April 22, 2011

Oleh : Yusuf Yanuardi Wibowo


Pada 27 Juni – 3 Juli 2010 yg lalu saya dan 3 orang rekan melakukan perjalanan menuju gunung tertinggi di pulau Jawa, yaitu Gn. Semeru (3676 mdpl) dengan puncaknya yang dikenal dengan sebutan Mahameru. Selain sebagai salah satu syarat untuk mendapat nomor pokok anggota PPA Sadagori, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung yang selalu saya impikan untuk bisa saya taklukkan sambil membayangkan berada dititik tertinggi Pulau Jawa, pulau yang saya tinggali.

Dalam perjalanannya saya mendapati kejadian yang belum pernah saya alami sebelumnya, dimana salah satu anggota tim saya mengalami gejala Hipotermia. Saya sendiri bingung dan tidak tahu bagaimana cara penanggulangannya tapi beruntung salah satu anggota tim kami pernah menghadapi kondisi seperti itu sehingga langkah awal pertolongan pertama pada penderita pun dapat dilakukan.

Inilah yang saya ingin bagi kepada rekan – rekan tentang apa itu Hipotermia dan bagaimana pencegahan dan penanggulangannya, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika beraktifitas di alam bebas.

Pengertian

Hipotermia adalah kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan untuk mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh mencapai 35 derajat C atau dibawahnya tubuh manusia mampu mengatur suhup adazonater monetralyaituantara 36,5 – 37,5 derajat C, diluar suhu tersebut respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan suhu panas dalam tubuh.

Gejala dan Indikasi

Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan seperti biasa, seperti badan menggigil gemetaran. Bila tubuh basah maka serangan Hipotermia akan semakin cepat dan hebat. Puncak dari gejala Hipotermia adalah ketika korban tidak lagi merasa kedinginan malah merasa kepanasan (dalam buku Norman Edwin disebut “Paradoxical feeling of warmt”). Sehingga korban akan merasa kepanasan hingga membuka pakaiannya satu persatu walaupun suhu saat itu sangat dingin.

Hipotermia bergerak dengan pelan menyerang saraf, oleh karena itu korban tidak merasa kalo dia sudah menjadi korban Hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan harus selalu aware terhadap rekan satu timnya, apabila ada yang menunjukkan gejala yang tidak biasa maka kita harus waspada dan terus memperhatikan sambil menjaga kawan kita tetap sadar dan tidak bertambah parah.

Hipotermia juga dapat menimbulkan halusinasi pada penderitanya, sehingga dia seolah-olah melihat sesuatu dan terkadang mengejarnya. Kondisi halusinasi ini terkadang terjadi sebelum “paradoxical feeling of warmt” terjadi.

Pencegahan

Selama kita akan melakukan kegiatan di alam bebas selalu sediakan ponco atau rain coat khususnya ketika curah hujan sedang tinggi. Jaket dan pakaian – pakaian yang melindungi kita dari suhu dingin juga merupakan perlengkapan wajib yang harus selalu dibawa. Sarung tangan, kupluk/balaclava, sepatu pendakian yang menutup hingga mata kaki jugasangat penting, jangan pernah sekali – kali melakukan pendakian menggunakan sandal gunung atau bahkan sendal jepit. Usahakan untuk selalu menutup seluruh anggota tubuh khususnya ujungjari, telinga dan bagian-bagian yang banyak mengandung saraf reseptor.

Bawa makanan yang dapat menjadi kalori seperti gula jawa, kurma, coklat dll. Itu semua dapat dijadikan “cemilan” sambil jalan untuk mengganti energi yang hilang.

Jangan menunggu hingga hujan turun untuk memakai rain coat atau ponco, perhatikan selalu kondisi cuaca. Selalu usahakan agar pakaian kita tetap kering.

Jangan merasa ragu atau malu untuk berbicara kepada rekan seperjalanan atau team leader ketika kondisi tubuh kita mulai terasa kurang fit atau melemah.

Sumber :
Djuni.wordpress.com
Wikipedia.com
Dr. AryaYudhistira Sp. F

Maret 24, 2011



Sabtu terakhir pada bulan Maret 2011 akan diadakan kembali sebuah kegiatan global yang di organisir oleh WWF berupa pemadaman lampu dan alat-alat listrik yang tidak terpakai selama satu jam. Pada tahun ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 8.30 malam sampai 9.30 malam waktu lokal.

Earth Hour yang pertama kali terselenggara pada tahun 2007 ini telah memasuki tahun kelima dimana jumlah peserta di tahun 2011 ini 224 negara telah bersedia berpartisipasi mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang hanya diikuti oleh 126 negara. Ada peningkatan 77% dari tahun sebelumnya membuktikan bahwa kampanye ini semakin diterima oleh banyak negara di belahan dunia.

Pada tahun 2010 dilaporkan setelah mematikan lampu selama 1 jam telah berhasil menghemat konsumsi listrik sebanyak 811 megawatt untuk Jakarta dan Bali. Jakarta dan bali merupakan konsumen listrik terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 78% dari total seluruh konsumsi nasional.

Di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 90 juta warga Amerika Serikat berpartisipasi, termasuk Las Vegas, Empire State Building dan Air Terjun Niagara. Di Filipina 1.067 kota dan lebih dari 15 juta warga Filipina berpartisipasi, di Vietnam negara ini berhasil menghemat 500 megawatt pada tahun 2010 tersebut, tiga kali lebih besar ketika negara itu berpartisipasi pertama kali pada tahun 2009.

Dan..lebih dari 4000 kota diseluruh dunia ikut ambil bagian termasuk bangunan-bangunan terkenal seperti Big Ben, Empire State Building, Sydney Opera House, Menara Eiffel, Parthenon, Gerbang Brandenburg, dan Kota Terlarang.




Tahun ini tema yang diusung adalah "Setelah 1 jam, jadikanlah gaya hidup" ,pada kesempatan ini Gubernur Jakarta sangat mendukung program ini dan berharap hemat energi dapat diajdikan pola hidup kita kedepan.

"Earth Hour jangan dilihat sekadar matikan lampu, menghemat listrik, tetapi kita ingin melihat ini sebagai way of life. Menghemat energi sebagai bagian pola hidup kita ke depan," Fauzi Bowo kepada Antara

Menurut WWF-Indonesia, jika 10% warga Jakarta berpartisipasi, maka Jakarta akan menghemat konsumsi listrik sebesar 300 Mwh selama satu jam. Jumlah tersebut setara dengan mematikan satu pembangkit listrik dan dapat menyalakan sekitar 900 desa serta mengurangi emisi karbon setara dengan 267,3 ton, menghemat lebih dari 267 pohon, oksigen untuk lebih dari 535 orang dan menghemat biaya sebesar 200juta.

Pada tahun 2010 perayaan earth Hour di Jakarta dipusatkan di taman Monas Jakarta Pusat, dan Pemrpov DKI memadamkan lima ikon kota lainnya yaitu Bundaran HI dan air mancurnya, Monas dan air mancur menarinya, Gedung Balaikota, Patung Pemuda, dan Air Mancur Patung Arjuna Wijaya (depan gedung Depbudpar). Selain itu dilakukan aksi dibeberapa kota lainnya seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Sayangnya di Bandung, solidaritas Earth Hour 2010 kurang tampak, seperti yang ditulis oleh Kompas




WWF-Indonesia menjelaskan tujuan Earth Hour 2011 adalah untuk melanjutkan target efisiensi energi dan perubahan gaya hidup di kota-kota besar di dunia dengan konsumsi listrik tinggi, dan berusaha mengaitkannya dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang lebih bersih dan berdampak minimal pada lingkungan.

Pada intinya, kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti: menggunakan kendaraan umum atau bersepeda untuk bepergian, hemat air, menanam pohon, dan lain-lain

Dalam jangka panjang, diharapkan Earth Hour mengangkat dan memancing semangat kepemimpinan di semua sektor agar bisa diadaptasi oleh pemerintahan dan korporasi di negara-negara partisipan untuk secara signifikan memasukkan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai bagian dari kebijakan yang mereka miliki supaya penurunan emisi gas rumah kaca bisa dilakukan secara komprehensif.

Jadi Earth Hour tidak bisa berhenti di 1 jam saja, melainkan diharapkan bisa diadaptasi oleh pemerintahan di negara-negara partisipan dan publik yang telah berkomitmen menjadi partisipan.

Harapan lainnya adalah untuk menjadikan hemat energi menjadi suatu gaya hidup di masyarakat dunia. Solidaritas tiap kota merupakan salah satu faktor yang menyebabkan partisipan Earth Hour terus bertambah. Dan terakhir sekedar mengingatkan..."sisakan" energi untuk anak cucu kita...

sumber : wikipedia, wwf, kompas

Maret 23, 2011


Hari Air Sedunia (World Water Day) diinisiasi oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 pada tanggal 22 Maret akan diperingati dan dilaksanakan oleh seluruh anggota PBB sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day). Peringatan ini diumumkan pada Sidang Umum PBB ke 47 pada tanggal 22 Desember 1992 dan setiap negara anggota PBB berkewajiban dan berkomitmen untuk berpartisipasi pada peringatan tersebut.





Peringatan ini ditujukan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Peringatan tiap tahun ini biasanya mempunyai tema, seperti pada tahun 2009 temanya adalah "Shared Water, Shared Opportunities, tahun 2010 bertema "Clean Water for a Healty World" dan untuk tahun ini 2011 bertema "Water for Cities:Responding To The Urban Challenge"

Indonesia, berdasarkan data dunia memiliki 6 persen ketersediaan air dunia. Apakah jumlah ini besar? Seperti kita ketahui, bumi kita ini terdiri dari 70% air dengan jumlah sekitar 1,4 ribu juta kilometer kubik. Angka yang sangat besar, sayangnya yang bisa benar-benar dimanfaatkan hanya sekitar 0,003 persen saja. Dan 6 % dari dari angka tersebut berada di Indoensia.

Seperti yang dikutip dari Kompas, berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2010 baru 36,6 persen penduduk Indonesia yang benar-benar bisa mengakses air bersih secara optimal, yakni minimal 100 liter per orang per hari. Secara nasional, penduduk yang kesulitan air bersih (di bawah 20 liter per orang sehari) jumlahnya berkurang dari 16,2 persen jadi 14 persen.

Namun, lima provinsi kondisinya berkebalikan, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Gorontalo, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah. DKI Jakarta— ibu kota negara—justru yang terparah. Pertambahan penduduk yang kekurangan air bersih (2007-2010) mencapai 11 persen. Ancaman penyakit akibat infeksi pencernaan, seperti diare, muntaber, tifus, dan kolera, kerap muncul.





Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih.

Tidak mengherankan jika ketersediaan air bersih menjadi menjadi masalah utama. Misalkan yang terjadi di Afrika 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan negara, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Sumber : wikipedia

Maret 22, 2011

Maret 09, 2011

Salam Alam...

Saya menerima surat ini di milling list gpid - volunteers , dan atas ijin dari Morgan Adrian, saya mempublikasikannya di Sida Acuta. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang terjadi di Belitung, dan tulisan ini adalah suatu penyataan sikap dari warga belitung yang diwakili oleh saudara Morgan Adrian.

Tidak ada tendensi lain selain menyuarakan apa yang terjadi di Belitung...


oleh Morgan Adrian

Masyarakat Belitung Menolak Proyek DOLPHIN ISLAND dan KAPAL ISAP di Perairan Kulauan Belitung

Belitung, 25 February 2011

Belitung, Propinsi Babel dikenal sebagai Pulau yang indah panorama dengan Panorama baharinya, namun sangat Disayangkan Pulau ini penuh dengan Bekas Tambang Berupa ’kolong-kolong’ dan lahan ex-tambang ...yang tidak terurus secara kasat mata dapat disaksikan dari udara. Menurut Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun Anggaran (TA) 2007 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pengendalian Kerusakan Pertambangan Umum Dan Penerimaan Royalti Tahun 2003 – 2007 di Bangka Belitung, diperkirakan lahan bekas pertambangan yang belum direklamasi sekurang-kurangnya mencapai 10.544, 95 ha. Dengan luas pulau Belitung yang hanya 480.010 hektar, lahan dan kolong ex-tambang yang belum direklamasi merupakan permasalahan serius terkait dengan kelestarian lingkungan hidup dan kelangsungan hidup masyarakat.

ilustrasi Pulau Belitung

Namun ironisnya di tengah gencar-gencarnya Belitung berupaya mempromosikan diri sebagai destinasi baru pariwisata nasional bahkan internasional, bukannya mereklamasi ribuan ha lahan kritis bekas tambang dan mengoptimalisasikan ratusan pulau-pulau/pantai alam tak terurus yang potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata namun nir-infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Belitung justru melakukan reklamasi 4.237 ha kawasan perairan Tanjungpendam dan sekitarnya, kawasan pesisir kuasa penambangan PT Timah yang sudah direklamasi beberapa waktu lalu menggunakan Kapal Hisap, dalam mega-proyek pulau buatan bernilai investasi Rp 3 Trilyun yang dinamakan Dolphin Island. Berdasarkan Memorandum of Understanding (MOU) yang sudah dilakukan pada akhir tahun 2010 lalu, Bupati Kab. Belitung akan menyerahkan investasi dan pembangunan proyek tersebut kepada PT Mekar Mulia Mandiri, perseroan baru berdiri tahun 2009.

Dolphin Island adalah rencana pemerintah Kabupaten Belitung untuk ‘membuat’ sebuah pulau, konon akan dijadikan sebagai kawasan wisata baru yang akan dibangun dengan menghisap material dasar laut dari kawasan perairan seluas 4.237 ha menggunakan 5 kapal hisap di sepanjang Pesisir Desa Juru Sebrang, Pantai Tanjung Pendam, Air Saga, hingga ke Batu Itam. Diatasnya akan dibangun lapangan golf, mall, fasilitas olah raga, dan sebagainya. Jika diasumsikan pengerukan sejauh kurang lebih 4-6 km ke arah laut maka panjang pesisir yang akan dikeruk sekitar 7-11 km selama kurun waktu 5 tahun yang direncanakan.

Pembangunan proyek pulau buatan Dolphin island di kawasan Pantai Tanjungpendam dan sekitarnya sebagai konsep pengembangan kawasan wisata bahari di Kabupaten Belitung patutlah dipertanyakan. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Tim Program Magister Ilmu Geografi Universitas Indonesia beberapa waktu lalu dan sempat dipresentasikan di Badan Pengembangan Daerah Kabupaten Belitung, bahwa kawasan pesisir-pesisir tesebut adalah kawasan yang mempunyai tingkat kesesuaian yang rendah untuk dikembangkan sebagaimana diatur dalam Keputusan Dirjen Pariwisata Nomor : Kep-17/U/II/1988 yang didasarkan analisis terhadap variabel perairan, variabel fisik pantai, serta variabel sosial ekonomi masyarakat, dikarenakan mempunyai penduduk yang padat yang merupakan perkotaan (Tanjung Pandan), serta bahan dasar lautnya berlumpur dengan arus dan gelombang yang cukup kuat. Bahkan beberapa kawasan pantai seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi

Penggunaan kapal hisap dengan alasan reklamasi menunjukkan rendahnya komitmen otoritas Kabupaten Belitung khususnya dan Pemprov Babel terhadap kelestarian lingkungan hidup daerahnya. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Laboratorium Perikanan FPBB Universitas Bangka Belitung dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), pengoperasian kapal hisap di peraritan Bangka telah membuat kerusakan parah di ekosistem terumbu karang (coral reef) di sejumlah perairan Kepulauan Bangka.

Degradasi terumbu karang (coral reef) yang parah ini berdampak pada turunnya produksi perikanan tangkap, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Berdasarkan penelitian Walhi Simpul Babel, pengoperasian Kapal Hisap di desa Permis, Rajik dan Sebagin (Bangka selatan), telah mengakibatkan penurunan 80% (Rp 300.000/sekali melaut) pendapatan nelayan di sekitar perairan tersebut. Proyek Dophin Island dikatakan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, namun kalau berpotensi menghilangkan pendapatan ratusan Nelayan di sekitar perairan sebesar Rp 300.000/sekali melaut selama minimal 5 tahun, di manakah letak kesejahteraannya?

Berdasarkan Pasal MOU yang ditandatangani oleh Bupati Kab. Belitung, Darmanshay Hussein dan perwakilan PT Mekar Mulia Mandiri, disebutkan bahwa kandungan mineral yang didapatkan dari reklamasi akan manjadi kepemilikan PT MMM. Hal ini menunjukkan adanya motivasi penambangan Timah di balik proyek reklamasi pesisir dan pariwisata sebagaimana yang sering disampaikan kepada publik oleh pihak Bupati dan Pemkab Belitung. Apabila memakai skema perhitungan yang digunakan oleh Pemerintah Kota Pangkal Pinang dalam proyek yang hampir serupa yaitu Water Front City di pantai Pasir Padi Bangka, maka diperkirakan bahwa reklamasi proyek Doplhin Island berpotensi menghasilkan 34. batang timah dengan kapitalisasi kurang lebih sebesar Rp 4 Trilyun dibandingkan dengan nilai investasinya sebesar Rp 3 trilun.

Berbagai misteri dan ketertutupan proses pembangunan Dolphin Island telah menimbulkan keresahan dan pertanyaan di dalam masyarakat Belitung bahwa proyek Dolphin Island adalah proyek penambangan timah berkedok reklamasi dan pariwisata. Untuk itu 42 RT/RW masyarakat di pesisir proyek DI yang terkena dampak langsung, masyarakat Belitung di perantauan dan berbagai LSM seperti LIRA dan Walhi simpul Sumatra Selatn telah menyatakan penolakan terhadap proyek Dolphin island dan kapal hisap di perairan Belitung. Bahkan tanpa sepengetahuan dan keterlibatan masyarakat sebagaimana dijamin oleh Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, proses AMDAL dan ijin prinsip pengoperasian kapal hisap sudah diam-diam berlangsung. Bupati dan jajaran Pemkab Belitung telah nyata melanggar UU Np.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ketidak-transparanan proses proyek Dolphin Island ini sekalipun tidak menggunakan APBN/APBD berpotensi tereksploitasinya kekayaan alam negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Atas kenyataan tersebut, masyarakat belitung yang concern menyatakan :
1. MENOLAK TANPA SYARAT PROYEK DOLPHIN ISLAND DAN KAPAL HISAP DI KABUPATEN BELITUNG. Dan mendesak Bupati Kab, Belitung, Darmansyah Hussein dan DPRD Kabupaten Belitung untuk segera membatalkan MOU dengan PT Mekar Mulia Mandiri dan menghentikan segala proses izin yang sedang berlangsung.
2. Mendesak Presiden SBY, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kelautan, Komisi II, Komisi IV, Komisi VII, Komisi X DPR RI, Gubernur dan DPRD Provinsi Bangka Belitung untuk melakukan intervensi menghentikan segala proses dan izin yang tengah berlangsung untuk proyek Dolphin Island.

Rapat Akbar Warga Belitung Tolak Pembangunan Dolphin Island

BELITUNG - Rapat akbar dihadiri lebih dari 1000 warga Belitung untuk menolak proyek pembangunan Dophin Island. Rapat akbar ini sekaligus menolak kehadiran kapal isap di perariran Belitung.

Rapat akbar digelar di halaman Gedung Nasional Tanjungpandan, Belitung, Sabtu (26/2/2011). 13 orator bergantian berorasi membakar semangat warga.

Sebelum aksi berakhir, perwakilan warga yang datang dari seluruh pesisir Kabupaten Belitung diminta membubuhkan tandatangan di atas sehelai kain putih sepanjang sekitar 20 meter. Tanda tangan tersebut sebagai bentuk kebulatan tekad menolak proyek Dolphin Island dan kehadiran Kapal Isap di peraiaran Kabupaten Belitung.

"Kepada seluruh warga yang hadir di Gedung nasional ini dipersilahkan menuliskan tandatangan di atas kain putih yang ada di depan saudara. Tandatangan ini akan kami bawa ke pusat sebagai bukti penolkan masyarakat Belitung terhadap Dolphin Island.

Mendengar ajakan Idil tersebut beberapa warga yang belum sempat membubuhkan tandatangan bergegas menghampiri kain yang dibentangkan di halaman Genas di depan panggung orasi. Kain sepanjang kurang lebih dua meter tersebut akhirnya penuh dengan tandatangan dan kesab pesan warga.
"Pertemuan ini bukan yang terakhir, tapi ini adalah awal kebangkitan masyarakat Belitung untuk lebih perduli terhadap lingkungan di Pulau Belitung ini.

kreadit foto : berita unik

Maret 07, 2011


Masyarakat yang masih menganggap luhur nilai kearifan tradisional, yang selalalu mengedepankan kesetimbangan antara kebutuhan mental spiritual dan fisik material.

Keseimbangan mereka terapkan pada setiap orang dan harus dilakukan setiap hari, Cinta kepada Pencipta, cinta pada Alam lingkungan dan cinta pada sesama manusia.Walaupun masyarakat adat ini telah berinteraksi dengan masyarakat luar adat mereka selama 150 tahun, tetapi tetap setia pada nilai kearifan tradisional yang mereka anut.

Filosofi cinta mereka kepada pencipta yaitu dengan ngabaratapakeun – ngabaratanghikeun (meng hayati dan mengamalkan) titipan dari Adam Tunggal; yaitu dengan mengadakan beberapa upacara adat ritual yang mengakui eksistensi keberadaan sang pencipta. Cinta kepada lingkungan Dengan pemahaman filosofi “ Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang di sambung “ (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, yang dianut oleh masyarakat adat Baduy, arti dari filosofi tersebut lebih mengingatkan pada manusia untuk tidak melawan hukum alam dan selalu tunduk dan bertasbih sebagaimana mahluk tuhan lain dan jagat raya, dan melalui upaya menjaga kelestarian lingkungan alamnya.

Homo hominus socius bukan hanya jargon semata tapi istilah ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, dengan selalu menjalin hubungan silaturahmi, menjauhi sifat kekerasan. Bahkan bila hutan larangan mereka dirusak oleh masyarakat di luar masyarakat adat masyarakat Baduy ini tidak main hakim sendiri, mereka melaporkan hal ini pada pihak pemerintah (Pengurus Kabupaten setempat) alangkah malunya masyarakat kota yang konon katanya terpelajar dan beradab, tetapi dalam kenyataannya masih ada yang kurang ajar dan tak biadab.

Keasrian dan keindahan alam baduy dilengkapi pila oleh rasa kebersamaan mereka, bila kita masuk ke daerah baduy dalam sepanjang jalan antara kempung ada beberapa rumah yang terletak diluar perkampunyan, manakala kita masuk ke halaman rumah tersebut di amben (teras rumah bamboo) kita akan menemukan buah2an dan kendi yang berisi air dan itu boleh dimakan oleh siapapun yang lewat dan memerlukan itu. Alangkah luhurnya budi mereka yang selalu menanamkan rasa kasih, sayang dan hormat pada sesama mahluk Allah…

Nu keur sono jarambah . . .

# Deni Rahadian 06032011- 22 : 25 #

Maret 04, 2011


oleh Bayu Bharuna

I decided that adventure was the best way to learn about writing. - Lloyd Alexander

Membaca selembar demi selembar catatan perjalanan Ibnu Battuta akan terasa ada kedekatan didalam hati dibandingkan membaca cerita para penjelajah lainnya. Antara lain karena catatannya merupakan yang pertama dalam mengulas keberadaan Kerajaan Islam pertama di nusantara yaitu Samudera Pasai. Kala sampai di Aceh pada tahun 1345 Ibnu Batuta melukiskan Samudra Pasai sebagai negeri yang hijau dengan kota pelabuhan yang besar dan indah. Penguasa kerajaan adalah Sultan Mahmud Malik al-Zahir yang dinilainya berpengetahuan luas dan memerintah dengan baik. Ia juga sempat menyinggung mengenai kerajaan Majapahit di Jawa.

Meski kepulauan nusantara telah lama dikenal oleh para geograf Arab, baru Ibnu Battuta yang menuliskan hasil kunjungannya kala itu, sehingga kisah perjalanannya lebih penting dari sudut sejarah. Bahkan ia mungkin satu-satunya pengelana yang menulis perjalanannya di seluruh dunia Islam di zaman Klasik.

Walau terkadang penulis dari Barat menggambarkan Ibnu Battuta sebagai pengelana gagah berani yang kerap mempertaruhkan nyawa menuju terra incognita, sebenarnya ia lebih mirip ulama yang selalu berkelana sambil memberikan pelayanan keilmuannya. Ia bukanlah seperti para pionir dari Eropa yang datang dengan kapal perang. Alih-alih ia merupakan cendikiawan yang setia terhadap nilai-nilai spiritual, moral dan sosial diatas ketaatan lainnya.

Pada tahun 1325 saat berusia 21 tahun Ibn Battuta memulai pernjelajahannya dengan mengarungi lautan dan menjelajah daratan sepanjang 117.000 kilometer. Ia menjelajahi Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, jazirah Arab, India, Asia Tenggara hingga Cina. Petualangannya yang terakhir adalah safari melintasi gurun Sahara menuju kerajaan Mali dengan rombongan unta. Setelah petualangannya yang terakhir tahun 1355 ia kembali untuk menetap di tanah kelahirannya di Maroko untuk melayani tugas kerajaan dalam bidang peradilan dengan jabatan terakhir sebagai pejabat kehakiman di sebuah provinsi. Sang maestro meninggal pada tahun 1363 meninggalkan kelautan ilmu yang luas.

Karena Ibnu Battuta bukan seorang ahli seni sastra, ia dibantu oleh Ibnu Juzayy dalam menyiapkan sebuah laporan perjalanan mengenai pengalaman-pengalamannya, untuk disajikan demi kesenangan Kerajaan Maroko. Penguasa Maroko sendirilah yaitu Sultan Abu ‘Inan yang secara pribadi meminta Ibnu Battuta menuliskan cerita-ceritanya. Ibnu Juzayy menyusun laporan perjalanan Ibnu Battuta dalam suatu bentuk karya sastra yang baik, sesuai standar kesusasteraan sebuah rihla.

Karya sastra rihla merupakan laporan perjalanan yang dipusatkan pada perjalanan ke Mekah. Sebagai suatu jenis sastra Arab, rihla merupakan karya yang populer di Afrika Utara antara abad ke-12 hingga abad ke-14. Rihla bukanlah sebuah buku harian atau suatu himpunan catatan harian sesuai kronologis perjalanan, sehingga amat berbeda dengan catatan perjalanan terkenal lainnya seperti Book of Marcopolo. Kadang dituangkan dalam bentuk syair, mengungkap hal-hal yang aneh dan kesimpulan-kesimpulan retoris. Laporan perjalanan itu dituangkan ke dalam suatu kisah yang menghibur dan memberi kenikmatan bagi telinga dan mata.

Laporan perjalanan ini lebih menyerupai karya sastra, sebagian berupa riwayat hidup dan sebagian merupakan ikhtisar yang ditulis pada akhir riwayat pekerjaannya. Penyusunan rihla ini sendiri baru dilakukan setelah Ibnu Battuta kembali dari petualangan-petualangannya dan menetap di tanah kelahirannya. Karena bentuk sastranya, dapat dipahami bila dalam rihla yang ditulis jauh setelah petualangannya selesai itu memiliki beberapa keraguan, kekeliruan dan terkadang memaksakan sikap kritis pembaca. Namun walau terhalang oleh kabut, dengan mempelajari secara lebih seksama para sejarawan akan dapat menarik ketepatan yang mengagumkan secara keseluruhan.

Tulisannya tak akan seperti catatan perjalanan lain yang mencatat hanya risalah geografi empiris, namun rihla secara keseluruhan menggambarkan kepribadian sang musafir, merekam budaya kosmopolitan sebuah peradaban, kesalehan yang terjaga dan keilmuan yang terang benderang. Perjalanan-perjalanannya memperlihatkan betapa luasnya dunia Islam di abad tersebut, dan ia dengan penuh kerendahan hati memperlihatkan sikap setianya terhadap nilai-nilai universal, moral dan sosialnya sebagai warga Dar al-Islam.

Sesuatu yang lain bisa dipelajari dari rihla karya Ibnu Battuta selain pengembaraannya itu sendiri, adalah bahwa sebagai pengelana seseorang tak terlepas dari pribadinya sendiri. Ia datang dari sebuah tempat yang jauh, latar belakang yang berbeda, pola pikir yang berlainan dan ide-ide yang tak sama. Menjadi menakjubkan bila perjumpaannya dengan pengalaman-pengalaman baru di tempat yang asing kemudian dapat diramu dalam sebuah “kisah yang menghibur dan memberi kenikmatan bagi telinga dan mata” tanpa ada tendensi apapun.

Februari 24, 2011

... Tak pernah menyongsong pagi di tempat yang sama

Seperti kemarin masih kami huni

Dan tak pernah menyambut fajar di tempat yang sama

Seperti kemarin kami akhiri.......

Pengembara (Khalil Gibran)

Petikan puisi karya Khalil Gibran diatas kurang lebih menggambarkan perjalanan kami bersepeda ke Labuan Bajo. Selama kurang lebih 15 hari tak pernah kami istirahat lebih dari semalam kecuali di Yogyakarta walaupun sebenarnya ada rencana untuk recovery di Taliwang dan Padangbai. Jadi kurang lebih aktivitas kami setiap hari seperti ini :

Jam 5 pagi bangun (pas bangun sok lupa lagi dimana yeuh), Jam 6 pagi sudah bergerak dari tempat istirahat dan langsung mencari pasar terdekat untuk sarapan. Setelah bahan bakar sudah terisi segera kami melanjutkan perjalanan ke kota tujuan kami hari itu. Biasanya setelah 2 jam perjalanan kami beristirahat sekitar 15 menit dan lanjut lagi gowess. Jarak tempuh perjalanan per hari rata – rata 150 km kalau diitung kecepatan 20 km/ jam + istirahat kami butuh waktu 9 jam. Biasanya kami tiba di kota tujuan pk.16.00. Yang pertama kali kami lakukan setelah tiba di kota tujuan adalah cari tempat bermalam. Kalau sudah ada kontak dari rekan2 di kota tujuan sudah aman, sisanya yang tidak ada kontak kami mencari losmen yang murah kalau tidak dapet juga ya Kantor polisi jadi sasaran kami seperti saat di Singaraja ,Bali hee:D

Kalau Perjalanan di Jawa, Bali dan , Lombok sih masih aman terkendali. Nah pulau Sumbawa yang jadi “ best part adventure”nya, oleh karena itu etape yang di Bali dan Lombok saya lewat dulu. Saya langsung loncat ke pulau yang menjadi bagian Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.

Catatan Perjalanan Pulau Sumbawa (1)

Menyebrang dari Pelabuhan Kayangan ( Lombok) menuju Pelabuhan Poto Tano ( Pulau Sumbawa ) pk 13.00, 9 Februari 2011 menjadi langkah yang besar bagi perjalanan kami. Kalau masih di Bali atau Lombok mau putar balik ke jawa masih relatif dekat setelah sampai di Sumbawa “mau gag mau harus saya selesai nih ekspedisi”. Setelah membayar tiket fery sebesar 23.000 rupiah untuk golongan I yaitu sepeda kami menyebrang dari Lombok kurang lebih 2 jam dan keadaan saat kami menyebrang gelombang cukup besar sekitar 2 meter, rasanya seperti di ontang anting dalam kapal. Setiba di Pelabuhan Poto Tano saya takjub dengan pulau2 kecil di dekat pelabuhan dan pemandangan laut yang tampak biru. Hari pertama kami di Sumbawa adalah menuju kota Taliwang kediaman teh Yani ( adiknya Om Pei). Sebenarnya menuju kota Taliwang berbalik arah dengan arah perjalanan kami tapi kalau dipaksakan ke Sumbawa tampaknya akan sampai larut malam.


Dalam perjalanan menuju Taliwang perasaan saya yang tadinya takjub berubah jadi takut soalnya selama perjalanan jarang sekali orang apalagi rumah padahal jarak dari pelabuhan ke Kota Taliwang 20 km yang kami temui kebanyakan kambing dan kuda yang dibiarkan liar di padang sabana. Vegetasinya pun hanya sabana jarang pohon untuk tempat berteduh di jalan. Kebayang kalau lagi hari siang. Rekan perjalanan saya, Arif juga bilang “ mati dah kita di Sumbawa”, saya jawab “ lu aja sendiri, gw mah gag mau”. :D

Setelah satu jam dari pelabuhan akhirnya ketemu juga peradaban di kota Taliwang, dan saya heran kalau masyrakat Taliwang mempunya penghasilan ke-enam terbesar di Indonesia tidak sebanding dengan infrastruktur dan keadaan kota. Menemukkan rumah teh Yani pun mudah karena kotanya kecil, tepat di sebelah tempat cuci mobil yang keliatannya cuma satu2nya di kota itu. Setelah banyak mengobrol dengan teh Yani dan Pak Tito (suaminya) ternyata masyrakat di Taliwang penghasilanya terangkat oleh adanya Pt. Newmont yang mempunyai pertambangan emas di selatan kota Taliwang. Yang menjadi Ironi hanya sebagian masyarakat Taliwang yang bekerja di Newmont sisanya jauh dari hidup layak.

Lepas dari kehidupan sosial di kota Taliwang, Kuliner khas juga jadi incaran saya. Kebetulan Pak Tito membawa makanan yang disebut “Palopo” dari endapan susu kerbau yang di kasih kuah manis. Bentuknya kayak bubur sumsum tapi rasanya susu (aneh). Di Taliwang pula saya sadar kalau barang – barang kiriman dari Jawa seperti elektronik, kendaraan bermotor, bahan pangan, dan tentunya rokok harganya melonjak naik bisa 2 kali lipatnya. ( jadi weh nitip udud k om yud :D ).

Sekitar pukul 20.00 kami segera beristirahat, tahu kalau besok jadi perjalanan panjang dan berat. Rencana besok adalah kota sumbawa besar dengan jarak tempuh 130 km dari Taliwang. Mari kita lihat apa kotanya sebesar namanya hee.

Perjalanan hari ke 12 di kota Taliwang ini menjadi awal petualangan bersepeda kami di Pulau Sumbawa.

9 Februari 2011

YNBA.

Theodorus BNP

Februari 21, 2011


Berdasarkan data yang dirilis oleh Yayasan Lupus Indonesia, penderita Lupus yang terdeteksi di Indonesia jumlahnya terus meningkat. Pada tahun 1998, penderita Lupus mencapai 586 orang dan pada tahun 2006 meningkat pesat menjadi 7.693 orang. Berarti penderita lupus di Indonesia bertambah sekitar 800 orang pertahun. Data terakhir yang diperoleh adalah pada tahun 2010 terdapat 10.314 odapus dan 9 dari 10 adalah perempuan.

Di masyarakat Indonesia, Lupus merupakan penyakit yang langka dengan jumlah relatif sedikit, dan pada umumnya masyarakat kita tidak banyak mengetahui penyakit ini. Pada penderita Lupus, produksi antibodi menjadi berlebihan sehingga menyerang jaringan sel dan tubuhnya sendiri dan dapat menyerang organ tubuh vital. Namun resiko lupus dapat dikendalikan dengan penanganan yang dini dan tepat, sehingga mereka dapat hidup dan beraktivitas dengan normal.

"Equatorial Peaks for Lupus" (E4L) yang dilakukan pada 16-31 Januari 2011 lalu merupakan misi pendakian sepuluh wanita demi penggalan dana bagi penderita lupus di tanah air. Mereka melakukan pendakian ke Gunung Cambaye di Ekuador, Amerika Selatan. Pendakian ini merupakan salah satu rangkaian misi pendakian tiga puncak tertinggi di ekuator, sebelumnya mereka melakukan pendakian ke puncak Kalapatar, Nepal pada tahun 2006, serta ke puncak Kilimanjaro, Tanzania pada tahun 2009.

Seluruh pendaki adalah perempuan berusia di atas 40 tahun. Mereka berasal dari berbagai latar profesi. Mereka adalah psikolog Ami KMD Saragih (46) sebagai ketua ekspedisi, Amalia Yunita (43), Diah Bisono (45), Veronica (47), Miranda Wiemar (43). Kemudian ikut serta pula Tejasari (42), Dwiastuti Soenardi (53), Heni Juhaeni (44), Myrnie Zachraini Tamin (47), serta seorang ibu ramah tangga Imas Emi Sufraeni (45). Dalam pendakian ini mereka akan didampingi oleh seorang pelatih tim, yang merupakan satu-satunya lelaki. Sedangkan satu-satunya pria yang menjadi pendamping pendakian adalah Rahmat Rukmantara, sebagai pelatih tim. Tim ini melakukan misi sejak 16 Januari 2011 hingga 1 Februari 2011.

Selain untuk misi kemanusiaan dalam rangka sosialisasi penyakit Lupus, serta penggalangan dana bagi odapus melalui Yayasan Lupus Indonesia (YLI), mereka juga ingin memberi inspirasi kepada masyarakat luas, khususnya perempuan. “Kami ingin membuktikan bahwa kami mampu melakukan sesuatu yang dianggap tidak mungkin bisa dilakukan oleh perempuan di usia 40 tahun ke atas,” ungkap Ami Saragih dalam jumpa pers di Jakarta.

Seluruh kisah perjalanan ekspedisi ke tiga Puncak Ekuator yang mereka lakukan tersebut, rencananya akan dituangkan ke dalam sebuah buku. Di mana hasil dari penjualan buku tersebut akan didonasikan untuk program sosialisasi penyakit Lupus, serta membantu para penderita Lupus (Odapus) yang kurang mampu.

Melalui pendakian ke Cayambe dan Chimborazo kali ini, YLI berharap dapat menarik perhatian masyarakat untuk mengetahui lebih jauh tentang penyakit Lupus. Serta yang tidak kalah pentingnya, yaitu dapat menggalang donasi dari berbagai pihak, seperti perusahaan, organisasi, maupun donatur perorangan.

Pencapaian pertama di Ekuador terjadi pada 25 Januari 2011, saat 10 pendaki ini melakukan pendakian selama 10 jam untuk menaklukan Gunung Cayambe. Dalam pendakian yang berlangsung sejak tengah malam hingga pukul 9.20 pagi waktu Ekuador atau pukul 21.20 WIB, akhirnya Veronica Moeliono (47) diikuti tiga pendaki yang tergabung dalam E4L berhasil mencapai puncak gunung.

"Saya terharu karena perjalanan pendakian ke puncak setinggi 1.000 meter ini dilakukan sejak jam 23.30 malam. Pendakian panjang yang sangat melelahkan, melalui gletser es terjal dan dinding es menjelang puncak," ujar Veronica dalam rilis yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Rabu 9 Februari 2011.

Sedangkan Gunung Cotopaxi berhasil mereka taklukan pada 28 Januari 2011. Saat pendakian keadaan cuaca tidak bersahabat, suhu di bawah nol derajat dan hujan turun terus menerus, menjadikan medan es lebih tebal dan cair. Selain itu ada tantangan batas waktu pendakian yang mengharuskan para pendaki bergerak cepat.

"Beruntung misi pendakian kami kali ini mendapat dukungan sponsor perusahaan suplemen kesehatan. Kami selalu mendapat tambahan tenaga, yang akhirnya bisa membantu kita menyelesaikan misi pendakian," kata Koordinator Tim, Ami Kadarharutami Saragih.

Pendapat Ami juga dibenarkan anggota tim lainnya, Amalia Yunita. "Kami belum pernah mendaki dua gunung sekaligus dengan masa istirahat hanya dua hari saja. Namun dengan meminum suplemen kesehatan, kami merasa penuh tenaga," katanya.

Gunung Cotopaxi adalah alternatif lain dari rencana semula tim ini akan menaklukkan Gunung Chimborazo (6300 meter) dengan lima puncaknya yang diakui sebagai gunung berapi tertinggi di Ekuador.

Perubahan rencana ini, karena pada saat itu salju telah menghilang dari Gunung Chimborazo dan hanya menyisakan bebatuan dan bongkahan es saja. "Kami tidak memiliki persiapan teknik memanjat gunung dengan kondisi seperti itu," kata Vera. (imt)

sumber viva news, national geographic Indonesia


Februari 16, 2011


Anda hobi mendaki gunung? Atau berencana menaklukkan puncak gunung akhir pekan nanti? Pastikan Anda menjalani persiapan yang benar agar perjalanan pendakian berlangsung mulus dan menyehatkan.

Pelatih fisik 10 pendaki wanita yang bergabung dalam tim Equatorial for Lupus (E4L), Rachmat Rukmantara, menyarankan, baik pemula ataupun pendaki berpengalaman perlu menjalani persiapan matang sebelum pendakian.

Latihan tiga bulan sebelum pendakian
Baik pendakian di ketinggian 2.000-3.000 meter atau di atas 4.000 meter, aturannya sama. Yakni, pendaki harus berlatih fisik tiga bulan sebelum pendakian. Latihan kekuatan dan daya tahan menjadi fokus utamanya. Namun memang intensitas latihan untuk pendakian dengan ketinggian di bawah 3.000 meter tipikal Gunung Gede, tidak sama dengan pendakian gunung dengan ketinggian di atas 4.000 meter, kata Rachmat.

Latihan pernafasan
Kadar oksigen di ketinggian di atas 5.000 meter semakin berkurang, hanya 40 persen, kata Rachmat. Oleh karena itu, teknik bernafas penting diperhatikan saat perjalanan pendakian. Kekurangan oksigen menimbulkan sejumlah risiko seperti udema perut yang ditandai dengan mulas, mual, dan muntah. Selain itu juga udema paru-paru.

Namun, kata Rachmat, risiko ini bisa teratasi bahkan dihindari jika latihan selama persiapan pendakian dilakukan dengan baik. Tujuan latihan fisik dan pernafasan di antaranya agar tubuh bisa menyerap oksigen lebih banyak dan daya tampung paru-paru lebih besar. Nah, latihan pernafasan ini penting dilakukan selama masa persiapan pendakian. Caranya, bangun pukul 05.00 dan jalan kaki. Lakukan juga peregangan dan latihan pernafasan seperti gerakan tai chi dengan lama waktu latihan 30 menit.

Strategi bernafas saat pendakian
Jika latihan fisik dan pernafasan sudah dilakukan dengan baik saat persiapan, imbangi juga dengan strategi bernafas saat pendakian. "Cara berjalan sesuaikan dengan nafas. Berjalan selama 10 jam kalau tidak dibarengi dengan cara bernafas yang benar, tubuh akan down," jelas Rachmat, usai jumpa pers bersama tim E4L beberapa waktu lalu.

Jalankan prinsip menyerang dan bertahan dalam pendakian, kata Rachmat. Artinya dalam pendakian atur waktu bertahan yakni melanjutkan perjalanan, dengan istirahat. Setiap satu jam perjalanan, berhenti 15 menit, jelas Rachmat. Saat berjalan gunakan nafas melalui perut atau diafragma, bukan melalui dada.

"Yoga atau tai chi menggunakan cara bernafas diafragma ini," katanya. Karena itulah, latihan pernafasan dengan tai chi saat latihan persiapan pendakian memengaruhi daya tahan saat pendakian nanti.

Sumber : Kompas
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff