Agustus 03, 2012

Hiu ini termasuk spesies langka dan statusnya terancam punah. Di Australia, jumlah hiu ini sekitar 200-400 ekor



 NGI - Hiu tutul atau disebut hiu paus (whale shark) terdampar di pantai baru Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (1/8), kemarin. Hiu ini memiliki panjang sekitar 13 meter, lebar tiga meter, sirip empat meter, dengan berat tiga ton.


Menurut Program Manager Animal Friends Jogja Dessy Zahara Angelina, hiu tutul tersebut sudah sampai pantai sekitar pukul 18.00 WIB dalam keadaan hidup. Namun, karena perlakukan warga sekitar yang tidak benar yakni mengikat ekor dan menyeret ke daratan maka hiu ini akhirnya mati.


Berdasarkan pengamatan awal, hiu ini berasal dari Australia dan terseret ketika sedang mencari makanan. Tak hanya itu, hiu ini juga diperkirakan mengalami disorientasi karena perubahan iklim drastis. Dessy melanjutkan, hiu ini adalah jenis ikan yang memiliki tubuh terbesar dan hidup di perairan basah dan tropis. Hiu ini memakan plankton dan tidak berbahaya bagi manusia.


Di Australia, hiu ini dilindungi karena keberadaannya sudah terancam di punah yakni sekitar 200-400 ekor. Namun, di Indonesia, hiu ini belum masuk sebagai hewan laut yang harus dilindungi.


Hingga sekarang, kata Dessy, keadaan hiu ini masih terdampar di bibir pantai dan mendapat perlakukan tidak etis dari masyarakat. Karena merupakan penemuan baru dan pertama, maka warga yang menonton justru mencongkel mata hiu dan menginjak-injak tubuhnya. Bahkan, warga pun ingin memotong-motong tubuhnya dan bermaksud menjualnya.


“Kami sangat berharap hiu ini segera mendapatkan pengamanan. Tadi ada yang mengusulkan agar hiu tersebut dijadikan sumber edukasi di universitas. Namun, hingga saat ini belum ada pihak pemerintah atau kepolisian yang mengambil tindakan atas hiu ini,” ungkapnya.


Suparman salah satu anggota Tim SAR Pantai Baru Pandansimo menambahkan, saat ini hiu ini tengah dijaga pihak SAR agar tidak dijarah oleh warga sekitar.


“Potongan tubuh hiu ini terutama siripnya sangat mahal. Untuk itulah, perlu penjagaan ketat terhadap hiu ini,” ungkapnya.


Beberapa hari sebelumnya, paus jenis sperm whale juga tewas di perairan Indonesia. Paus ini terdampar di Pantai Tanjung Pakis, Pakis Jaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (27/7). Meski berhasil diselamatkan dari Pantai Tanjung Pakis, paus ini ditemukan tewas beberapa jam kemudian di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 


(Olivia Lewi Pramesti) 
Sumber : National Geographic Indonesia



QUEENSLAND, KOMPAS.com - Upaya penelitian dengan mengebor dasar laut Antartika membuahkan hasil yang tak terduga. Ilmuwan menemukan bahwa hutan hujan tropis terdapat di Antartika 52 juta tahun yang lalu.


Dalam studi tersebut, dengan jalan pengeboran di wilayah timur Antartika, ilmuwan menemukan fosil pollen milik tanaman tropis yang menutupi benua Antartika pada masa Eocene, sekitar 34 - 56 juta tahun yang lalu.


Kevin Welsh, peneliti asal Australia yang melakukan riset tahun 2010 mengungkapkan, analisis molekul yang sensitif temperatur yang dilakukan menunjukkan bahwa temperatur Antartika sangat hangat 52 juta tahun lalu, sekitar 20 derajat Celsius.


"Dulu ada hutan di daratan, tak akan mungkin ada es, saat itu akan sangat hangat," kata Welsh seperti dikutip AFP, Kamis (2/7/2012). 


"Ini cukup meyakinkan, sebab pastinya imajinasi kita tentang Antartika adalah lingkungan yang dingin dan penuh es," tambah Welsh.


Welsh menuturkan, level karbon dioksida (CO2) di atmosfer diperkirakan menjadi faktor pemicu adanya hutan hujan tropis di Antartika. Kadar CO2 saat itu diperkirakan mencapai 990 hingga beberapa ribu ppm (parts per million).


Sebagai perbandingan, CO2 saat ini diperkirakan sekitar 395 ppm. Prediksi paling ekstrim dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menjelaskan bahwa es akan sangat surut di Antartika pada akhir abad ini.


Welsh meng merupakan pakar palaeoklimatologi menjelaskan, penemuan kali ini sangat penting untuk memahami dampak perubahan iklim, terutama menjelaskan seberapa banyak air yang disimpan di Antartika dalam bentuk es di permukaannya.


"Ini menunjukkan bahwa jika kita melewati periode dimana konsentrasi CO2 di atmosfer makin tinggi, sangat mungkin akan ada perubahan dramatis di area yang sangat penting dimana es eksis ini," papar Welsh.


"Kalau kita kehilangan banyak es di Antartika maka kemudian kita akan melihat perubahan dramatis pada ketinggian permukaan laut di seluruh planet ini," tambahnya.


Kehilangan es dan permukaan air laut naik akan menyebabkan banyak daratan hilang. Selain itu, Bumi juga kehilangan salah satu mekanisme pendinginan suhu lewat es. 


Es di Antartika bagian timur diperkirakan memiliki ketebalan hingga 3-4 km. Es ini mulai terbentuk sejak 34 juta tahun lalu. 


Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis kemarin.


Sumber :AFP
Editor :Asep Candra
Sumber Gambar : Puyol

Agustus 02, 2012





Sukabumi  - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), sejak pukul 00.00 WIB Rabu (1/8), melarang aktivitas pendakian ke dua gunung yang berada di wilayah tiga kabupaten itu.


"Seluruh kegiatan yang menyangkut pendakian secara resmi kami tutup sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP nomor SK.234/11-TU/3/2012 tanggal 17 Juli 2012 tentang penutupan pendakian," kata Kepala BBTNGGP, Agus Wahyudi kepada ANTARA, Rabu.


Menurut Agus, sejak Rabu pagi, para pendaki sudah meninggalkan lokasi pendakian baik yang berada di puncak maupun yang di jalur pendakian. Selain itu, seluruh pendaki dikawal oleh petugas TNGGP saat turun gunung khawatir ada pendaki yang tertinggal atau tersasar.


Sekarang Gunung Gede dan Pangrango sudah tidak ada lagi aktivitas pendakian, tetapi hanya warga sekitar saja yang diperbolehkan mendaki gunung untuk mencari kayu bakar. "Penutupan ini kami lakukan selama satu bulan penuh di Agustus ini sejak 1 Agustus sampai 31 Agustus," tambahnya.


Dikatakannya, penutupan sementara aktifitas pendakian ini dalam rangka pemulihan ekosistem dan pencegahan kebakaran hutan. Selain itu untuk memberikan kesempatan kepada flora dan fauna disepanjang jalur pendakian untuk pemulihan kondisi dan adanya peringatan dari BMKG bahwa curah hujan pada Agustus sangat rendah sehingga memungkinkan timbulnya bencana kebakaran hutan.


"Kami pun memperketat di pintu masuk pendakian yakni Pintu Cibodas, Cianjur, Pintu Gunung Putri, Bogor dan Pintu Selabintana, Sukabumi, yang tujuannya untuk mengantisipasi adanya pendaki yang nekad menerobos masuk ke Gede dan Pangrango," kata Agus.


Namun, untuk kegiatan wisata lainnya seperti wisata air terjun Cibeureum di Cibodas, Curug Cibeureum di Selabintana, Situ Gunung di Sukabumi dan lain sebagainya, masih terbuka untuk umum."Kami pun mengimbau kepada warga atau wisatawan yang datang ke lokasi wisata lainnya untuk tetap menjaga kondisi kebersihan dan keamanan obyek wisata," demikian Agus. 

Editor: Suryanto
Sumber : Antara





Oktober 04, 2011




Gunung es di Austria menyusut secara dramatis musim panas ini, yang paling besar sejak udara sangat panas pada 2003, terutama karena sedikitnya jumlah salju pada musim dingin lalu, kata beberapa ilmuwan.

Gunung es Goldbergkees di Alpen, misalnya, rata-rata dua meter lebih tipis dibandingkan dengan kondisinya pada 2010. Gunung es itu kehilangan sebanyak tujuh persen massanya, kata lembaga meteorologi nasional ZAMG.

Gunung api biasanya menyusut selama musim panas dan bertambah lagi pada musim dingin, dan dalam beberapa tahun belakangan lebih banyak es telah mencair dibandingkan dengan yang telah menggantikannya. Namun tahun ini, hilangnya lapisan es sangat mencolok, kata ZAMG.

"Kendati musim panas 2011 tidak terlalu panas, kehilangan lapisan es itu sama banyaknya dengan yang terjadi selama musim panas 2003," ahli iklim Berhard Hynek.

Tingkat es jauh lebih sedikit daripada kondisi normal di Alpen timur, setelah udara sangat panas dan musim dingin yang kering. Di Hoher Sonnblick, yang memiliki ketinggian 3.000 meter, misalnya, tingkat tersebut hanya dua-pertiga dari kondisi rata-rata 80 tahun pada 1 Mei.

Gletser di gunung dan lapisan salju di kedua belahan Bumi telah merosot dalam beberapa dasawarsa belakangan akibat perubahan iklim Bumi, yang diduga oleh banyak ilmuwan disebabkan oleh peningkatan buangan gas rumah kaca.

Sumber : Antara

September 28, 2011

Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan 5 kota besar di Indonesia dalam hasil pemantauan polusi udara 1.082 kota di 91 negara. Hasilnya polusi udara di kota Medan tercatat yang paling tinggi melampaui Surabaya, Bandung, Jakarta dan Pekanbaru.



Survei tersebut dirilis WHO pada Senin 26 September 2011. Angka polusi tersebut disusun berdasarkan laporan tahunan kadar pasrtikel udara dalam udara yang disebut PM10.

PM10 merujuk pada sebuah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang yang bergerak di udara. Batas maksimal PM10 yang direkomendasikan WHO adalah kurang dari 20 mikrogram PM10 per meter kubik. Pada angka tersebut, polutan di udara dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang serius bagi manusia.

Menurut WHO, penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi. Industrialisasi serta penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik berkualitas rendah paling banyak menjadi sumber polutan yang berbahaya.

Data WHO menunjukkan Kanada dan Amerika Serikat memiliki kota-kota dengan tingkat polutan terendah. Hal itu mungkin disebabkan sebagian besar sampel diambil di kedua negara tersbut. Anehnya, negara besar seperti Rusia hanya diketahui kadar polusi pada ibu kotanya saja, Moskow, namun tidak dengan kota-kota lainnya seperti pada negara lain.

Seperti dilansir dari Guardian dan Huffingtonpost, Rabu (28/9/2011), beberapa orang menuding bahwa sampling tersebut menunjukkan data yang dimiliki WHO tidak sempurna dan seringkali berasal dari data tahun yang berbeda-beda. Meskipun demikian, ketersediaan data adalah langkah pertama untuk memperbaiki setiap kumpulan data yang tidak sempurna.

Rata-rata global PM10 di kota-kota dunia adalah 71 mikrogram/m3 kita. Iran, Mongolia dan Botswana menempati rangking teratas buruknya polusi udara.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut daftar WHO, Medan adalah kota dengan polutan tertinggi di Indonesia dengan kadar PM10 sebesar 111 mikrogram/m3. Medan menempati peringkat ke-59 kota dengan polutan udara tertinggi dari 1.082 kota yang disurvei.

Peringkat berikutnya adalah Surabaya pada peringkat ke-128 dengan kadar PM10 sebesar 69 mikrogram/m3. Disusul oleh Bandung pada peringkat ke-192 dengan kadar PM10 51 mikrogram/m3.

Jakarta menempati peringkat ke-238 dengan kadar PM10 sebesar 43 mikrogram/m3.

Kota terakhir di Indonesia yang disurvei WHO adalah Pekanbaru yang menempati peringkat ke-1001 dengan kadar PM10 sebesar 11 mikrogram/m3, atau sama dengan beberapa kota di Kanada dan Amerika Serikat seperti Edmonton, Honolulu, Quebec, dan lebih baik dibandingkan Sydney yang menempati peringkat ke-992 dengan kadar PM10 sebesar 12 mikrogram/m3.

WHO hanya menyebutkan penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi, seperti cepatnya industrialisasi dan penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik yang berkualitas rendah.

Pembakaran batubara dan kayu juga ikut menyumbang kotornya udara. Asap pembakaran itu berkumpul dengan emisi kendaraan yang menciptakan selimut kabut asap yang menutupi beberapa kota di dunia.

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Agustus 31, 2011

Pihak berwenang Nepal memerintahkan pengukuran ulang Gunung Everest untuk mengakhiri "kebingungan" mengenai ketinggian tepatnya gunung tertinggi dunia itu, demikian diumumkan seorang pejabat Nepal.


Catatan resmi ketinggian Gunung Everest selama ini adalah 8.848m.

Tetapi Cina dan Nepal sudah lama terlibat perbedaan pendapat mengenai ketinggian gunung itu.
Cina mengatakan ketinggian gunung itu harus diukur berdasarkan tingginya batu di puncak gunung. Nepal mengatakan ketinggian itu harus berdasarkan ketinggian salju yang menyelimuti puncaknya - sehingga ukuran bertambah empat meter. Gunung tertinggi di dunia itu melintasi perbatasan kedua negara. Tahun lalu kedua negara sepakat bahwa Gunung Everest harus diakui memiliki ketinggian 8.848m.

Tetapi juru bicara pemerintah Nepal Gopal Giri mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa selama pembicaraan perbatasan antara kedua negara, para pejabat Cina sering menggunakan ketinggian berdasarkan batu.

Perdebatan lama

"Kami telah memulai proses pengukuran kembali untuk menjernihkan kebingungan ini. Sekarang kami memiliki teknologi dan sumber daya, kami bisa mengukurnya sendiri," kata Giri.
"Ini adalah pertama kalinya pemerintah Nepal mengukur sendiri ketinggian gunung itu."
Dia mengatakan akan didirikan sejumlah pos di beberapa titik lokasi dengan menggunakan sistem posisi global (GPS), dan proses mengukur puncak akan memakan waktu dua tahun.
Para pengamat mengatakan walaupun ribuan orang pernah mendaki gunung itu sejak pendakian pertama tahun 1953 oleh Sherpa Tenzing Norgay dan Edmund Hillary, ketinggian gunung selalu diperdebatkan sejak pengukuran pertama tahun 1856.
Ketinggian gunung yang saat ini diterima luas adalah 8.848m yang dilakukan oleh tim dari India tahun 1955.

Tetapi para ahli geologi mengatakan perkiraan ketinggian gunung itu oleh kedua negara bisa saja salah.

Mereka mengatakan gunung itu semakin terdorong tinggi karena India sedikit demi sedikit tertekan turun lebih rendah dari Cina dan Nepal akibat pergeseran lempeng-lempeng benua.
Pada bulan Mei 1999 satu tim dari Amerika menggunakan teknologi GPS untuk mengukur ketinggian Gunung Everest, yaitu 8.850m - ukuran yang sekarang secara resmi digunakan oleh US National Geographic Society, walaupun ukuran itu belum diterima secara resmi oleh Nepal.

sumber ; BBC Indonesia

Agustus 24, 2011

Pendaki gunung Gerlinde Kaltenbrunner asal Austria menjadi perempuan pertama di dunia yang menaklukkan seluruh 14 puncak gunung di Himalaya yang rata-rata berketinggian 8.00 meter di atas permukaan laut tanpa bantuan oksigen.


"Puncak ditaklukkan, pada pukul 6.18 waktu setempat. Gerlinde mencapai puncak K2," kata suami Kaltenbrunner, Ralf Dujmovits melalui situs resmi sang istri. Kaltenbrunner, 40, yang sehari-hari adalah seorang perawat, adalah perempuan ketiga di dunia yang mencapai seluruh 14 puncak gunung di Himalaya. Bedanya, Kaltenbrunner melakukannya tanpa oksigen buatan sementara dua pendaki perempuan lainnya masih menggunakan bantuan tabung oksigen. "Dia tengah berada di bulan," kata Dujmovits mengutip perkataan istrinya. Sebelumnya,

Kaltenbrunner sudah enam kali mencoba menaklukkan K2 yang berketinggian 8.611 meter dari permukaan laut itu namun selalu gagal. Akhirnya, pada percobaan ketujuh, Kaltenbrunner yang ditemani pendaki Kazakhstan, Maxut Zumaye dan Vassiliy Pivtsov dan Darek Zaluski dari Polandia, sukses menyelesaikan misinya.

Tim Kaltenbrunner sudah mempersiapkan pendakian ini sejak dua bulan lalu untuk menaklukkan gunung tertinggi kedua di dunia setelah Mount Everest, namun dianggap gunung paling berbahaya. Mereka berencana menaklukkan gunung ini dari sisi Cina di sebelah utara untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Kaltenbrunner selalu mencoba mendaki gunung ini dari sisi Pakistan. Pada Selasa (23/8) pagi waktu setempat, tim ini membatalkan percobaan pertama mencapai puncak karena suhu yang terlalu dingin. Tim kemudian men coba lagi setelah udara cukup cerah tanpa awan yang sangat membantu pandangan mereka. Dujmovits, yang selalu memperbarui informasi soal pendakian di situs istrinya itu, terus memantau perkembangan tim melalui radio dan teropongnya.

Setelah berhasil menaklukkan puncak K2, Kaltenbrunner dan timnya kembali turun pada Selasa malam. Dalam situsnya, Kaltenbrunner mengatakan sangat bahagia bisa mencapai puncak di tengah kondisi pendakian yang sulit namun dibantu cuaca yang sempurna.

Pada 2009, nama Kaltenbrunner mulai dikenal setelah dia nyaris menjadi perempuan pertama dunia yang mencapai ketinggian 8.000 meter. Saat itu dia kalah dalam perlombaan yang melibatkan tiga pendaki gunung. Pendaki Korea Selatan, Oh Eun Sun terlebih dulu mencapai puncak yang kemudian disusul pendaki Spanyol, Edurne Pasaban. Keraguan atas kemampuan Kaltenbrunner muncul ketika Oh akhirnya benar-benar menaklukkan puncak Gunung Kanchenjunga.

Dan, keberhasilan Kaltenbrunner menaklukkan K2 mengakhiri petualangan Kaltenbrunner yang sudah dimulai sejak Mei 1998 lalu. Keberhasilan ini sangat membanggakan Austria, bahkan Presiden Heinz Fischer menyebut kesuksesan ini sebagai hasil sebuah upaya yang luar biasa.
Menurut catatan, orang pertama di dunia yang mampu menaklukkan seluruh 14 puncak gunung Himalaya adalah pendaki Italia, Reinhold Messner, tahun 1986.

10 ekspedisi terakhir Kaltenbrunner
2010 April/Mei – Everest, Tibet (via jalur timur laut)
2009 July/Agustus - K2, Pakistan(via Rute Cesen sampai 8,300m)
2009 Mei – Lhotse, Nepal(8.516 m)
2008 Mei – Dhaulagiri, Nepal(8.167 m)
2007 Juli/Agustus – K2, Pakistan(sampai 8.100m)
2007 Juli/Agustus – Broad Peak, Pakistan (8.047m)
2007 April/Mei – Dhaulagiri, Nepal(gagal pada 7.400m)
2006 Mei- Lhotse, Nepal(gagal pada 8.400m)
2006 April / Mei – Kangchenjunga, Nepal(8,595 m)
2005 Juni/Juli – Gasherbrum, Pakistan (8035 m)

sumber : BBC Indonesia

Juni 24, 2011


Sore ini saya mendapat email, dari salah satu dari sekian banyak email yang masuk, yang satu ini menarik minat saya, dan kemudian saya putuskan untuk kembali menulis di blog ini. Awalnya, blog ini diusahakan untuk tidak menuliskan cerita yang terlalu personal, tetapi hal ini tentunya menyalahi hakikat blog sesungguhnya.

Saya mendapatkan email tersebut dari milis perhimpunan, sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa, sebagian cerita dan data yang disampaikan di email tersebut sudah pernah saya baca atau saya dengar, tetapi ada sedikit yang berbeda. Apa yang berbeda? Seseorang yang mengirimkan email tersebut, membuat apa yang saya ketahui akhirnya mempunyai sudut pandang baru.

Mari saya ceritakan isi tentang email tersebut. Email tersebut menceritakan sejarah panjang seseorang yang melakukan sesuatu yang sangat dicintainya. Bersepeda. Bagi para petualang pasti mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama Bambang “Paimo” Hertadi Mas. Pria Kelahiran Malang 53 tahun yang lalu dikenal sebagai Pesepeda jarak Jauh Indonesia (Long Distance Cyclist), sudah lebih dari ratusan ribu kilometer diarungi dengan kayuhan sepeda mulai dari deaah Asia, Amerika Selatan Australia dan Eropa.

Perjalanan pertama pria yang baru merayakan ulang tahun ke 53 pada tanggal 17 Maret lalu ini adalah bersepeda sejauh 1.656 km melintasi pulau Jawa hingga ke Sumbawa Besar. Perjalanan ‘Cintaku Negeriku’ yang dimulai dari kota Bandung ini, dilakukannya pada tahun 1980 dan Paimo tidak hanya bersepeda tetapi juga melakukan pendakian ke 2 gunung tertinggi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yaitu Gunung Rinjani (3.726 m) dan Gunung Tambora (2.851 m) di Pulau Sumbawa.

Trip ‘Cintaku Negeriku’ tersebut adalah langkah awalnya menjelajahi dunia dengan sepeda. Paimo sudah bersepeda sejak SMP, awalnya dia bersepeda antar kota, lalu antar kota antar propinsi dan akhirnya antar pulau. Hingga saat ini dia sudah menjelajahi seluruh kota di Indonesia dan kota-kota di lima benua.


Kebiasaan bersepeda dan mendaki gunung kembali dia lanjutkan pada tahun 1981. Pada tahun ini dia melakukan Trans Sumatera Cycling Trip sejauh 2.037 km, melintas Pulau Sumatera dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Kerinci ( 3.805 m). Seakan tidak puas dengan Pulau Sumatera, tahun berikutnya 1982 Paimo kembali menjajal Pulau Sulawesi dengan Trans Celebes Cycling Trip 1.942 km, melintas Pulau Sulawesi dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Klabat (2.022 m) di Sulawesi Utara.

Setelah vakum selama 4 tahun, pria lulusan FSRD ITB tahun 1986 ini kembali melakukan perjalanan bersepeda jarak jauhnya. Kali ini dia memilih Pulau Kalimantan dengan Trans Borneo Cycling Trip sejauh 2.928 km, Paimo melintasi Pulau Borneo dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Kinabalu (4.101 m), di Sabah Malaysia Timur. Ini merupakan perjalanan pertamanya keluar Indonesia.

Pada tahun berikutnya 1987, merupakan tahun ‘tersibuk, Paimo. Pada tahun ini Paimo melakukan pendakian bersepeda di 3 Gunung di 3 Negara berbeda, dengan masing-masing ketinggian lebih dari 5000 m dpl. Ketiga Gunung tersebut adalah Gunung Kilimanjaro (5.896 m) di Tanzania, Afrika Timur, lalu Mount Kenya (5.199 m) di Kenya dan kemudian Imja Tse (Island Peak) dengan ketinggian 6.189 m, di Himalaya Nepal.

Setelah bertualang di luar negeri, Paimo kembali aktif di kegiatan sepeda dalam negeri. Pada tahun 1988 dia melakukan Parade Bulan Bersepeda Indonesia (PBBI) yaitu bersepeda dari Jakarta menuju Denpasar sejauh 1.300 km. Kemudian di rentang tahu 1989 – 1992 dia bersepeda di Gunung Kelud, lalu bersepeda malang-Larantuka dan mendaki Gunung Ijen, Gunung Batur, Gunung Rinjani dan Gunung Kelimutu. Lalu dilanjutkan ke Gunung Papandayan (1991), dan mengelilingi Pulau Belitung (1992) dalam rangka mendata batuan dan tebing yang bisa di panjat.

Pada tahun 1993 petualangan dilanjutkan ke “The First International Tibetan Plateu Bicycle Rally”, bersepeda pada ketinggian 2.500-5.231 m dpl, di Roof of The World (Atap Dunia sebutan untuk Dataran Tinggi Tibet, China), sejauh ± 1.937 km dari Xining, Ibukota Propinsi Qinghai sampai Lhasa, Ibukota Daerah Otonomi Tibet, melintas sebagian dari Silk Road dan bagian tenggara Gobi Desert, Bersepeda dan bermalam ke atas The Great Wall-Badaling, China.

Lalu pada tahun 1995 bersepeda seorang diri “Trans Continental, Perth-Sydney on My Bike” melintasi Benua Australia dari Perth, Pantai Barat, hingga Sydney, Pantai Timur Menembus Nullarbor Plain, bagian selatan The Great Victoria Desert sejauh 4.371,9 km. Tahun 1997 Trans South East Asia by Bike, Bersepeda seorang diri dari Singapore ke Saigon (Ho Chi Minh City), melintasi negara Singapore-Malaysia-Thailand-Laos-Vietnam sejauh 5.419 km. Lalu pada tahun 1998 Descent Toraja, Mengumpulkan data (membuat jalur wisata sepeda) serta menggabungkan kegiatan mounting biking, trekking, rafting, dan rock climbing di kawasan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Dan pada tahun 2000 Paimo kembali ke Himalaya dan berkelana sepeda selama 1,5 bulan di Mera-Peak Khumbu, Nepal.



Dan perjalanan yang monumental dilakukannya pada tahun 2005, Paimo melintasi negara Amerika Latin, dari kota La Paz di Bolivia hingga ke kota Punta Arenas di Argentina, yang merupakan titik paling selatan di benua Amerika. Pada tahun 2009 juga dia kembali menjelajahi Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos.

Petualangan terbarunya adalah melintasi Eropa dengan sepeda. Dengan tajuk “Celebrity Of Life” Pria asal Indonesia itu berangkat dari Brussel di Belgia menuju Prancis, Spanyol, dan Portugal, serta diakhiri di kota Casablanca, Maroko.

“Bersepeda itu sehat. Saya senang dapat bersepeda sekaligus promosi Indonesia di manca negara,” ucap Paimo.

Sebelum memulai perjalanan, dirinya mempersiapkan diri secara serius, utamanya untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Logistik juga telah disiapkan dengan matang, termasuk bekal, yang berasal dari kantong sendiri ditambah peran serta beberapa sponsor. Ia juga ingin-mengembangkan persahabatan dengan komunitas bersepeda yang ada di Eropa, dan bahkan Afrika.

“Saya memiliki teman-teman cyclist yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Eropa. Kesempatan ini akan saya pergunakan untuk mengunjungi dan mempererat persahabatan dengan mereka,” imbuhnya.

Paimo bersepeda sekitar 60 hari menempuh jarak lebih dari 3.230 km dimulai dari 12 Juni 2010 sampai 15 Agustus 2010.

"Saya bersepeda untuk celebrate life. Untuk menikmati dan mengagumi kehidupan," tutup Bambang sebelum memulai perjalanannya.



Begitulah sedikit kisah Bambang ‘Paimo’ Hertadi Mas, yang bersepeda hingga ke ujung dunia. Mengapa ke ujung dunia? Sejak manusia mengetahui bahwa bumi itu bulat, kata-kata tersebut seakan kiasan yang berlebihan untuk sesuatu yang tidak mungkin. Tapi untuk Paimo, ujung dunia adalah sesuatu yang akan selalu menjadi tujuan perjalanan sepedanya, karena dia tidak akan berhenti untuk sesuatu yang menjadi obsesi dan dicintainya, untuk kenikmatan dan kekagumannya akan kehidupan. []

Tulisan ini untuk Theodorus 210 BNP, yang mengubah pandangan saya, You'll Never Bike Alone


Juni 11, 2011



Harry Rudolph Says:

September 17th, 2007 at 05:16

Dear People.
First I am so sorry that I cannot write in behasa Indonesia so I do it in English.
Already a few years ago I read this story in Angkasa magazine.

So I knew that some people from Mapala Ui went to the crash site in 1981, I try several times to reach the people from the Angkasa magazine but till now nothing

I like to have some information about the mapala expedition did the people take some souvenirs from the place if yes is it posible to find out what they take and are there pictures.

Then there was also people from TVRI did they make a film ??
Is it posible to get a copy ????
For me these matters are verry important.

For many years now I try to find out what hapened with my father.
Please any help is verry welcome

To whome it consern
With best regards
Harry Rudolph.


(Harian Kompas tanggal 18 April 1981 memberitakan: “Pendakian Salju Khatulistiwa. Tim Mapala UI menemukan es Jayawijaya menyusut 200 m. Sisa pesawat DC-3 Belanda ditemukan.” Mengenai sisa pesawat selanjutnya diberitakan: “Reruntuhan DC-3.Tim pendakian ekspedisi telah melacak rute selatan Pegunungan Carstensz dan berhasil menemukan reruntuhan pesawat terbang DC-3 (maksudnya C-47-red) Dakota milik Belanda. Tim ini juga berhasil mendaki lagi puncak tertinggi Carstensz Pyramide (4.884 m), dengan menyertakan dua pendaki wanita, Karina Arifin dan Ita Budi).

Hampir 30 tahun sesudah ayahnya meninggal, barulah Harry Rudolph dapat berpamitan dengan sebenarnya. Hanya tidak mudah, dia harus mendaki Pegunungan Carstensz setinggi 4.000 meter di Papua demi ayah yang dicintainya.

Sepuluh hari lamanya, terguyur hujan dan terbenam dalam lumpur hingga lutut, aku bersusah-payah menembus hutan belantara tropis di Niugini. Tujuan akhirku masih tampak jauh dan sulit dicapai. Persediaan makananku sudah berkurang secara memprihatinkan. Akan tetapi, setiap kali aku pertimbangkan untuk membatalkan ekspedisi ini, setiap kali pula aku teringat wajah ayahku, Frans Rudolph, yang seolah-olah memberikan kekuatan baru.

Sekonyong-konyong, 15 orang laki-laki yang telanjang menghalangi jalanku. Mereka adalah orang-orang Papua, yang memakai bulu-bulu burung beraneka warna di rambutnya yang keriting dan bersenjatakan panah serta busur di samping parang yang tampak menakutkan. Aku merasa khawatir dan menyadari, boleh jadi, ini berarti akhir dari petualangan. Aku nekat.

Bagi orang-orang Papua yang gagah berani, mungkin memergoki seorang pengembara di dalam hutan, mengagetkan mereka juga. Perjuangan berhari-hari telah menyebabkan penderitaan yang tidak ringan. Badanku penuh dengan luka-luka berdarah yang ditimbulkan oleh batu karang yang tajam dan dahan pohon. Kaki dan mata sudah bengkak karena gigitan nyamuk dan lintah yang haus darah, serta sengatan yang menyakitkan dari tawon dan kalajengking.

Karena kehabisan tenaga, aku duduk di atas sebuah batu gilang sambil meletakkan kedua telapak tangan di kudukku sebagai tanda bahwa aku tidak bermaksud jahat. Begitulah keadaanku sambil melihat ketakutan. Aku teringat ayah yang memberi dorongan untuk melakukan perjalanan seorang diri, juga memberi kekuatan untuk bertahan menghadapi segala macam ujian.

Pada tanggal 28 Juni 1962, Negeri Belanda masih terlibat konflik bersenjata melawan Indonesia sehubungan dengan klaim terhadap Irian Barat. Pada pagi hari itu, ayahku, seorang flight engineer AU Belanda dan empat orang kru lainnya serta tiga orang penumpang sebuah pesawat C-47 Dakota dengan nomor registrasi X-11, lepas landas dari Merauke. Untuk mencapai tujuannya, Biak, pesawat militer itu harus melewati Pegunungan Carstensz setinggi 5.000 meter. Alam yang benar-benar tidak bersahabat.


Delapan tahun kemudian, beberapa foto udara memperlihatkan, bagaimana di tengah perjalanannya, pesawat itu menabrak dinding gunung dan hancur-lebur. Bayangan bahwa jasad ayahku terlantar di suatu tempat di dataran tinggi gunung karang, bagi kami sekeluarga menimbulkan penderitaan batin yang nyaris tak tertahankan.

Aku baru berumur 12 tahun ketika melihat ayah terakhir kali. Sepanjang ingatanku, dia seorang militer yang tegar, percaya diri dan gagah berani, yang sangat memperhatikan dan menyayangi istri serta empat anaknya. Ia menyediakan waktu sebanyak mungkin dengan keluarganya. Ia suka membawa anak-anaknya jalan-jalan di hutan dan mengajak kami berpartisipasi dalam hobinya yang paling berat, yaitu mengotak-atik mobil. Ia memiliki mobil Peugeot tahun 1947. Kami sering berjam-jam mengotak-atiknya.

Selama hampir 30 tahun sejak dinyatakan hilang pada usia 39 tahun, kerinduan kami sekeluarga kepada ayah bertambah kuat, di samping perasaan kecewa atas perlakuan terhadapnya dan anggota kru lainnya.

Dalam tahun 1974, arsip tentang X-11 ditutup karena, menurut para pejabat, adalah mustahil untuk mencapai reruntuhan pesawat dan mengevakuasi jenazah-jenazahnya. Pada waktu itu, mulai timbul niatku untuk mencari sendiri. Setelah begitu lama, begitulah pikiranku, ayahku harus mendapat tempat peristirahatan terakhir yang pantas. Untuk membiayai perjalanannya, aku dan anggota keluarga lainnya mengumpulkan sekitar 50.000 gulden dari kocek sendiri.

“Romo Pastur Jos,” aku bertanya di kantornya di kota Leiden, “Orang Papua itu sebetulnya bagaimana?” Muka misionaris mengguratkan senyuman. “Mereka adalah orang-orang yang ramah-tamah, suka membantu dan suka menerima tamu,” begitulah jawabnya.

Romo Pastur Jos Donkers lama hidup di antara orang-orang Papua di hutan belantara Irian Jaya, yang hingga tahun 1962 bernama Niugini Belanda, yang gelap. Akan tetapi, seluruh daerah sulit dilalui. Hujan yang terus-menerus mengguyur tanah rawa, ular, lintah, dan serangga lainnya adalah ancaman yang harus diwaspadai. Anda tidak bisa menemukan apapun yang dapat dimakan. Adalah niat yang gila untuk pergi ke sana sendirian.

Aku mengunjungi Tropen Museum di Amsterdam untuk mempelajari peta-peta Niugini. Bahkan di atas kertas, perjalanannya tampak mengesankan. Sebagai persiapan, aku latihan intensif selama dua minggu di Pulau Jawa. Aku mendaki gunung berapi sampai tidak kurang 25 kali, tidur di udara terbuka, dan melakukan percobaan untuk mengetahui berapa hari dapat bertahan tanpa makan.

Setelah itu, aku menentukan susunan bagasi di atas hamparan plastik, sebuah kantong untuk tidur, beberapa potong pakaian, sebilah parang, sebuah kompas, beberapa helai peta, dua buah velples, sebuah payung dan sebuah video kamera. Persediaan makananku terdiri dari biskuit kering, buah berkulit keras, satu blek bubuk glukosa dan beberapa blik ransum darurat.

Begitulah. Pada 25 Oktober 1989, aku mulai ekspedisi ke Timika, suatu kota kecil di pantai selatan Irian Jaya. Dengan bantuan seorang misionaris yang berdiam di sana, aku dipertemukan dengan seorang Papua yang pernah menjadi anggota suku yang berdiam di pegunungan yang tinggi. Ia menggambarkan rute menuju ke desanya yang dulu secara garis besar. Perjalanannya akan memakan waktu lebih kurang empat hari, berdasar taksirannya. Optimismenya ternyata jauh berbeda dengan kenyataan. Perjalananku memakan waktu jauh lebih lama dan penuh kejadian-kejadian yang menakutkan.

Hujan deras mengguyur pohon-pohon lebat yang tingginya mencapai 50 meter. Untunglah masih terdapat celah terbuka melalui mana dapat kubedakan siang dan malam. Satu-satunya alat yang membantu dan menjadi tumpuan harapan di dalam medan yang sangat tidak bersahabat, yaitu kompasku, seolah-olah menentangku dengan selalu menunjukkan arah ke pohon-pohon tumbang atau rawa-rawa yang dalam.

Kerumunan tawon hitam yang ditakuti mengelilingiku. Dari waktu ke waktu, tawon-tawon itu membuka serangan secara massal. Pakaianku nyaris tidak mampu memberi perlindungan. Tawon-tawon itu dapat menembus hampir semua bagian dari tubuhku untuk sekadar memberi sengatan tajam yang dapat menimbulkan infeksi yang parah.

Di belakang kawanan tawon menyusul pasukan lintah, mahluk-mahluk seperti monster sepanjang hampir 3 cm, yang menggigit kulitku dengan keras dan bahkan dapat masuk lewat lubang-lubang tali sepatuku dan melihat kaki-kakiku berdarah. Ular-ular piton sepanjang hampir tujuh meter disana-sini tampak bermalas-malasan pada sore hari. Ular-ular yang tanpa upaya menyambar dan melilit babi hutan yang lewat, dapat saja sekonyong-konyong berbuat yang sama terhadap pengembara hutan tanpa pertahanan diri seperti aku.

Tinggi di atas kepalaku, burung-burung cendrawasih mengantarkan perjalananku yang berat dengan kicauan-kicauan yang ramai. Pada malam hari, suara mereka yang gaduh ditingkahi oleh menggerisiknya ular, laba-laba, dan kalajengking, yang mengelilingi diriku bak musuh yang tak kasat mata. Aku berusaha untuk tidur sambil mengacuhkan luka-luka dan kaki yang bengkak.

Hutan belantara merupakan musuh tanpa ampun. Perjalanan empat hari tamsiran orang di Timika, bergema dibenakku ketika kuinjak hari kesepuluh.

Pada hari yang sama, hampir saja sebuah Lockheed Neptune milik AL Belanda ditembak jatuh oleh dua Hawker Hunter AU Belanda/Foto: vlucht door detijd

Sebenarnya, dipergokinya diriku oleh 15 orang penduduk bersenjata yang di luar dugaan muncul di depanku, lebih merupakan penyelamatan daripada ancaman. Orang-orang itu ramah-tamah, suka membantu, dan suka menerima tamu. Gambaran yang diberikan Romo Pastur Jos tentang orang Papua kuingat kembali, ketika di depanku orang-orang itu terlibat diskusi yang ramai. Dengan sisa kekuatan yang masih kumiliki, kedua telapak tanganku tetap kuletakkan di kudukku sebagai tanda menyerah. Akhirnya, seorang yang lebih tua mendekat secara hati-hati untuk memeriksa barang bawaanku.

Penasihatku seorang Papua di Timika, telah menitipkan sepucuk surat yang sederhana bagi orang yang dituakan di desa. “Orang baik”, begitulah kira-kira isi surat tersebut karena salah seorang penduduk bersenjata yang lebih tua tampak tersenyum dengan ramah. Yang lainnya mengubah arah acungan senjata dari diriku.

Salah seorang penduduk menguasai sedikit bahasa Melayu dan menjadi juru bahasa. Kuceritakan bahwa aku sedang mencari jenazah ayahku yang telah jatuh dengan pesawat di pegunungan Carstensz. Ia meneruskannya kepada pimpinannya, dan kembali kepadaku sambil berkata: “Pemimpin kami bilang bahwa kedatangan Anda disambut baik di desa ini dan bahwa Anda boleh menginap di sini.”

Orang-orang yang suka menerima tamu. Romo Pastur Jos benar. Jarang saya mendapat teman-teman begitu cepat seperti di desa ini. Orang-orang Papua memberikan segala macam perhatian. Dari dalam gubuk-gubuk yang mirip cendawan raksasa dan tersebar di bukit-bukit, mereka memberi senyum penuh persahabatan, setelah pemimpinnya memberitahukan bahwa aku orang baik.

Aku mengalami kejutan ketika foto reruntuhan X-11 yang kuperlihatkan untuk menjelaskan tujuan ekspedisi yang tidak biasa ini, membangkitkan ingatan beberapa penduduk. Pemimpin desa menunjuk ke arah pegunungan yang tampak menjulang ke langit di kejauhan.

Dua hari lamanya aku menjadi tamu orang-orang Papua yang riang gembira. Kekuatanku sudah pulih kembali untuk meneruskan perjalanan. Beberapa penduduk yang ramah-tamah bahkan mengiringi diriku selama beberapa hari.

Perlahan-lahan hutan belantara diganti oleh batu-batu karang yang tajam. Pemandangan di sekelilingku didominasi oleh arakan awan tipis dan panjang yang lewat di atasku dan ditiup oleh angin kencang dingin seperti es. Aku tidak dapat mengandalkan kompas lagi karena adanya endapan lapisan-lapisan logam di pegunungan itu. Aku terpaksa berlindung di bawah batu-batu yang menjorok selama berjam-jam sambil menunggu terangnya kembali penglihatan.

Tujuan akhir dari perjalananku tercapai 16 hari setelah berangkat dari Timika. Tampaknya seperti pemandangan di bulan yang menyeramkan, dikelilingi oleh dinding-dinding gunung raksasa yang menjulang tinggi dan menyeramkan. Di salah satu sisi pada ketinggian 4.100 meter tergeletak ekor Dakota yang berwarna kelabu dan dihiasi tanda kebangsaan AU Kerajaan Belanda merah-putih- biru yang menyala, diapit oleh nomor registrasi X-11. Itulah adegan yang selama bertahun-tahun menghantuiku.

Aku berkemah selama dua hari di antara horor sisa-sisa sedih X-11 yang hancur lebur. Di areal yang luas, kutemukan puing-puing terdiri dari sobekan aluminium yang dulunya merupakan badan pesawat, motor-motor pesawat yang hancur dengan baling-baling yang bengkok, sebuah sepatu, sebuah boneka, dan beberapa buah kaos kaki. Sama sekali tidak ada jasad para kru dan penumpang yang semula ingin kuberikan penghormatan terakhir di dalam kesunyian di pegunungan yang dahsyat ini. Apa yang telah terjadi dengan jasad mereka?

Aku dengar dari para pekerja tambang tembaga, tidak jauh dari reruntuhan pesawat, sekelompok mahasiswa Indonesia tahun 1981 telah mendahuluiku. Mungkin mereka dapat menjawab pertanyaanku.

Melalui kawan-kawan Indonesia di Bandung, aku bertemu dengan tiga orang. Mereka menceritakan bahwa proyek pendakian gunung universitasnya menugaskan mereka untuk mendaki pegunungan Carstensz pada 1981, ketika secara kebetulan mereka menemukan reruntuhan pesawat. “Tabrakannya begitu hebat,” kata salah seorang mahasiswa sambil menggigil sehingga reruntuhannya benar-benar tersebar di mana-mana.

Mereka berkemah selama kurang lebih sebulan dan setiap hari melakukan pencarian di sekitarnya. “Kami menemukan sepucuk Uzi, kereta bayi, beberapa potong pakaian dan sebuah buku catatan,” kata si mahasiswa. Buku catatan yang mereka temukan disimpan di universitas, ternyata milik ayahku.

Para mahasiswa telah mengumpulkan jasad-jasadnya dengan seksama, dimasukan ke dalam sebuah peti dan dikebumikan dengan khidmat di bawah tumpukkan batu. Aku mendapat sebuah foto dari kuburan itu. Setelah hampir 30 tahun, akhirnya aku mengetahui nasib yang dialami mendiang ayahku.

Dalam bulan Januari 1991, 14 bulan sesudah perjalananku yang penuh bahaya, AU Kerajaan Belanda dibawah tekanan untuk melakukan sesuatu mengenai X-11. Pihaknya mengizinkan ekspedisi yang terdiri dari lima orang untuk mengevakuasi jasad-jasadnya.

Aku mendapat izin untuk ikut serta. Kami diangkut dengan helikopter ke lokasi. Setelah mendirikan perkemahan, kami melakukan pemeriksaan yang seksama. Di bawah tumpukan batu seperti yang diperlihatkan oleh foto para mahasiswa, kami memang menemukan peti berisi jasad-jasad para kru dan penumpang. Bagiku merupakan saat yang sangat mengharukan dan memuaskan. Tugasku telah terlaksana. Ayah akhirnya akan pulang.

Tanggal 19 Februari, jasad-jasad para korban diangkut ke negeri Belanda. Tanggal 22 Maret dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Kehormatan di Loenen. Tinggi di pegunungan Carstensz, kini tinggal sejumlah reruntuhan dan prasasti yang menyebutkan nama para korban. Prasasti dibuat oleh anggota-anggota ekspedisi, yang mengenang bencana 29 tahun sebelumnya.

Harian Kompas tanggal 18 April 1981 memberitakan: “Pendakian Salju Khatulistiwa. Tim Mapala UI menemukan es Jayawijaya menyusut 200 m. Sisa pesawat DC-3 Belanda ditemukan.” Mengenai sisa pesawat selanjutnya diberitakan: “Reruntuhan DC-3.Tim pendakian ekspedisi telah melacak rute selatan Pegunungan Carstensz dan berhasil menemukan reruntuhan pesawat terbang DC-3 (maksudnya C-47-red) Dakota milik Belanda. Tim ini juga berhasil mendaki lagi puncak tertinggi Carstensz Pyramide (4.884 m), dengan menyertakan dua pendaki wanita, Karina Arifin dan Ita Budi.

Kelly dari TVRI Jakarta dibantu Arianto, berhasil merekam peristiwa penelitian, pendakian, dan penemuan reruntuhan pesawat dengan kamera 16 mm. Diharapkan hasil rekaman nanti menambah keterangan tentang hasil yang telah diperoleh Mapala UI.

Dari survei rute selama dua hari, akhirnya tim melalui rute selatan berhasil mendapati rute sebenarnya ke arah reruntuhan pesawat. “Waktu survei dua hari, pendakian yang benar hanya empat jam. Badan pesawat mulai pintu tengah sampai ekor boleh dikata utuh, lainnya berantakan,” kata Arianto. Diterangkan juga, pesawat menabrak dinding padas, lalu pecah, dan sisa badan pesawat terjerembab di atas teras batu ditutupi lumut.

Berhasil ditemukan beberapa tulang pinggul, tangan, serta sisa tempurung kepala manusia. Selain jaket penyelamat, gear box, dynamo wiper, helio-gram, mirror, segulung film positif 8 mm, dan beberapa temuan lainnya.

“Pesawatnya berwarna hijau loreng, masih kelihatan gambar bendera Belanda. Memang Atase Militer Kedubes Belanda, Brigjen J. Linzell, juga mengatakan hal yang sama. Mereka pernah memotret reruntuhan itu, kami pun banyak mendapat informasi darinya,” ujar Arianto lagi.

Harian yang sama dalam edisi 27 April 1981 menurunkan tulisan yang menceritakan bahwa reruntuhan pesawat C-47 Dakota ditemukan pertama kali oleh Norman Edwin pada tanggal 3 April 1981, pukul 10:30 WIT. “Setengah badan pesawat itu masih utuh, rupanya menabrak dinding selatan Carstensz lalu ambruk di teras,” tutur Kelly Saputro, juru kamera TVRI Jakarta yang mengikuti ekspedisi Mapala UI. “Bagian depannya mungkin hancur dan terlontar ke tempat lain.”

Pesawat Dakota itu milik Belanda, mendapat kecelakaan setelah melanggar dinding gunung tinggi saat terbang dari Merauke ke Biak pada masa konfrontasi Indonesia-Belanda tahun 1963. “Memang penemuan ini yang pertama kali, sedangkan pesawat udara yang ditemukan beberapa tim pendaki sebelumnya milik Amerika,” kata Kelly sambil menerangkan lagi, “Tahun 1944 ada pesawat Dakota kargo milik AU AS jatuh di komplek pegunungan Jayawijaya. Tak lama kemudian, Komisi Korban Perang AS sempat mendatangi dan membawa beberapa sisa tubuh korban untuk dimakamkan di negaranya.


Sumber :
(R.J. Salatun, ANGKASA N0.10 Juli 2002/Th. XII)
http://www.mapalaui.info/2006/07/18/mendaki-carstensz-demi-ayah/

milis sadagori (Setyabudhi)

Kredit Foto:
www.korean-war.com/images/KWAirc...C-47.jpg
matanews.com/wp-content/uploads/...TENZ.JPG
http://misteriintim.blogspot.com/2008/08/gunung-cartenz-jayawijaya.html


 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff