Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Februari 04, 2020

Ternyata saudara-saudara, naik kereta api dari Bangkok kurang elok pemandangannya. Tadinya saya berharap bisa melihat Thailand yang hilly dan scenic, tapi yang dilihat hanya hamparan sawah, hamparan ilalang, dan banjir yang lidah airnya merendam sebagian rel kereta api. Keretanya sendiri, karena banjir itu, sering memperlambat jalannya sehingga perjalanan yang seharusnya 12 jam molor menjadi hampir 14,5 jam. Wareg lah calik na kareta! Ketika sampai di Stasiun Chiangmai waktu sudah mendekati Pukul 11 malam. Stasiun Chiangmai tidak terlalu besar, seukuran Stasiun Banjar lah. Tapi memang lebih bersih dan tertib. Terasa waktu mencoba toilet yang berbayar THB 3, tidak ada bau yang gak enak. Air, sabun cuci tangan, dan tisu tersedia. Nyaman.

Keluar dari stasiun, tidak ada taxi meter, akhirnya naik mobil pribadi yang dijadikan taxi untuk menuju hotel yang jaraknya sekitar 5 km seharga THB 100. Nu nyupiranna ibu-ibu usia 50-an awal sigana. Berarti mun ibu-ibu mau nyupiran 'mobil umum' di stasiun boleh lah diasumsikan bahwa tempat itu aman. Si Ibu oge nawaran sewa mobilnya untuk tour ke sekitar Chiangmai. Ngan hanjakal bahasa Inggris na rada harese, sababaraha kali ngobrol jadi teu nyambung atawa si Ibu na nyarios teu ngartos. Ti stasiun langsung ka Holiday Inn. Untunglah kami mendapat discount rate dari Asiarooms, untuk kamar executive di Holiday Inn dapet THB 5000, sekitar 500 ribu semalam. Kamarnya besar dan mewah, dengan pemandangan ke arah sungai Ping yang lebar dan airnya mengalir deras.

Jadi, setelah di Bangkok menginap di Shangri La dengan pemandangan sungai Chao Praya, kembali kami menikmati kamar hotel dengan pemandangan sungai di Chiangmai. Dengan hotel yang tidak kalah luxurious..., meni ngagaya pisan he he he...

Cape perjalanan panjang kareta api matak tibra bobo.

Hari ini, setelah semalam beristirahat dari penatnya perjalanan, dan memulai sarapan pagi yang melimpah di hotel, Ninin dan saya mencari informasi kepada hotel untuk tempat-tempat yang worth visit, sekaligus alternatif transport yang paling murah dan nyaman. Setelah membanding-bandingkan dengan gaya budgeted tourist, ternyata transport yang paling baik adalah menyewa dari hotel. Dengan THB 1200 kami dapat van yang lega, supir berbahasa Inggris, cooler dengan persediaan air minum, dan yang penting waktunya tidak dibatasi.

Ninin, Cisca, dan saya memutuskan untuk pergi ke daerah Mae Taeng dan ke Doi Suthep. Mae Taeng berjarak sekitar 20 km dari kota dimana terdapat Snake Farm, Tiger Kingdom, dan Elephant Camp. Letaknya satu sama lain cukup dekat, kurang lebih 5 km saja. Sebetulnya ada banyak kegiatan outdoor di daerah itu, ada motocross, ATV, mountain bike, airshot gun, bahkan penangkaran monyet. Tempat yang didatangi pertama adalah Tiger Kingdom.

Tapi harapan tinggal harapan, ternyata bukan sebuah reservasi harimau yang kami temui, tapi hanya 36 ekor harimau yang sudah dijinakkan dan siap untuk berfoto bersama pengunjung. Kuciwa deh, hanya melihat-lihat sebentar tanpa membeli tiket, kami putuskan untuk mengucapkan selamat tinggal. Bade difoto jeung maung mah di Taman Safari we nya. 2 km dari situ, kami berhenti di Snake Farm. Harga tiket masuk THB 200.

Ini baru menarik. Yang menarik memang bukan melihat ular-ular yang bengong ngalamun didalam kandang, tapi atraksi ular. Dalam arena berbentuk lingkaran berdiameter 4 meter, sang pawing yang disebut Snake Man melakukan aksinya. King Cobra diganggu sehingga berusaha mematuk, tapi dengan kelihaian yang luar biasa, pawang itu selalu berhasil lolos dari patukan ular, bahkan akhirnya ular bisa dicium dan ditangkap. Lalu dipaksa untuk mengeluarkan bisa kedalam gelas yang ditutup plastik.

Cobra galak itu dibuat tidak berdaya mungkin kalau dia manusia mah geus diwiwirang, ibaratna preman garang yang dibikin takluk tidak bisa apa-apa. Selanjutnya atraksi dengan menggunakan ular Piton, ular Pohon, dan ular Sapi. Ternyata sambil beratraksi, si pawang memperhatikan pengunjung mana yang terlihat paling takut, untuk kemudian dengan sengaja membawa ularnya mendekati pengunjung itu. Puguh tambah sieuneun. Bahkan di satu kesempatan ketika ular masih didalam kotak dan hendak dikeluarkan dengan bambu, MC mengumumkan bahwa ular pohon itu mampu melompat sejauh 6 meter dan meminta pengunjung untuk lebih berhati-hati. Na eta mah jug belewer teh tina peti ngapung ka turis anu sieunan tea, ampir we manehna ngajuralit tina bangku, singhoreng tambang anu ngahaja disiapkeun jang nyingsieunan. Jail pisan!

Saya senang bisa melihat pertunjukan itu karena asa kacumponan cita-cita. Baheula pernah nongton film dokumenter di Discovery Channel tentang perjuangan seorang anak di daerah itu yang ingin menjadi snake man. Si budak nu umurna kakara 8 taunan difilmkeun latihan terus menerus mengikuti pamannya yang telah menjadi snake man terkenal, hingga akhirnya dia bisa memulai pertunjukkannya yang pertama. Resep ningali filmna, akhirna kacumponan ningali langsung pertunjukanna.

Setelah snake farm, perjalanan dilanjutkan ke Elephant Camp. Tiba disana Pukul 12.45, karena Elephant Show baru maen jam 1.30, sempet puter-puter heula ningalian lingkungan camp. Sempet ningalian gajah nu diparaban, dimandian, sapawangna-sapawangna ti mimiti gajah leutik nepi ka anu sagede gajah, enya gede pisan maksudna. Elephant Camp teh teu gede-gede teuing, paling oge sagede Camping Ground Cikole, tapi gajahna rea, aya ka na 50 mah. Aya elephant riding ngurilingan camp, sajam the THB 800. Ah teu hoyong, keur mah awis, oge asa teu resep dibonceng ku gajah lalaunan mah, duka mun sajam tapi gajahna bari lumpat mah, rada diemutan. Tapi ngacleng meureun urang na oge nya.

Akhirna tibalah pada pertunjukan gajah. Dimulai dengan memandikan gajah-gajah itu di sungai. Resep ningali gajah meni siga budak nyoo cai, tinggejebur, aya nu bari gogoleran, kekerelepan, bari garandeng disada. Kaluar ti walungan tuluy rombongan gajah teh diabringkeun ka tempat pertunjukan. Didinya gajah-gajah teh atraksi maen bal, maen harmonika bari nari-nari, nyusun batangan kayu, dan yang paling luar biasa adalah melukis! 5 gajah masing-masing menghadapi satu kanvas, ngalukis make cat air sakarepna-sakarepna. Pawangna mangmilihkeun warna.

Singhoreng hasilna beda-beda, aya nu ngagambar anggrek di na pot, ngagambar tangkal nu kembangna warna-warni, ngagambar tangkal, dan yang paling luar biasa aya nu ngagambar bonsay, siga caringin bonsay. Subhanallah, ternyata gajah punya kemampuan luar biasa. Eta gambarna persis we hasil ngagambar pelukis serius, rapih, nempatkeun warnana harmonis, jeung pas komposisina ka na ukuran kanvas. Hebat pisan lah, para penonton dibuat terpesona. Sajam pertunjukan gajah asa teu karaos, jabaning tiket masuknya juga murah, ngan THB 120.

Ieu catetan waktos di Hualam Phong...

Setelah perjalanan 15 menit dengan taxi, tibalah Cisca, Ninin, dan saya di Stasion Hualam Phong - Bangkok. Stasion utama yang melayani perjalanan kereta api ke seluruh Thailand bahkan ke negara-negara tetangganya seperti Malaysia dan Singapura. Jadwal kereta pukul 08:30, kami sampai di Stasiun pukul Tujuh kurang lima menit. Sengaja memang pergi lebih awal sebagai prosedur tetap untuk menghadapi keadaan yang belum pernah dilakukan, bisi aya nanaon cukup waktuna.

Berdasarkan informasi dari petugas hotel tadi malam bahwa kemungkinan jadwal perjalanan kereta api dapat terganggu karena banjir, alhamdulillah tidak terjadi. Penjualan tiket kereta api berjalan normal, dan tidak ada pengumuman di stasiun bahwa ada banjir yang akan menghalangi perjalanan.
Ternyata proses pembelian tiket sangat mudah. Tidak ada antrian di loket. Dengan dibimbing oleh seorang petugas dari tourist information desk, kami membeli tiket yang harganya per penumpang sebesar THB 611 untuk tujuan Chiangmai.

Masih sekitar sejam setengah lagi menunggu keberangkatan, Cisca dan Ninin muter-muter di stasiun, sementara saya duduk di tempat yang tersedia sambil menulis catatan ini. Hall stasiun cukup luas, mungkin sekitar setengah lapangan sepak bola. Kayaknya bangunan peninggalan lama. Konstruksinya dari besi dengan bentuk bangunan melengkung, mirip Stasiun Kota, di Jakarta.

Didalam stasiun suasananya bersih dan terasa tertib untuk ukuran stasiun kareta di tanah air. Merokok di lingkungan stasiun dikenai denda THB 2000. Papan informasi elektronik yang cukup besar menampilkan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta dalam dua bahasa, Inggris dan Thailand. Oh ya, semua keterangan di stasiun, bahkan yang saya lihat selama di Bangkok, ditulis dalam dua bahasa seperti itu.

Kembali ke dalam stasiun. Di bagian pinggir hall berjajar kios-kios food court, money changer, kedai kopi, penitipan bagasi, termasuk juga pusat informasi dan pos polisi kereta api. Pusat informasinya dikelola serius, dilengkapi komputer dan petugas berbahasa Inggris dan sangat helpful.
Didepan kios-kios tadi disediakan jejeran tempat duduk untuk calon penumpang. Saya hitung masing-masing 200 tempat duduk di setiap sisinya, total 400 kursi. Jumlah loket ada 22, setiap loket dilengkapi komputer dan printer sehingga nampaknya kita bisa membeli tiket untuk jurusan apa saja di loket yang mana saja. Petugas kebersihan terus bergerak membersihkan sampah yang terlihat olehnya, sehingga stasiun terasa bersih.

Mun ningali potongan jeung babawaanna, orang-orang di stasiun ini ada pengguna kereta untuk jarak pendek seperti pelajar dan karyawan nu relatif lalengoh, dan ada yang perjalanan panjang dengan ransel atau koper yang besar, termasuk turis-turis. Dengan gedungnya yang tiga lantai, bangunan Stasiun Gambir nampak lebih modern dibandingkan Stasiun Hualum Phong. Tapi begitu kita berada didalamnya, kita bisa membandingkan bahwa ke- modern-an itu tidak hanya terletak pada fisik bangunan, tapi lebih pada kebersihan, ketertiban, rasa aman, dan kemudahan setiap orang bahkan yang tidak berbahasa daerah itu untuk mengakses informasi yang dibutuhkannya mulai dari tiba sampai meninggalkan stasiun itu.

Pukul delapan tepat ada pengumuman yang kalau saya dengar sih seperti pengumuman jadwal kereta da ku Bahasa Thailand. Tapi pengumuman ini kemudian diikuti dengan bunyi peluit petugas keamanan. Semua orang yang sedang duduk lalu berdiri, yang sedang berjalan berhenti, lalu berdiri menghadap gambar raja yang ada di dinding stasiun. Lalu diputar lagu kebangsaan Thailand. Luar biasa, begini rupanya cara mereka menanamkan nasionalisme. 5 menit penghormatan kepada raja dan lagu kebangsaan.

Keberangkatan kereta terlambat 30 menit. Karosong, paling hanya terisi 15 persen saja. Ternyata kondisi keretanya tidak semewah yang dibayangkan. Mungkin sekelas Parahyangan tapi jelas dibawah Argo Gede. Memang harganya murah sih, cuma THB 611 atau sekitar Rp 180 ribu. Mudah-mudahan tidak mengurangi kenikmatan perjalanan. Ah da memang niatna sanes menikmati kareta api...., kami bisa saja naik Air Asia yang harga tiketnya 'hanya' Rp 600 ribu dan waktunya cuma 70 menit, tapi bila itu yang jadi pilihan maka kami tidak punya kesempatan untuk melihat setengah Thailand melalui jendela ini, jendela kereta Special Diesel Rail Coach Second Class….


Mendarat di Svarnabhumi pukul 8 kurang saparapat, malam. Tiga jam seperempat penerbangan Jakarta Bangkok hampir tidak terasa karena dilalui dengan tidur. Kaluar ti na pesawat masuk ke dalam bangunan airport yang megah dan terang benderang. Perjalanan dari pintu pesawat menuju counter imigrasi terasa panjang tapi menyenangkan karena koridor yang dilalui rapih, teratur, harum, tiis, dan ada toko-tokonya deuih, jadi bari cuci mata.

Sampai di area imigrasi, ternyata antrian sudah cukup panjang. Sekitar 15 menit menunggu, baru dapet giliran diperiksa. Aneh, setiap menemui antrian imigrasi saya selalu merasa nervous, rarasaan teh siga deuk dipariksa ku pulisi, atawa keur diteangan kasalahan. Teu diluar negeri teu di Indonesia, rarasaan teh aya we dokumen nu kurang.
Setelah diperiksa, paspor di cap, plok...plok...plok...., teuing palebah mana wae anu di cap teh, tuluy dipasrahkeun deui paspor teh. Plong....., ku lantaran teu aya bagasi tiasa langsung kaluar ka area publik. Sudah diniatkan ti Jakarta keneh, hoyong nyobian kareta api nu ti bandara ka Bangkok, yang baru beberapa bulan diresmikan dan tiketnya pun masih tiket diskon.

Mun ningali gambarna di internet mah siga nu sae pisan. Namina Airport Rail Link. Dipapay we papan penunjuk nu alhamdulillah jelas. Terminal kareta teh ayana di lantai panghandapna, di basement bangunan bandara. Untuk sampai disana, sangat mudah bahkan bila kita bawa koper nu gede sekalipun. Eskalatorna siga nu sok aya di tempat balanja, rata. Suasana bandara yang tertib, bareresih, dan nyaman, dengan petunjuk-petunjuk yang jelas, mendukung first timer untuk tidak akan tersesat. Mau pake lift juga ada.

Karena uang baht yang dibawa pecahan seribu, akhirnya saya beli dulu minuman dua botol serta satu snack sehingga dapat kembalian recehan. Dengan asumsi bahwa beli tiket kereta yang hanya THB 15 harus pake recehan. Begitu tiba di loket kereta api, nampaklah bahwa loket itu siap dengan pecahan uang berapapun yang kita bawa. Teu kedah ku recehan, bade ku sarebuan oge mangga. Loket na oge meni keren, petugasna ngarora keneh dandananna siga padamel bank. Dikacaan, eusina aya genepan kitu, masing-masing mayunan komputer.

Sampai di peron, ngantosan sekitar 10 menit. Kereta berangkat setiap 15 menit. Jarak yang ditempuh dari bandara sampai stasiun di pusat kota sejauh 28 kilometer lebih sedikit dengan delapan stasiun perhentian. Waktu tempuh ti bandara dugi ka kota (setelah mencoba dua kali), sekitar 28 menit dengan waktu berhenti di setiap stasiun sekitar 30 detik. Rel anu dibawah tanah ngan nu di bandara hungkul, kaluar ti bandara sampai ka kota mah si rel teh ayana di luhureun jalan raya. Kecepatan maksimal adalah 160 km/jam, ini saya tahu bukan dari melihat speedometernya tapi info dari web nya, he he he.

Jol kareta datang, blus ka na kareta, euleuh meni resep. Kareta teh meni beresih...sih...sih. Modern model na teh. Satu rangkaian kareta terdiri dari tiga gerbong dan tiap gerbong mampu mengangkut sampai, mun saya teu salah mah, ah sabaraha nya harita teh, hilap deui.

Jumlah tempat duduk tidak terlalu banyak, seueur disadiakeun kanggo nu tatih. Oh iya, yang saya ceritakan ini kareta anu kelas ekonomi. Mun nu express na, teu eureun-eureunan di unggal stasion, tapi langsung. Nu express mah calik sadayana tapi ongkos na oge langkung awis. Nyaan eta kareta beresihna. Sengaja saya colek bagian bawah jendela yang biasanya berdebu. Bersih friend! Tidak ada debu. Bahkan bagian yang dekat kaki juga saya lihat beresih. Cle calik dina korsi anu minimalis tapi hipu bari ningalian penumpang nu sanes... :)

Geuleuyeung kareta maju, karaos ngebutna. Kaluar ti na taneuh, tuluy naek ka na trek nu ayana di luhureun jalan. Tambah laluasa ningali pemandangan kaluar. Duka pedah area caket bandara, duka di seluruh Bangkok seperti itu, jalan teh lalega, caraang ku lampu jalan. Sigana mun mobil teu dilampuan oge moal poek. Di tiap-tiap stasion kareta teh eureun, nurunkeun jeung naekkeun penumpang. Akhirnya tibalah di Phaya Tai Stasiun, tungtung jalur. Rada hanjakal oge naha enggal-enggal teuing meni tos dugi deui, padahal sedang menikmati.

Nyaan teu rugi pisan mayar opat rebu lima ratus rupia teh. Turun didieu, di lantai 3. Turun salantai ka lantai dua, nyambung ka na kareta kota Bangkok. Kareta kota Bangkok namina BTS Skytrain. Mun nu tadi mah Airport Rail Link, nu ieu mah Skytrain. Terdiri dari dua jalur yaitu jalur Sukhumpit yang melayani Bangkok utara sampai Bangkok Timur, dan jalur Silom yang melayani Bangkok barat ke selatan. Kedua jalur bertemu di Stasiun Siam nu mangrupakeun stasiun central.

Kaayaan stasion estuning bareresih, teu aya runtah, teu aya puntung rokok da teu kenging ngarokok. Pelanggaran akan didenda THB 2000, sekitar genep ratus rebu rupia. Ngajanteng heula di stasion BTS teh, ningalikeun kumaha carana meuli tiket jeung asup ka stasiun. Didinya teh aya mesin tiket sababaraha unit. Aya oge loket nu dijaga ku petugas. Penumpang teh aya nu langsung ka mesin tiket, pencet sana sini, masukin uang, tiket kaluar, ambil lalu pergi ke arah pintu otomatis, masukin tiket, pintu terbuka, ambil lagi tiketnya, lalu jalan ke arah tempat ngantosan kareta.

Aya oge nu ka loket heula. Ah ambil gampangnya sajah, antri we di loket. Masihkeun artos THB 100 ka petugas, diuihkeun deui ku artos, nganggo artos kertas pecahan duapuluh jeung koin pecahan 10 jeung 5. Teu ngitung harita teh yen jumlahna tetep 100. Bingung abdi teh, mana tiketna...., bade uih deui ka loket nu antri meni seueur, ah teu raos atuh jeung yakin yen teu mungkin petugas stasion salah. Setelah merhatikeun penumpang nu katingalina urang dinya, singhoreng memang setelah dari loket teh tuluy meser tiket na mah di na mesin, nganggo artos koin. Jadi, si loket teh sanes tempat jualan tiket tapi tempat nukeuran artos, beu!! Teu maca abdi teh, di na kaca aya seratan 'change only'. Untung can complaint....

Tos apal kitu mah langsung we ka mesin, pencet zona stasiun tujuan, lebetkeun recehan, candak tiketna, geuleuyeung we lebet ka peron tempat ngantosan. Teu lami jol we kareta Skytrain teh. Sami geningan siga kareta nu ti bandara..., muhun sami modernna, sami bareresihna. Penumpang kareta teh sanes ngan potongan Asia hungkul, tapi seueur bule na. Lamun urang naek TransJakarta mah pan eusina jauh lebih banyak urang Indonesia na nya, ari na kareta ieu mah meureun aya ka na saparapatna urang bule. Jadi na kareta teh aya nu nyarios bahasa Thailand (meureun), aya nu nyarios bahasa Inggris, aya oge nu nyarios duka bahasa nanahaon da teu ngarti.

Ngan dua stasion kareta tos dugi ka Stasion Siam, 5 menit meureun. Turun we, da kedah ngalih ka jalur kareta Silom. Tujuan teh nyaeta ka hotel tempat Ninin mondok, hotel Shangri la anu tempatna deukeut stasion Saphan Taksin. Stasion ieu teh ayana di jalur kareta nu hiji deui. Teu lami ngantosan, jol we kareta nu bade ngalangkung ka stasion tujuan. Clak naek, geuleuyeung deui. Ngan sekitar 15 menit meureun, ngalangkungan 6 stasion, dugi we ka Saphan Taksin.

Nyaan pengalaman yang menyenangkan naek kareta di Bangkok teh. Murah, mudah, cepat, bersih, aman, penumpangna saropan..., sok kurang naon deui ari geus kitu? Stasion-stasionna aya di tempat-tempat anu strategis. Kadang-kadang ti stasion ka mall teh teu naek turun heula tapi langsung aya jembatan nu nyambungkeun. Total perjalanan dari airport dugi ka hotel tujuan, dengan diselang ku ngajanteng heula, teu dugi ka sa jam dengan biaya hanya THB 50 alias Rp 15 rebu. Sedap kan??

Juli 06, 2014

 Gunung Dempo merupakan gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kota Pagaralam. Selain tinggi Dalam artikel ini, kami akan membahas hal-hal menarik mengenai Gunung Dempo ini yang kami kutip dari salah tim Penjelajahan Sadagori 2014. 

  1. Gunung Dempo memiliki ketinggian 3159 mdpl. Gunung-gunung di Indonesia yang memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl cenderung memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendaki dan penjelajah gunung. Selain medan yang dilalui cukup menantang, terdapat hadiah berupa pemandangan yang indah dari atas puncaknya.
  2. Gunung Dempo merupakan salah satu dari sedikitnya gunung yang masih ‘jarang’didaki. Pendataan mengenai Gunung Dempo yang relatif masih sulit untuk dicari sekiranya membuktikan bahwa Gunung Dempo masih jarang didaki, tidak seperti beberapa gunung di atas 3000 mdpl lainnya. Karena masih jarang didaki, Gunung Dempo tentunya lebih bersih dari sampah-sampah pendaki yang tidak mementingkan kebersihan. 
  3. Adanya potensi wisata Gunung Dempo memiliki kawah yang belum terlalu dikenal oleh masyarakat. Keindahannya pun tidak kalah bagus dengan gunung-gunung lainnya yang terkenal dengan kawah dan tempat-tempat wisatanya.
  4. Termasuk ke dalam kawasan PTPN VII Gunung Dempo juga merupaka kawasan PTPN VII yang memungkinan besar dapat dijadikan sebagai tujuan company visit. 
  5. Medan perjalanan yang menantang “Harus dicoba medan jalurnya, mantap banget.” ujar Firdarani, anggota tim Penjelajahan Sadagori 2014. 
  6. Memiliki dua puncak kembar Gunung Dempo memiliki dua puncak kembar yang ditengahnya terdapat pelataran atau semacam dataran yang sangat luas. Para pendaki dapat memanfaatkan pelataran ini untuk beristirahat sekaligus menikmati pemandangan dari ketinggian 3000 mdpl. Selain itu, di pelataran ini pun terdapat telaga yang dapat dijadikan sumber air. 
  7. Hampir di setiap pos terdapat sumber air Salah satu permasalahan yang paling sering dan fatal dialami oleh para pendaki gunung adalah sulitnya mencari sumber air. Namun, para pendaki dapat dengan mudahnya menemukan sumber air di Gunung Dempo karena hampir di setipa pos yang melalui KMP IV terdapat sumber air.

September 26, 2012


If everyone placing personal ads who claimed the hobby of “hiking” really did it with any regularity, the earth would have been trampled flat decades ago.

But those who really do enjoy this peaceful outdoor activity have plenty of incredible choices in every corner of the world.

Here are the ten best hikes on the planet, each with a combination of scenery and special extras that make them well worth going out of your way to enjoy.

Tongariro Northern Circuit, North Island, New Zealand

It is certainly no secret that New Zealand boasts some of the world’s most beautiful and dramatic scenery, which is why it’s not surprising that one of the world’s most spectacular hikes is located on these mountainous islands. While many people who hike in the Tongariro Reserve (a World Heritage site) on the Northern island stick to the one-day Tongariro Alpine crossing, the multi-day (2 nights and 3 days) Tongariro northern circuit provides hikers with a much richer and scenic experience.


 Hikers on the Tongariro Northern Circuit hike for about 35 kilometers through non-stop compelling volcanic and desert environs that will make you feel like you are trekking on the surface of another planet—all while giving you high mountain peaks as a backdrop, diversely striking vistas wide variety of different scenery. Hikers who set out on this out-of-this-world hike (quite literally) will circumambulate the active volcano Mt. Ngaurube (Mt. Doom for those Lord of the Rings fans out there) while hiking past boiling mud pools, craters, interesting lava features, the amazing water filled volcanic vents, glacial valleys and water-filled explosion craters called the Emerald Lakes. Things stay nice after dark, as you get to stay in comfortable alpine huts along the way that have decent beds, gas heating and stoves, running water and toilets. Hikers on this trek can also easily do two short side trips to the tops of both Mount Tongariro and Mount Ngauruhoe—allowing hikers to gaze out at the captivating volcanic scenery below.

Zion Narrows, Utah, United States

While hiking through the volcanic landscape of the Tongariro northern circuit may provide enthusiasts with an extraterrestrial experience, hikers are sure to be amazed at the unique and stunning scenery of trekking through the Zion narrows in the American southwest. Recently ranked as #5 on National Geographic’s list of America’s Best 100 Adventures, this trail will have you hiking up streams through dramatic, narrow slot canyons.
Hikers will wind their way through colorful, sculpted sandstone walls that rise up to 3,500 feet (that’s just about 1 km). The trek will also lead hikers through the famous “Wall Street,” a 2-mile section of the journey that crosses through a narrow canyon where the walls close to just 22 feet wide at the top. Hiking through water for about 60% of the hike up the streams that wind their way through these breathtaking slot canyons, you will see hanging gardens bursting from the red canyon walls, trickling water threading through cracks in the canyon walls and sprouting patches of moss, waterfalls sliding over the sandstone, and sandy banks with towering ponderosas. However, while this wondrous journey is sure to enchant hikers, it should be noted that hiking through the Zion Narrows is extremely dangerous, as flash floods can come quickly and the entire area is a huge drainage. Rainstorms up to 50 miles away can storm down the canyon and every year hikers die on this trail. Make sure to check the weather report in advance to make sure there is NO RAIN whatsoever in the forecast. However, with proper precautions, this hike, which is rated as one of the best hikes in the entire U.S. National Park system, is truly unparalleled.

Annapurna Circuit, Nepal

Any serious hiker or trekker dreams of going to Nepal to journey through the world’s most dramatic mountain landscape. While most hikers think of Kathmandu and Everest when they hear the word Nepal, the Annapurna circuit (which circumnavigates the Annapurna massif) not only has staggering snow-capped and rugged peaks providing for a spectacular backdrop, but the hike also offers trekkers great opportunities to see a wide range of natural and cultural diversity.
This 3-week trek allows you to stay in comfortable lodges as you hike from lush sub-tropical landscapes into the highest mountains in the world (beware of altitude sickness as the trek goes to a elevation of 17,749 feet). As you hike the Annapurna Circuit, you will get to interact with the Tibetan mountain peoples, see Buddhist temples, visit teahouses, soak in hot springs and take in some of the most awe-inspiring scenery in the entire world.

Inca Trail, Peru

Most people who know something about travel, know about the famous and world-renowned Inca Trail. While some of the more hard-core types out there may think of this amazing trek as cliché, the truth is that this trail is popular for a reason. Peru offers some of the most beautiful South American mountainous scenery and, while some criticize the trail for being over-regulated and too popular, Machu Picchu is a destination worth seeing and the hike along the way is sure not to disappoint, with plenty of scenic vistas and amazing views.
Along with offering spectacular scenery, the Inca Trail is not only safe and easy to organize, it also allows trekkers to hike through jungle to high alpine terrain, visit 3 sets of Inca ruins along the way, and take in the beauty of the Peruvian mountains over the 3-night, 4-day hike. Plus, at the end of the journey, hikers will arrive at one of the most celebrated man-made destinations on Earth.

Tiger Leaping Gorge, China

This 15-km gorge located along the Yangtzee River between approximately 6,000-meter Jade Dragon Snow Mountain and the 5,300-meter Haba Xueshan mountain, in China where rapids pass under a series of dramatic 2,000-meter cliffs. The gorge got its name from a legend that says a tiger once jumped the narrowest point of the gorge to escape a hunter (which is still 25 meters). As one of the world’s deepest river canyons, Tiger Leaping Gorge is a beautiful and scenic hike for those adventurous trekkers.
The high-road trail is well-maintained and marked and takes hikers on a 14-mile journey with varied mountain views that features a surprising variety of micro-ecosystems, waterfalls and even guesthouses where hikers can stay along the route.

While this gorgeous gorge is a essential and protected part of the World Heritage site of the Three parallel Rivers of Yunnan, the Chinese government has proposed building another hydroelectric dam that would flood this place—meaning hikers interested in seeing this beautiful, lush canyon should probably head there sooner rather than later.

Mount Kilimanjaro, Tanzania

If summiting the tallest point on any continent has always had major appeal, but you are not sure you’re up for a technical, dangerous and rigorous climb, then hiking to the top of Mount Kilimanjaro is a great option. Kilimanjaro is often called the world’s tallest walkable mountain, because while it stands at nearly 20,000 feet, no technical climbing skills or equipment are needed (mind you, this does not mean it is an easy hike—the journey is still physically demanding and people die every year from altitude sickness on this mountain).
There are several routes to the top of the tallest free-standing mountain in the world and the highest point in Africa is not only of the seven summits (the tallest points on each of the seven continents), but it’s also one of the most diverse and varied hikes in the world. Hikers start near the equator and hike through every climatic zone on the 6-day, 5-night trek that leads you from hot grasslands through temperate forests to glacial valleys and a frigid summit.

Kalalau Trail, Kauai, Hawaii

Kauai’s Na Pali coastline, which translates as “the cliffs” and which distinguishes the most impressive feature of this stretch of coastline boasts some of the most dramatically beautiful scenery in the world. Sheer cliffs dropping into the blue Pacific waters below, lush tropical valleys with picture-perfect waterfalls, green, velvet coated mountains and waves crashing dramatically into the rocky cliffs mark this hike into the remote and protected areas of coastline, where you can also spot pods of dolphins, humpback whales and sea turtles off the coast.
The 11-mile trail etches into the cliffs that raise as much as 4,000 feet above the ocean below and crosses 5 major valleys and countless smaller ones. The sometimes-treacherous trail takes most experienced and fit hikers one day and many hikers two, who camp in a permitted spot along the way. The trail was first built in the late 1800s, with portions rebuilt in the 1930s. It is almost never level, and in some spots the trail is quite narrow along cliffs dropping hundreds or thousands of feet to the ocean below.

Torres del Paine Circuit, Chile

Those looking for dramatic alpine landscapes, glacial fields, astonishing, jagged mountainscapes and a chance to get a look at the stunning spires of pink granite that make the famous towers of Paine should hike the Torres del Paine Circuit in Chile’s Patagonia mountains. Named one of the 50 places to visit in your lifetime by National Geographic, as well as being named a UNESCO biosphere reserve, this 100-km circuit offers surreal mountain vistas, glacial lakes, unique wildlife. You might even see a glacier calving. The wondrous track takes you through Magellenic forest, muddy bog, rocky gullies and over makeshift bridges.
Hikers should be weary that while this region is totally gorgeous, it is also notorious for inclement and often quite horrendous weather—meaning that not only will your pack be heavy laden with all of the appropriate gear to keep you warm and dry in the event of a storm, but it is also possible to get stuck in a bad storm or run into closed portions of the trail. But, the bad weather keeps this trek from getting overly crowded and you’ll feel all the more rough’n’tumble and accomplished for having braved harsh conditions (and those towering spires of the Paine will probably look all the more beautiful).

Tour de Mont Blanc, France

Regularly making lists as one of the best hikes in the world, this route circumambulates Mont Blanc, Europe’s highest peak standing at just over 15,000 feet. The 170-km hike offers stunning views of Mount Blanc and other Alp peaks, beautiful green valleys, blue alpine lakes and huge glaciers. The well-marked and maintained trails also lead hikers past wild chamois and ibexes, allow them to climb iron ladders bolted to the mountains and enjoy the alpine charm of the French Alps.
The other great part of this hike? While you may not feel quite as tough staying in the comfortable and warm refuges (hiking huts) along the way, not having to carry food or a tent makes for much lighter loads. Also, while opting to take the cable cars and chair lifts along the way could be considered cheating, it’s a great way to shorten your hike on certain days and be able to take in all the beautiful scenery without having to be too hardcore. Plus, the refuges offer comfort along the route—serving up hearty and delicious French food and wine and allowing hikers the chance to stalk up on food and supplies.

West Coast Trail, British Columbia, Canada

If you are looking for a surreal experience hiking through pristine Canadian wilderness, catching beautiful vistas of both temperate rain forests, rugged coastlines and dramatic mountain peaks, then the West Coast Trail is an absolute must. Hikers will awake to misty dawns, enjoy unbelievable sunsets, cross boulders and logs over rivers, scramble up creeks, hike past waterfalls, be dwarfed by enormous trees in an old growth forest, spot whales, sea lions, minks and maybe even bears or wolves, and check out shipwrecks and other historical sites.
This unique, stunning hike with immensely varied terrain can be difficult to get one of the limited permits available every summer and costing about C$200 per person it is also the most expensive hike in Canada. Also, inclement weather even in the summer months can make for heavy packs for climbing over mossy rocks and all of those ladders. That being said, this hike is well worth both the money and the heavy pack, as no other hike in North America offers such varied scenery from forest to mountains to sea.

Source : bootsnall

Maret 07, 2011


Masyarakat yang masih menganggap luhur nilai kearifan tradisional, yang selalalu mengedepankan kesetimbangan antara kebutuhan mental spiritual dan fisik material.

Keseimbangan mereka terapkan pada setiap orang dan harus dilakukan setiap hari, Cinta kepada Pencipta, cinta pada Alam lingkungan dan cinta pada sesama manusia.Walaupun masyarakat adat ini telah berinteraksi dengan masyarakat luar adat mereka selama 150 tahun, tetapi tetap setia pada nilai kearifan tradisional yang mereka anut.

Filosofi cinta mereka kepada pencipta yaitu dengan ngabaratapakeun – ngabaratanghikeun (meng hayati dan mengamalkan) titipan dari Adam Tunggal; yaitu dengan mengadakan beberapa upacara adat ritual yang mengakui eksistensi keberadaan sang pencipta. Cinta kepada lingkungan Dengan pemahaman filosofi “ Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang di sambung “ (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, yang dianut oleh masyarakat adat Baduy, arti dari filosofi tersebut lebih mengingatkan pada manusia untuk tidak melawan hukum alam dan selalu tunduk dan bertasbih sebagaimana mahluk tuhan lain dan jagat raya, dan melalui upaya menjaga kelestarian lingkungan alamnya.

Homo hominus socius bukan hanya jargon semata tapi istilah ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, dengan selalu menjalin hubungan silaturahmi, menjauhi sifat kekerasan. Bahkan bila hutan larangan mereka dirusak oleh masyarakat di luar masyarakat adat masyarakat Baduy ini tidak main hakim sendiri, mereka melaporkan hal ini pada pihak pemerintah (Pengurus Kabupaten setempat) alangkah malunya masyarakat kota yang konon katanya terpelajar dan beradab, tetapi dalam kenyataannya masih ada yang kurang ajar dan tak biadab.

Keasrian dan keindahan alam baduy dilengkapi pila oleh rasa kebersamaan mereka, bila kita masuk ke daerah baduy dalam sepanjang jalan antara kempung ada beberapa rumah yang terletak diluar perkampunyan, manakala kita masuk ke halaman rumah tersebut di amben (teras rumah bamboo) kita akan menemukan buah2an dan kendi yang berisi air dan itu boleh dimakan oleh siapapun yang lewat dan memerlukan itu. Alangkah luhurnya budi mereka yang selalu menanamkan rasa kasih, sayang dan hormat pada sesama mahluk Allah…

Nu keur sono jarambah . . .

# Deni Rahadian 06032011- 22 : 25 #

Februari 04, 2011


Tepat di tepi mulut lubang raksasa itu, 3 anak muda dengan sabar menunggu giliran untuk turun perlahan meniti lintasan tali yang telah terpasang. "Ropp fiiiiiii!!!!", suara itu sayup-sayup terdengar seolah mengukuhkan bahwa lubang itu sedemikian dalamnya. Tapi suara itu tidak asing dan maksudnya amat jelas "rope free", dan dengan hati-hati saya melepas kuncian dari descendeur lalu menggantungkan 'harapan' saya pada seutas tali berdiameter 1.2 cm yang menjulur ke dalam perut bumi...



Gunung Sewu yang dikenal juga dengan 'seribu gunung' merupakan perbukitan karst yang membujur dari Gunung Kidul, Jawa Tengah sampai kawasan Pacitan, Jawa Timur. Perbukitan yang memiliki morfologi yang khas seperti mangkuk terbalik atau istilah geologinya chonicle karst atau pepino hills ini jika dilihat dari foto udara akan menyerupai ular yang tubuhnya berlekuk-lekuk seperti tabiat ular pada umumnya. Daerah ini mendominasi Pegunungan Selatan Jawa begitu pula saudaranya di daerah Sukabumi, Jawa Barat dan sekitarnya. Entah mengapa namanya Gunung Sewu. Apakah jumlahnya benar-benar seribu? Atau lebih bahkan kurang dari seribu? Tapi yang jelas saya berada di salah satu segmen 'ular' dari ribuan segmen 'ular' tersebut.

Hari ke 4 di bulan Agustus tahun 2009, tepatnya di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul. Pagi-pagi benar ketika matahari belum tampak, puluhan anak muda disibukkan dengan segala kebutuhan penelusuran gua yang akan digunakan selama kurang lebih 10 jam. Di atas tanah tandus dengan beralaskan fly sheet tersusun rapih tali static kernmantle, yaitu sejenis tali khusus untuk kegiatan tebing terjal yang mampu menahan beban sampai puluhan kilogram bahkan ratusan. Sebenarnya ada 2 jenis tali kernmantle, yang satu statis dan yang lainnya dinamis. Namun untuk kegiatan khusus seperti ini, kami menggunakan tali statis demi keselamatan dan kenyamanan. Dengan cepat Kaka, pria berdarah Ambon ini, menggulung tali tersebut rapih dan meletakkannya di atas pundak kirinya. Kaka adalah salah satu bagian dari tim kami yang beranggotakan 6 orang. Baik Kaka, saya, dan 4 orang lainnya sama sekali minim pengalaman tentang kegiatan penelusuran gua. Untungnya, selama 3 hari yang lalu kami sudah melakukan simulasi penelusuran di salah satu pohon yang berdiri tegak di atas tanah yang tandus ini.

Bersama Kang Bambang, bertujuh kami menapaki jalan setapak yang tandus ini menuju gua yang dimaksud. Dengan overall yang menutupi tubuh kami dan segala peralatan yang menggantung sana-sini di tubuh, kami menyapa sapa saja termasuk warga yang sedang mengolah lahan di sekitar sini. Miris, melihat kondisi lahan yang tandus. Sedikit harapan untuk mengubah lahan ini menjadi hidup. Tidak banyak vegetasi yang bisa tumbuh disini dan tidak banyak pula warga yang hidup di sini. Kecuali mereka yang telah menjadi ahli waris tanah dari leluhur mereka yang lebih dulu ada di sini. "Pagi Pak!!! Permisi...", kataku semangat. "Monggo!", jawab lelaki tua itu yang rambutnya telah putih dimakan usia seraya tersenyum. Sepanjang perjalanan saya menduga-duga bahwa dalam pikiran lelaki tua itu kami lebih mirip para pekerja tambang bawah tanah atau badut yang entah menghibur siapa.

Datang ke tempat ini untuk menantang maut lalu terkubur di tengah kegelapan yang sunyi di bawah sana. Saya pun hanya tertawa kecil. "Edan!", kata Bowo. Ucapan Bowo tersebut sekaligus menyadarkan saya bahwa mulut gua ada di depan kami setelah 15 menit kami berjalan. Luweng Grubug nama tempat itu. Luweng berarti liang atau gua. Ya, Gua Grubug. Tapi lebih pantas memang dengan nama Luweng Grubug yang lebih bisa memacu datangnya imajinasi tentang sosok gua tersebut. Ada kabar burung bahwa dahulu gua ini merupakan tempat pembuangan orang-orang PKI. "Mudah-mudahan tidak demikian", batinku menjawab.

Dengan cekatan, saya dibantu 2 orang lainnya mengulur tali kernmantle tersebut. Sementara 3 orang lainnya menyiapkan webbing sling, carabiner, dan keperluan lainnya untuk siap menuruni gua itu. Kang Bambang hari itu mengawasi kami dan memberikan arahan agar kami bisa memasang instalasi dengan aman dan nyaman. Saya dibantu Kaka memasang anchor tepat di sisi mulut gua sebelah timur. Diameter mulut Luweng Grubug kira-kira 4-5 meter dan entrance atau pintu masuk yang kami pasang tepat di mulut gua sebelah timur. "Kedalamannya kurang lebih 80 meter vertikal", kata Kang Bambang yang jam terbangnya tak terhitung banyaknya. Tali yang kami bawa panjangnya 100 meter dengan diameter tali 1.2 cm, standar untuk kegiatan caving. Jarak mulut gua dengan main anchor 2 meter, sedangkan dengan back up anchor 7 meter. Jarak 2 meter itu kami manfaatkan untuk memasang tali lintasan ke descendeur kami. Setelah yakin lintasan yang akan kami lewati, satu persatu dari kami terdiam.


"Untuk mengawali kegiatan ini, marilah kita berdoa.. Berdoa mulai", sahut seorang dari kami yang sadar dengan kondisi 6 manusia saat itu. "Selesai!", katanya. Lalu dengan perlahan-lahan satu-persatu dari kami masuk melewati mulut gua yang pengap, gelap, dan sunyi. Alat penerangan sudah kami persiapkan berserta cadangannya. 4 orang tim termasuk Kang Bambang telah berada di dasar dari Luweng Grubug. Dari atas kami mengamati 4 orang yang telah lebih dulu berada di bawah sana. Hanya sekelibat cahaya kecil yang teramati olehku. Bahkan kadang tak terlihat sama sekali dari atas sini. Descendeur yang menempel pada delta MR di tubuh saya masih terkunci. Artinya saya tidak akan meluncur bebas ke bawah kecuali secara sengaja lilitan demi lilitan tali dibuka lalu meluncur ke bawah, terantuk, dan tidak jelas bentuknya.


Tepat di tepi mulut lubang raksasa itu, 3 anak muda dengan sabar menunggu giliran untuk turun perlahan meniti lintasan tali yang telah terpasang. "Ropp fiiiiiii!!!!", suara itu sayup-sayup terdengar seolah mengukuhkan bahwa lubang itu sedemikian dalamnya. Tapi suara itu tidak asing dan maksudnya amat jelas "rope free", dan dengan hati-hati saya melepas kuncian dari descendeur lalu menggantungkan 'harapan' saya pada seutas tali berdiameter 1.2 cm yang menjulur ke dalam perut bumi... Pelan-pelan saya mengendalikan descendeur agar tidak terlalu cepat meluncur ke bawah. Dengan bantuan headlamp, saya masih bisa mengontrol laju turunnya. Tidak terlihat apa-apa, tapi saya dapat merasakan begitu besarnya lorong vertikal ini bahkan semakin membesar ke arah dasarnya. Hanya suara gemuruh sungai bawah tanah yang deras dan gesekan antara tali dengan descendeur yang terdengar di telinga. Ini adalah gua terdalam yang pernah saya telusuri. Bayangkan, 80 meter ketinggiannya!! Kira-kira 15 menit kemudian saya tiba di dasar dari Luweng Grubug. Saya amat takjub dengan ruangan yang amat sangat besar. Kelak saya mengetahui bahwa istilah ruangan itu adalah chamber atau dapur raksasa.

"Rope free!!!!", teriakku. Kemudian dari atas meluncur seorang demi seorang. Kami semua telah berkumpul di bawah. Nyala api menyulut gas asetilen di ujung helm seorang dari kami. Gas ini terbentuk dari reaksi karbit dengan air di dalam tabung yang menghasilkan gas dan disalurkan melalui selang panjang ke ujung helm. Daerah di sekitar kami cukup terang selain dibantu oleh cahaya matahari yang sengaja masuk bersama kami ke dalam gelapnnya Grubug. Tepat di belakang kami terdapat interior gua yang sangat indah, flowstone, tersusun atas material calcite hasil pelarutan batu gamping yang tertumpuk menyerupai adonan berbentuk kuncup bunga terbalik.

Lalu kami berjalan menelusuri gua ini. Kami tiba di lorong lain yang horizontal. Lorong horizontal ini menghubungkan dasar Luweng Grubug dan Luweng Jomblang. Masih banyak lorong-lorong misterius sepengamatan saya. Tapi kami memiliki keterbatasan waktu di dalam sini. Tanpa pikir panjang, kami langsung melakukan pemetaan gua. Mengukur ketinggian, lebar, azimuth, dan kemiringan lereng dari satu station ke station yang lain. Kurang lebih 4 jam kami berada di lorong horizontal itu tanpa makan dan minum. Tibalah kami di satu lorong yang menampakkan cahaya. Seolah-olah merupakan harapan bagi kami di tengah liang tak bertuan.

Semua lorong di bawah sini hanya dihuni oleh beberapa makhluk gua mulai dari yang memiliki mata sampai yang tidak memiliki mata, dari yang transparan sampai yang tidak tembus cahaya, dari binatang yang melata sampai binatang yang berenang di teduhnya air, dan makhluk yang menempel di dinding gua itu. Cahaya itu merupakan isyarat bagi kami yang memanggil-manggil kami dari kejauhan. Di dalam kegelapan ini ada ketenangan sekaligus harapan. Harapan untuk tetap hidup bertahan sebagaimana makhluk-makhluk perut bumi di lorong maut ini bertahan. Sore itu kami tutup perjalanan kami dengan sebungkus nasi lima ribuan dan air mineral yang kami persiapkan sebelum turun ke sini. Lalu bergegas naik melewati lintasan yang sama untuk menjalani kehidupan kami yang nyata, penuh hiruk pikuk, jauh dari segala ketenangan dan keheningan yang penuh harapan di bawah sana.........


S.184 FRB

Sumber foto :


Januari 24, 2011

Plered, 40 kilometer dari kota Bandung yang lebih dikenal sebagai pusat pembuatan bata, genteng, dan berbagai kerajinan gerabah ternyata menyimpan sarana petualangan yang luar biasa. Terletak di Kabupaten Purwakarta tepatnya di Desa Cihuni 18 km dari pusat kecamatan Plered disanalah terdapat Gunung Parang, gunungnya para pemanjat tebing.

Biasanya orang ingin santai pada saat liburan tapi untuk kami para penggiat alam terbuka, waktu liburan adalah waktunya petualangan. Bersama anggota Sadagori pada tanggal 22 - 23 Januari 2010 kami pergi ke Kabupaten Purwakarta tepatnya Waduk Cirata dan Gunung Parang . Di Waduk Cirata kami hanya numpang makan siang dengan menu ikan nila bakar. Dengan harga 20.000 sekilo kita sudah mendapatkan 4-5 ekor ikan nila yang siap dibakar, sedapp! Lewati bagian makan siang. Perjalanan ke Gunung Parang sekitar 20 km dari Cirata dengan kondisi jalan yang luar biasa rusak. Sepanjang perjalanan terlihat rumah - rumah pembuatan bata merah dan genteng atau di sebut lio, dan selama di jalan pula kami sering berpapasan dengan truk - truk besar yang mengangkut batu dan pasir. Katanya para "karuhun" Plered, dahulu sudah meramalkan bahwa nantinya semua orang plered akan makan dari batu. Tampaknya ramalannya terbukti.

Setelah melewati kawasan pembuatan bata merah kami menelusup kedalam hutan dan akhirnya setelah 3 jam kami tiba di Desa Cihuni. Desa Cihuni tepat berada di bawah Gunung Parang yang tampak gagah, begitu menantang untuk dipanjat. Gunung Parang terdiri dari 3 puncak dengan ketinggian sekitar 600 meter atau 12 pits tali. Menurut warga sekitar awal perintisan jalur panjat di Gunung Parang sekitar tahu 70-an akhir. Tebing di gunung Parang sering dijadikan tempat latihan panjat oleh para Pencinta alam, Skygers, bahkan Kopassus. Untuk sampai ke puncak dibutuhkan waktu sekitar 5 - 7 hari. Untuk kali ini kami berencana tidak sampai puncak dikarenakan alat dan waktu yang terbatas.

Di Desa Cihuni kami menginap di rumah kang Ayub teman dari Pad. Sekitar pukul 7 pagi kami bergerak ke titik awal memanjat. Setelah "gurasak-gurusuk" di hutan kami sampai di titik awal. Terlihat tebing andesit hitam dengan kemiringan 75® diawal dan yang lebih atas tampak tebing vertikal. Sesampainya di titik awal panjat Pad sebagai leader mulai memasang tali dan ring. Kita memanjat melewati track yang sudah dibuat atau "clean climbbing". Selanjutnya kami bergantian mencoba memanjat. Pad sebagai fotografer dan pengarah gaya menggunakan ascender, sedangkan kami bergantian memanjat dan menjadi belayer. Seharusnya kalau bisa sedikit ke atas tebing Waduk Jatiluhur tampak, sayang ring yang dibawa kurang.

Tebing di Gunung Parang bisa dikatakan levelnya sulit tetapi dengan peralatan dan kemampuan yang cukup, mencapai puncak Gunung Parang sangatlah mungkin. Dan saya terpikir Sadagori untuk ekspedisi tebing, semoga dengan rencana pengagasan divisi akan ada ekdpedisi tebing dan muncul pemanjat - pemanjat muda dari Sadagori.

Howgh!
Theodorus BNP
24/1/2010

inset
1. Gunung Parang dari Desa Cihuni, Plered,Purwakarta
2. Intan in action.
by : Pad

September 26, 2010

setelah kurang lebih 2 bulan "ngonthel" putar - putar di kota gudeg , saya menemukkan beberapa rutinitas menarik dari para goweserr jogja, silahkan dibaca - baca......

# Trek Kaliurang - Pakem - Kaliwedas


Kalau di Bandung ada jalan Dago yang tiap sabtu dan minggu diramaikan oleh para goweser seantero Bandung,nah kalau di Jogja saya menemukan jalan Kaliurang. Jalan Kaliurang termasuk lumayan menantang dibandingkan jalan lain di Jogjakarta yang kebanyakan konturnya flat. Jalan Kaliurang membentang dari selatan UGM sampai ke utara km.25 yang merupakan wilayah kaki Gunung Merapi. Jalan ini akan mulai diserbu para goweser di setiap sabtu dan minggu pagi. Dan tujuan pertama mereka adalah Pakem.

Minggu tanggal 19 September saya diajak teman - teman Bike to campus Jogja untuk bersepeda ke Pakem. Biasa kalau ditantang yang seperti ini tanpa pikir panjang saya bilang sanggup, padahal tahu medan aja tidak. Ternyata Pakem itu wilayah di jl. Kaliurang km.15 tempat kumpulnya para pesepeda setiap sabtu dan minggu mungkin kalau di Bandung Warban. Kami kumpul di bunderan UGM lalu sekitar pk. 05.30 bersama-sama mengayuh menuju Pakem. Rombongan bertambah ramai ketika bertemu dengan kawan - kawan kami yang sudah menunggu di Jakal bawah. Di Perjalanan banyak sekali para pesepeda yang juga gowes ke atas benar rasanya seperti sabtu pagi di Dago. Jalan di Jogja memang menyenangkan untuk bersepeda jalannya bagus dan sepi kalau dibandingkan Bandung atau Jakarta. Medan jalannya sendiri tidak terlalu nanjak dari awal km.0 - km.10. Nah mulai atur dealeur dan otot betis itu di km.10 ke atas. Pemandangan yang luar biasa terlihat sepanjang perjalanan yaitu tampak gagah di depan Puncak Merapi yang mengeluarkan kepulan asapnya tampak menantang untuk didaki kembali. Rasanya ingin ku gowes sepeda ini sampai Puncak Merapi tapi apa daya betis ra kuat.



Sekitar kurang lebih sejam dengan panjang rute 15 km akhirnya tibalah kami di Pakem tepatnya di sebelah barat pasar. Disana sudah banyak pesepeda yang duluan sampai kelihatanya mereka naik dari subuh. Di sini ada warung yang jadi langganan para pesepeda, kami tinggal ambil teh hangat yang sudah disediakan di gelas - gelas dan berbagai gorengan dan jajanan pasar yang siap disantap. Kalau mau sarapan nasi atau bubur tinggal pesan saja ke mbaknya tapi sayangnya gag ada bandrek. Kalau dipikir - pikir inti dari setiap trip gowes itu selalu gowes, ngobrol,dan kuliner.

Di Pakem itulah ada beberapa sepeda yang meneruskan perjalanan ke atas. Ternyata mereka menuju Kaliadem, Kaliadem dikenal dengan track offroadnya baik crosscountry atau all-mountain. Saya sendiri belum pernah kesana jadi belum bisa cerita banyak. Kalau tidak salah track kaliwedas ada artikelnya di Ride Bike Indonesia edisi bulan kemarin. Dari kisah teman yang sudah sampai kaliwedas memisalkan dari kaliurang bawah ada 200 sepeda yang bertahan sampai kaliwedas hanya ada 10 sepeda. Sayang karena kesepakatan rombongan untuk finis di Pakem jadi belum bisa merasakan jalur Kaliwedas.



Setelah puas istirahat kami bergerak turun mengambil jalur de
sa - desa dan kebun penduduk tracknya light crosscountry dan pastinya tak lupa berfoto ria. Sekitar pukul 10.00 kami sudah tiba di kota dan berpisah. Ayo Sidaacuta Bike Community kalau ke Yogyakarta wajib ke Pakem - Kaliwedas.

#Jogja Last Friday Ride

Ya itu adalah sebuah gerakan bersepeda di Jogjakarta y
ang konsepnya mengumpulkan semua jenis komunitas sepeda yang ada di Jogjakarta untuk berkumpul, sharing, dan gowes bareng keliling kota. Gerakan ini sudah dilaksanakan 5 kali dan selalu mengambil waktu setiap sore di jumat terakhir tiap bulan. Tercetusnya ide Jogja Last Friday Ride adalah dari menyebarkan semangat bersepeda tok tanpa ada embel-embel "Dari komunitas mana?". Semua ada dari yang tua, muda, pria,wanita ,anak-anak.Di sini muncul juga berbagai jenis sepeda MTB,onthel,sepeda tinggi ( > 2meter,saya baru liat di jogja), roadbike, fixie, fold bike, bahkan sepeda ibu2 yang ada keranjang didepanya juga ikut kumpul tapi disini tidak ada yang peduli semua jenis itu yang kami kenal adalah sepeda.

Rangkaian acara ini diawali dengan kumpul di lapangan Kridosono sekitar pukul 4 sore, biasanya teman -teman komunitas sepeda diundang dan digembar-gembor via internet, sms, dan lewat percakapan dari sesama goweser. Maka terkumpulah berpuluh - puluh sepeda dari penjuru Jogjakarta. Sembari menunggu teman goweser lainya, kami saling tegur sapa saling berkenalan dan mengobrol pasti pembicaraan tak jauh dari sepeda. Setelah 5 sore lebih salah satu jejenglotnya mulai bersuara untuk menentukkan jalur gowes, memberi wejangan, dan memberi semangat.

Saatnya bergowesss!! Di Perjalanan tak ada yang kebut - kebutan berbeda dari Fun bike yang saya ikuti "waktu itu". Semuanya satu misi menyebarkan virus bersepeda. Biasanya gowes kurang lebih 1 - 2 jam berputar mengelilingi jalan raya jogja dan paling asyik ketika masuk gang2 keraton. Beda dengan Fun-bike atau sejenisnya gerakan ini sukarela dan spontan terkadang ada juga yang ikut gabung dalam perjalanan.Dalam perjalanan saking banyaknya sepeda sehingga rasanya jalan milik sepeda.


Kerlap - kerlip lampu sepeda menghiasi jalanan, serombongan para pes
epeda memancing perhatian orang - orang di pinggir jalan untuk menoleh. Semuanya gembira dan santai, saking santainya dalam perjalanan kami sembari bercanda,mengobrol sampai tukeran no telepon. Akhir perjalanan selalu di titik 0 Jogjakarta yaitu di selatan jalan Malioboro. Disitulah semua sepeda tumplek - plek sehingga menarik mata para wisatawan yang ada di malioboro. Biasanya ada games- games dan doorprize sederhana untuk menghangatkan suasana. Sekitar pukul 7 malam rangkaian acara ditutup dengan foto bersama dan selanjutnya acara bebas. Kalau saya sendiri biasanya pilih di angkringan dan wisata kuliner bersama teman - teman Bike to Campus.

Dari Gerakan ini diharapkan selain menjadi wadah berbagi dan sharing para goweser juga muncul kesadaran bersepeda
dari masyarakat. Setelah saya 2 kali ikut kegiatan ini terasa begitu menyenangkan bisa bertemu banyak pengguna sepeda.

follow : @Friday_Ride

Poko'e YOU'LL NEVER BIKE ALONE!!
Theodorus Bayu Pratama (BNP)
26/9/10 Jogja

Februari 24, 2010


Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau. Secara geografis, Pulau Sempu terletak diantara 112° 40' 45? - 112° 42' 45? bujur timur dan 8° 27' 24? - 8° 24' 54? lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, Timur dan Barat.

Daya tarik pulau ini adalah pantainya yang masih jarang dijamah manusia dan danau yang ada di tengah pulau yang disebut segara anakan yang terbentuk
akibat arus pasang samudera hindia. Perjalanan akan dimulai setelah menyebrang dari Sendang biru (pelabuhan di malang), untuk mencapai pantai – pantai yg terdapat di pulau sempu tersebut dan danau segara anakan kita harus berjalan kurang lebih 3 jam menuju ke selatan.


Keanekaragaman fauna di Pulau Sempu masih banyak dijumpai beragam jenis burung langka seperti elang jawa (Spizaetus Bartelsi), julang emas (Aceros Undulatus), dara laut putih (Gygis Alba), rangkok badak (Buceros Rhinoceros), pelatuk ayam (Dryocopus Javavensis), kangkareng perut putih (Anthracoceros Albirostris), cekakak jawa (Halcyon Cyanoventris), dan masih banyak lainnya.

Adanya penemuan ini membawa sinyal positif bagi kawasan alam itu, untuk dijadikan tempat rujukan bagi yang ingin beredukasi tentang cagar alam. "Pulau Sempu adalah sebuah cagar alam yang sangat cocok bagi kehidupan satwa liar dan mempunyai konservasi tinggi," urai Asep Rahmat Purnama, Direktur Eksekutif ProFauna Indonesia.


Pesona cagar alam lainnya yang ada di Pulau Sempu adalah adanya beragam keunikan alam dan kekayaan hayati, yang bisa diperuntukan bagi penelitian dan ilmu pengetahuan. Sedangkan ekosistem di Pulau Sempu sangat lengkap, yaitu ekosistem hutan bakau, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, dan danau.


Berdasarkan data dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Cagar Alam Pulau Sempu ini memiliki kekayaan flora, fauna, serta memiliki keunikan tersendiri di dalamnya. Di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu itu setidaknya memiliki sekitar 223 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 144 marga dan 60 suku. Dari 60 suku telah diketahui lima suku yang memiliki jumlah individu, jenis dan marga yang relatif cukup banyak. Kelima suku itu adalah Moraceae, Euphorbiaeceae, Anacardiaceae, Annonaceae, dan Sterculiaceae.
Sedangkan untuk jenis fauna ada sekitar 51 jenis yang terdiri dari 36 jenis aves, 12 jenis mamalia dan tiga jenis reptil. Adapun yang paling sering dijumpai di antaranya babi hutan (Sus Scopa), kera hitam (Presbytis Cristata), belibis (Dendrosyqna Sp), lutung jawa (Trachypithecus Auratus), kukang (Nycticebus Coucang), macan tutul (Panthera Pardus), burung rangkong (Buceros Undulatus) dan berbagai jenis lainnya.

Pulau Sempu dapat ditempuh dari Malang melalui Pantai Sendang Biru, dan penyeberangan menggunakan perahu nelayan, serta mendapat perijinan di pos penjagaan sendang biru. Dan berikut rute yang dapat ditempuh dari Surabaya-Malang- Pulau Sempu :



1. Dari Arah Surabaya Jawatimur ke Malang : Rata-rata Surabaya-Malang= 2 jam Kendaraan bermotor maupun kendaraan umum.
2. Dari Malang : Rekomendasi menggunakan sepedamotor,supaya bisa menikmati perjalanan . Rute : Malang- turen-sendangbiru. dengan angkutan umum.


Perjalanan ke Pulau Sempu, dapat ditempuh dari kota Malang menaiki kendaraan umum. Sampai pelabuhan Sendangbiru, yang merupakan pintu gerbang masuk pulau sempu. Perlu diketahui, Sendangbiru merupakan suatu pelabuhan nelayan di Malang selatan, dan tentunya mayoritas matapencaharian penduduk sekitar adalah nelayan. Biaya masuk Sendangbiru rp 4000 per orang dan biaya ijin masuk pulau sempu rp 5000 per orang yang pembayarannya kita lakukan di pos penjagaan di dekat pelabuhan Sendangbiru. Penyebrangan menggunakan kapal nelayan yang bisa disewa 75 ribu per kapal ( muat 15 orang).


Mari - mari kita ke Pulau Sempu yang konon pantainya tak kalah dengan bali, puket thailand,...


Bagi yang berminat rencananya tanggal 30 Maret – 2 April akan ada perjalanan ke sana


Hub : Theo (BNP) : 08176010331


Sumber: Wikipedia


Kredit Foto :

http://lintanglelana.blogspot.com/2009/05/sempu-island.html

http://privatebrian.wordpress.com/2007/07/18/segara-anakan-so-called-laguna-2/

http://mat-celor.blog.friendster.com/2009/02/pulau-sempu-segara-anakan/



 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff