Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Agustus 07, 2012



Sebagian orang berasumsi, Amelia Earhart disandera Jepang di Kepulauan Marshall, Samudra Pasifik.

Hilangnya Amelia Earhart, pilot pertama asal Amerika yang dinyatakan hilang 2 Juli 1937 di pulau Nikumaroro, sebelah barat Samudera Pasifik masih menjadi misteri. Berbagai pencarian terus dilakukan di sekitar lokasi yang diduga sebagai tempat hilangnya pesawat naas Amelia bersama sang navigator, Fred Noonan.

Peristiwa ini akhirnya menimbulkan beberapa spekulasi dan teori. Teori pertama menyatakan, Earhart terdampar di Nikumaroro. Direktur Ekskutif International Group for Historic Aircraft Recovery (TIGHAR) Richard Gillespie memperkirakan bahwa pesawat yang dikendarai Earhart kehabisan bahan bakar saat menuju Howland.

Ia ingin melakukan pendaratan darurat di pulau Phoenix, namun keliru jalannya. Penyelidikan TIGHAR memperkuat teori ini, bahwa mereka telah menemukan catatan asli dari kecelakaan pesawat pada awal 1939 di Nikumaroro. Isi laporan terdiri atas pria dan wanita yang cocok dengan deskripsi dari Earhart dan Noonan.

Teori kedua, kecelakaan terjadi di laut yang lokasinya dekat dengan tempat tujuan yaitu Howland. Sepuluh tahun lalu Nauticos, perusahaan yang bergerak dalam bidang penelitian dan pencarian pada laut dalam, melakukan upaya menemukan pesawat Earhart yang dipercayai jatuh di Samudra Pasifik.

Presiden Nauticos David Jourdan pada tahun 2003 mengungkapkan, karena transmisi radio yang rusak dan pasokan bahan bakar menyebabkan pesawat ini naas di lokasi dekat tujuan mereka.

Teori ketiga, ditengarai adanya konspirasi. Earhart dan Noonan disandera Jepang di kepulauan Marshall, Samudra Pasifik, karena dianggap sebagai mata-mata AS. Sebagian orang mempercayai bahwa mereka berdua telah tewas. Namun, sebagian lainnya berasumsi mereka kembali ke AS dan mengubah identitas.

Kabar lain menyebut Earhart mengganti namanya menjadi Irene Craigmile. Kemudian menikah dengan Guy Bolam dan mengambil nama belakang suaminya. Ia akhirnya meninggal di New Jersey pada tahun 1982.

"Jika dia (Earhart) tidak bisa menemukan Howland, rencana cadangannya adalah memotong komunikasi dan menuju Kepulauan Marshall dan menjatuhkan pesawat di sana," ungkap C Rollin Reineck, pensiunan kolonel Angkatan Udara AS yang tinggal di Kailua, Hawaii, pada tahun 2003 lalu.

Dalam bukunya yang berjudul "Amelia Earhart Survived", Reineck memaparkan Earhart menghilangkan pesawatnya di Kepulauan Marshall atas alasan keamanan nasional. Skema ini memungkinkan pemerintah AS untuk menyelamatkan Earhart dan pada saat yang sama melakukan pengintaian sebelum perang di Jepang.

Analisis yang dilakukan Reineck telah menetapkan bahwa foto dari Irene Bolam, tulisan tangan, dan bukti forensik lain menunjukkan adanya keterkaitan dengan Amelia Earhart.

Ekpedisi pencarian atas jasad wanita yang lahir yang lahir pada 24 Juli 1897 itu kembali dilakukan baru-baru ini. Tepat dilakukan pada ulang tahun Amelia Earhart yang ke 115 di tahun 2012. Google bahkan menjadikannya sebagai doodle di tanggal tersebut.

Ekspedisi ini disebut "Niku VII," memakan biaya US$ 2,2 juta yang didanai oleh TIGHAR, dan direncankan berjalan selama sepuluh hari. Namun, kendala peralatan dan kondisi lingkungan bawah laut Nikumaroro, memaksa mereka memangkas waktu pencarian.

Tim ekpedisi kembali ke Hawaii, melakukan pencarian melalui sonar (sound navigation and ranging), dan menggunakan video di sekitar wilayah Nikumaroro. Dalam pernyataan online, pihak TIGHAR menyatakan kekecewaannya karena tidak mendapatkan penemuan yang pasti.

(Umi Rasmi. Sumber: National Geographic News)
Sumber : NGI

Juni 24, 2011


Sore ini saya mendapat email, dari salah satu dari sekian banyak email yang masuk, yang satu ini menarik minat saya, dan kemudian saya putuskan untuk kembali menulis di blog ini. Awalnya, blog ini diusahakan untuk tidak menuliskan cerita yang terlalu personal, tetapi hal ini tentunya menyalahi hakikat blog sesungguhnya.

Saya mendapatkan email tersebut dari milis perhimpunan, sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa, sebagian cerita dan data yang disampaikan di email tersebut sudah pernah saya baca atau saya dengar, tetapi ada sedikit yang berbeda. Apa yang berbeda? Seseorang yang mengirimkan email tersebut, membuat apa yang saya ketahui akhirnya mempunyai sudut pandang baru.

Mari saya ceritakan isi tentang email tersebut. Email tersebut menceritakan sejarah panjang seseorang yang melakukan sesuatu yang sangat dicintainya. Bersepeda. Bagi para petualang pasti mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama Bambang “Paimo” Hertadi Mas. Pria Kelahiran Malang 53 tahun yang lalu dikenal sebagai Pesepeda jarak Jauh Indonesia (Long Distance Cyclist), sudah lebih dari ratusan ribu kilometer diarungi dengan kayuhan sepeda mulai dari deaah Asia, Amerika Selatan Australia dan Eropa.

Perjalanan pertama pria yang baru merayakan ulang tahun ke 53 pada tanggal 17 Maret lalu ini adalah bersepeda sejauh 1.656 km melintasi pulau Jawa hingga ke Sumbawa Besar. Perjalanan ‘Cintaku Negeriku’ yang dimulai dari kota Bandung ini, dilakukannya pada tahun 1980 dan Paimo tidak hanya bersepeda tetapi juga melakukan pendakian ke 2 gunung tertinggi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yaitu Gunung Rinjani (3.726 m) dan Gunung Tambora (2.851 m) di Pulau Sumbawa.

Trip ‘Cintaku Negeriku’ tersebut adalah langkah awalnya menjelajahi dunia dengan sepeda. Paimo sudah bersepeda sejak SMP, awalnya dia bersepeda antar kota, lalu antar kota antar propinsi dan akhirnya antar pulau. Hingga saat ini dia sudah menjelajahi seluruh kota di Indonesia dan kota-kota di lima benua.


Kebiasaan bersepeda dan mendaki gunung kembali dia lanjutkan pada tahun 1981. Pada tahun ini dia melakukan Trans Sumatera Cycling Trip sejauh 2.037 km, melintas Pulau Sumatera dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Kerinci ( 3.805 m). Seakan tidak puas dengan Pulau Sumatera, tahun berikutnya 1982 Paimo kembali menjajal Pulau Sulawesi dengan Trans Celebes Cycling Trip 1.942 km, melintas Pulau Sulawesi dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Klabat (2.022 m) di Sulawesi Utara.

Setelah vakum selama 4 tahun, pria lulusan FSRD ITB tahun 1986 ini kembali melakukan perjalanan bersepeda jarak jauhnya. Kali ini dia memilih Pulau Kalimantan dengan Trans Borneo Cycling Trip sejauh 2.928 km, Paimo melintasi Pulau Borneo dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Kinabalu (4.101 m), di Sabah Malaysia Timur. Ini merupakan perjalanan pertamanya keluar Indonesia.

Pada tahun berikutnya 1987, merupakan tahun ‘tersibuk, Paimo. Pada tahun ini Paimo melakukan pendakian bersepeda di 3 Gunung di 3 Negara berbeda, dengan masing-masing ketinggian lebih dari 5000 m dpl. Ketiga Gunung tersebut adalah Gunung Kilimanjaro (5.896 m) di Tanzania, Afrika Timur, lalu Mount Kenya (5.199 m) di Kenya dan kemudian Imja Tse (Island Peak) dengan ketinggian 6.189 m, di Himalaya Nepal.

Setelah bertualang di luar negeri, Paimo kembali aktif di kegiatan sepeda dalam negeri. Pada tahun 1988 dia melakukan Parade Bulan Bersepeda Indonesia (PBBI) yaitu bersepeda dari Jakarta menuju Denpasar sejauh 1.300 km. Kemudian di rentang tahu 1989 – 1992 dia bersepeda di Gunung Kelud, lalu bersepeda malang-Larantuka dan mendaki Gunung Ijen, Gunung Batur, Gunung Rinjani dan Gunung Kelimutu. Lalu dilanjutkan ke Gunung Papandayan (1991), dan mengelilingi Pulau Belitung (1992) dalam rangka mendata batuan dan tebing yang bisa di panjat.

Pada tahun 1993 petualangan dilanjutkan ke “The First International Tibetan Plateu Bicycle Rally”, bersepeda pada ketinggian 2.500-5.231 m dpl, di Roof of The World (Atap Dunia sebutan untuk Dataran Tinggi Tibet, China), sejauh ± 1.937 km dari Xining, Ibukota Propinsi Qinghai sampai Lhasa, Ibukota Daerah Otonomi Tibet, melintas sebagian dari Silk Road dan bagian tenggara Gobi Desert, Bersepeda dan bermalam ke atas The Great Wall-Badaling, China.

Lalu pada tahun 1995 bersepeda seorang diri “Trans Continental, Perth-Sydney on My Bike” melintasi Benua Australia dari Perth, Pantai Barat, hingga Sydney, Pantai Timur Menembus Nullarbor Plain, bagian selatan The Great Victoria Desert sejauh 4.371,9 km. Tahun 1997 Trans South East Asia by Bike, Bersepeda seorang diri dari Singapore ke Saigon (Ho Chi Minh City), melintasi negara Singapore-Malaysia-Thailand-Laos-Vietnam sejauh 5.419 km. Lalu pada tahun 1998 Descent Toraja, Mengumpulkan data (membuat jalur wisata sepeda) serta menggabungkan kegiatan mounting biking, trekking, rafting, dan rock climbing di kawasan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Dan pada tahun 2000 Paimo kembali ke Himalaya dan berkelana sepeda selama 1,5 bulan di Mera-Peak Khumbu, Nepal.



Dan perjalanan yang monumental dilakukannya pada tahun 2005, Paimo melintasi negara Amerika Latin, dari kota La Paz di Bolivia hingga ke kota Punta Arenas di Argentina, yang merupakan titik paling selatan di benua Amerika. Pada tahun 2009 juga dia kembali menjelajahi Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos.

Petualangan terbarunya adalah melintasi Eropa dengan sepeda. Dengan tajuk “Celebrity Of Life” Pria asal Indonesia itu berangkat dari Brussel di Belgia menuju Prancis, Spanyol, dan Portugal, serta diakhiri di kota Casablanca, Maroko.

“Bersepeda itu sehat. Saya senang dapat bersepeda sekaligus promosi Indonesia di manca negara,” ucap Paimo.

Sebelum memulai perjalanan, dirinya mempersiapkan diri secara serius, utamanya untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Logistik juga telah disiapkan dengan matang, termasuk bekal, yang berasal dari kantong sendiri ditambah peran serta beberapa sponsor. Ia juga ingin-mengembangkan persahabatan dengan komunitas bersepeda yang ada di Eropa, dan bahkan Afrika.

“Saya memiliki teman-teman cyclist yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Eropa. Kesempatan ini akan saya pergunakan untuk mengunjungi dan mempererat persahabatan dengan mereka,” imbuhnya.

Paimo bersepeda sekitar 60 hari menempuh jarak lebih dari 3.230 km dimulai dari 12 Juni 2010 sampai 15 Agustus 2010.

"Saya bersepeda untuk celebrate life. Untuk menikmati dan mengagumi kehidupan," tutup Bambang sebelum memulai perjalanannya.



Begitulah sedikit kisah Bambang ‘Paimo’ Hertadi Mas, yang bersepeda hingga ke ujung dunia. Mengapa ke ujung dunia? Sejak manusia mengetahui bahwa bumi itu bulat, kata-kata tersebut seakan kiasan yang berlebihan untuk sesuatu yang tidak mungkin. Tapi untuk Paimo, ujung dunia adalah sesuatu yang akan selalu menjadi tujuan perjalanan sepedanya, karena dia tidak akan berhenti untuk sesuatu yang menjadi obsesi dan dicintainya, untuk kenikmatan dan kekagumannya akan kehidupan. []

Tulisan ini untuk Theodorus 210 BNP, yang mengubah pandangan saya, You'll Never Bike Alone


Juni 11, 2011



Harry Rudolph Says:

September 17th, 2007 at 05:16

Dear People.
First I am so sorry that I cannot write in behasa Indonesia so I do it in English.
Already a few years ago I read this story in Angkasa magazine.

So I knew that some people from Mapala Ui went to the crash site in 1981, I try several times to reach the people from the Angkasa magazine but till now nothing

I like to have some information about the mapala expedition did the people take some souvenirs from the place if yes is it posible to find out what they take and are there pictures.

Then there was also people from TVRI did they make a film ??
Is it posible to get a copy ????
For me these matters are verry important.

For many years now I try to find out what hapened with my father.
Please any help is verry welcome

To whome it consern
With best regards
Harry Rudolph.


(Harian Kompas tanggal 18 April 1981 memberitakan: “Pendakian Salju Khatulistiwa. Tim Mapala UI menemukan es Jayawijaya menyusut 200 m. Sisa pesawat DC-3 Belanda ditemukan.” Mengenai sisa pesawat selanjutnya diberitakan: “Reruntuhan DC-3.Tim pendakian ekspedisi telah melacak rute selatan Pegunungan Carstensz dan berhasil menemukan reruntuhan pesawat terbang DC-3 (maksudnya C-47-red) Dakota milik Belanda. Tim ini juga berhasil mendaki lagi puncak tertinggi Carstensz Pyramide (4.884 m), dengan menyertakan dua pendaki wanita, Karina Arifin dan Ita Budi).

Hampir 30 tahun sesudah ayahnya meninggal, barulah Harry Rudolph dapat berpamitan dengan sebenarnya. Hanya tidak mudah, dia harus mendaki Pegunungan Carstensz setinggi 4.000 meter di Papua demi ayah yang dicintainya.

Sepuluh hari lamanya, terguyur hujan dan terbenam dalam lumpur hingga lutut, aku bersusah-payah menembus hutan belantara tropis di Niugini. Tujuan akhirku masih tampak jauh dan sulit dicapai. Persediaan makananku sudah berkurang secara memprihatinkan. Akan tetapi, setiap kali aku pertimbangkan untuk membatalkan ekspedisi ini, setiap kali pula aku teringat wajah ayahku, Frans Rudolph, yang seolah-olah memberikan kekuatan baru.

Sekonyong-konyong, 15 orang laki-laki yang telanjang menghalangi jalanku. Mereka adalah orang-orang Papua, yang memakai bulu-bulu burung beraneka warna di rambutnya yang keriting dan bersenjatakan panah serta busur di samping parang yang tampak menakutkan. Aku merasa khawatir dan menyadari, boleh jadi, ini berarti akhir dari petualangan. Aku nekat.

Bagi orang-orang Papua yang gagah berani, mungkin memergoki seorang pengembara di dalam hutan, mengagetkan mereka juga. Perjuangan berhari-hari telah menyebabkan penderitaan yang tidak ringan. Badanku penuh dengan luka-luka berdarah yang ditimbulkan oleh batu karang yang tajam dan dahan pohon. Kaki dan mata sudah bengkak karena gigitan nyamuk dan lintah yang haus darah, serta sengatan yang menyakitkan dari tawon dan kalajengking.

Karena kehabisan tenaga, aku duduk di atas sebuah batu gilang sambil meletakkan kedua telapak tangan di kudukku sebagai tanda bahwa aku tidak bermaksud jahat. Begitulah keadaanku sambil melihat ketakutan. Aku teringat ayah yang memberi dorongan untuk melakukan perjalanan seorang diri, juga memberi kekuatan untuk bertahan menghadapi segala macam ujian.

Pada tanggal 28 Juni 1962, Negeri Belanda masih terlibat konflik bersenjata melawan Indonesia sehubungan dengan klaim terhadap Irian Barat. Pada pagi hari itu, ayahku, seorang flight engineer AU Belanda dan empat orang kru lainnya serta tiga orang penumpang sebuah pesawat C-47 Dakota dengan nomor registrasi X-11, lepas landas dari Merauke. Untuk mencapai tujuannya, Biak, pesawat militer itu harus melewati Pegunungan Carstensz setinggi 5.000 meter. Alam yang benar-benar tidak bersahabat.


Delapan tahun kemudian, beberapa foto udara memperlihatkan, bagaimana di tengah perjalanannya, pesawat itu menabrak dinding gunung dan hancur-lebur. Bayangan bahwa jasad ayahku terlantar di suatu tempat di dataran tinggi gunung karang, bagi kami sekeluarga menimbulkan penderitaan batin yang nyaris tak tertahankan.

Aku baru berumur 12 tahun ketika melihat ayah terakhir kali. Sepanjang ingatanku, dia seorang militer yang tegar, percaya diri dan gagah berani, yang sangat memperhatikan dan menyayangi istri serta empat anaknya. Ia menyediakan waktu sebanyak mungkin dengan keluarganya. Ia suka membawa anak-anaknya jalan-jalan di hutan dan mengajak kami berpartisipasi dalam hobinya yang paling berat, yaitu mengotak-atik mobil. Ia memiliki mobil Peugeot tahun 1947. Kami sering berjam-jam mengotak-atiknya.

Selama hampir 30 tahun sejak dinyatakan hilang pada usia 39 tahun, kerinduan kami sekeluarga kepada ayah bertambah kuat, di samping perasaan kecewa atas perlakuan terhadapnya dan anggota kru lainnya.

Dalam tahun 1974, arsip tentang X-11 ditutup karena, menurut para pejabat, adalah mustahil untuk mencapai reruntuhan pesawat dan mengevakuasi jenazah-jenazahnya. Pada waktu itu, mulai timbul niatku untuk mencari sendiri. Setelah begitu lama, begitulah pikiranku, ayahku harus mendapat tempat peristirahatan terakhir yang pantas. Untuk membiayai perjalanannya, aku dan anggota keluarga lainnya mengumpulkan sekitar 50.000 gulden dari kocek sendiri.

“Romo Pastur Jos,” aku bertanya di kantornya di kota Leiden, “Orang Papua itu sebetulnya bagaimana?” Muka misionaris mengguratkan senyuman. “Mereka adalah orang-orang yang ramah-tamah, suka membantu dan suka menerima tamu,” begitulah jawabnya.

Romo Pastur Jos Donkers lama hidup di antara orang-orang Papua di hutan belantara Irian Jaya, yang hingga tahun 1962 bernama Niugini Belanda, yang gelap. Akan tetapi, seluruh daerah sulit dilalui. Hujan yang terus-menerus mengguyur tanah rawa, ular, lintah, dan serangga lainnya adalah ancaman yang harus diwaspadai. Anda tidak bisa menemukan apapun yang dapat dimakan. Adalah niat yang gila untuk pergi ke sana sendirian.

Aku mengunjungi Tropen Museum di Amsterdam untuk mempelajari peta-peta Niugini. Bahkan di atas kertas, perjalanannya tampak mengesankan. Sebagai persiapan, aku latihan intensif selama dua minggu di Pulau Jawa. Aku mendaki gunung berapi sampai tidak kurang 25 kali, tidur di udara terbuka, dan melakukan percobaan untuk mengetahui berapa hari dapat bertahan tanpa makan.

Setelah itu, aku menentukan susunan bagasi di atas hamparan plastik, sebuah kantong untuk tidur, beberapa potong pakaian, sebilah parang, sebuah kompas, beberapa helai peta, dua buah velples, sebuah payung dan sebuah video kamera. Persediaan makananku terdiri dari biskuit kering, buah berkulit keras, satu blek bubuk glukosa dan beberapa blik ransum darurat.

Begitulah. Pada 25 Oktober 1989, aku mulai ekspedisi ke Timika, suatu kota kecil di pantai selatan Irian Jaya. Dengan bantuan seorang misionaris yang berdiam di sana, aku dipertemukan dengan seorang Papua yang pernah menjadi anggota suku yang berdiam di pegunungan yang tinggi. Ia menggambarkan rute menuju ke desanya yang dulu secara garis besar. Perjalanannya akan memakan waktu lebih kurang empat hari, berdasar taksirannya. Optimismenya ternyata jauh berbeda dengan kenyataan. Perjalananku memakan waktu jauh lebih lama dan penuh kejadian-kejadian yang menakutkan.

Hujan deras mengguyur pohon-pohon lebat yang tingginya mencapai 50 meter. Untunglah masih terdapat celah terbuka melalui mana dapat kubedakan siang dan malam. Satu-satunya alat yang membantu dan menjadi tumpuan harapan di dalam medan yang sangat tidak bersahabat, yaitu kompasku, seolah-olah menentangku dengan selalu menunjukkan arah ke pohon-pohon tumbang atau rawa-rawa yang dalam.

Kerumunan tawon hitam yang ditakuti mengelilingiku. Dari waktu ke waktu, tawon-tawon itu membuka serangan secara massal. Pakaianku nyaris tidak mampu memberi perlindungan. Tawon-tawon itu dapat menembus hampir semua bagian dari tubuhku untuk sekadar memberi sengatan tajam yang dapat menimbulkan infeksi yang parah.

Di belakang kawanan tawon menyusul pasukan lintah, mahluk-mahluk seperti monster sepanjang hampir 3 cm, yang menggigit kulitku dengan keras dan bahkan dapat masuk lewat lubang-lubang tali sepatuku dan melihat kaki-kakiku berdarah. Ular-ular piton sepanjang hampir tujuh meter disana-sini tampak bermalas-malasan pada sore hari. Ular-ular yang tanpa upaya menyambar dan melilit babi hutan yang lewat, dapat saja sekonyong-konyong berbuat yang sama terhadap pengembara hutan tanpa pertahanan diri seperti aku.

Tinggi di atas kepalaku, burung-burung cendrawasih mengantarkan perjalananku yang berat dengan kicauan-kicauan yang ramai. Pada malam hari, suara mereka yang gaduh ditingkahi oleh menggerisiknya ular, laba-laba, dan kalajengking, yang mengelilingi diriku bak musuh yang tak kasat mata. Aku berusaha untuk tidur sambil mengacuhkan luka-luka dan kaki yang bengkak.

Hutan belantara merupakan musuh tanpa ampun. Perjalanan empat hari tamsiran orang di Timika, bergema dibenakku ketika kuinjak hari kesepuluh.

Pada hari yang sama, hampir saja sebuah Lockheed Neptune milik AL Belanda ditembak jatuh oleh dua Hawker Hunter AU Belanda/Foto: vlucht door detijd

Sebenarnya, dipergokinya diriku oleh 15 orang penduduk bersenjata yang di luar dugaan muncul di depanku, lebih merupakan penyelamatan daripada ancaman. Orang-orang itu ramah-tamah, suka membantu, dan suka menerima tamu. Gambaran yang diberikan Romo Pastur Jos tentang orang Papua kuingat kembali, ketika di depanku orang-orang itu terlibat diskusi yang ramai. Dengan sisa kekuatan yang masih kumiliki, kedua telapak tanganku tetap kuletakkan di kudukku sebagai tanda menyerah. Akhirnya, seorang yang lebih tua mendekat secara hati-hati untuk memeriksa barang bawaanku.

Penasihatku seorang Papua di Timika, telah menitipkan sepucuk surat yang sederhana bagi orang yang dituakan di desa. “Orang baik”, begitulah kira-kira isi surat tersebut karena salah seorang penduduk bersenjata yang lebih tua tampak tersenyum dengan ramah. Yang lainnya mengubah arah acungan senjata dari diriku.

Salah seorang penduduk menguasai sedikit bahasa Melayu dan menjadi juru bahasa. Kuceritakan bahwa aku sedang mencari jenazah ayahku yang telah jatuh dengan pesawat di pegunungan Carstensz. Ia meneruskannya kepada pimpinannya, dan kembali kepadaku sambil berkata: “Pemimpin kami bilang bahwa kedatangan Anda disambut baik di desa ini dan bahwa Anda boleh menginap di sini.”

Orang-orang yang suka menerima tamu. Romo Pastur Jos benar. Jarang saya mendapat teman-teman begitu cepat seperti di desa ini. Orang-orang Papua memberikan segala macam perhatian. Dari dalam gubuk-gubuk yang mirip cendawan raksasa dan tersebar di bukit-bukit, mereka memberi senyum penuh persahabatan, setelah pemimpinnya memberitahukan bahwa aku orang baik.

Aku mengalami kejutan ketika foto reruntuhan X-11 yang kuperlihatkan untuk menjelaskan tujuan ekspedisi yang tidak biasa ini, membangkitkan ingatan beberapa penduduk. Pemimpin desa menunjuk ke arah pegunungan yang tampak menjulang ke langit di kejauhan.

Dua hari lamanya aku menjadi tamu orang-orang Papua yang riang gembira. Kekuatanku sudah pulih kembali untuk meneruskan perjalanan. Beberapa penduduk yang ramah-tamah bahkan mengiringi diriku selama beberapa hari.

Perlahan-lahan hutan belantara diganti oleh batu-batu karang yang tajam. Pemandangan di sekelilingku didominasi oleh arakan awan tipis dan panjang yang lewat di atasku dan ditiup oleh angin kencang dingin seperti es. Aku tidak dapat mengandalkan kompas lagi karena adanya endapan lapisan-lapisan logam di pegunungan itu. Aku terpaksa berlindung di bawah batu-batu yang menjorok selama berjam-jam sambil menunggu terangnya kembali penglihatan.

Tujuan akhir dari perjalananku tercapai 16 hari setelah berangkat dari Timika. Tampaknya seperti pemandangan di bulan yang menyeramkan, dikelilingi oleh dinding-dinding gunung raksasa yang menjulang tinggi dan menyeramkan. Di salah satu sisi pada ketinggian 4.100 meter tergeletak ekor Dakota yang berwarna kelabu dan dihiasi tanda kebangsaan AU Kerajaan Belanda merah-putih- biru yang menyala, diapit oleh nomor registrasi X-11. Itulah adegan yang selama bertahun-tahun menghantuiku.

Aku berkemah selama dua hari di antara horor sisa-sisa sedih X-11 yang hancur lebur. Di areal yang luas, kutemukan puing-puing terdiri dari sobekan aluminium yang dulunya merupakan badan pesawat, motor-motor pesawat yang hancur dengan baling-baling yang bengkok, sebuah sepatu, sebuah boneka, dan beberapa buah kaos kaki. Sama sekali tidak ada jasad para kru dan penumpang yang semula ingin kuberikan penghormatan terakhir di dalam kesunyian di pegunungan yang dahsyat ini. Apa yang telah terjadi dengan jasad mereka?

Aku dengar dari para pekerja tambang tembaga, tidak jauh dari reruntuhan pesawat, sekelompok mahasiswa Indonesia tahun 1981 telah mendahuluiku. Mungkin mereka dapat menjawab pertanyaanku.

Melalui kawan-kawan Indonesia di Bandung, aku bertemu dengan tiga orang. Mereka menceritakan bahwa proyek pendakian gunung universitasnya menugaskan mereka untuk mendaki pegunungan Carstensz pada 1981, ketika secara kebetulan mereka menemukan reruntuhan pesawat. “Tabrakannya begitu hebat,” kata salah seorang mahasiswa sambil menggigil sehingga reruntuhannya benar-benar tersebar di mana-mana.

Mereka berkemah selama kurang lebih sebulan dan setiap hari melakukan pencarian di sekitarnya. “Kami menemukan sepucuk Uzi, kereta bayi, beberapa potong pakaian dan sebuah buku catatan,” kata si mahasiswa. Buku catatan yang mereka temukan disimpan di universitas, ternyata milik ayahku.

Para mahasiswa telah mengumpulkan jasad-jasadnya dengan seksama, dimasukan ke dalam sebuah peti dan dikebumikan dengan khidmat di bawah tumpukkan batu. Aku mendapat sebuah foto dari kuburan itu. Setelah hampir 30 tahun, akhirnya aku mengetahui nasib yang dialami mendiang ayahku.

Dalam bulan Januari 1991, 14 bulan sesudah perjalananku yang penuh bahaya, AU Kerajaan Belanda dibawah tekanan untuk melakukan sesuatu mengenai X-11. Pihaknya mengizinkan ekspedisi yang terdiri dari lima orang untuk mengevakuasi jasad-jasadnya.

Aku mendapat izin untuk ikut serta. Kami diangkut dengan helikopter ke lokasi. Setelah mendirikan perkemahan, kami melakukan pemeriksaan yang seksama. Di bawah tumpukan batu seperti yang diperlihatkan oleh foto para mahasiswa, kami memang menemukan peti berisi jasad-jasad para kru dan penumpang. Bagiku merupakan saat yang sangat mengharukan dan memuaskan. Tugasku telah terlaksana. Ayah akhirnya akan pulang.

Tanggal 19 Februari, jasad-jasad para korban diangkut ke negeri Belanda. Tanggal 22 Maret dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Kehormatan di Loenen. Tinggi di pegunungan Carstensz, kini tinggal sejumlah reruntuhan dan prasasti yang menyebutkan nama para korban. Prasasti dibuat oleh anggota-anggota ekspedisi, yang mengenang bencana 29 tahun sebelumnya.

Harian Kompas tanggal 18 April 1981 memberitakan: “Pendakian Salju Khatulistiwa. Tim Mapala UI menemukan es Jayawijaya menyusut 200 m. Sisa pesawat DC-3 Belanda ditemukan.” Mengenai sisa pesawat selanjutnya diberitakan: “Reruntuhan DC-3.Tim pendakian ekspedisi telah melacak rute selatan Pegunungan Carstensz dan berhasil menemukan reruntuhan pesawat terbang DC-3 (maksudnya C-47-red) Dakota milik Belanda. Tim ini juga berhasil mendaki lagi puncak tertinggi Carstensz Pyramide (4.884 m), dengan menyertakan dua pendaki wanita, Karina Arifin dan Ita Budi.

Kelly dari TVRI Jakarta dibantu Arianto, berhasil merekam peristiwa penelitian, pendakian, dan penemuan reruntuhan pesawat dengan kamera 16 mm. Diharapkan hasil rekaman nanti menambah keterangan tentang hasil yang telah diperoleh Mapala UI.

Dari survei rute selama dua hari, akhirnya tim melalui rute selatan berhasil mendapati rute sebenarnya ke arah reruntuhan pesawat. “Waktu survei dua hari, pendakian yang benar hanya empat jam. Badan pesawat mulai pintu tengah sampai ekor boleh dikata utuh, lainnya berantakan,” kata Arianto. Diterangkan juga, pesawat menabrak dinding padas, lalu pecah, dan sisa badan pesawat terjerembab di atas teras batu ditutupi lumut.

Berhasil ditemukan beberapa tulang pinggul, tangan, serta sisa tempurung kepala manusia. Selain jaket penyelamat, gear box, dynamo wiper, helio-gram, mirror, segulung film positif 8 mm, dan beberapa temuan lainnya.

“Pesawatnya berwarna hijau loreng, masih kelihatan gambar bendera Belanda. Memang Atase Militer Kedubes Belanda, Brigjen J. Linzell, juga mengatakan hal yang sama. Mereka pernah memotret reruntuhan itu, kami pun banyak mendapat informasi darinya,” ujar Arianto lagi.

Harian yang sama dalam edisi 27 April 1981 menurunkan tulisan yang menceritakan bahwa reruntuhan pesawat C-47 Dakota ditemukan pertama kali oleh Norman Edwin pada tanggal 3 April 1981, pukul 10:30 WIT. “Setengah badan pesawat itu masih utuh, rupanya menabrak dinding selatan Carstensz lalu ambruk di teras,” tutur Kelly Saputro, juru kamera TVRI Jakarta yang mengikuti ekspedisi Mapala UI. “Bagian depannya mungkin hancur dan terlontar ke tempat lain.”

Pesawat Dakota itu milik Belanda, mendapat kecelakaan setelah melanggar dinding gunung tinggi saat terbang dari Merauke ke Biak pada masa konfrontasi Indonesia-Belanda tahun 1963. “Memang penemuan ini yang pertama kali, sedangkan pesawat udara yang ditemukan beberapa tim pendaki sebelumnya milik Amerika,” kata Kelly sambil menerangkan lagi, “Tahun 1944 ada pesawat Dakota kargo milik AU AS jatuh di komplek pegunungan Jayawijaya. Tak lama kemudian, Komisi Korban Perang AS sempat mendatangi dan membawa beberapa sisa tubuh korban untuk dimakamkan di negaranya.


Sumber :
(R.J. Salatun, ANGKASA N0.10 Juli 2002/Th. XII)
http://www.mapalaui.info/2006/07/18/mendaki-carstensz-demi-ayah/

milis sadagori (Setyabudhi)

Kredit Foto:
www.korean-war.com/images/KWAirc...C-47.jpg
matanews.com/wp-content/uploads/...TENZ.JPG
http://misteriintim.blogspot.com/2008/08/gunung-cartenz-jayawijaya.html


Desember 28, 2010

Dr livingstone, I presume. The infamous meeting of Henry Morton Stanley and David Livingstone at Ujiji
Credit: Wellcome Library, London

Oleh Bayu Bharuna

Pada tanggal 10 November 1871 , Henry Morton Stanley bersama tim ekspedisinya yang gigih berhasil menerobos sejauh 1000 km di belantara hutan Afrika Tengah untuk sampai di sebuah gubuk di tepi Danau Bemba. Lalu dengan hormat ia menghampiri seorang pria kulit putih yang kurus kering dan sakit-sakitan, namun sorot matanya menampakkan kegagahan sejati.
Dengan penuh hormat Stanley membuka topinya dan seraya berkata kepada pria itu,

“ Dr. Livingstone, I presume..?

Itulah kalimat sederhana yang menjadi amat termasyhur melukiskan pertemuan dua penjelajah dunia yang paling ulung.

Afrika seolah ada dalam darah David Livingstone. Sejak tahun 1852 ia menjelajahi benua Afrika terutama sungai Zambesi sehingga kelak menjadi penjelajah Afrika yang paling terkenal. Ia menerobos hutan-hutan yang amat lebat sehingga dilukiskan bahwa sinar matahari pun tak dapat menembusnya dan menyusuri jeram-jeram sungai yang ganas. Penjelajahannya terhenti di pedalaman Afrika tengah, dengan kondisi sakit keras hingga kemudian Henry Morton Stanley menemukannya.

Namun dr. Livingstone menolak meninggalkan Afrika dan satu setengah tahun kemudian ia meninggal disebuah dusun yang sunyi di pedalaman Afrika yang dicintainya,walau kemudian jenazahnya digotong sejauh 1.500 km menuju Zanzibar lalu kemudian disemayamkan di Westminster Abbey.

Dalam tragedi yang menimpa tim pendaki Mountain Madness dan tim Adventure Consultan kala memuncaki Everest tahun 1996, pendaki Rusia Anatoli Boukreev –terlepas dia merupakan salah satu pemandu tim Mountain Madness yang dibayar $ 25,000,-- dengan heroik mendaki sendirian dari base camp menerjang badai yang berkecamuk untuk menyelamatkan sekelompok pendaki yang terkena musibah di Jalur Selatan Everest. Ia akhirnya menemukan lima pendaki yang terjebak badai dan menyadari hanya dapat menyelamatkan seorang saja dalam satu kali jalan. Solusinya ia pun secara menakjubkan mendaki bolak balik untuk menyelamatkan pendaki lainnya.

Kala tim ekspedisinya terjebak di Antartika, Ernest Shackleton dengan gagah berani menerobos badai es dan jarak ratusan kilometer untuk meminta bantuan, dan dengan menakjubkan ia sendiri kembali ke Antartika untuk menolong tim ekspedisinya, dengan penolong yang mereka perlukan. Sehingga termasyhur sanjungan untuk nya:

"Scott for scientific method, Amundsen for speed and efficiency but when disaster strikes and all hope is gone, get down on your knees and pray for Shackleton."

Apakah yang mendorong segelintir manusia mempertaruhkan hidupnya sendiri demi menolong orang lain walau kemungkinan tampaknya amat tipis. Stanley bahkan tak mengenal dr. Livingstone secara pribadi, Boukreev takkan disalahkan atas kematian para pendaki akibat badai di zona kematian Everest namun ia menolak berdiam dan kemudian membuat semua yang tampak mustahil menjadi nyata, Shackleton mempertaruhkan hidupnya untuk mencari pertolongan bagi tim ekspedisinya yang hampir binasa dan berhasil menyelamatkan mereka semua.

Barangkali ungkapan David Roberts dalam Moment of Doubts sedikit menggambarkan, ”Para pendaki kawakan..bisa sangat tersentuh, bahkan sangat sentimental; tetapi perasaan ini hanya ditujukan pada rekan-rekan mereka yang layak menerimanya. Semacam sikap tidak kenal kompromi..itulah arti pendakian di tempat tinggi..”

Tak perlu heran ketika tersiar kabar bahwa ada insan petualang yang hilang atau kecelakaan di suatu gunung, sungai atau hutan dimanapun, akan selalu ada sukarelawan tak terhitung jumlahnya yang bersedia bergegas mengepak perlengkapan beratnya untuk segera membantu. Bahkan sebuah sms S.O.S konyol dari pendaki amatir yang panik kala mendaki punggungan gunung Salak bisa segera menimbulkan kehebohan dan menyibukkan ribuan orang untuk membantu pencarian.

Untuk berjaga-jaga saya pun bila akan mendaki suatu gunung selalu menyampaikan dengan rinci kepada rekan terdekat itenary perjalanan dari pergi hingga pulang kembali ke rumah. Sehingga bila terjadi hal diluar dugaan maka hal itu dapat diketahui segera dan sebuah tim penolong bisa mendapatkan informasi yang membantu evakuasi.

Namun kadang saya berpikir, dengan segala persiapan yang memadai dan sikap profesional kala melakukan petulangan maka hal tersebut sangat kecil kemungkinan bisa terjadi. Sebaliknya hal tersebut mungkin merupakan alam bawah sadar saya yang menyampaikan pesan bahwa saya akan melakukan apapun bila mereka dalam kondisi petualangan, lalu kemudian terjadi hal yang diluar dugaan.

Bagaimanapun akhir ceritanya setiap petualang sejati telah mengetahui resiko yang dihadapi saat melakukan penjelajahan. Seperti yang ditulis oleh Scott menjelang kematiannya kala habis logistik dan terjebak badai es di Antartika, ”Betapa ini semua ini lebih baik daripada duduk bermalas-malasan dengan santai di rumah.”

Kredit Foto : Livingstone Online



Maret 20, 2010

Disunting oleh : Theodorus Bayu Pratama (BNP)


Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.

Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra. Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu? Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang. Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.

Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik. Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.

Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya. Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Soe Hok Gie dan Semeru
Lalu apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru? Dan apa yang berkaitan antara keduanya? Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya? Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut Pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676 mdpl.

Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya : “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

Sebelum dia mendaki gunung semeru ia mengirim sebuah paket yang berisi pemulas bibir, cermin, jarum dan benang, disertai surat terlampir diatas yang berisi kumpulan tanda tangan dikirim oleh Soe Hok-gie dan kawan-kawannya untuk para mahasiswa yang pada saat itu duduk di kursi DPR-GR sebagai perwakilan mahasiswa.Rupanya itulah akitvitas terakhir Hok-gie dalam mengkiritsi keadaan politik yang berkembang di Indonesia.

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :

Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas. Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali. Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.

Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil. “Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.


Catatan Gie
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Makam soe Hok Gie 24 Desember 1969
Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaikulah kiranya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Itulah biografi singkat dari seorang pemuda Indonesia yang berjuang melawan tirani dan kemunafikkan. Pemuda semacam Gie lah yang dibutuhkan Indonesia sekarang.

sumber : Resensi Buku Catatan Seorang Demonstran
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/02/biografi-soe-hok-gie-1942-1969.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie

foto : demson.files.wordpress.com/2009/11/gie3.jpg
www.geomechanics.com/pictures/cases/cases/Semeru- east%20Java,%202004,800x600.JPG
http://profile.ak.fbcdn.net/object3/1820/91/n89993200092_3604.jpg
http://www.amartapura.com/uploadimg/f_c/catatanseorangdemonstran_506.jpg

Maret 08, 2010

Mimpi mereka hanya satu, melihat bunga Rafflesia arnoldii tumbuh aman dan terjaga. Empat laki-laki bersaudara kandung itu tidak ingin anak cucu mereka atau dunia luar kelak hanya mengenal bunga eksotis itu dari foto atau gambar saja. Mereka ingin masyarakat tetap dapat datang ke habitat bunga raksasa itu di hutan-hutan Provinsi Bengkulu dan menikmati keelokannya.

Niat tulus itulah yang mendorong empat bersaudara kandung: Holidin (42), Zul Zum Dihamzah (40), Burmansyah (37), dan Jumadi (28) membentuk kelompok pelestari bunga langka Rafflesia arnoldii pada 2006. Kelompok itu mereka namakan Tim Peduli Puspa Langka (TPPL) Rafflesia arnoldii.

Sebelum membentuk TPPL, empat bersaudara dari tujuh bersaudara asal Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, itu sudah mengenal cukup lama bunga raflesia. Mereka pertama kali berjumpa dan melihat keindahan Rafflesia arnoldii pada 1985.

”Saat itu Jumadi masih empat tahun dan saya duduk di sekolah dasar,” ujar Burmansyah.

Burmansyah mengungkapkan, betapa mereka waktu itu sangat tertarik akan keberadaan bunga raksasa tersebut. Alhasil, mereka menjadi sering keluar masuk hutan, sekadar untuk mengetahui bentuk yang sesungguhnya dari tunas menjadi besar siap mekar. Kebetulan, desa tempat mereka tinggal terletak berdampingan dengan hutan lindung Rindu Hati dan Bukit Daun yang merupakan salah satu habitat raflesia.

Pada tahun 1993, saat mereka menginjak usia remaja, sama seperti masyarakat Kepahiang lainnya yang mengetahui ada bunga raksasa itu sedang mekar, mereka akan memasang tanda plang bertuliskan ”Ada Rafflesia Mekar”.

Papan pengumuman dipasang di pinggir jalan. Pengendara yang lewat atau wisatawan alam yang tengah melintas jalan penghubung Kepahiang-Kota Bengkulu pasti akan tertarik dan berhenti.

”Sudah pasti mereka akan berhenti dan meminta kami menunjukkan bunga yang tengah mekar itu,” ujar Burmansyah.

Keinginan kuat melestarikan dan menjaga raflesia muncul tahun 1998. Pada tahun itu mereka menemukan bunga bangkai Amorphophallus titanum yang tersisa di antara lahan kritis di hutan lindung dekat rumah mereka.

Mereka menyelamatkan umbi Amorphophallus dan membawanya ke rumah di Desa Tebat Monok. Umbi seberat 65 kilogram mereka pecah-pecah dan tanam lagi sehingga menjadi tanaman baru.

Dari penyelamatan itu sampai sekarang, mereka sudah menanam empat dari 11 spesies Amorphophallus yang tumbuh endemik di Sumatera. Awal penyelamatan Amorphophallus itu akhirnya mendorong mereka untuk sekaligus menyelamatkan bunga Rafflesia arnoldii. Apalagi, bunga itu sudah ditetapkan sebagai bunga langka melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993.

Penjagaan bunga

Zul menuturkan, tahun 1998-2000 mereka kembali masuk dan keluar hutan lindung. Mereka mencari titik-titik tumbuh raflesia, membuat barak pangkalan penjagaan sekaligus mempelajari secara otodidak proses pembungaannya.

”Tahun itu, bahkan, sampai sekarang, ada saja orang jahil dan merusak raflesia,” ujar Zul.

Zul menceritakan, pada 1998, tepatnya saat malam takbiran, ia baru dua jam meninggalkan raflesia yang tengah mekar. Saat kembali ke pangkalan yang ia bangun dekat bunga yang mekar, ia mendapati bunga berdiameter 85 sentimeter itu sudah hilang.

Selain itu, mereka juga sering mendapati masyarakat yang jahil mencungkil bunga, mencacah-cacah kelopak bunga, bahkan memotong akar bunga hingga mati. ”Saya sangat kesal waktu itu,” ujar Zul.

Namun, seiring niat tulus mereka, kegiatan mencari titik tumbuh, menjaga tunas hingga mekar, serta mempelajari Rafflesia arnoldii tetap mereka lakukan. Sebagai pelestari mandiri dan tidak mendapatkan bantuan pendanaan dari mana pun, kegiatan menjaga raflesia mereka lakukan setelah menyelesaikan pekerjaan di kebun atau ladang mereka.

Empat saudara itu juga masih mau membagi kebahagiaan melihat dan mengamati raflesia meski hanya sesaat. Setiap kali ada bunga mekar, mereka pasti menginformasikan hal tersebut.

Ribuan wisatawan mancanegara dan domestik, yang datang berkunjung ke Tebat Monok, pasti meminta dipandu oleh empat saudara itu untuk melihat raflesia di dalam hutan. Sampai hari ini, ada 21 titik tumbuh raflesia yang mereka jaga.

”Kalau lokasi tempat 21 titik tumbuh itu dipastikan aman, medannya sulit dan jauh dari jalan,” ujar Zul.

Zul mengungkapkan, dengan melihat langsung Rafflesia arnoldii, selain menumbuhkan kepedulian, juga sekaligus meluruskan pemahaman masyarakat. Selama ini masyarakat memahami raflesia sebagai bunga bangkai dan itu salah. Bunga bangkai adalah Amorphophallus titanum.



Uji coba

Pada tahun 2003 empat bersaudara itu memindahkan area pelestarian Amorphophallus ke lahan kebun di tepi jalan lintas Kota Bengkulu-Kepahiang, Desa Tebat Monok, Kepahiang. Lahan itu di belakang rumah Zul itu itu diperoleh dari kedua orangtua mereka, Syamsudin (70) dan Sihawati (65), sebagai bentuk dukungan atas kegiatan anak-anaknya. Dengan adanya lahan itu, mereka juga bermimpi bisa menumbuhkan raflesia.

Jumadi menuturkan, tahun 2006, saat memutuskan membentuk kelompok pelestari bernama TPPL, mereka sudah mempelajari raflesia tumbuh di batang atau liana yang rebah di tanah dan berakar, bukan dari spora. Batang tersebut juga tumbuh dekat dengan sumber air atau di tanah yang mengandung air.

”Begitu lamanya waktu yang dibutuhkan satu bunga raflesia untuk mekar beberapa hari,” ujar Jumadi.

Ketika TPPL terbentuk dan yakin dengan pengamatan mereka selama ini, empat bersaudara itu berusaha menumbuhkan liana batang raflesia itu, di kebun di belakang rumah Zul. Mereka membuat setek dari batang itu dan menanamnya di kantong plastik (polybag). Beberapa setek kini sudah tumbuh.

Sayangnya, upaya pelestarian itu belum mendapat respons dari Pemkab Kepahiang atau Pemprov Bengkulu. Namun, tindakan pelestarian TPPL sudah mendapatkan respons dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. BKSDA menilai positif tindakan itu dan mendukung mereka. Sementara Pemkab Kepahiang masih sebatas mengusulkan TPPL sebagai penerima Kalpataru 2010.

Mereka tidak terlalu berharap pada bantuan. Empat kakak-beradik itu tetap berpegang teguh pada niat tulus, melestarikan Rafflesia arnoldii yang sekarang nyaris punah.

BIODATA
• Nama: Holidin • Lahir: Bengkulu Selatan, 14 Mei 1967
• Nama : Zul Zum Dihamzah • Lahir: Bengkulu Selatan, 13 Mei 1970
• Nama: Burmansyah • Lahir: Bengkulu Selatan, 7 Agustus 1973
• Nama: Jumadi • Lahir: Kepahiang, 24 April 1981
• Pendidikan: Semua lulus SMA Kepahiang
• Pekerjaan: Petani kopi dan pelestari bunga Rafflesia arnoldii

Sumber :
Kompas
Helena F Nababan dan Agus Mulyadi

Kredit Foto :
Kompas
Google

Februari 14, 2010


Pada tanggal 26 September 1996, seorang wanita kelahiran Yogyakarta, 6 Juli 1967, anak ke-6 dari delapan bersaudara dari pasangan Marcus Mariun dan Ana Suwarti yang bernama Clara Sumarwati, tercatat sebagai wanita pertama berwarga negara Indonesia dan sekaligus wanita pertama di ASEAN yang mencapai puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest. Nama Clara Sumarwati tercatat sebagai penakluk Everest yang ke-836. Nama dan tanggal pencapaiannya tercatat antara lain di buku-buku Everest karya Walt Unsworth (1999), Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (!999) dan website EverestHistory.com. Ketiga referensi di atas adalah referensi handal akan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendakian gunung di dunia.

Tahun 1990, setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Psikologi Univ. Atmajaya. Ia memilih bergabung dengan tim ekspedisi pendakian gunung ke puncak Annapurna IV (7.535 mdpl) di Nepal. Januari 1993, Clara bersama tiga pendaki puteri Indonesia lainnya menaklukkan puncak Anconcagua (6.959 mdpl) di pegunungan Andes, Amerika Selatan.
Pendakian Gunung Everest tahun 1996, bukan ekspedisi Everest yang pertama bagi Clara. Pada tahun 2004, ia bersama lima orang dari tim PPGAD (Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat) berangkat tetapi hanya mampu mencapai ketinggian 7.000 meter karena terhadang kondisi medan yang teramat sulit dan berbahaya di jalur sebelah selatan Pegunungan Himalaya (lazim disebut South Col). Kegagalan mencapai puncak saat itu justru membuat Clara Sumarwati semakin penasaran dan bercita-cita untuk mengibarkan bendera Merah-Putih di puncak Everest. Pada 17 Agustus 1995, tepat 50 tahun Indonesia merdeka. Sebanyak 12 perusahaan ia hubungi untuk mendapatkan sponsor. Biaya yang ia butuhkan tidak sedikit, mencapai Rp 500 juta, karena memang biaya yang harus dikeluarkan, oleh siapapun yang ingin menaklukkan Everest tidak murah. Memerlukan biaya yang cukup besar. Setelah memnunggu sekian lama tidak ada jawaban. Menurut Clara, bahkan ada pihak perusahaan yang meragukan kemampuannya sehingga enggan memberi sponsor.

Salah satu pihak yang ia hubungi untuk sponsor adalah Panitia Ulang Tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dibawahi Sekretariat Negara. Clara dipanggil menghadap pada bulan Agustus 1995 dan mendapat konfirmasi bahwa Pemerintah bersedia mensponsori ekspedisinya. Serta merta Clara menjadwal ulang ekspedisinya. Ternyata pengunduran jadwal, mempunyai makna tersendiri karena pada tahun 1995 terjadi badai dahsyat di Himalaya yang menewaskan 208 pendaki dari berbagai negara.
Berikut ini adalah suatu penuturan langsung Clara Sumarwati kepada majalah Gatra di tahun 1996 tentang pengalamannya mulai dari persiapan hingga mencapai puncak Everest.
“ Secara fisik sebenarnya kami sudah siap,” kata Clara. Kesiapan fisik memang dilatihnya sejak ide pendakian itu muncul di benaknya. Mulai pukul 07.00, ia berlatih lari mengelilingi Stadion Senayan, Jakarta, selama dua jam, di bawah pengawasan Gibang Basuki, anggota Komando Pasukan Khusus berpangkat sersan dua. Kemudian sore hari, ia melatih otot di Pusat Kebugaran Hotel Grand Hyatt, Jalan Thamrin, Jakarta. Sedangkan siang, ia berkeliling keluar-masuk kantor untuk mendapatkan sponsor.
Agar tubuhnya tahan menghadapi hawa dingin dan salju, Clara berendam di kolam renang Senayan, Jakarta. “Karena terlalu sering, sampai-sampai penjaga kolam renang menganjurkan agar kami membeli karcis langganan,” kata Gibang Basuki. Selain itu, sebulan sekali Clara melakukan latihan naik-turun gunung sambil membawa beban. Mulai dari Gunung Gede, Jawa Barat, sampai ke puncak Soekarno di Pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya.

Di samping berendam selama dua jam di sebuah kali kecil di Suryakencana, Jawa Barat (ini juga untuk melatih fisik agar tahan terhadap udara dingin), Clara melakukan latihan mendaki dengan kemiringan 90. Di Citatah, Jawa Barat, misalnya, dengan tali, ia naik-turun Gedung Pemadam Kebakaran yang tingginya sekitar 30 meter. Latihan yang biasa disebut rapling atau turun monyet itu juga dilakukan di celah-celah Tebing Singgalang, Padalarang. “Latihan ini yang paling menyeramkan,” kata Clara, yang juga berlatih memanjat tebing dengan jari-jemarinya.
Kenyang menjalani semua latihan berat tadi, barulah Clara bersama Gibang Basuki mengurus izin mendaki. Mengingat misi pendakian solo (tunggal), lewat jalur utara, maka surat izinnya dikeluarkan oleh Pemerintah Cina, di Beijing. Dan berkat bantuan seorang warga Australia, mereka berhasil mendapatkan izin dari China Mountain Association ( CMA ).
China Tibet Mountaineering Association ( CTMA ), yang berperan sebagai penerjemah sekaligus, “Untuk mempermudah prosedur di perbatasan Cina-Tibet,” kata Clara.

Kisah heroik Clara di atas berbanding terbalik dengan kondisi ia saat ini. Nasib Clara Sumarwati, sungguh mengenaskan. Wanita Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Puncak Everest itu mengalami gangguan jiwa. Clara kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang, Jawa Tengah.

Humas RSJ dr Seorojo, Saiful, menjelaskan Clara sudah berulangkali menjalani perawatan di RSJ tersebut. Terakhir Clara masuk pada 30 Juni 2009 lalu. Menurut kakaknya, Elizabeth Sumaryati, Clara mengalami stres dan kerap marah-marah. Ini adalah kali ketiganya wanita tersebut menjalani perawatan di RSJ. Dia pertama kali dirawat pada tahun 1997. Dan pada tahun 2000, Clara menjalani perawatan jalan. "Tetapi kini jiwanya terguncang lagi. Kemungkinan akibat kurang perhatian dan tidak mengkonsumsi obat secara rutin," ungkap Saiful.

Kisah pilu wanita berprestasi tersebut sepertinya tidak diketahui banyak pihak. Sebab sekian lama dia menjalani perawatan di RSJ, tak ada yang memperdulikan. Bahkan, pengakuan Clara tentang prestasi gemilangnya pun tak ada yang mempercayainya. Termasuk pihak RSJ Soerojo sendiri.

Sumber :
Gatra ed. 53/02 Tahun 1996
The Jakarta Post
www.detiknews.com/12-10-2009
Kredit foto :
firmanbudi.files.wordpress
berandakawasan.files.wordpress
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff