Agustus 05, 2012




Peningkatan frekuensi dan intensitas badai musim panas akibat pemanasan global dapat menciptakan lubang-lubang baru pada lapisan ozon.


Dari beberapa penelitian dikatakan, fenomena badai musim panas mengarah kepada berkurangnya lapisan ozon yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi sinar ultraviolet. Badai akan menghasilkan lebih banyak uap air—yang berpotensi sebagai gas rumah kaca, ke stratosfer yang merupakan lapisan tengah dari atmosfer (sekitar 14-35 kilometer di atas permukaan Bumi).


James Anderson, seorang kimiawan atmosfer dari Harvard University menjelaskan bahwa kondisi seperti itu, meski belum terkonfirmasi, akan mampu untuk menyebabkan kehilangan ozon fatal (greater ozone loss). "Berdasarkan observasi terbaru, pada kondisi yang baik, uap air memicu reaksi kimia yang menipiskan lapisan ozon," tuturnya menambahkan.


Serangkaian penelitian Anderson dan para rekannya di Amerika Serikat menyimpulkan, bahwa unsur kimiawi di Kutub Utara saat ini berada pada tingkatan mendekati sangat potensial untuk menghancurkan ozon.






Pada penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science ini, diperhitungkan hilangnya ozon adalah 4 hingga 6 persen per hari di area stratosfer yang kaya uap air. Dampak tersebut bertahan selama beberapa minggu setelah badai.


Padahal para pakar mengatakan, bahkan reduksi minim dari lapisan ozon bisa memiliki dampak signifikan, yakni membuat orang-orang makin rentan terpapar kanker kulit dan kerusakan mata.


(Gloria Samantha)


Sumber: National Geographic Indonesia

Agustus 04, 2012






Taman Nasional Gunung Halimun Salak berisi hamparan pepohonan yang rapat mendominasi pemandangan. Kabut kerap menutupi puncak dan lereng.


Kawasan Gunung Halimun-Salak berpotensi digarap jadi objek wisata alam. Lokasi yang bisa ditempuh empat hingga lima jam dengan mobil dari Jakarta ini bisa menjadi alternatif selain kawasan Puncak, Bogor.


Apalagi, melalui rencana tata ruang wilayah Bogor, hutan lindung puncak bakal hilang akibat alih fungsi lahan. Dibutuhkan pengelolaan berkelanjutan agar ekowisata di Halimun Salak menguntungkan warga dan minim gangguan ekosistem.


Saat mengikuti survei udara yang dilakukan Sustanaible Management Group (SMG) dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Rabu (25/7), hamparan pepohonan yang rapat mendominasi pemandangan. Kabut kerap menutupi puncak dan lereng pegunungan.


"Woaw, this is amazing," kata Hitesh Maketa, pakar perencanaan lanskap asal AS. Penerbangan juga diikuti Nigel Tucker, ahli biodiversitas flora asal Australia.


Tampak pula hamparan perkebunan teh serta sawah yang berimpitan dengan kawasan hutan konservasi. Menjelang mendarat di lapangan Desa Lebak Sangka, Lebak, Banten, tampak ratusan tenda sepanjang aliran sungai yang dihuni para petambang emas.


SMG bersama Kementerian Kehutanan melibatkan Aneka Tambang (perusahaan tambang emas di TNGHS) serta warga setempat menggarap Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati (PKKH).




Chairman SMG David Makes yang juga Ketua Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia menjelaskan, PKKH membuat TNGHS menjadi pusat pendidikan, penelitian, wisata, dan jasa lingkungan. Warga diberdayakan agar mampu mengintensifkan pemakaian lahan.


Kepala TNGHS Agus Priambudi yang ditemui di Kampung Sukagalih, Kecamatam Kabandungan, Sukabumi, mengatakan sangat mendukung penyusunan rencana induk PKKH.
(Zika Zakiya)


Sumber : National Geographic Indonesia




Agustus 03, 2012

Hiu ini termasuk spesies langka dan statusnya terancam punah. Di Australia, jumlah hiu ini sekitar 200-400 ekor



 NGI - Hiu tutul atau disebut hiu paus (whale shark) terdampar di pantai baru Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (1/8), kemarin. Hiu ini memiliki panjang sekitar 13 meter, lebar tiga meter, sirip empat meter, dengan berat tiga ton.


Menurut Program Manager Animal Friends Jogja Dessy Zahara Angelina, hiu tutul tersebut sudah sampai pantai sekitar pukul 18.00 WIB dalam keadaan hidup. Namun, karena perlakukan warga sekitar yang tidak benar yakni mengikat ekor dan menyeret ke daratan maka hiu ini akhirnya mati.


Berdasarkan pengamatan awal, hiu ini berasal dari Australia dan terseret ketika sedang mencari makanan. Tak hanya itu, hiu ini juga diperkirakan mengalami disorientasi karena perubahan iklim drastis. Dessy melanjutkan, hiu ini adalah jenis ikan yang memiliki tubuh terbesar dan hidup di perairan basah dan tropis. Hiu ini memakan plankton dan tidak berbahaya bagi manusia.


Di Australia, hiu ini dilindungi karena keberadaannya sudah terancam di punah yakni sekitar 200-400 ekor. Namun, di Indonesia, hiu ini belum masuk sebagai hewan laut yang harus dilindungi.


Hingga sekarang, kata Dessy, keadaan hiu ini masih terdampar di bibir pantai dan mendapat perlakukan tidak etis dari masyarakat. Karena merupakan penemuan baru dan pertama, maka warga yang menonton justru mencongkel mata hiu dan menginjak-injak tubuhnya. Bahkan, warga pun ingin memotong-motong tubuhnya dan bermaksud menjualnya.


“Kami sangat berharap hiu ini segera mendapatkan pengamanan. Tadi ada yang mengusulkan agar hiu tersebut dijadikan sumber edukasi di universitas. Namun, hingga saat ini belum ada pihak pemerintah atau kepolisian yang mengambil tindakan atas hiu ini,” ungkapnya.


Suparman salah satu anggota Tim SAR Pantai Baru Pandansimo menambahkan, saat ini hiu ini tengah dijaga pihak SAR agar tidak dijarah oleh warga sekitar.


“Potongan tubuh hiu ini terutama siripnya sangat mahal. Untuk itulah, perlu penjagaan ketat terhadap hiu ini,” ungkapnya.


Beberapa hari sebelumnya, paus jenis sperm whale juga tewas di perairan Indonesia. Paus ini terdampar di Pantai Tanjung Pakis, Pakis Jaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (27/7). Meski berhasil diselamatkan dari Pantai Tanjung Pakis, paus ini ditemukan tewas beberapa jam kemudian di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 


(Olivia Lewi Pramesti
Sumber : National Geographic Indonesia



QUEENSLAND, KOMPAS.com - Upaya penelitian dengan mengebor dasar laut Antartika membuahkan hasil yang tak terduga. Ilmuwan menemukan bahwa hutan hujan tropis terdapat di Antartika 52 juta tahun yang lalu.


Dalam studi tersebut, dengan jalan pengeboran di wilayah timur Antartika, ilmuwan menemukan fosil pollen milik tanaman tropis yang menutupi benua Antartika pada masa Eocene, sekitar 34 - 56 juta tahun yang lalu.


Kevin Welsh, peneliti asal Australia yang melakukan riset tahun 2010 mengungkapkan, analisis molekul yang sensitif temperatur yang dilakukan menunjukkan bahwa temperatur Antartika sangat hangat 52 juta tahun lalu, sekitar 20 derajat Celsius.


"Dulu ada hutan di daratan, tak akan mungkin ada es, saat itu akan sangat hangat," kata Welsh seperti dikutip AFP, Kamis (2/7/2012). 


"Ini cukup meyakinkan, sebab pastinya imajinasi kita tentang Antartika adalah lingkungan yang dingin dan penuh es," tambah Welsh.


Welsh menuturkan, level karbon dioksida (CO2) di atmosfer diperkirakan menjadi faktor pemicu adanya hutan hujan tropis di Antartika. Kadar CO2 saat itu diperkirakan mencapai 990 hingga beberapa ribu ppm (parts per million).


Sebagai perbandingan, CO2 saat ini diperkirakan sekitar 395 ppm. Prediksi paling ekstrim dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menjelaskan bahwa es akan sangat surut di Antartika pada akhir abad ini.


Welsh meng merupakan pakar palaeoklimatologi menjelaskan, penemuan kali ini sangat penting untuk memahami dampak perubahan iklim, terutama menjelaskan seberapa banyak air yang disimpan di Antartika dalam bentuk es di permukaannya.


"Ini menunjukkan bahwa jika kita melewati periode dimana konsentrasi CO2 di atmosfer makin tinggi, sangat mungkin akan ada perubahan dramatis di area yang sangat penting dimana es eksis ini," papar Welsh.


"Kalau kita kehilangan banyak es di Antartika maka kemudian kita akan melihat perubahan dramatis pada ketinggian permukaan laut di seluruh planet ini," tambahnya.


Kehilangan es dan permukaan air laut naik akan menyebabkan banyak daratan hilang. Selain itu, Bumi juga kehilangan salah satu mekanisme pendinginan suhu lewat es. 


Es di Antartika bagian timur diperkirakan memiliki ketebalan hingga 3-4 km. Es ini mulai terbentuk sejak 34 juta tahun lalu. 


Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis kemarin.


Sumber :AFP
Editor :Asep Candra
Sumber Gambar : Puyol

Agustus 02, 2012





Sukabumi  - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), sejak pukul 00.00 WIB Rabu (1/8), melarang aktivitas pendakian ke dua gunung yang berada di wilayah tiga kabupaten itu.


"Seluruh kegiatan yang menyangkut pendakian secara resmi kami tutup sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP nomor SK.234/11-TU/3/2012 tanggal 17 Juli 2012 tentang penutupan pendakian," kata Kepala BBTNGGP, Agus Wahyudi kepada ANTARA, Rabu.


Menurut Agus, sejak Rabu pagi, para pendaki sudah meninggalkan lokasi pendakian baik yang berada di puncak maupun yang di jalur pendakian. Selain itu, seluruh pendaki dikawal oleh petugas TNGGP saat turun gunung khawatir ada pendaki yang tertinggal atau tersasar.


Sekarang Gunung Gede dan Pangrango sudah tidak ada lagi aktivitas pendakian, tetapi hanya warga sekitar saja yang diperbolehkan mendaki gunung untuk mencari kayu bakar. "Penutupan ini kami lakukan selama satu bulan penuh di Agustus ini sejak 1 Agustus sampai 31 Agustus," tambahnya.


Dikatakannya, penutupan sementara aktifitas pendakian ini dalam rangka pemulihan ekosistem dan pencegahan kebakaran hutan. Selain itu untuk memberikan kesempatan kepada flora dan fauna disepanjang jalur pendakian untuk pemulihan kondisi dan adanya peringatan dari BMKG bahwa curah hujan pada Agustus sangat rendah sehingga memungkinkan timbulnya bencana kebakaran hutan.


"Kami pun memperketat di pintu masuk pendakian yakni Pintu Cibodas, Cianjur, Pintu Gunung Putri, Bogor dan Pintu Selabintana, Sukabumi, yang tujuannya untuk mengantisipasi adanya pendaki yang nekad menerobos masuk ke Gede dan Pangrango," kata Agus.


Namun, untuk kegiatan wisata lainnya seperti wisata air terjun Cibeureum di Cibodas, Curug Cibeureum di Selabintana, Situ Gunung di Sukabumi dan lain sebagainya, masih terbuka untuk umum."Kami pun mengimbau kepada warga atau wisatawan yang datang ke lokasi wisata lainnya untuk tetap menjaga kondisi kebersihan dan keamanan obyek wisata," demikian Agus. 

Editor: Suryanto
Sumber : Antara





Oktober 04, 2011




Gunung es di Austria menyusut secara dramatis musim panas ini, yang paling besar sejak udara sangat panas pada 2003, terutama karena sedikitnya jumlah salju pada musim dingin lalu, kata beberapa ilmuwan.

Gunung es Goldbergkees di Alpen, misalnya, rata-rata dua meter lebih tipis dibandingkan dengan kondisinya pada 2010. Gunung es itu kehilangan sebanyak tujuh persen massanya, kata lembaga meteorologi nasional ZAMG.

Gunung api biasanya menyusut selama musim panas dan bertambah lagi pada musim dingin, dan dalam beberapa tahun belakangan lebih banyak es telah mencair dibandingkan dengan yang telah menggantikannya. Namun tahun ini, hilangnya lapisan es sangat mencolok, kata ZAMG.

"Kendati musim panas 2011 tidak terlalu panas, kehilangan lapisan es itu sama banyaknya dengan yang terjadi selama musim panas 2003," ahli iklim Berhard Hynek.

Tingkat es jauh lebih sedikit daripada kondisi normal di Alpen timur, setelah udara sangat panas dan musim dingin yang kering. Di Hoher Sonnblick, yang memiliki ketinggian 3.000 meter, misalnya, tingkat tersebut hanya dua-pertiga dari kondisi rata-rata 80 tahun pada 1 Mei.

Gletser di gunung dan lapisan salju di kedua belahan Bumi telah merosot dalam beberapa dasawarsa belakangan akibat perubahan iklim Bumi, yang diduga oleh banyak ilmuwan disebabkan oleh peningkatan buangan gas rumah kaca.

Sumber : Antara

September 28, 2011

Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan 5 kota besar di Indonesia dalam hasil pemantauan polusi udara 1.082 kota di 91 negara. Hasilnya polusi udara di kota Medan tercatat yang paling tinggi melampaui Surabaya, Bandung, Jakarta dan Pekanbaru.



Survei tersebut dirilis WHO pada Senin 26 September 2011. Angka polusi tersebut disusun berdasarkan laporan tahunan kadar pasrtikel udara dalam udara yang disebut PM10.

PM10 merujuk pada sebuah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang yang bergerak di udara. Batas maksimal PM10 yang direkomendasikan WHO adalah kurang dari 20 mikrogram PM10 per meter kubik. Pada angka tersebut, polutan di udara dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang serius bagi manusia.

Menurut WHO, penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi. Industrialisasi serta penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik berkualitas rendah paling banyak menjadi sumber polutan yang berbahaya.

Data WHO menunjukkan Kanada dan Amerika Serikat memiliki kota-kota dengan tingkat polutan terendah. Hal itu mungkin disebabkan sebagian besar sampel diambil di kedua negara tersbut. Anehnya, negara besar seperti Rusia hanya diketahui kadar polusi pada ibu kotanya saja, Moskow, namun tidak dengan kota-kota lainnya seperti pada negara lain.

Seperti dilansir dari Guardian dan Huffingtonpost, Rabu (28/9/2011), beberapa orang menuding bahwa sampling tersebut menunjukkan data yang dimiliki WHO tidak sempurna dan seringkali berasal dari data tahun yang berbeda-beda. Meskipun demikian, ketersediaan data adalah langkah pertama untuk memperbaiki setiap kumpulan data yang tidak sempurna.

Rata-rata global PM10 di kota-kota dunia adalah 71 mikrogram/m3 kita. Iran, Mongolia dan Botswana menempati rangking teratas buruknya polusi udara.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut daftar WHO, Medan adalah kota dengan polutan tertinggi di Indonesia dengan kadar PM10 sebesar 111 mikrogram/m3. Medan menempati peringkat ke-59 kota dengan polutan udara tertinggi dari 1.082 kota yang disurvei.

Peringkat berikutnya adalah Surabaya pada peringkat ke-128 dengan kadar PM10 sebesar 69 mikrogram/m3. Disusul oleh Bandung pada peringkat ke-192 dengan kadar PM10 51 mikrogram/m3.

Jakarta menempati peringkat ke-238 dengan kadar PM10 sebesar 43 mikrogram/m3.

Kota terakhir di Indonesia yang disurvei WHO adalah Pekanbaru yang menempati peringkat ke-1001 dengan kadar PM10 sebesar 11 mikrogram/m3, atau sama dengan beberapa kota di Kanada dan Amerika Serikat seperti Edmonton, Honolulu, Quebec, dan lebih baik dibandingkan Sydney yang menempati peringkat ke-992 dengan kadar PM10 sebesar 12 mikrogram/m3.

WHO hanya menyebutkan penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi, seperti cepatnya industrialisasi dan penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik yang berkualitas rendah.

Pembakaran batubara dan kayu juga ikut menyumbang kotornya udara. Asap pembakaran itu berkumpul dengan emisi kendaraan yang menciptakan selimut kabut asap yang menutupi beberapa kota di dunia.

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Agustus 31, 2011

Pihak berwenang Nepal memerintahkan pengukuran ulang Gunung Everest untuk mengakhiri "kebingungan" mengenai ketinggian tepatnya gunung tertinggi dunia itu, demikian diumumkan seorang pejabat Nepal.


Catatan resmi ketinggian Gunung Everest selama ini adalah 8.848m.

Tetapi Cina dan Nepal sudah lama terlibat perbedaan pendapat mengenai ketinggian gunung itu.
Cina mengatakan ketinggian gunung itu harus diukur berdasarkan tingginya batu di puncak gunung. Nepal mengatakan ketinggian itu harus berdasarkan ketinggian salju yang menyelimuti puncaknya - sehingga ukuran bertambah empat meter. Gunung tertinggi di dunia itu melintasi perbatasan kedua negara. Tahun lalu kedua negara sepakat bahwa Gunung Everest harus diakui memiliki ketinggian 8.848m.

Tetapi juru bicara pemerintah Nepal Gopal Giri mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa selama pembicaraan perbatasan antara kedua negara, para pejabat Cina sering menggunakan ketinggian berdasarkan batu.

Perdebatan lama

"Kami telah memulai proses pengukuran kembali untuk menjernihkan kebingungan ini. Sekarang kami memiliki teknologi dan sumber daya, kami bisa mengukurnya sendiri," kata Giri.
"Ini adalah pertama kalinya pemerintah Nepal mengukur sendiri ketinggian gunung itu."
Dia mengatakan akan didirikan sejumlah pos di beberapa titik lokasi dengan menggunakan sistem posisi global (GPS), dan proses mengukur puncak akan memakan waktu dua tahun.
Para pengamat mengatakan walaupun ribuan orang pernah mendaki gunung itu sejak pendakian pertama tahun 1953 oleh Sherpa Tenzing Norgay dan Edmund Hillary, ketinggian gunung selalu diperdebatkan sejak pengukuran pertama tahun 1856.
Ketinggian gunung yang saat ini diterima luas adalah 8.848m yang dilakukan oleh tim dari India tahun 1955.

Tetapi para ahli geologi mengatakan perkiraan ketinggian gunung itu oleh kedua negara bisa saja salah.

Mereka mengatakan gunung itu semakin terdorong tinggi karena India sedikit demi sedikit tertekan turun lebih rendah dari Cina dan Nepal akibat pergeseran lempeng-lempeng benua.
Pada bulan Mei 1999 satu tim dari Amerika menggunakan teknologi GPS untuk mengukur ketinggian Gunung Everest, yaitu 8.850m - ukuran yang sekarang secara resmi digunakan oleh US National Geographic Society, walaupun ukuran itu belum diterima secara resmi oleh Nepal.

sumber ; BBC Indonesia

Agustus 24, 2011

Pendaki gunung Gerlinde Kaltenbrunner asal Austria menjadi perempuan pertama di dunia yang menaklukkan seluruh 14 puncak gunung di Himalaya yang rata-rata berketinggian 8.00 meter di atas permukaan laut tanpa bantuan oksigen.


"Puncak ditaklukkan, pada pukul 6.18 waktu setempat. Gerlinde mencapai puncak K2," kata suami Kaltenbrunner, Ralf Dujmovits melalui situs resmi sang istri. Kaltenbrunner, 40, yang sehari-hari adalah seorang perawat, adalah perempuan ketiga di dunia yang mencapai seluruh 14 puncak gunung di Himalaya. Bedanya, Kaltenbrunner melakukannya tanpa oksigen buatan sementara dua pendaki perempuan lainnya masih menggunakan bantuan tabung oksigen. "Dia tengah berada di bulan," kata Dujmovits mengutip perkataan istrinya. Sebelumnya,

Kaltenbrunner sudah enam kali mencoba menaklukkan K2 yang berketinggian 8.611 meter dari permukaan laut itu namun selalu gagal. Akhirnya, pada percobaan ketujuh, Kaltenbrunner yang ditemani pendaki Kazakhstan, Maxut Zumaye dan Vassiliy Pivtsov dan Darek Zaluski dari Polandia, sukses menyelesaikan misinya.

Tim Kaltenbrunner sudah mempersiapkan pendakian ini sejak dua bulan lalu untuk menaklukkan gunung tertinggi kedua di dunia setelah Mount Everest, namun dianggap gunung paling berbahaya. Mereka berencana menaklukkan gunung ini dari sisi Cina di sebelah utara untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Kaltenbrunner selalu mencoba mendaki gunung ini dari sisi Pakistan. Pada Selasa (23/8) pagi waktu setempat, tim ini membatalkan percobaan pertama mencapai puncak karena suhu yang terlalu dingin. Tim kemudian men coba lagi setelah udara cukup cerah tanpa awan yang sangat membantu pandangan mereka. Dujmovits, yang selalu memperbarui informasi soal pendakian di situs istrinya itu, terus memantau perkembangan tim melalui radio dan teropongnya.

Setelah berhasil menaklukkan puncak K2, Kaltenbrunner dan timnya kembali turun pada Selasa malam. Dalam situsnya, Kaltenbrunner mengatakan sangat bahagia bisa mencapai puncak di tengah kondisi pendakian yang sulit namun dibantu cuaca yang sempurna.

Pada 2009, nama Kaltenbrunner mulai dikenal setelah dia nyaris menjadi perempuan pertama dunia yang mencapai ketinggian 8.000 meter. Saat itu dia kalah dalam perlombaan yang melibatkan tiga pendaki gunung. Pendaki Korea Selatan, Oh Eun Sun terlebih dulu mencapai puncak yang kemudian disusul pendaki Spanyol, Edurne Pasaban. Keraguan atas kemampuan Kaltenbrunner muncul ketika Oh akhirnya benar-benar menaklukkan puncak Gunung Kanchenjunga.

Dan, keberhasilan Kaltenbrunner menaklukkan K2 mengakhiri petualangan Kaltenbrunner yang sudah dimulai sejak Mei 1998 lalu. Keberhasilan ini sangat membanggakan Austria, bahkan Presiden Heinz Fischer menyebut kesuksesan ini sebagai hasil sebuah upaya yang luar biasa.
Menurut catatan, orang pertama di dunia yang mampu menaklukkan seluruh 14 puncak gunung Himalaya adalah pendaki Italia, Reinhold Messner, tahun 1986.

10 ekspedisi terakhir Kaltenbrunner
2010 April/Mei – Everest, Tibet (via jalur timur laut)
2009 July/Agustus - K2, Pakistan(via Rute Cesen sampai 8,300m)
2009 Mei – Lhotse, Nepal(8.516 m)
2008 Mei – Dhaulagiri, Nepal(8.167 m)
2007 Juli/Agustus – K2, Pakistan(sampai 8.100m)
2007 Juli/Agustus – Broad Peak, Pakistan (8.047m)
2007 April/Mei – Dhaulagiri, Nepal(gagal pada 7.400m)
2006 Mei- Lhotse, Nepal(gagal pada 8.400m)
2006 April / Mei – Kangchenjunga, Nepal(8,595 m)
2005 Juni/Juli – Gasherbrum, Pakistan (8035 m)

sumber : BBC Indonesia
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff