ini PT Pembangunan Jaya Ancol sedang mengembangkan teknologi desalinasi air laut untuk memproduksi air tawar sebanyak 5.000 meter kubik per hari. Investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 53 miliar.

Nilai produksinya mencapai Rp 9.000 per meter kubik. Menurut Harwanto, ini lebih rendah jika dibandingkan harga air dari PDAM Jakarta saat ini.

Tarif air bersih dari PDAM untuk kelas komersial dan industri mencapai Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per meter kubik. ”Itu pun masih belum bisa memenuhi kebutuhan Ancol yang mencapai 15.000 meter kubik per hari. Yang bisa dipenuhi saat ini hanya 9.000 meter kubik per hari,” kata Harwanto.

Apabila usulan desalinasi dianggap tidak ekonomis, menurut Lambok, pemerintah dapat membangun waduk besar untuk menampung air hujan dari Bogor. Air dari curah hujan yang tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan guna menambah cadangan air baku ataupun simpanan air bawah tanah.

Selain waduk, dapat pula dilakukan pembuatan reservoir atau penampungan air bawah tanah. Lambok mencontohkan Chicago di Amerika Serikat yang memiliki reservoir dalam tanah sepanjang lebih dari 300 kilometer dan lebar 3 meter yang meliuk-liuk di bawah kotanya. Penampungan itu menjadi sumber air baku bagi warganya.

Pada 2007 pernah ada rencana membangun reservoir semacam itu di Jakarta. Terowongan sepanjang 17 kilometer dari Manggarai ke Muara Angke itu mampu menampung air hingga 30 juta meter kubik—bisa menampung luapan air sungai dan menjadi sumber air baku PDAM. Namun, proyek senilai Rp 4,4 triliun itu tidak jelas perkembangannya.

Selain itu, masyarakat bisa membantu meresapkan air permukaan dengan membuat sumur resapan di samping rumah atau gedung bertingkat. Fungsi sumur resapan jauh lebih efektif dibandingkan biopori.

Sumber : Kompas
Komunitas Indonesia Goes Green membagikan beragam jenis tanaman produktif kepada pengguna jalan yang melintas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (4/6). Lebih dari 600 tanaman dibagikan untuk menularkan kepedulian masyarakat terhadap pemanasan global.



Peneliti LIPI dari UPT PKT Kebun Raya Cibodas, Dr. Didik Widyatmoko, Msc, mengkritisi penetapan spesies prioritas konservasi oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), yang tidak memasukkan unsur kemanfaatan sebagai salah satu variabel.

Unsur kemanfaatan dinilai penting sebagai salah satu pertimbangan dalam menetapkan suatu jenis tumbuhan masuk dalam prioritas konservasi. Berdasarkan IUCN, semakin dekat dengan kepunahan, maka tingkat kelangkaan spesies semakin tinggi. "Tetapi tidak memasukkan unsur manfaat. Padahal, unsur manfaat ini penting. Untuk apa konservasi kalau tidak ada manfaatnya? Ke depannya, unsur komponen manfaat ini perlu dimasukkan," kata Didik, dalam jumpa pers di sela Workshop Penetapan Spesies Prioritas Konservasi Dipterocarpaceae & Thymelaeaceae, di Gedung Konservasi LIPI, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin (27/9/2010).

Meski manfaat suatu tumbuhan belum diketahui, Didik berpendapat, konservasi terhadap tumbuhan tersebut tidak bisa diabaikan. "Siapa tahu ke depan kita akan tahu manfaatnya. Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa ada manfaat. Hanya, mungkin karena belum ada kajian maka belum diketahui," ujarnya.

Pada tahun ini, LIPI memprioritaskan konservasi 2 famili yaitu Dipterocarpaceae dan Thymelaeaceae. Namun, berapa spesies yang ada dalam kelompok famili ini masih akan dilakukan kajian lebih jauh. Dipterocarpaceae merupakan jenis tanaman kayu yang banyak terdapat di Indonesia. Secara manfaat, pengambilan jenis kayu dari famili ini cukup tinggi. Yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya Meranti, Kayu Kapur, Kruing dan Bengkirai. Pusat keanekaragaman Dipterocarpaceae paling luas terdapat di kawasan Sumatera dan Kalimantan.

Ahli Thymeleaceae dari Herbarium Bogoriense, P2Biologi LIPI, Harry Wiriadinata menjelaskan Thymeleaceae merupakan jenis tanaman gaharu. Ia berharap, dengan penetapan spesies prioritas konservasi akan mendorong untuk melakukan lebih jauh terhadap spesies tersebut dan mengeksplorasi wilayah penyebarannya.


Tingkat deforestasi dan degradasi habitat alami yang semakin mengkhawatirkan mengakibatkan tingkat kepunahan jenis tumbuhan yang semakin tinggi. Karena itu, penentuan prioritas konservasi tumbuhan Indonesia perlu dilakukan agar perlindungannya bisa efektif.

"Upaya konservasi yang tepat sasaran harus dilakukan sesegera mungkin," kata Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor, Ir. Mustaid Siregar, M. Si, dalam siaran pers Workshop Penetapan Spesies Prioritas Konservasi: Dipterocarpaceae dan Thymelaeaceae yang akan digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 27 September 2010. Workshop ini akan berlangsung di Lantai 3 Gedung Konservasi, PKT Kebun Raya Bogor LIPI, Senin (27/9/2010).

Ia mengatakan bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang diselenggarakan pada Juni 2009, di mana saat itu jenis-jenis yang dinilai adalah anggota dari famili Arecaceae, Orchidaceae, Nepenthaceae dan Cyatheaceae.

"Penyelenggaraan workshop ini bertujuan untuk memperoleh sebuah daftar spesies prioritas, yang dapat dijadikan sebagai salah satu acuan utama dalam pelaksanaan aksi konservasi tumbuhan di Indonesia," jelasnya. "Sehingga, aksi konservasi yang dilakukan dapat lebih terfokus, efektif dan efisien," lanjutnya.

Mustaid mengulas bahwa signifikansi penentuan jenis-jenis prioritas untuk konservasi tumbuhan Indonesia tentunya tidak terlepas dari keterbatasan sumberdaya yang tersedia untuk mendukung aksi konservasi di satu sisi, dan perlunya resources allocation yang efektif dan efisien di sisi yang lain.

Dikatakannya, pemilihan Dipterocarpaceae dan Thymelaeaceae sebagai taksa target pada workshop kali ini di antaranya didasarkan pada kenyataan bahwa banyak jenis-jenis tumbuhan anggota famili tersebut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Dan, pada saat yang sama menghadapi ancaman kepunahan di alam yang tinggi, khususnya akibat pemanenan yang berlebihan (overharvesting)," ucap dia.

Dalam workshop ini, Mustaid menambahkan bahwa ada tiga pembicara, yaitu Dr. Didik Widyatmoko, M.Sc. dari UPT PKT Kebun Raya Cibodas LIPI, Dr. Tukirin Partomiharjo dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dan Dr. Harry Wiriadinata dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.




Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menetapkan dua spesies prioritas konservasi, yaitu Dipterocarpaceae dan Thymelaeaceae. Penetapan dua spesies prioritas konservasi ini dikaji mendalam pada lokakarya yang digelar di Gedung Konservasi LIPI, PKT Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin (27/9/2010).

Peneliti LIPI dari UPT PKT Kebun Raya, Cibodas, Dr Didik Widyatmoko Msc, mengatakan, dua spesies ini dinilai sebagai spesies yang diduga terancam punah dalam jumlah yang besar. "Sebelumnya, semua taksa atau famili yang punya anggota terancam kepunahan banyak dijadikan prioritas. Tetapi, dengan segala pertimbangan, termasuk dana, dua spesies ini yang dijadikan prioritas," kata Didik menjelaskan alasan penetapan dua spesies prioritas ini.

Ia memaparkan, penetapan spesies prioritas (PSP) memvalidasi kategori kelangkaan tumbuhan Indonesia yang terancam kepunahan. Daftar spesies yang dijadikan prioritas, termasuk yang ada dalam daftar Red List International Union for the Conservation of Nature and Natural Reaources (IUCN), ditetapkan melalui sejumlah penilaian. Poin-poin penilaian di antaranya, status populasi dan keunikan, tingkat keterancaman, kerentanan, kemudahan propagasi, dan nilai manfaat. "PSP menyusun peringkat spesies berdasarkan kriteria dan pertimbangan ilmiah, netral, dan komprehensif," kata Didik.

Sementara itu, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Tukirin Partomiharjo, memaparkan, penetapan status dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 adalah memiliki populasi yang kecil, adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam, daerah penyebarannya terbatas, rusaknya habitat alami (terdegradasi), dan adanya pertimbangan khusus dari pemerintah yang memandang suatu spesies perlu dilindungi.

Dipterocarpaceae sendiri, urainya, umumnya berupa pohon besar dan merupakan penyusun utama komunitas hutan pamah di kawasan Asia. "Jenis ini memiliki anggota yang cukup banyak dengan biologi yang cukup luas," kata Tukirin.


Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor Ir Mustaid Siregar MSi mengatakan, signifikansi penentuan jenis-jenis prioritas untuk konservasi tumbuhan di Indonesia tidak terlepas dari keterbatasan sumber daya yang tersedia untuk mendukung aksi konservasi, yaitu dana, tenaga, waktu, dan fasilitas.

Pemilihan Dipterocarpaceae dan Thymelaeaceae sebagai taksa target didasarkan pula pada kenyataan bahwa banyak jenis tumbuhan anggota famili tersebut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Pada saat yang sama, menghadapi ancaman kepunahan di alam cukup tinggi, khususnya akibat pemanenan yang berlebihan," kata Mustaid.

Penetapan spesies prioritas konservasi ini telah dilakukan melalui proses penilaian oleh panel pakar yang terdiri dari ahli-ahli yang dipandang memiliki fokus studi pada taksa target dan memahami secara mendalam karakteristik taksa yang akan dinilai.

Sumber : Kompas


September 28, 2010




Untuk menjaga kelestarian alami kota Bandung dan sekitarnya, para pendiri kota Bandung mendirikan “ Bandoengsche Comite tot Natuurbescherming “ (Komite Bagi Perlindungan Alam di Bandung ). Komite ini didirikan tahun 1917 diketuai oleh Dr. W. Docters van Leewen dan anggota yang menjadi pengurusnya adalah K.A.R. Basccha, F.W.R. Diemont, P. Holten dan W.H. Hoogland.

Pada saat itu komite telah merencanakan, konservasi seluruh areal Bandung Utara, khususnya daerah sekitar air terjun Curug Dago dengan nama “ Soenda Openlucht Museum “ atau Museum alam terbuka sunda salah satu peninggalan komite tersebut yang masih tersisa adalah “ Huize Dago “ yang sekarang lebih dikenal dengan “ Dago Thee Huis “.

Di arel Soenda Openlucht Museum terdapat curug / air terjun Curug Dago. Curug Dago ini merupakan salah satu curugan / air terjun yang ada pada aliran sungai Cikapundung. Sungai yang membelah kota Bandung, berada pada ketinggian 650-2.067 m dpl merupakan sub-DAS Citarum, luasnya 15.386,5 ha. Sungai ini hulunya di Bukit Tunggul dan bermuara di Citarum. Hulu sungai cikapundung terletak antara kecamatan Lembang dan Kecamatan Cilengkrang. Dari kawasan utara menuju selatan yang bermuara di Citarum.

Kenapa curug Dago menjadi salah satu curug / air terjun yang istimewa? selain orang – orang Belanda pada jaman Hindia – Belanda. Raja Rama V (Raja Chulalongkorn) dari Thailand, salah satu Raja Siam terbesar, juga sempat medatangi Curug / air terjun tersebut, bedanya kalau orang-orang Belanda datang ke Curug Dago hanya untuk bertamasya dan berfoto tetapi Raja Thailand yang dulu dikenal dengan kerajaan Shiam ini pertama kali berkunjung ke Curug Dago pada 1896. Beliau mendatangi Curug Dago ini lebih kearah spiritual, Curug Dago mejadi salah satu tempat semedi Raja Thailand tersebut,.

Raja Rama V kembali ke Thailand dengan kenangan yang indah. Pada 1901 ia kembali lagi, lalu mengukir tanda tangannya pada sebuah batu di Curug Dago sebagai bentuk kekagumannya pada tempat itu. Pada 1929, Raja Rama VII (Pangeran Prajatthipok Paramintara) mengikuti jejak ayahnya. Batu yang ditandatangani itu kini masih berada di Curug dago dan dilindungi oleh Sala Thai (Rumah Thai). Bangunan bercat merah khas Thailand berukuran sekitar 2x2 meter itu berjumlah dua buah berada di pinggir Curug Dago.

Di kota Bandung sendiri Pangeran Paribatra, kerabat Raja Siam, pernah mendirikan villa "Dahapati" di Jl. Cipaganti. tepatnya daerah POM bensin Cipaganti dan sebelum menjadi POM bensin dulu areal tersebut dikenal dengan taman atau bunderan Shiam Siem.

Menurut S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland dalam bukunya Gids Van Bandoeng En Omstrcken1922 kedua temuan prasasti tersebut erat kaitannya dengan kunjungan keluarga Kerajaan Siam (Tailand) ke Bandung, Raja Chulalongkorn dan Pangeran Prajatthipok Paramintara yang masing-masing merupakan raja ke V dan VII dari Dinasti Chakri. tujuan penulisan kedua prasasti di Curug Dago yang memuat nama kedua nama raja dan pangeran itu menjadi jelas yaitu merupakan penghormatan terhadap ke dua tokoh tersebut, lengkap dengan penulisan inisial, angka tahun serta catatan usia kedua tokoh. Memang ada tradisi yang menyatakan bahwa pada umumnya apabila seseorang raja Thai menemukan tempat panorama yang indah, maka biasanya di tempat tersebut sang raja melakukan semadhi dan kadangkala menuliskan nama atau hal lainnya yang dianggap penting. Sekaligus merupakan kenangan dan pengakuan atas kekeramatan/kesucian tempat tersebut.

Kalau kita datang ke Curug Dago mungkin kita tidak akan begitu nyaman berada disana padahal kalau kita lihat buku daftar tamu yang datang banyak juga orang asing dan khususnya banyak orang Thailand yang datang melancong ke sana. Sangat disayangkan kalau salah satu aset Pariwisata Kota Bandung ini tidak terperhatikan dan terbengkalai.

# Deni Rahadian #
Sumber:
Haryoto Kunto/Bandoeng Tempo Doeloe & Semerbak bungan di Bandung Raya

September 27, 2010



" Keberhasilan suatu petualangan apapun yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri "

" Jelajahilah seluruh pelosok negerimu, dan kembalilah pulang ke rumah dengan selamat ".


Pengertian survival sebenarnya sangat luas, kondisi survival dapat terjadi dimana saja, tidak hanya terjadi di laut, di gunung atau di hutan saja juga tidak tergantung lamanya waktu yang mungkin diperlukan oleh seorang survivor untuk terus bertahan hidup. Semua tindakan yang dilakukan untuk tetap bertahan hidup pada keadaan darurat disebut survival, dan satu sama lain tentu saja akan berbeda prioritasnya.


PSIKOLOGI DALAM SURVIVAL
Dalam keadaan darurat, kesiapan fisik dan kekuatan mental merupakan kunci keberhasilan atau kegagalan bagi seorang survivor untuk bertahan hidup.
Pada kondisi sepert itu seorang survivor dihadapkan pada dua pilihan, yaitu bertahan hidup atau mati....
Kebutuhan yang paling penting dalam survival adalah segera menerima kenyataan tentang kondisi dan situasi yang terjadi, dan segeralah bertindak.
Untuk menghadapi hal tersebut, informasi pengetahuan tentang survival sangatlah penting dalam menambah keyakinan diri.

Survival adalah kondisi yang lebih memerlukan kekuatan jiwa. Hidup seorang survivor tergantung pada dirinya sendiri, karena kemauan yang besar untuk tetap hidup akan mendorong seorang survivor bertindak tenang dan sabar agar dapat keluar dari kemelut yang dialaminya.
Pada kondisi dan situasi survival, seorang survivor akan dihadapkan pada kondisis-kondisi yang membuatnya stress. Dalam hal itu musuh utama seorang survivor adalah perasaan takut dan panik.
Survival merupakan suatu rangkaian perasaan. Saat kita menyadari dalam kondisi genting, konsentrasilah terhadap ketidakramahan dan sesuatu hal yang tidak kita ketahui. Jadi yang pertama harus diingat adalah ‘jangan takut dan panik’ agar kita bisa mengontrol bagaimana berusaha dan bertahan dalam kondisi yang tidak diinginkan itu

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAN KONDISI SURVIVAL
Diantaranya adalah : rasa takut, sakit, dingin, haus, lapar, kelelahan, kebosanan dan kesepian.

PRIORITAS DALAM MENGHADAPI KONDISI SURVIVAL.
1. Periksa atau awasi diri dan teman seperjalanan.
2. Jika mendapat cedera apapun bentuknya berikan perlakuan P3K.
3. Siapkan dan kumpulkan perlengkapan survival dan perlengkapan yang berguna
lainnya untuk membuat sinyal-sinyal darurat.
4. Cari dan hematlah air minum.
5. Membuat perlindungan / bivak.
6. Pakailah pakaian yang tepat, lindungi diri sendiri.
7. Mencari dan menghemat makanan’
8. Buatlah perapian
9. Tenangkan diri, rumuskan rencana yang akan diperbuat.
10. Jika memang diperlukan, persiapkanlah perjalanan,


" Keberhasilan suatu petualangan apapun yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri "
" Jelajahilah seluruh pelosok negerimu, dan kembalilah pulang ke rumah dengan selamat ".

(Djukardi 'Bongkeng' Adriana. Beliau salah satu Anggota senior Wanadri (Instruktur & penggiat) di bidang GUNUNG-HUTAN)

Thanks to Deni Rahadian (HNG)


September 26, 2010

setelah kurang lebih 2 bulan "ngonthel" putar - putar di kota gudeg , saya menemukkan beberapa rutinitas menarik dari para goweserr jogja, silahkan dibaca - baca......

# Trek Kaliurang - Pakem - Kaliwedas


Kalau di Bandung ada jalan Dago yang tiap sabtu dan minggu diramaikan oleh para goweser seantero Bandung,nah kalau di Jogja saya menemukan jalan Kaliurang. Jalan Kaliurang termasuk lumayan menantang dibandingkan jalan lain di Jogjakarta yang kebanyakan konturnya flat. Jalan Kaliurang membentang dari selatan UGM sampai ke utara km.25 yang merupakan wilayah kaki Gunung Merapi. Jalan ini akan mulai diserbu para goweser di setiap sabtu dan minggu pagi. Dan tujuan pertama mereka adalah Pakem.

Minggu tanggal 19 September saya diajak teman - teman Bike to campus Jogja untuk bersepeda ke Pakem. Biasa kalau ditantang yang seperti ini tanpa pikir panjang saya bilang sanggup, padahal tahu medan aja tidak. Ternyata Pakem itu wilayah di jl. Kaliurang km.15 tempat kumpulnya para pesepeda setiap sabtu dan minggu mungkin kalau di Bandung Warban. Kami kumpul di bunderan UGM lalu sekitar pk. 05.30 bersama-sama mengayuh menuju Pakem. Rombongan bertambah ramai ketika bertemu dengan kawan - kawan kami yang sudah menunggu di Jakal bawah. Di Perjalanan banyak sekali para pesepeda yang juga gowes ke atas benar rasanya seperti sabtu pagi di Dago. Jalan di Jogja memang menyenangkan untuk bersepeda jalannya bagus dan sepi kalau dibandingkan Bandung atau Jakarta. Medan jalannya sendiri tidak terlalu nanjak dari awal km.0 - km.10. Nah mulai atur dealeur dan otot betis itu di km.10 ke atas. Pemandangan yang luar biasa terlihat sepanjang perjalanan yaitu tampak gagah di depan Puncak Merapi yang mengeluarkan kepulan asapnya tampak menantang untuk didaki kembali. Rasanya ingin ku gowes sepeda ini sampai Puncak Merapi tapi apa daya betis ra kuat.



Sekitar kurang lebih sejam dengan panjang rute 15 km akhirnya tibalah kami di Pakem tepatnya di sebelah barat pasar. Disana sudah banyak pesepeda yang duluan sampai kelihatanya mereka naik dari subuh. Di sini ada warung yang jadi langganan para pesepeda, kami tinggal ambil teh hangat yang sudah disediakan di gelas - gelas dan berbagai gorengan dan jajanan pasar yang siap disantap. Kalau mau sarapan nasi atau bubur tinggal pesan saja ke mbaknya tapi sayangnya gag ada bandrek. Kalau dipikir - pikir inti dari setiap trip gowes itu selalu gowes, ngobrol,dan kuliner.

Di Pakem itulah ada beberapa sepeda yang meneruskan perjalanan ke atas. Ternyata mereka menuju Kaliadem, Kaliadem dikenal dengan track offroadnya baik crosscountry atau all-mountain. Saya sendiri belum pernah kesana jadi belum bisa cerita banyak. Kalau tidak salah track kaliwedas ada artikelnya di Ride Bike Indonesia edisi bulan kemarin. Dari kisah teman yang sudah sampai kaliwedas memisalkan dari kaliurang bawah ada 200 sepeda yang bertahan sampai kaliwedas hanya ada 10 sepeda. Sayang karena kesepakatan rombongan untuk finis di Pakem jadi belum bisa merasakan jalur Kaliwedas.



Setelah puas istirahat kami bergerak turun mengambil jalur de
sa - desa dan kebun penduduk tracknya light crosscountry dan pastinya tak lupa berfoto ria. Sekitar pukul 10.00 kami sudah tiba di kota dan berpisah. Ayo Sidaacuta Bike Community kalau ke Yogyakarta wajib ke Pakem - Kaliwedas.

#Jogja Last Friday Ride

Ya itu adalah sebuah gerakan bersepeda di Jogjakarta y
ang konsepnya mengumpulkan semua jenis komunitas sepeda yang ada di Jogjakarta untuk berkumpul, sharing, dan gowes bareng keliling kota. Gerakan ini sudah dilaksanakan 5 kali dan selalu mengambil waktu setiap sore di jumat terakhir tiap bulan. Tercetusnya ide Jogja Last Friday Ride adalah dari menyebarkan semangat bersepeda tok tanpa ada embel-embel "Dari komunitas mana?". Semua ada dari yang tua, muda, pria,wanita ,anak-anak.Di sini muncul juga berbagai jenis sepeda MTB,onthel,sepeda tinggi ( > 2meter,saya baru liat di jogja), roadbike, fixie, fold bike, bahkan sepeda ibu2 yang ada keranjang didepanya juga ikut kumpul tapi disini tidak ada yang peduli semua jenis itu yang kami kenal adalah sepeda.

Rangkaian acara ini diawali dengan kumpul di lapangan Kridosono sekitar pukul 4 sore, biasanya teman -teman komunitas sepeda diundang dan digembar-gembor via internet, sms, dan lewat percakapan dari sesama goweser. Maka terkumpulah berpuluh - puluh sepeda dari penjuru Jogjakarta. Sembari menunggu teman goweser lainya, kami saling tegur sapa saling berkenalan dan mengobrol pasti pembicaraan tak jauh dari sepeda. Setelah 5 sore lebih salah satu jejenglotnya mulai bersuara untuk menentukkan jalur gowes, memberi wejangan, dan memberi semangat.

Saatnya bergowesss!! Di Perjalanan tak ada yang kebut - kebutan berbeda dari Fun bike yang saya ikuti "waktu itu". Semuanya satu misi menyebarkan virus bersepeda. Biasanya gowes kurang lebih 1 - 2 jam berputar mengelilingi jalan raya jogja dan paling asyik ketika masuk gang2 keraton. Beda dengan Fun-bike atau sejenisnya gerakan ini sukarela dan spontan terkadang ada juga yang ikut gabung dalam perjalanan.Dalam perjalanan saking banyaknya sepeda sehingga rasanya jalan milik sepeda.


Kerlap - kerlip lampu sepeda menghiasi jalanan, serombongan para pes
epeda memancing perhatian orang - orang di pinggir jalan untuk menoleh. Semuanya gembira dan santai, saking santainya dalam perjalanan kami sembari bercanda,mengobrol sampai tukeran no telepon. Akhir perjalanan selalu di titik 0 Jogjakarta yaitu di selatan jalan Malioboro. Disitulah semua sepeda tumplek - plek sehingga menarik mata para wisatawan yang ada di malioboro. Biasanya ada games- games dan doorprize sederhana untuk menghangatkan suasana. Sekitar pukul 7 malam rangkaian acara ditutup dengan foto bersama dan selanjutnya acara bebas. Kalau saya sendiri biasanya pilih di angkringan dan wisata kuliner bersama teman - teman Bike to Campus.

Dari Gerakan ini diharapkan selain menjadi wadah berbagi dan sharing para goweser juga muncul kesadaran bersepeda
dari masyarakat. Setelah saya 2 kali ikut kegiatan ini terasa begitu menyenangkan bisa bertemu banyak pengguna sepeda.

follow : @Friday_Ride

Poko'e YOU'LL NEVER BIKE ALONE!!
Theodorus Bayu Pratama (BNP)
26/9/10 Jogja

September 25, 2010



Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan, perambahan hutan hingga kini masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Riau yang mengancam keberadaan hutan konservasi di provinsi itu.

Tercatat sekitar 30 persen atau seluas 28.000 hektare lebih dari luas total 83.000 hektare kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo kini berada dalam kondisi yang rusak akibat dirambah, dan sebagian di antaranya beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

"Saya tadi menemukan kerusakan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo, untuk itu saya meminta bantuan aparat hukum untuk menangkap pelaku perambahan hutan konservasi itu," tegas Zulkifli Hasan, di Kantor Gubernur Riau, di Pekanbaru, Kamis.

Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu, merupakan salah satu dari tiga kawasan hutan yang ditinjau menhut beserta rombongan menggunakan helikopter dalam kunjungan kerja sehari di Riau.

Dalam kunjungan kerja sehari yang dirangkaikan dengan peluncuran Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Tasik Besar Serkap terhadap kawasan hutan Semenanjung Kampar, menhut juga menjelaskan bahwa penegakan hukum di taman nasional bukan berarti menekan masyarakat.


Sebab kerusakan yang terjadi di lahan konservasi itu masih terus terjadi dan Kementerian Kehutanan memiliki personel yang terbatas dalam mengawasi area lahan yang masih menjadi habitat Gajah Sumatra dan perlintasan Harimau Sumatra.

Pada acara yang dihadiri Wakapolda Riau beserta unsur Muspida Provinsi Riau itu, menteri juga berharap dukungan semua pihak terutama jajaran Polda Riau bisa mendukung upaya-upaya penegakkan hukum yang dilakukan secara bersama.

"Jadi sekali lagi pak wakapolda, penegakan hukum yang kita lakukan bukan bermaksud menekan masyarakat setempat. Tetapi jika ada satu atau dua orang yang membakar lahan, maka harus ditangkap dan mohon didukung," jelasnya.

Menhut juga berharap Tesso Nilo harus benar-benar dikembalikan ke peruntukkannya yakni menjadi taman nasional sehingga nantinya bisa dikelola menjadi pariwisata unggulan di Provinsi Riau.

"Jadi Tesso Nilo nantinya bisa mendatangkan uang dari mereka yang melakukan wisata alan dan menjadi kebanggaan serta merubah citra Riau yang selama ini dikenal selalu merusak lingkungan," katanya.

Kalangan penggiat lingkungan di Riau, menyambut baik pernyataan menhut tersebut karena dewasa isu-isu kerusakan lingkungan di Taman Nasional Tesso Nilo selalu kalah dengan isu-isu lingkungan lain.

"Kita menyambut positif pernyataan menhut yang segera melakukan penegakkan hukum di Tesso Nilo, semoga dapat direalisasikan sehingga kawasan konservasi memang dapat dilindungi dengan sebaik mungkin," ujar Humas WWF Riau, Syamsidar.

Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan blok hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera, dan merupakan habitat bagi hewan-hewan langka yang dilindungi seperti gajah dan harimau.

Penelitian terakhir menyebutkan di kawasan itu juga terdapat 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.



Sumber : Antara
Kredit Foto : Greenpeace, WWFsavesumatra
Kredit Peta : WWF
oleh : Djukardi 'Bongkeng' Adriana

SAR adalah merupakan singkatan dari Search And Rescue, dengan demikian maksud dan tujuan dari misi SAR adalah mencari dan menolong. Secara spesifik lagi SAR dapat didefinisikan sebagai pengarahan personal dan fasilitas yang tersedia didalam memberikan pertolongan kepada manusia atau sesuatu yang berharga yang berada dalam keadaan celaka atau distress dilokasi yang terisolir.


Dalam Misi SAR, baik struktur organisasinya maupun pola pencariannya, sangat tergantung dari kondisi pada saat keadaan darurat itu berlangsung. Misalnya, jumlah orang atau personal yang berperan, akan tergantung pada banyaknya tenaga yang dibutuhkan dan fasilitas SAR yang tersedia dilapangan. Disamping itu masih harus diperhitungkan luas dan kerawanan area Pencarian berdasarkan letak geografisnya.

Pada dasarnya misi SAR itu merupakan bentuk kegiatan insidental yang menyangkut keselamatan jiwa para survivor yang sedang dalam keadaan distress, jadi dalam pelaksanaannya diperlukan adanya suatu system kerja yang tidak hanya sekedar serba cepat, tapi juga perhitungan-perhitungan yang matang dan pengoperasian yang efektif, serta hal-hal lain guna menyelamatkan jiwa sebanyak dan sedini mungkin.

Maka dengan demikian bila hal kesiapan dari suatu perencanaannya bisa berjalan dengan baik, misi itu dapat terhindar atau paling tidak menekan sekecil mungkin kesalahan-kesalahan yang akan mengakibatkan keterlambatan penemuan survivor. Jadi motto dasar dari suatu operasi SAR adalah pergerakan yang cepat dan tepat, cermat, dan cekatan (3 C) serta tanggap saat dalam melakukan misi kegiatan itu.

Dalam kegiatannya belakangan ini misi SAR tidak hanya diikuti oleh personal-personal khusus / spesialis ataupun propesional di bidangnya, tapi juga diikuti oleh tenaga-tenaga amatir yang pada umumnya dari kalangan kelompok Pencinta Alam atau Pendaki Gunung yang datang secara sukarela untuk menyumbangkan tenaganya walaupun niat tulus itu tanpa didasari oleh pengetahuan SAR yang mendasar.


Sekarang dapat kita lihat frekuensi operasi-operasi SAR yang pernah dilaksanakan.
Dari seluruh operasi SAR tersebut satu hal yang sangat menarik perhatian adalah adanya partisipasi yang spontan diberikan oleh para penggiat kegiatan di alam terbuka yang turut aktif dalam setiap kegiatan SAR atau misi kemanusiann lainnya seperti penanggulangan bencana alam dsb.

Dalam kebersamaan beraktivitas didalam misi kemanusiaan saat itu dan atas rasa kemanusiaan serta kesetiakawanan dan juga tanggung jawab moral, tanpa disadari tumbuh semacam kode etik untuk saling bahu-membahu dalam menolong sesama yang sedang mengalami musibah itu.

Di mana untuk hal tersebut tentunya sangat menggembirakan, namun juga, sangat disayangkan karena kebanyakan inisiatif niat tulus dari para penggiat kegiatan di alam terbuka ( Pencinta alam / pendaki gunung ) itu tidak selalu memberikan hasil yang maksimal.

Hal seperti itu mungkin karena disebabkan adanya suatu keterbatasan kurangnya wawasan pengetahuan dan persepsi tentang SAR itu sendiri dari personal yang terlibat.
Dan masih banyak yang kita ketahui tentang kelemahan dan kekurangan yang diketahui dilapangan, dimana personal tim yang tergabung didalam misi SAR itu masih banyak yang tidak menguasai teknik peta – kompas Gunung Hutan dan skill lainnya yang seharusnya dikuasai oleh seorang personil SAR.


Kesimpulannya,
Bagi seorang ground unit atau personil SAR sudah suatu keharusan dan mutlak untuk menguasai materi Teknik Hidup di Alam Terbuka itu , khususnya penguasaan pengetahuan Navigasi Darat / IMPK ( Ilmu Medan Peta – Kompas ), Teknik Pencarian dalam misi SAR dan penguasaan pengetahuan tentang medis / PPGD ( Pertolongan Pertama Gawat Darurat ) yang tentunya berhubungan erat dengan masalah Rescue.

(Djukardi 'Bongkeng' Adriana. Beliau salah satu Anggota senior Wanadri (Instruktur & penggiat) di bidang GUNUNG-HUTAN)

Thanks to Deni Rahadian (HNG)


Kredit Foto : Google
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff