Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

April 22, 2011

Oleh : Yusuf Yanuardi Wibowo


Pada 27 Juni – 3 Juli 2010 yg lalu saya dan 3 orang rekan melakukan perjalanan menuju gunung tertinggi di pulau Jawa, yaitu Gn. Semeru (3676 mdpl) dengan puncaknya yang dikenal dengan sebutan Mahameru. Selain sebagai salah satu syarat untuk mendapat nomor pokok anggota PPA Sadagori, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung yang selalu saya impikan untuk bisa saya taklukkan sambil membayangkan berada dititik tertinggi Pulau Jawa, pulau yang saya tinggali.

Dalam perjalanannya saya mendapati kejadian yang belum pernah saya alami sebelumnya, dimana salah satu anggota tim saya mengalami gejala Hipotermia. Saya sendiri bingung dan tidak tahu bagaimana cara penanggulangannya tapi beruntung salah satu anggota tim kami pernah menghadapi kondisi seperti itu sehingga langkah awal pertolongan pertama pada penderita pun dapat dilakukan.

Inilah yang saya ingin bagi kepada rekan – rekan tentang apa itu Hipotermia dan bagaimana pencegahan dan penanggulangannya, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika beraktifitas di alam bebas.

Pengertian

Hipotermia adalah kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan untuk mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh mencapai 35 derajat C atau dibawahnya tubuh manusia mampu mengatur suhup adazonater monetralyaituantara 36,5 – 37,5 derajat C, diluar suhu tersebut respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan suhu panas dalam tubuh.

Gejala dan Indikasi

Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan seperti biasa, seperti badan menggigil gemetaran. Bila tubuh basah maka serangan Hipotermia akan semakin cepat dan hebat. Puncak dari gejala Hipotermia adalah ketika korban tidak lagi merasa kedinginan malah merasa kepanasan (dalam buku Norman Edwin disebut “Paradoxical feeling of warmt”). Sehingga korban akan merasa kepanasan hingga membuka pakaiannya satu persatu walaupun suhu saat itu sangat dingin.

Hipotermia bergerak dengan pelan menyerang saraf, oleh karena itu korban tidak merasa kalo dia sudah menjadi korban Hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan harus selalu aware terhadap rekan satu timnya, apabila ada yang menunjukkan gejala yang tidak biasa maka kita harus waspada dan terus memperhatikan sambil menjaga kawan kita tetap sadar dan tidak bertambah parah.

Hipotermia juga dapat menimbulkan halusinasi pada penderitanya, sehingga dia seolah-olah melihat sesuatu dan terkadang mengejarnya. Kondisi halusinasi ini terkadang terjadi sebelum “paradoxical feeling of warmt” terjadi.

Pencegahan

Selama kita akan melakukan kegiatan di alam bebas selalu sediakan ponco atau rain coat khususnya ketika curah hujan sedang tinggi. Jaket dan pakaian – pakaian yang melindungi kita dari suhu dingin juga merupakan perlengkapan wajib yang harus selalu dibawa. Sarung tangan, kupluk/balaclava, sepatu pendakian yang menutup hingga mata kaki jugasangat penting, jangan pernah sekali – kali melakukan pendakian menggunakan sandal gunung atau bahkan sendal jepit. Usahakan untuk selalu menutup seluruh anggota tubuh khususnya ujungjari, telinga dan bagian-bagian yang banyak mengandung saraf reseptor.

Bawa makanan yang dapat menjadi kalori seperti gula jawa, kurma, coklat dll. Itu semua dapat dijadikan “cemilan” sambil jalan untuk mengganti energi yang hilang.

Jangan menunggu hingga hujan turun untuk memakai rain coat atau ponco, perhatikan selalu kondisi cuaca. Selalu usahakan agar pakaian kita tetap kering.

Jangan merasa ragu atau malu untuk berbicara kepada rekan seperjalanan atau team leader ketika kondisi tubuh kita mulai terasa kurang fit atau melemah.

Sumber :
Djuni.wordpress.com
Wikipedia.com
Dr. AryaYudhistira Sp. F

September 27, 2010



" Keberhasilan suatu petualangan apapun yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri "

" Jelajahilah seluruh pelosok negerimu, dan kembalilah pulang ke rumah dengan selamat ".


Pengertian survival sebenarnya sangat luas, kondisi survival dapat terjadi dimana saja, tidak hanya terjadi di laut, di gunung atau di hutan saja juga tidak tergantung lamanya waktu yang mungkin diperlukan oleh seorang survivor untuk terus bertahan hidup. Semua tindakan yang dilakukan untuk tetap bertahan hidup pada keadaan darurat disebut survival, dan satu sama lain tentu saja akan berbeda prioritasnya.


PSIKOLOGI DALAM SURVIVAL
Dalam keadaan darurat, kesiapan fisik dan kekuatan mental merupakan kunci keberhasilan atau kegagalan bagi seorang survivor untuk bertahan hidup.
Pada kondisi sepert itu seorang survivor dihadapkan pada dua pilihan, yaitu bertahan hidup atau mati....
Kebutuhan yang paling penting dalam survival adalah segera menerima kenyataan tentang kondisi dan situasi yang terjadi, dan segeralah bertindak.
Untuk menghadapi hal tersebut, informasi pengetahuan tentang survival sangatlah penting dalam menambah keyakinan diri.

Survival adalah kondisi yang lebih memerlukan kekuatan jiwa. Hidup seorang survivor tergantung pada dirinya sendiri, karena kemauan yang besar untuk tetap hidup akan mendorong seorang survivor bertindak tenang dan sabar agar dapat keluar dari kemelut yang dialaminya.
Pada kondisi dan situasi survival, seorang survivor akan dihadapkan pada kondisis-kondisi yang membuatnya stress. Dalam hal itu musuh utama seorang survivor adalah perasaan takut dan panik.
Survival merupakan suatu rangkaian perasaan. Saat kita menyadari dalam kondisi genting, konsentrasilah terhadap ketidakramahan dan sesuatu hal yang tidak kita ketahui. Jadi yang pertama harus diingat adalah ‘jangan takut dan panik’ agar kita bisa mengontrol bagaimana berusaha dan bertahan dalam kondisi yang tidak diinginkan itu

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAN KONDISI SURVIVAL
Diantaranya adalah : rasa takut, sakit, dingin, haus, lapar, kelelahan, kebosanan dan kesepian.

PRIORITAS DALAM MENGHADAPI KONDISI SURVIVAL.
1. Periksa atau awasi diri dan teman seperjalanan.
2. Jika mendapat cedera apapun bentuknya berikan perlakuan P3K.
3. Siapkan dan kumpulkan perlengkapan survival dan perlengkapan yang berguna
lainnya untuk membuat sinyal-sinyal darurat.
4. Cari dan hematlah air minum.
5. Membuat perlindungan / bivak.
6. Pakailah pakaian yang tepat, lindungi diri sendiri.
7. Mencari dan menghemat makanan’
8. Buatlah perapian
9. Tenangkan diri, rumuskan rencana yang akan diperbuat.
10. Jika memang diperlukan, persiapkanlah perjalanan,


" Keberhasilan suatu petualangan apapun yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri "
" Jelajahilah seluruh pelosok negerimu, dan kembalilah pulang ke rumah dengan selamat ".

(Djukardi 'Bongkeng' Adriana. Beliau salah satu Anggota senior Wanadri (Instruktur & penggiat) di bidang GUNUNG-HUTAN)

Thanks to Deni Rahadian (HNG)


September 25, 2010

oleh : Djukardi 'Bongkeng' Adriana

SAR adalah merupakan singkatan dari Search And Rescue, dengan demikian maksud dan tujuan dari misi SAR adalah mencari dan menolong. Secara spesifik lagi SAR dapat didefinisikan sebagai pengarahan personal dan fasilitas yang tersedia didalam memberikan pertolongan kepada manusia atau sesuatu yang berharga yang berada dalam keadaan celaka atau distress dilokasi yang terisolir.


Dalam Misi SAR, baik struktur organisasinya maupun pola pencariannya, sangat tergantung dari kondisi pada saat keadaan darurat itu berlangsung. Misalnya, jumlah orang atau personal yang berperan, akan tergantung pada banyaknya tenaga yang dibutuhkan dan fasilitas SAR yang tersedia dilapangan. Disamping itu masih harus diperhitungkan luas dan kerawanan area Pencarian berdasarkan letak geografisnya.

Pada dasarnya misi SAR itu merupakan bentuk kegiatan insidental yang menyangkut keselamatan jiwa para survivor yang sedang dalam keadaan distress, jadi dalam pelaksanaannya diperlukan adanya suatu system kerja yang tidak hanya sekedar serba cepat, tapi juga perhitungan-perhitungan yang matang dan pengoperasian yang efektif, serta hal-hal lain guna menyelamatkan jiwa sebanyak dan sedini mungkin.

Maka dengan demikian bila hal kesiapan dari suatu perencanaannya bisa berjalan dengan baik, misi itu dapat terhindar atau paling tidak menekan sekecil mungkin kesalahan-kesalahan yang akan mengakibatkan keterlambatan penemuan survivor. Jadi motto dasar dari suatu operasi SAR adalah pergerakan yang cepat dan tepat, cermat, dan cekatan (3 C) serta tanggap saat dalam melakukan misi kegiatan itu.

Dalam kegiatannya belakangan ini misi SAR tidak hanya diikuti oleh personal-personal khusus / spesialis ataupun propesional di bidangnya, tapi juga diikuti oleh tenaga-tenaga amatir yang pada umumnya dari kalangan kelompok Pencinta Alam atau Pendaki Gunung yang datang secara sukarela untuk menyumbangkan tenaganya walaupun niat tulus itu tanpa didasari oleh pengetahuan SAR yang mendasar.


Sekarang dapat kita lihat frekuensi operasi-operasi SAR yang pernah dilaksanakan.
Dari seluruh operasi SAR tersebut satu hal yang sangat menarik perhatian adalah adanya partisipasi yang spontan diberikan oleh para penggiat kegiatan di alam terbuka yang turut aktif dalam setiap kegiatan SAR atau misi kemanusiann lainnya seperti penanggulangan bencana alam dsb.

Dalam kebersamaan beraktivitas didalam misi kemanusiaan saat itu dan atas rasa kemanusiaan serta kesetiakawanan dan juga tanggung jawab moral, tanpa disadari tumbuh semacam kode etik untuk saling bahu-membahu dalam menolong sesama yang sedang mengalami musibah itu.

Di mana untuk hal tersebut tentunya sangat menggembirakan, namun juga, sangat disayangkan karena kebanyakan inisiatif niat tulus dari para penggiat kegiatan di alam terbuka ( Pencinta alam / pendaki gunung ) itu tidak selalu memberikan hasil yang maksimal.

Hal seperti itu mungkin karena disebabkan adanya suatu keterbatasan kurangnya wawasan pengetahuan dan persepsi tentang SAR itu sendiri dari personal yang terlibat.
Dan masih banyak yang kita ketahui tentang kelemahan dan kekurangan yang diketahui dilapangan, dimana personal tim yang tergabung didalam misi SAR itu masih banyak yang tidak menguasai teknik peta – kompas Gunung Hutan dan skill lainnya yang seharusnya dikuasai oleh seorang personil SAR.


Kesimpulannya,
Bagi seorang ground unit atau personil SAR sudah suatu keharusan dan mutlak untuk menguasai materi Teknik Hidup di Alam Terbuka itu , khususnya penguasaan pengetahuan Navigasi Darat / IMPK ( Ilmu Medan Peta – Kompas ), Teknik Pencarian dalam misi SAR dan penguasaan pengetahuan tentang medis / PPGD ( Pertolongan Pertama Gawat Darurat ) yang tentunya berhubungan erat dengan masalah Rescue.

(Djukardi 'Bongkeng' Adriana. Beliau salah satu Anggota senior Wanadri (Instruktur & penggiat) di bidang GUNUNG-HUTAN)

Thanks to Deni Rahadian (HNG)


Kredit Foto : Google

September 21, 2010

oleh : Djukardi 'Bongkeng' Adriana

BIOLOGI PRAKTIS

BIOLOGI adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang mahluk hidup dan kehidupan. Untuk para Pencinta Alam / Pendaki Gunung yang suka melakukan kegiatan atau berativitas di alam terbuka, khususnya yang sering melakukan petualangan penjelajahan hutan atau pendakian gunung, pengetahuan ini penting untuk dipahami karena sangat berhubungan dengan pengetahuan jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pada saat kondisi darurat.


Pengetahuan Biologi merupakan bagian dari pengetahuan ‘Mempertahankan Hidup’ atau yang dikenal dengan Survival, dan apabila ilmu Biologi ini dimanfaatkan secara bijaksana oleh orang-orang yang memahaminya akan memberikan suatu keuntungan yang tidak kecil, apalagi bila pemanfaatannya dilakukan pada saat dalam keadaan kondisi darurat saja. Yang dimaksud secara bijaksana di sini adalah pemanfaatan hanya dalam kondisi keadaan terdesak, dan atau saat melakukan penelitian, serta untuk kepentingan pengenalan sebagai alat peraga pada suasana pelatihan atau pendidikan, tanpa harus merusak atau mengeksplotasi secara berlebihan dan tetap harus mengacu pada kaidah konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.

Penggunaan biologi secara bijaksana saat dalam keadaan kondisi darurat, dikenal dengan ‘Biologi Praktis’ , yang diantaranya mencakup masalah tentang :
• Tumbuhan sebagai sumber makanan
• Tumbuhan sebagai bahan obat
• Tumbuhan beracun
• Satwa liar sebagai makanan
• Petunjuk arah angin
• Petunjuk arah mata angin
• Indikator daerah berair dan cara mendapatkan air
• Bivoac / Perlindungan


TUMBUHAN SEBAGAI SUMBER MAKANAN

Kegunaan tumbuhan bagi manusia diantaranya adalah sebagai bahan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Selain itu beberapa jenis tumbuhan dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, dan juga dalam kepentingan upacara-upacara keagamaan, serta dalam dunia kedokteran dipakai sebagai bahan pembius.

Di dunia terdapat ratusan ribu jenis tumbuhan liar, dan sebagian besar dari jumlah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai makanan secara potensial, meskipun dari beberapa jenis tumbuhan ada yang mempunyai rasa kurang enak atau mungkin tidak enak sama sekali daripada tumbuhan yang lainnya. Dalam situasi dan kondisi survival bagi penggiat alam terbuka yang terkena musibah / tersesat dan kehabisan makanan di hutan, tumbuhan liar dan tumbuhan makanan satwa mungkin merupakan alternative lain sumber makanan.

Jumlah jenis tumbuhan hutan akan lebih banyak dan lebih mudah ditemukan daripada untuk menemukan satwa, sehingga tumbuhan akan lebih efisien utnuk dikomsumsi dibandingkan dengan satwa. Tetapi untuk keperluan tersebut diperlukan adanya pengetahuan cara praktis dalam mengenal tumbuhan liar yang dapat dimanfaatkan, mana yang dapat dimakan dan mana yang beracun dan di tempat seperti apa tempat tumbuhnya serta bagaimana cara memanfaatkannya.

Makanan yang berasal dari tumbuhan liar di hutan merupakan makanan yang baik karena rata-rata mengandung vitamin dan mineral yang tinggi. Daun tumbuhan yang masih segar merupakan sumber sayuran hijau. Buah-buahan segar dari tumbuhan liar di hutan yang dapat dimakan biasanya memenuhi / mengandung bahan kebutuhan air. Secara umum hampir semua bagian organ tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Walaupun memerlukan pengetahuan khusus, namun tumbuhan yang dapat dikonsumsi biasanya dapat dikenali dengan mudah. Salah satu cara diantaranya adalah mengenali warna tumbuhan itu, warna tumbuhan yang hijau dan tidak menyolok biasanya dapat dimakan, walau dengan demikian harus diuji terlebih dahulu dengan mencicipi tumbuhan tersebut. Sebagai indikator, diantaranya ; tumbuhan daun yang masih muda ( pucuk / tunas ), rasa tidak pahit, tidak berbau busuk, tidak berlendir, tumbuhan yang tidak mengandung getah, tumbuhan tidak berbulu, dan tidak menghasilkan cairan yang berwarna.

Untuk menguji suatu bagian tumbuhan, misalnya daun, sebaiknya dicoba digosokkan ke bagian kulit yang sensitive. Apabila terjadi rasa gatal dikulit, kulit merah atau iritasi hentikan segera. Apabila tidak terjadi dengan hal itu, selanjutnya coba sedikit dicicipi dimakan dan dirasa pada ujung lidah, tunggu beberapa menit apakah ujung lidah merasa gatal, kalau tidak ada reaksi apapun berarti tumbuhan tersebut dapat dimakan.

Tetapi untuk lebih amannya sebelum mengkonsumsi tumbuhan yang dapat dimakan khususnya daun-daunan, akan lebih baik dimasak atau direbus terlebih dahulu sebelum memakannya. Dan sebaiknya lagi untuk memperbanyak pemanfaatan dari aneka jenis tumbuhan yang akan dikonsumsi, hindari memakan satu jenis dalam jumlah banyak dari tumbuhan itu.


Cara lain untuk mengetahui apakah tumbuhan dapat dimakan adalah melalui ciri-ciri tumbuhan yang biasa dimakan oleh satwa, sebagai indikator ; memperhatikan satwa, seperti mamalia atau unggas / burung. Perhatikan sisa-sisa makanan satwa yang berceceran di lantai hutan, melalui hal tersebut akan dapat mengetahui bagian tumbuhan mana yang dimakannya, Contoh lain misalnya burung yang memakan buah Cantigi ( Vaccinium varingiaefolium ) hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar buah Cantigi tersebut tidak berbahaya untuk dikonsumsi oleh manusia ( namun hal ini tidak mutlak ! ). Untuk informasi lainnya dalam pengenalan tumbuhan survival adalah pengetahuan tentang musim berbunga atau berbuah serta penyebarannya, karena beberapa bagian dari tumbuhan hanya dapat dimanfaatkan pada musim-musim tertentu saja.

TUMBUHAN SEBAGAI SUMBER BAHAN OBAT

Sejak ribuan tahun dan berabad-abad lamanya, tumbuhan telah digunakan untuk sebagai obat-obatan oleh manusia, baik itu tumbuhan herba, semak maupun pohon. Beberapa bahan obat-obatan misalnya Jamu yang sudah dikenal sejak jaman nenek moyang kita, adalah terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan yang terutamanya dari organ akar, serta untuk infuse bahan makanan lebih banyak mempergunakan organ daun dan bunga.

Sebagian tumbuhan tropika diketahui mempunyai potensi besar sebagai bahan dasar obat-obatan dan mempunyai penyebaran sangat luas, walau beberapa diantaranya diketahui mempunyai penyebaran yang kecil sehingga hanya dapat ditemui di daerah-daerah yang terpencil dan terlindung.
Untuk hal tersebut diatas, adalah sesuatu yang penting dan perlu dipelajari serta diketahui oleh para penggemar kegiatan di alam terbuka, karena wawasan pengetahuan ini berkepentingan dengan masalah survival, dimana mungkin pada saat keadaan tertentu misalanya kita tersesat kehabisan atau tidak dilengkapi dengan obat-obatan, kita dapat memanfaatkan tumbuhan yang mengandung obat-obatan, seperti antara lain :


• Babadotan ( Ageratum conyzoides ) Musa sp., Euphorbia pulcherima, dapat dimanfaatkan untuk mengobati luka.
• Pacing ( Costus speciosus ) getah tangkai pohonnya dapat menghilangkan gatal-gatal di kulit, karena terkena bulu daun Pulus (Laportea stimulans ) atau terkena bulu ulat.
• Benying ( Ficus fistulosa ) Famili : Moraceae, daun mudanya dapat dimakan, kulit batabg pohonnya dapat digunakan untuk obat malaria dan disentri, akar yang mudanya dapat digunakan untuk obat batuk rejan dan buahnya dapat digunakan melembabkan kulit.
Untuk membahas tumbuhan obat keberadaannya begitau banyak, tapi satu hal yang harus kita ketahui adalah wawasan pengetahuan tentang ‘Biologi Praktis’.


TUMBUHAN BERACUN

Selain bermanfaat, beberapa tumbuhan juga diketahui berbahaya yaitu dapat menimbulkan iritasi atau keracunan. Tumbuhan beracun dapat pula dikenali dari penampakan luar seperti warna organ tumbuhan, bentuk organ, permukaan organ dan ada tidaknya lender. Bentuk daun yang segi tiga dan warna buah yang menyolok yang jarang didekati satwa liar dapat dipakai patokan bahwa tumbuhan iti beracun. Daun yang berwarna ungu kebiruan mungkin sekali mengandung cyanide , ada juga getah dari spesies tumbuhan yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit bila disentuh langsung, bahkan bias menyebabkan kelumpuhan seperti pada getah Rengas ( Gluta renghas ).

Golongan Jamur pada umumnya beracun apabila dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu. Pedoman umum yang digunakan untuk mengenali Jamur yang dapat dimakan, antara lain : tidak berwarna menyolok, tidak bercahaya, tidak memiliki gelang pada tangkainya, tidak berbau memuakkan, dan dapat diketahui pada saat sedang dimasak, apabila waktu dimasak tidak terjadi perubahan warna pada air atau bahan yang dimasak bersamaan ( misal nasi ) serta tidak memberi efek warna hitam bila disentuhkan pada benda perak. Namun pedoman seperti itu sebenarnya terkadang masih diragukan dan sangat berbahaya, banyak juga jamur yang mempunyai cirri-ciri seperti tersebut diatas justru mengandung racun. Untuk menghindari keraguan dalam memanfaatkan tumbuhan jamur, dianjurkan sebaiknya tidak mengkonsumsinya karena sulit untuk membedakan jenis yang dapat dimakan dan jenis yang beracun, kecuali bagi yang sudah ahli. Selain itu, kadar kalori jamur sangat rendah karena tubuh jamur banyak mengandung air. Pilihan jamur yang paling aman adalah Jamur Kuping, jamur ini mudah dikenali dan tumbuh di kayu-kayu atau batang pohon yang sudah lapuk dan lembab.

Adakalanya juga bagian tumbuhan seperti buah yang beracun bagi manusia, ternyata tidak beracun untuk satwa seperti mamalia besar dan burung. Hal ini menunjukkan bahwa bukanlah suatu pedoman apabila bagian tumbuhan yang dapat dimakan oleh satwa dapat pula dimakan oleh manusia, meskipun pada beberapa jenis tumbuhan hal ini berlaku.

Ada pula jenis racun tumbuhan yang dimanfaatkan oleh sebagian orang-orang untuk berkepentingan lain, seperti :
Racun akar tumbuhan Tuba dan Peron ( Anamirta cocculus ) banyak digunakan oleh orang-orang dimanfaatkan untuk meracuni ikan di sungai, dan getah pohon Upas ( Antiaris toxicaria ) untuk racun pada mata anak panah atau ujung tombak yang banyak dipake oleh orang Dayak di Kalimantan dan orang-orang pedalaman Papua.

Berdasarkan hal tersebut di atas, secara praktis dapat diambil batasan bahwa hampir semua tumbuhan dapat dimakan kecuali tumbuhan dengan criteria seperti tersebut ini
1. Tumbuhan berbulu.
Contoh : Pulus ( Laportea stimulans )
2. Tumbuhan bergetah lengket / putih seperti gelatin.
Contoh : Pinus sp, Rengas ( Gluta renghas )
3. Tumbuhan berorgan / beraroma menyolok.
Contoh : Pratia Montana.
4. Jamur bercincin.
Contoh : Amanita muscaria.


SATWA LIAR SEBAGAI MAKANAN

Manusia memanfaatkan satwa liar sejak jaman dahulu kala, mulai dari daging, kulit, lemak / minyak, tanduk, tulang maupun bulunya. Dalam biologi praktis, satwa liar selain digunakan untuk melihat tanda-tanda alam berdasarkan sifat-sifat ekologisnya, juga dapat digunakan sebagai bahan makanan darurat. Tetapi selain untuk tujuan dalam keadaan darurat ( survival ), sebaiknya kita tidak menggunakan satwa liar untuk tujuan tercela seperti berburu secara illegal, baik untuk sekedar iseng atau sebagai satwa peliharaan, apalagi menjual belikan satwa liar yang dilindungi oleh Undang-undang.

Pada dasarnya hampir semua jenis satwa mamalia dapat dimakan, misal Bajing, Tikus, Babi hutan, monyet, Mencek, dll. Dari golongan Reptilia seperti Kadal, Biawak, Cecak juga dapat dimakan. Bahkan Ular berbisapun boleh dimakan, asal sepertiga dari bagian kepalanya dibuang. Jenis yang lebih kecil seperti Laron, Jengkerik, Belalang, Siput, Cacing tanah besar ( cacing Sondari ), Ikan, Katak dan banyak lagi jenis satwa lainnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan, justru satwa jenis kecil kecil itu banyak mengandung protein, hanya saja harus berhati-hati dengan jenis Katak Buduk ( Bufo melanostictus ) yang kulitnya berkelenjar gatal, Bila perlu menangkap satwa yang lebih jelas dapat dimanfaatkan dengan pasti, seperti jenis-jenis burung ( semua jenis burung dapat dimakan ).

PETUNJUK ARAH ANGIN

Pengetahuan lainnya dari biologi praktis adalah bagaimana caranya untuk dapat mengetahui arah angin, arah bertiupnya angin merupakan salah satu pertimbangan dalam menentukan posisi membuat Bivoac ( perlindungan) dan perapian.


Bivoac atau tempat perlindungan adalah tempat dimana kita harus beristirahat dalam kondisi darurat untuk memberikan kesempatan kepada tubuh dalam memulihkan kondisi. Karena itu pendirian bivoac diusahakan sesederhana mungkin namun dapat memberikan suasana senyaman mungkin.

Dalam keadaan kondisi darurat / survival, sebelum membangun tempat perlindungan diperlukan adanya penguasaan pengetahuan tentang tanda-tanda alam, dengan mengenali tanda-tanda alam kita akan sampai dapat mengetahui arah bertiupnya angin, hal itu perlu dikuasai karena adalah untuk menunjang fungsi dari tempat perlindungan itu sendiri yang dibuat agar terhindar dari adanya cuaca yang mengganggu kenyamanan saat berlindung.

Hal-hal yang harus diketahui sebagai petunjuk arah angin, antara lain ;
• Kemiringan Tajuk Pohon
Kemiringan tajuk-tajuk pohon terutama didaerah hutan berdaun jarum dapat menunjukkan kearah mana angin banyak bertiup / berhembus.
• Sarang Laba-laba
Sarang Laba-laba umumnya tidak menentang arah angin, tetapi biasanya akan sejajar dengan arah angin bertiup.
• Kemiringan Dataran
Untuk didaerah pegunungan, arah kemiringan punggungan gunung dan celah lembahan dapat menunjukkan arah bertiupnya angina berkala.


PENUNJUK ARAH MATA ANGIN

Apabila dalam kondisi darurat ( survival ) dimana pada saat itu kita tidak dilengkapi dengan alat penunjuk arah atau Kompas, keadaan tanda-tanda alam disekeliling kita akan dapat membantu, dengan cara mengetahui, a.l. ;
• Kelebatan Tajuk Pohon
Perbedaan kelebatan tajuk pohon dapat dipakai sebagai petunjuk untuk menentukan arah Timur dan Barat. Hal ini berkaitan dengan proses fotosintesis.
• Lumut
Di hutan-hutan tropis yang lebat, untuk mengamati perbedaan kelebatan tajuk pohon akan mengalami kesulitan, tapi untuk mengatasi hal lain agar kita dapat mengetahui arah mata angin dalam kelebatan hutan tersebut yaitu dapat memanfaatkan Lumut Parmelia sp dan Polytrichum sp . Lumut-lumut ini cenderung untuk tumbuh didaerah yang kurang sinar matahari / kualitas sinar mataharinya rendah ( arah barat ).
• Pandan Hutan
Batang Pandan Hutan ( Pandanus tectorius ) cenderung untuk mengarah ke sinar matahari yang berkualitas baik ( arah timur ).


INDIKATOR DAERAH SERTA TUMBUHAN BERAIR

Air sangatlah penting bagi semua makhluk hidup di dunia ini, di gunung atau di hutan yang sulit untuk mendapatkan sumber air, kita dapat memanfaatkan tumbuhan atau satwa tertentu untuk mendapatkan air. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan air di daerah yang sulit air, adalah antara lain :
• Pada ruas pertama atau kedua bahkan mungkin samapai ruas ke tiga dari batang bawah tumbuhan Bambu, biasanya berisi air tawar yang dapat diminum langsung.
• Didalam akar gantung tumbuhan Liana biasanya terdapat air, demikian pula pada batang rotan muda. Dan air tersebut dapat langsung diminum.
• Air perasan dari lumut, embun yang menempel pada daun, dan air yang tergantung pada pelepah daun nipah atau enau juga cukup baik untuk diminum.
• Melalui mamalia seperti Babi hutan, pada pagi hari dapat membinbing kearah sumber air.
• Mengenali atau mengamati tanda-tanda air sungai bersih yang dapat diminum secara langsung dan yang tidak bersih a.l. :
a. Apabila melihat adanya tanda-tanda kehidupan dari Cacing Pipih ( Planaria sp ), disekitar aliran sungai tersebut menunjukkan bahwa air sungai tersebut bersih.
b. Apabila di sungai ditemukan Ganggang Biru, hal itu menunjukkan bahwa air sungai tersebut sudah mengandung sulfur ( jangan terlalu banyak diminum ).
c. Sedangkan kalau ditemukan Ganggang Coklat, sebaiknya jangan diminum karena kadar sulfurnya sudah cukup tenggi.



JENIS TUMBUHAN BERMANFAAT

1. SANINTEN ( Castanopsis argentea, B 1 ume )
Sinonim : Castanea argentea B1 ume.
Famili : Fagaceae

2. CANTIGI WUNGU ( Vaccinium varingiaefolia Miq. F1 )
Sinonim : Ericaceae.

3. HARIANG MERAH ( Begonia isopteran Dryand.In.Sm.Ic )
Famili : Bogoniaceae


PENUTUP

Biologi Praktis adalah sebagai ilmu yang harus diketahui dan dipelajari oleh para penggiat kegiatan alam terbuka, dan dalam hal ini untuk mengetahui dan memahaminya tentunya diperlukan pengetahuan khusus dan pengalaman. Tulisan ini hanya sebagai gambaran saja bagaimana prinsip-prinsip biologi diterapkan di lapangan. Karena itu sangatlah disarankan untuk lebih memperdalam ilmu ini pada sumber-sumber yang lain.

Biologi Praktis hanya akan berguna jika dipakai dalam keadaan terdesak ( survival ), namun dengan demikian kita berharap agar ilmu ini tidak sampai dipraktekkan dalam situasi dan kondisi sesungguhnya ( jangan terjadi ). Oleh karena itu untuk menjaga hal-hal yang tidak kita harapkan tersebut, fisik dan mental serta wawasan pengetahuan tentang teknik hidup di alam terbuka, harus benar-benar terjaga dan tetap dipersiapkan ( tak pernah berhenti berlatih ).

Dari uraian tulisan tentang biologi praktis ini, ternyata terbukti bahwa hutan dan segala isinya dapat memberikan manfaat yang sangat tinggi bagi umat manusia. Selain menyediakan sumber bahan kayu, rotan, getah-getahan dan minyak-minyakkan, hutan juga menyediakan bahan yang dapat dimakan dan dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Dengan demikian setelah kita tahu tentang manfaat hutan, untuk hal tersebut tentunya memerlukan lebih banyak lagi pengetahuan dan pengkajian untuk dapat menggali manfaat hutan bagi kepentingan masyarakat banyak

Dan untuk itu pula, melestarikan hutan sebagai habitat bermacam-macam flora – fauna serta memanfaatkannya secara bijaksana dengan tetap memelihara keseimbangannya, adalah tanggung jawa kita semua sebagai penggiat kegiatan di alam terbuka.

(Djukardi 'Bongkeng' Adriana. Beliau salah satu Anggota senior Wanadri (Instruktur & penggiat) di bidang GUNUNG-HUTAN)

Thanks to Deni Rahadian (HNG)

Februari 26, 2010

oleh : Deni Rahadian 1403056 HNG



Pengertian Konservasi

Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana).

Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan :
  1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).
  2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).
  3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).
  4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).
Di Asia Timur, konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH) dimulai saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan. Sedangkan di Inggris, Raja William I (1804 M) pada saat itu telah memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan sebuah buku berjudul Doomsday Book yang berisi inventarisasi dari sumberdaya alam milik kerajaan.

Kebijakan kedua raja tersebut dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk konservasi sumberdaya alam hayati pada masa tersebut dimana Raja Asoka melakukan konservasi untuk kegiatan pengawetan, sedangkan Raja William I melakukan pengelolaan sumberdaya alam hayati atas dasar adanya data yang akurat. Namun dari sejarah tersebut, dapat dilihat bahwa bahkan sejak jaman dahulu, konsep konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat konservatif dan eksklusif (kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno konservasi yang merupakan cikal bakal dari konsep modern konservasi dimana konsep modern konservasi menekankan pada upaya memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam secara bijaksana.

'Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang'.

Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.


Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya. Sedangkan strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal berikut taktik pelaksanaannya, yaitu :

1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)
  • Penetapan wilayah PSPK.
  • Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.
  • Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.
  • Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK.
  • Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.
2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
  • Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
  • Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi).
3. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
  • Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.
  • Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran, budidaya).

Secara harfiah lingkungan berarti keadaan sekitar atau kondisi sekitar.
Lingkungan ekonomi misalnya juga menunjuk kondisi sekitar yang berhubungan dengan fungsi ekonomi, yang berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, dan lainnya.
  • Secara umum lingkungan :Berarti kondisi alam sekitar kita, terutama tentang tanah, air, udara, tumbuhan, binatang, sinar matahari, dan lainnya yang mengisi planet bumi ini, atau sebagian dari planet bumi yang berada di daerah tertentu.
  • Lingkungan hidup (life environment):Adalah lingkungan hidup di atas bola bumi sebagai wadah (tempat) makhluk hidup itu berada. Lingkungan hidup di atas bola bumi itu disebut wadah bagi hidup dan hidup itu merupakan isi dari lingkungan.Antara wadah dan isi menyatu, selalu terdapat suasana dan kondisi yang berhubungan secara utuh dan menyeluruh, yang dapat diartikan menjadi serba terhubung. Keduanya tampak selaras, serasi, lengkap baik dari dalam maupun dari luar.
3 unsur dasar lingkungan hidup:
  1. wadah (the contour)
  2. isi (the content)
  3. tata laku (the conduct).
Antara ketiganya selalu dalam satu perwujudan dan perikehidupan yang serba terhubung yang laras, berimbang, lengkap, dan bulat. Perubahan salah satu unsur dasar tersebut, maka akan timbul kelainan yang dapat menjadi gangguan, dan mungkin menjadi ancaman.

Hubungan ketiga unsur lingkungan:

terdapat suatu sistem yang utuh, menyeluruh, laras, dan berimbang sehingga dapat dikatakan bahwa tata-kehidupan di atas bola bumi merupakan suatu sistem yang utuh menyeluruh. Dengan lain perkataan, antara hidup sebagai isi dan lingkungan hidup sebagai wadah serta tata-kehidupan sebagai tata-lakunya, terdapat suatu hubungan yang bersatu dan tidak tercerai-beraikan (holistik).


DEFINISI LINGKUNGAN HIDUP
  • Seorang ilmuwan abad XX yaitu Einstain mengemukakan bahwa lingkungan (environment) adalah semua hal di sekitar kita kecuali diri kita sendiri.
  • Lingkungan yang dimaksud adalah suatu lingkungan dari perspektif ekologi yang berarti semua isi alam dunia ini, yang manusia bisa menjalani kehidupannya. Konsep ini lebih mengedepankan manusia sebagai unsur utama di dalam lingkungan.

UULH NO. 23 1997 :

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup.

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Ekosistem Adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan yang utuh dan menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Daya dukung lingkungan Adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri dari sumber daya manusia, sumber daya alam hayati, sumber daya alam non hayati, dan sumber daya buatan.

Baku mutu lingkungan adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.

Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.

Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan, yang mengakibatkan lingkungan kurang atau tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan yang berkesinambungan.

Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tidak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya

Limbah Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.

Bahan berbahaya atau beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat dan konsentrasinya atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan merusakkan lingkungan hidup, atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Analisis Mengenai Dampak lingkungan
  • adalah perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kegiatan.
  • adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan

Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup.

Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.

Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan bagi sumber daya terbaharui menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya

Lembaga swadaya masyarakat adalah organisasi yang tumbuh secara swadaya, atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat, dan berminat serta bergerak dalam bidang lingkungan hidup.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesibambungan untuk meningkatkan mutu hidup

Ilmu yang diperlukan untuk mempelajari lingkungan

Ilmu Biologi dan Ilmu Geografi, maka sebaiknya dipelajari terlebih dahulu kedua bidang ilmu tersebut sebagai pegangan, baik melalui buku teks maupun tulisan diberbagai media lainnya. Selain itu harus juga mempunyai kamus dari kedua bidang ilmu tersebut.yang akan sangat membantu mempelajari lingkungan ini.

Pengetahuan lain ?

habitat (organisme) juga harus dipahami. Selain itu mengenal faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi habitat, misalnya hujan, angin, asap dari mobil atau rumah tangga, matahari, bising dari suara pesawat terbang, asap dari api unggun, sampah, limbah, pohon dan semak di halaman dan hutan, burung yang membuat sangkar di dahan dan ranting, bunga-bunga yang menarik bagi kumbang dan kupu, perusak bunga dan daun (ulat), pagar tanaman yang memerlukan pemangkasan, dll

Organisme hidup
  • Sangat sulit memberikan batasan tentang hidup, meskipun hanya dalam konsep atau fungsi vital yang menjadi ciri organisme hidup.
  • Sesuatu tidak hidup barangkali hanya mempunyai dua atau satu ciri tertentu, misalnya bergeraknya mesin, perkembangan kristal.
  • Organisme hidup mempunyai banyak ciri.

7 Ciri organisme hidup
  1. Makan (feeding)
  2. Pernafasan (respirasi)
  3. Berak /mengeluarkan kotoran
  4. Pertumbuhan (growth)
  5. Menyesuaikan diri (adaptasi)
  6. Bergerak (moving)
  7. Berkembang biak

Dua ciri penting kehidupan
  • Metabolisme adalah suatu proses psikologis termasuk anabolisme (membangun) dan katabolisme (memecah). Proses ini meliputi makan dan penggunaan energi.
  • Menjaga kelangsungan diri sendiri. merupakan pengendalian, koordinasi, dan menjaga kelangsungan jenis dari proses metabolisme yang merupakan tiga unsur penting kehidupan.

Hukum konservasi energi
  • Materi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, tetapi tidak demikian dengan energi.
  • Di dalam hukum konservasi energi, Energi tidak bisa dibuat dan hanya dapat disimpan atau dilepaskan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya.

Struktur Dasar Kehidupan
  • Sel
  • Pembagian sel.
  • Jaringan
  • Organ
  • Organisme

Tumbuhan dan Binatang
  • Keduanya terbentuk dari sel dasar dan membawa fungsi vital yang sama.
  • Perbedaan khusus (khas) antara keduanya terdapat di dalam struktur sel dan cara makan serta pergerakannya.

Perbedaan antara Binatang dan Tumbuhan
  • Tumbuhan dapat memproduksi makanannya dari materi anorganik sederhana yang diambil dari udara, tanah, dan air.
  • Konsumen karena tidak bisa memproduksi makanannya sendiri. Makanan bagi binatang sudah berwujud organik yang sudah disediakan oleh tumbuhan atau binatang lain.

Perbedaan yang nyata antara Binatang dan Tumbuhan
  • Binatang, secara umum dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.
  • Tumbuhan hanya akarnya yang bergerak memanjang.
  • Tumbuhan mengeluarkan energi untuk proses pembuatan
  • Binatang kebanyakan mengeluarkan energi untuk mencari makanan, mencari pasangan, dan bergerak menghindar dari musuhnya (predatornya).


ASAL MULA TIMBULNYA MASALAH LINGKUNGAN HIDUP
  • Diawali pada bulan April 1968, sejumlah 30 orang ahli dari segala penjuru dunia berkumpul di Acadenua dei Lincei, Roma atas undangan untuk membahas masalah lingkungan hidup.
  • Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970- kekawatiran tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merusak lingkungan.
  • Juni 1972 di Stockholm (Swedia), sejumlah 113 utusan negara dari badan dunia yaitu PBB hadir pada pertemuan yang membicarakan masalah lingkungan hidup yang disebut dengan “UN Conference on Human Environment” yang kemudian dikenal dengan “Stockholm Conference”, atau “Hari Lingkungan Hidup dan ditetapkan pada tanggal 5 Juni 1972.”
  • Begitu pula di Bali telah dilangsungkan Konperensi yang berhubungan dengan Lingkungan hidup pada bulan Oktober 1982 dan merupakan tindak lanjut dari Konperensi di Stockholm, yang kemudian Indonesia mempunyai UULH.
  • Dewasa ini seluruh negara-negara di dunia menganggap bahwa lingkungan hidup manusia sudah semakin terganggu dan terus mengalami kerusakan, untuk itu masalah lingkungan hidup perlu mendapat pemecahan dan penanggulangan serta pengelolaan secara serius. Pengelolaan lingkungan mutlak perlu demi masa depan umat manusia sendiri.
TUJUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
  1. Tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan
  2. Terkendalinya pemanfaatan secara bijaksana dan lestari sumberdaya.
  3. Terwujudnya manusia sebagai pembina lingkungan hidup.
  4. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan.
  5. Terlindunginya negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara terhadap lingkungan.

YG DIHADAPI LINGKUNGAN SEKARANG
  • Over population, too many people dan reproducing too quickly.
  • Depletion (penipisan), eroding the basis life.
  • Pollution (pencemaran), defilling the land, air, and water.
  • The human failing (kemunduran), a crisis of spirit
Ekologi sbg dasar Ilmu Lingkungan

Inti masalah lingkungan adalah hubungan antar makhluk hidup khususnya manusia dan lingkungannya.
Ilmu yang mempelajari hubungan makhluk hidup dengan lingkungan tersebut disebut “Ekologi”

Tingkatan Organisme/Spesies
Makhluk hidup atau organisme/spesies memiliki tingkat organisasi yang berkisar dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat yang paling kompleks.
  1. Protoplasma : Adalah zat hidup dalam sel dan terdiri dari senyawa organik yang kompleks, seperti lemak, protein, dll.
  2. Sel : Adalah satuan dasar suatu organisme dan terdiri atas protoplasma dan inti yang terkandung dalam membran.Membran adalah pemisah dari satuan dasar lainnya.
  3. Jaringan : Adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi tertentu, misalnya jaringan otot, jaringan otak, dll.
  4. Organ : Adalah alat tubuh yang merupakan bagian dari suatu organisme yang mempunyai fungsi tertentu, misalnya kaki, telingga, tangan pada manusia, akar, daun, batang pada tumbuhan, dll.
  5. Sistem organ : Adalah kerjasama antara struktur dan fungsional yang harmonis, misalnya kerjasama antara mata dengan telinga, kaki dengan tangan, dll.
  6. Organisme : Adalah suatu benda hidup, jasad hidup, atau makhluk hidup/spesies.
  7. Populasi : Adalah kelompok organisme sejenis yang hidup dan berbiak pada suatu daerah tertentu, misalnya populasi banteng, kijang di Taman Nasional Baluran. Populasi Manusia di Jakarta, dll.
  8. Komunitas : Semua populasi dan berbagai jenis yang menempati suatu daerah tertentu, antar populasi saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, misalnya harimau dengan kijang, ular dengan tikus, burung elang dengan ular, dll.
  9. Ekosistem : Adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dan lingkungannya, baik unsur tidak hidup maupun unsur hidup (ekologi).
  10. Biosfeer : Adalah lapisan bumi tempat ekosistem beroperasinya, atau organisme hayati yang paling kompleks.
PEMBAGIAN EKOLOGI
  1. Autekologi : adalah ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya, biasanya tekanannya pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasitis, dll.
  2. Sinekologi : Ekologi yang mengkaji berbagai kelompok organisme sebagai suatu kesatuan yang saling berinteraksi dalam suatu daerah tertentu, ekologi jenis, ekeologi populasi.
Ekologi menurut habitat
  • Bahari atau kelautan.
  • Perairan tawar.
  • Darat atau terestrial.
  • Ekologi estuaria (muara sungai).
  • Padang rumput.

Ekologi (taksonomi)
  • Ekologi tumbuhan.
  • Ekologi hewan binatang, serangga dan burung.
  • Ekologi mikroba/jasad renik.

Asas ekologi
  • Dimanapun suatu organisme ada tidak akan dapat hidup mandiri, untuk hidupnya suatu organisme memerlukan organisme lain atau lingkungannya.
  • Lingkungan diperlukan organisme untuk makan, lindungan, pertumbuhan, kembang-biak, dll.
Konsep Ekosistem

Adalah suatu kawasan alam yang di dalamnya tercakup unsur-unsur hayati dan non hayati, keduanya berhubungan timbal balik.

Unsur ekosistem
  1. Autotrofik, adalah suatu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dengan
  2. Heterotrofik, adalah organisme yang mampu memanfaatkan hanya bahan-bahan organik sebagai bahan makanannya, bahan tsb disintesis oleh organisme lain.
Komponen ekosistem

1. Bahan tak hidup (abiotik) adalah komponen fisik dan kimia yang terdiri atas, air, tanah, udara, sinar matahari, yang merupakan medium atau subtrat untuk berlangsungnya kehidupan
2. Produsen, organisme autotrofik yang umumnya tumbuhan berklorofil, mensintesis makanan dari bahan anorganik sederhana.

(Materi ini pernah diberikan pada MABIM Tahun 2009)

Kredit foto :
Plantagama.faperta.UGM
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff