Oktober 04, 2011




Gunung es di Austria menyusut secara dramatis musim panas ini, yang paling besar sejak udara sangat panas pada 2003, terutama karena sedikitnya jumlah salju pada musim dingin lalu, kata beberapa ilmuwan.

Gunung es Goldbergkees di Alpen, misalnya, rata-rata dua meter lebih tipis dibandingkan dengan kondisinya pada 2010. Gunung es itu kehilangan sebanyak tujuh persen massanya, kata lembaga meteorologi nasional ZAMG.

Gunung api biasanya menyusut selama musim panas dan bertambah lagi pada musim dingin, dan dalam beberapa tahun belakangan lebih banyak es telah mencair dibandingkan dengan yang telah menggantikannya. Namun tahun ini, hilangnya lapisan es sangat mencolok, kata ZAMG.

"Kendati musim panas 2011 tidak terlalu panas, kehilangan lapisan es itu sama banyaknya dengan yang terjadi selama musim panas 2003," ahli iklim Berhard Hynek.

Tingkat es jauh lebih sedikit daripada kondisi normal di Alpen timur, setelah udara sangat panas dan musim dingin yang kering. Di Hoher Sonnblick, yang memiliki ketinggian 3.000 meter, misalnya, tingkat tersebut hanya dua-pertiga dari kondisi rata-rata 80 tahun pada 1 Mei.

Gletser di gunung dan lapisan salju di kedua belahan Bumi telah merosot dalam beberapa dasawarsa belakangan akibat perubahan iklim Bumi, yang diduga oleh banyak ilmuwan disebabkan oleh peningkatan buangan gas rumah kaca.

Sumber : Antara

September 28, 2011

Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan 5 kota besar di Indonesia dalam hasil pemantauan polusi udara 1.082 kota di 91 negara. Hasilnya polusi udara di kota Medan tercatat yang paling tinggi melampaui Surabaya, Bandung, Jakarta dan Pekanbaru.



Survei tersebut dirilis WHO pada Senin 26 September 2011. Angka polusi tersebut disusun berdasarkan laporan tahunan kadar pasrtikel udara dalam udara yang disebut PM10.

PM10 merujuk pada sebuah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang yang bergerak di udara. Batas maksimal PM10 yang direkomendasikan WHO adalah kurang dari 20 mikrogram PM10 per meter kubik. Pada angka tersebut, polutan di udara dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang serius bagi manusia.

Menurut WHO, penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi. Industrialisasi serta penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik berkualitas rendah paling banyak menjadi sumber polutan yang berbahaya.

Data WHO menunjukkan Kanada dan Amerika Serikat memiliki kota-kota dengan tingkat polutan terendah. Hal itu mungkin disebabkan sebagian besar sampel diambil di kedua negara tersbut. Anehnya, negara besar seperti Rusia hanya diketahui kadar polusi pada ibu kotanya saja, Moskow, namun tidak dengan kota-kota lainnya seperti pada negara lain.

Seperti dilansir dari Guardian dan Huffingtonpost, Rabu (28/9/2011), beberapa orang menuding bahwa sampling tersebut menunjukkan data yang dimiliki WHO tidak sempurna dan seringkali berasal dari data tahun yang berbeda-beda. Meskipun demikian, ketersediaan data adalah langkah pertama untuk memperbaiki setiap kumpulan data yang tidak sempurna.

Rata-rata global PM10 di kota-kota dunia adalah 71 mikrogram/m3 kita. Iran, Mongolia dan Botswana menempati rangking teratas buruknya polusi udara.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut daftar WHO, Medan adalah kota dengan polutan tertinggi di Indonesia dengan kadar PM10 sebesar 111 mikrogram/m3. Medan menempati peringkat ke-59 kota dengan polutan udara tertinggi dari 1.082 kota yang disurvei.

Peringkat berikutnya adalah Surabaya pada peringkat ke-128 dengan kadar PM10 sebesar 69 mikrogram/m3. Disusul oleh Bandung pada peringkat ke-192 dengan kadar PM10 51 mikrogram/m3.

Jakarta menempati peringkat ke-238 dengan kadar PM10 sebesar 43 mikrogram/m3.

Kota terakhir di Indonesia yang disurvei WHO adalah Pekanbaru yang menempati peringkat ke-1001 dengan kadar PM10 sebesar 11 mikrogram/m3, atau sama dengan beberapa kota di Kanada dan Amerika Serikat seperti Edmonton, Honolulu, Quebec, dan lebih baik dibandingkan Sydney yang menempati peringkat ke-992 dengan kadar PM10 sebesar 12 mikrogram/m3.

WHO hanya menyebutkan penyebab tingginya tingkat polusi udara bervariasi, seperti cepatnya industrialisasi dan penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik yang berkualitas rendah.

Pembakaran batubara dan kayu juga ikut menyumbang kotornya udara. Asap pembakaran itu berkumpul dengan emisi kendaraan yang menciptakan selimut kabut asap yang menutupi beberapa kota di dunia.

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Agustus 31, 2011

Pihak berwenang Nepal memerintahkan pengukuran ulang Gunung Everest untuk mengakhiri "kebingungan" mengenai ketinggian tepatnya gunung tertinggi dunia itu, demikian diumumkan seorang pejabat Nepal.


Catatan resmi ketinggian Gunung Everest selama ini adalah 8.848m.

Tetapi Cina dan Nepal sudah lama terlibat perbedaan pendapat mengenai ketinggian gunung itu.
Cina mengatakan ketinggian gunung itu harus diukur berdasarkan tingginya batu di puncak gunung. Nepal mengatakan ketinggian itu harus berdasarkan ketinggian salju yang menyelimuti puncaknya - sehingga ukuran bertambah empat meter. Gunung tertinggi di dunia itu melintasi perbatasan kedua negara. Tahun lalu kedua negara sepakat bahwa Gunung Everest harus diakui memiliki ketinggian 8.848m.

Tetapi juru bicara pemerintah Nepal Gopal Giri mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa selama pembicaraan perbatasan antara kedua negara, para pejabat Cina sering menggunakan ketinggian berdasarkan batu.

Perdebatan lama

"Kami telah memulai proses pengukuran kembali untuk menjernihkan kebingungan ini. Sekarang kami memiliki teknologi dan sumber daya, kami bisa mengukurnya sendiri," kata Giri.
"Ini adalah pertama kalinya pemerintah Nepal mengukur sendiri ketinggian gunung itu."
Dia mengatakan akan didirikan sejumlah pos di beberapa titik lokasi dengan menggunakan sistem posisi global (GPS), dan proses mengukur puncak akan memakan waktu dua tahun.
Para pengamat mengatakan walaupun ribuan orang pernah mendaki gunung itu sejak pendakian pertama tahun 1953 oleh Sherpa Tenzing Norgay dan Edmund Hillary, ketinggian gunung selalu diperdebatkan sejak pengukuran pertama tahun 1856.
Ketinggian gunung yang saat ini diterima luas adalah 8.848m yang dilakukan oleh tim dari India tahun 1955.

Tetapi para ahli geologi mengatakan perkiraan ketinggian gunung itu oleh kedua negara bisa saja salah.

Mereka mengatakan gunung itu semakin terdorong tinggi karena India sedikit demi sedikit tertekan turun lebih rendah dari Cina dan Nepal akibat pergeseran lempeng-lempeng benua.
Pada bulan Mei 1999 satu tim dari Amerika menggunakan teknologi GPS untuk mengukur ketinggian Gunung Everest, yaitu 8.850m - ukuran yang sekarang secara resmi digunakan oleh US National Geographic Society, walaupun ukuran itu belum diterima secara resmi oleh Nepal.

sumber ; BBC Indonesia

Agustus 24, 2011

Pendaki gunung Gerlinde Kaltenbrunner asal Austria menjadi perempuan pertama di dunia yang menaklukkan seluruh 14 puncak gunung di Himalaya yang rata-rata berketinggian 8.00 meter di atas permukaan laut tanpa bantuan oksigen.


"Puncak ditaklukkan, pada pukul 6.18 waktu setempat. Gerlinde mencapai puncak K2," kata suami Kaltenbrunner, Ralf Dujmovits melalui situs resmi sang istri. Kaltenbrunner, 40, yang sehari-hari adalah seorang perawat, adalah perempuan ketiga di dunia yang mencapai seluruh 14 puncak gunung di Himalaya. Bedanya, Kaltenbrunner melakukannya tanpa oksigen buatan sementara dua pendaki perempuan lainnya masih menggunakan bantuan tabung oksigen. "Dia tengah berada di bulan," kata Dujmovits mengutip perkataan istrinya. Sebelumnya,

Kaltenbrunner sudah enam kali mencoba menaklukkan K2 yang berketinggian 8.611 meter dari permukaan laut itu namun selalu gagal. Akhirnya, pada percobaan ketujuh, Kaltenbrunner yang ditemani pendaki Kazakhstan, Maxut Zumaye dan Vassiliy Pivtsov dan Darek Zaluski dari Polandia, sukses menyelesaikan misinya.

Tim Kaltenbrunner sudah mempersiapkan pendakian ini sejak dua bulan lalu untuk menaklukkan gunung tertinggi kedua di dunia setelah Mount Everest, namun dianggap gunung paling berbahaya. Mereka berencana menaklukkan gunung ini dari sisi Cina di sebelah utara untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Kaltenbrunner selalu mencoba mendaki gunung ini dari sisi Pakistan. Pada Selasa (23/8) pagi waktu setempat, tim ini membatalkan percobaan pertama mencapai puncak karena suhu yang terlalu dingin. Tim kemudian men coba lagi setelah udara cukup cerah tanpa awan yang sangat membantu pandangan mereka. Dujmovits, yang selalu memperbarui informasi soal pendakian di situs istrinya itu, terus memantau perkembangan tim melalui radio dan teropongnya.

Setelah berhasil menaklukkan puncak K2, Kaltenbrunner dan timnya kembali turun pada Selasa malam. Dalam situsnya, Kaltenbrunner mengatakan sangat bahagia bisa mencapai puncak di tengah kondisi pendakian yang sulit namun dibantu cuaca yang sempurna.

Pada 2009, nama Kaltenbrunner mulai dikenal setelah dia nyaris menjadi perempuan pertama dunia yang mencapai ketinggian 8.000 meter. Saat itu dia kalah dalam perlombaan yang melibatkan tiga pendaki gunung. Pendaki Korea Selatan, Oh Eun Sun terlebih dulu mencapai puncak yang kemudian disusul pendaki Spanyol, Edurne Pasaban. Keraguan atas kemampuan Kaltenbrunner muncul ketika Oh akhirnya benar-benar menaklukkan puncak Gunung Kanchenjunga.

Dan, keberhasilan Kaltenbrunner menaklukkan K2 mengakhiri petualangan Kaltenbrunner yang sudah dimulai sejak Mei 1998 lalu. Keberhasilan ini sangat membanggakan Austria, bahkan Presiden Heinz Fischer menyebut kesuksesan ini sebagai hasil sebuah upaya yang luar biasa.
Menurut catatan, orang pertama di dunia yang mampu menaklukkan seluruh 14 puncak gunung Himalaya adalah pendaki Italia, Reinhold Messner, tahun 1986.

10 ekspedisi terakhir Kaltenbrunner
2010 April/Mei – Everest, Tibet (via jalur timur laut)
2009 July/Agustus - K2, Pakistan(via Rute Cesen sampai 8,300m)
2009 Mei – Lhotse, Nepal(8.516 m)
2008 Mei – Dhaulagiri, Nepal(8.167 m)
2007 Juli/Agustus – K2, Pakistan(sampai 8.100m)
2007 Juli/Agustus – Broad Peak, Pakistan (8.047m)
2007 April/Mei – Dhaulagiri, Nepal(gagal pada 7.400m)
2006 Mei- Lhotse, Nepal(gagal pada 8.400m)
2006 April / Mei – Kangchenjunga, Nepal(8,595 m)
2005 Juni/Juli – Gasherbrum, Pakistan (8035 m)

sumber : BBC Indonesia

Juni 24, 2011


Sore ini saya mendapat email, dari salah satu dari sekian banyak email yang masuk, yang satu ini menarik minat saya, dan kemudian saya putuskan untuk kembali menulis di blog ini. Awalnya, blog ini diusahakan untuk tidak menuliskan cerita yang terlalu personal, tetapi hal ini tentunya menyalahi hakikat blog sesungguhnya.

Saya mendapatkan email tersebut dari milis perhimpunan, sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa, sebagian cerita dan data yang disampaikan di email tersebut sudah pernah saya baca atau saya dengar, tetapi ada sedikit yang berbeda. Apa yang berbeda? Seseorang yang mengirimkan email tersebut, membuat apa yang saya ketahui akhirnya mempunyai sudut pandang baru.

Mari saya ceritakan isi tentang email tersebut. Email tersebut menceritakan sejarah panjang seseorang yang melakukan sesuatu yang sangat dicintainya. Bersepeda. Bagi para petualang pasti mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama Bambang “Paimo” Hertadi Mas. Pria Kelahiran Malang 53 tahun yang lalu dikenal sebagai Pesepeda jarak Jauh Indonesia (Long Distance Cyclist), sudah lebih dari ratusan ribu kilometer diarungi dengan kayuhan sepeda mulai dari deaah Asia, Amerika Selatan Australia dan Eropa.

Perjalanan pertama pria yang baru merayakan ulang tahun ke 53 pada tanggal 17 Maret lalu ini adalah bersepeda sejauh 1.656 km melintasi pulau Jawa hingga ke Sumbawa Besar. Perjalanan ‘Cintaku Negeriku’ yang dimulai dari kota Bandung ini, dilakukannya pada tahun 1980 dan Paimo tidak hanya bersepeda tetapi juga melakukan pendakian ke 2 gunung tertinggi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yaitu Gunung Rinjani (3.726 m) dan Gunung Tambora (2.851 m) di Pulau Sumbawa.

Trip ‘Cintaku Negeriku’ tersebut adalah langkah awalnya menjelajahi dunia dengan sepeda. Paimo sudah bersepeda sejak SMP, awalnya dia bersepeda antar kota, lalu antar kota antar propinsi dan akhirnya antar pulau. Hingga saat ini dia sudah menjelajahi seluruh kota di Indonesia dan kota-kota di lima benua.


Kebiasaan bersepeda dan mendaki gunung kembali dia lanjutkan pada tahun 1981. Pada tahun ini dia melakukan Trans Sumatera Cycling Trip sejauh 2.037 km, melintas Pulau Sumatera dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Kerinci ( 3.805 m). Seakan tidak puas dengan Pulau Sumatera, tahun berikutnya 1982 Paimo kembali menjajal Pulau Sulawesi dengan Trans Celebes Cycling Trip 1.942 km, melintas Pulau Sulawesi dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Klabat (2.022 m) di Sulawesi Utara.

Setelah vakum selama 4 tahun, pria lulusan FSRD ITB tahun 1986 ini kembali melakukan perjalanan bersepeda jarak jauhnya. Kali ini dia memilih Pulau Kalimantan dengan Trans Borneo Cycling Trip sejauh 2.928 km, Paimo melintasi Pulau Borneo dengan sepeda serta sekaligus mendaki Gunung Kinabalu (4.101 m), di Sabah Malaysia Timur. Ini merupakan perjalanan pertamanya keluar Indonesia.

Pada tahun berikutnya 1987, merupakan tahun ‘tersibuk, Paimo. Pada tahun ini Paimo melakukan pendakian bersepeda di 3 Gunung di 3 Negara berbeda, dengan masing-masing ketinggian lebih dari 5000 m dpl. Ketiga Gunung tersebut adalah Gunung Kilimanjaro (5.896 m) di Tanzania, Afrika Timur, lalu Mount Kenya (5.199 m) di Kenya dan kemudian Imja Tse (Island Peak) dengan ketinggian 6.189 m, di Himalaya Nepal.

Setelah bertualang di luar negeri, Paimo kembali aktif di kegiatan sepeda dalam negeri. Pada tahun 1988 dia melakukan Parade Bulan Bersepeda Indonesia (PBBI) yaitu bersepeda dari Jakarta menuju Denpasar sejauh 1.300 km. Kemudian di rentang tahu 1989 – 1992 dia bersepeda di Gunung Kelud, lalu bersepeda malang-Larantuka dan mendaki Gunung Ijen, Gunung Batur, Gunung Rinjani dan Gunung Kelimutu. Lalu dilanjutkan ke Gunung Papandayan (1991), dan mengelilingi Pulau Belitung (1992) dalam rangka mendata batuan dan tebing yang bisa di panjat.

Pada tahun 1993 petualangan dilanjutkan ke “The First International Tibetan Plateu Bicycle Rally”, bersepeda pada ketinggian 2.500-5.231 m dpl, di Roof of The World (Atap Dunia sebutan untuk Dataran Tinggi Tibet, China), sejauh ± 1.937 km dari Xining, Ibukota Propinsi Qinghai sampai Lhasa, Ibukota Daerah Otonomi Tibet, melintas sebagian dari Silk Road dan bagian tenggara Gobi Desert, Bersepeda dan bermalam ke atas The Great Wall-Badaling, China.

Lalu pada tahun 1995 bersepeda seorang diri “Trans Continental, Perth-Sydney on My Bike” melintasi Benua Australia dari Perth, Pantai Barat, hingga Sydney, Pantai Timur Menembus Nullarbor Plain, bagian selatan The Great Victoria Desert sejauh 4.371,9 km. Tahun 1997 Trans South East Asia by Bike, Bersepeda seorang diri dari Singapore ke Saigon (Ho Chi Minh City), melintasi negara Singapore-Malaysia-Thailand-Laos-Vietnam sejauh 5.419 km. Lalu pada tahun 1998 Descent Toraja, Mengumpulkan data (membuat jalur wisata sepeda) serta menggabungkan kegiatan mounting biking, trekking, rafting, dan rock climbing di kawasan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Dan pada tahun 2000 Paimo kembali ke Himalaya dan berkelana sepeda selama 1,5 bulan di Mera-Peak Khumbu, Nepal.



Dan perjalanan yang monumental dilakukannya pada tahun 2005, Paimo melintasi negara Amerika Latin, dari kota La Paz di Bolivia hingga ke kota Punta Arenas di Argentina, yang merupakan titik paling selatan di benua Amerika. Pada tahun 2009 juga dia kembali menjelajahi Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos.

Petualangan terbarunya adalah melintasi Eropa dengan sepeda. Dengan tajuk “Celebrity Of Life” Pria asal Indonesia itu berangkat dari Brussel di Belgia menuju Prancis, Spanyol, dan Portugal, serta diakhiri di kota Casablanca, Maroko.

“Bersepeda itu sehat. Saya senang dapat bersepeda sekaligus promosi Indonesia di manca negara,” ucap Paimo.

Sebelum memulai perjalanan, dirinya mempersiapkan diri secara serius, utamanya untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Logistik juga telah disiapkan dengan matang, termasuk bekal, yang berasal dari kantong sendiri ditambah peran serta beberapa sponsor. Ia juga ingin-mengembangkan persahabatan dengan komunitas bersepeda yang ada di Eropa, dan bahkan Afrika.

“Saya memiliki teman-teman cyclist yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Eropa. Kesempatan ini akan saya pergunakan untuk mengunjungi dan mempererat persahabatan dengan mereka,” imbuhnya.

Paimo bersepeda sekitar 60 hari menempuh jarak lebih dari 3.230 km dimulai dari 12 Juni 2010 sampai 15 Agustus 2010.

"Saya bersepeda untuk celebrate life. Untuk menikmati dan mengagumi kehidupan," tutup Bambang sebelum memulai perjalanannya.



Begitulah sedikit kisah Bambang ‘Paimo’ Hertadi Mas, yang bersepeda hingga ke ujung dunia. Mengapa ke ujung dunia? Sejak manusia mengetahui bahwa bumi itu bulat, kata-kata tersebut seakan kiasan yang berlebihan untuk sesuatu yang tidak mungkin. Tapi untuk Paimo, ujung dunia adalah sesuatu yang akan selalu menjadi tujuan perjalanan sepedanya, karena dia tidak akan berhenti untuk sesuatu yang menjadi obsesi dan dicintainya, untuk kenikmatan dan kekagumannya akan kehidupan. []

Tulisan ini untuk Theodorus 210 BNP, yang mengubah pandangan saya, You'll Never Bike Alone


Juni 11, 2011



Harry Rudolph Says:

September 17th, 2007 at 05:16

Dear People.
First I am so sorry that I cannot write in behasa Indonesia so I do it in English.
Already a few years ago I read this story in Angkasa magazine.

So I knew that some people from Mapala Ui went to the crash site in 1981, I try several times to reach the people from the Angkasa magazine but till now nothing

I like to have some information about the mapala expedition did the people take some souvenirs from the place if yes is it posible to find out what they take and are there pictures.

Then there was also people from TVRI did they make a film ??
Is it posible to get a copy ????
For me these matters are verry important.

For many years now I try to find out what hapened with my father.
Please any help is verry welcome

To whome it consern
With best regards
Harry Rudolph.


(Harian Kompas tanggal 18 April 1981 memberitakan: “Pendakian Salju Khatulistiwa. Tim Mapala UI menemukan es Jayawijaya menyusut 200 m. Sisa pesawat DC-3 Belanda ditemukan.” Mengenai sisa pesawat selanjutnya diberitakan: “Reruntuhan DC-3.Tim pendakian ekspedisi telah melacak rute selatan Pegunungan Carstensz dan berhasil menemukan reruntuhan pesawat terbang DC-3 (maksudnya C-47-red) Dakota milik Belanda. Tim ini juga berhasil mendaki lagi puncak tertinggi Carstensz Pyramide (4.884 m), dengan menyertakan dua pendaki wanita, Karina Arifin dan Ita Budi).

Hampir 30 tahun sesudah ayahnya meninggal, barulah Harry Rudolph dapat berpamitan dengan sebenarnya. Hanya tidak mudah, dia harus mendaki Pegunungan Carstensz setinggi 4.000 meter di Papua demi ayah yang dicintainya.

Sepuluh hari lamanya, terguyur hujan dan terbenam dalam lumpur hingga lutut, aku bersusah-payah menembus hutan belantara tropis di Niugini. Tujuan akhirku masih tampak jauh dan sulit dicapai. Persediaan makananku sudah berkurang secara memprihatinkan. Akan tetapi, setiap kali aku pertimbangkan untuk membatalkan ekspedisi ini, setiap kali pula aku teringat wajah ayahku, Frans Rudolph, yang seolah-olah memberikan kekuatan baru.

Sekonyong-konyong, 15 orang laki-laki yang telanjang menghalangi jalanku. Mereka adalah orang-orang Papua, yang memakai bulu-bulu burung beraneka warna di rambutnya yang keriting dan bersenjatakan panah serta busur di samping parang yang tampak menakutkan. Aku merasa khawatir dan menyadari, boleh jadi, ini berarti akhir dari petualangan. Aku nekat.

Bagi orang-orang Papua yang gagah berani, mungkin memergoki seorang pengembara di dalam hutan, mengagetkan mereka juga. Perjuangan berhari-hari telah menyebabkan penderitaan yang tidak ringan. Badanku penuh dengan luka-luka berdarah yang ditimbulkan oleh batu karang yang tajam dan dahan pohon. Kaki dan mata sudah bengkak karena gigitan nyamuk dan lintah yang haus darah, serta sengatan yang menyakitkan dari tawon dan kalajengking.

Karena kehabisan tenaga, aku duduk di atas sebuah batu gilang sambil meletakkan kedua telapak tangan di kudukku sebagai tanda bahwa aku tidak bermaksud jahat. Begitulah keadaanku sambil melihat ketakutan. Aku teringat ayah yang memberi dorongan untuk melakukan perjalanan seorang diri, juga memberi kekuatan untuk bertahan menghadapi segala macam ujian.

Pada tanggal 28 Juni 1962, Negeri Belanda masih terlibat konflik bersenjata melawan Indonesia sehubungan dengan klaim terhadap Irian Barat. Pada pagi hari itu, ayahku, seorang flight engineer AU Belanda dan empat orang kru lainnya serta tiga orang penumpang sebuah pesawat C-47 Dakota dengan nomor registrasi X-11, lepas landas dari Merauke. Untuk mencapai tujuannya, Biak, pesawat militer itu harus melewati Pegunungan Carstensz setinggi 5.000 meter. Alam yang benar-benar tidak bersahabat.


Delapan tahun kemudian, beberapa foto udara memperlihatkan, bagaimana di tengah perjalanannya, pesawat itu menabrak dinding gunung dan hancur-lebur. Bayangan bahwa jasad ayahku terlantar di suatu tempat di dataran tinggi gunung karang, bagi kami sekeluarga menimbulkan penderitaan batin yang nyaris tak tertahankan.

Aku baru berumur 12 tahun ketika melihat ayah terakhir kali. Sepanjang ingatanku, dia seorang militer yang tegar, percaya diri dan gagah berani, yang sangat memperhatikan dan menyayangi istri serta empat anaknya. Ia menyediakan waktu sebanyak mungkin dengan keluarganya. Ia suka membawa anak-anaknya jalan-jalan di hutan dan mengajak kami berpartisipasi dalam hobinya yang paling berat, yaitu mengotak-atik mobil. Ia memiliki mobil Peugeot tahun 1947. Kami sering berjam-jam mengotak-atiknya.

Selama hampir 30 tahun sejak dinyatakan hilang pada usia 39 tahun, kerinduan kami sekeluarga kepada ayah bertambah kuat, di samping perasaan kecewa atas perlakuan terhadapnya dan anggota kru lainnya.

Dalam tahun 1974, arsip tentang X-11 ditutup karena, menurut para pejabat, adalah mustahil untuk mencapai reruntuhan pesawat dan mengevakuasi jenazah-jenazahnya. Pada waktu itu, mulai timbul niatku untuk mencari sendiri. Setelah begitu lama, begitulah pikiranku, ayahku harus mendapat tempat peristirahatan terakhir yang pantas. Untuk membiayai perjalanannya, aku dan anggota keluarga lainnya mengumpulkan sekitar 50.000 gulden dari kocek sendiri.

“Romo Pastur Jos,” aku bertanya di kantornya di kota Leiden, “Orang Papua itu sebetulnya bagaimana?” Muka misionaris mengguratkan senyuman. “Mereka adalah orang-orang yang ramah-tamah, suka membantu dan suka menerima tamu,” begitulah jawabnya.

Romo Pastur Jos Donkers lama hidup di antara orang-orang Papua di hutan belantara Irian Jaya, yang hingga tahun 1962 bernama Niugini Belanda, yang gelap. Akan tetapi, seluruh daerah sulit dilalui. Hujan yang terus-menerus mengguyur tanah rawa, ular, lintah, dan serangga lainnya adalah ancaman yang harus diwaspadai. Anda tidak bisa menemukan apapun yang dapat dimakan. Adalah niat yang gila untuk pergi ke sana sendirian.

Aku mengunjungi Tropen Museum di Amsterdam untuk mempelajari peta-peta Niugini. Bahkan di atas kertas, perjalanannya tampak mengesankan. Sebagai persiapan, aku latihan intensif selama dua minggu di Pulau Jawa. Aku mendaki gunung berapi sampai tidak kurang 25 kali, tidur di udara terbuka, dan melakukan percobaan untuk mengetahui berapa hari dapat bertahan tanpa makan.

Setelah itu, aku menentukan susunan bagasi di atas hamparan plastik, sebuah kantong untuk tidur, beberapa potong pakaian, sebilah parang, sebuah kompas, beberapa helai peta, dua buah velples, sebuah payung dan sebuah video kamera. Persediaan makananku terdiri dari biskuit kering, buah berkulit keras, satu blek bubuk glukosa dan beberapa blik ransum darurat.

Begitulah. Pada 25 Oktober 1989, aku mulai ekspedisi ke Timika, suatu kota kecil di pantai selatan Irian Jaya. Dengan bantuan seorang misionaris yang berdiam di sana, aku dipertemukan dengan seorang Papua yang pernah menjadi anggota suku yang berdiam di pegunungan yang tinggi. Ia menggambarkan rute menuju ke desanya yang dulu secara garis besar. Perjalanannya akan memakan waktu lebih kurang empat hari, berdasar taksirannya. Optimismenya ternyata jauh berbeda dengan kenyataan. Perjalananku memakan waktu jauh lebih lama dan penuh kejadian-kejadian yang menakutkan.

Hujan deras mengguyur pohon-pohon lebat yang tingginya mencapai 50 meter. Untunglah masih terdapat celah terbuka melalui mana dapat kubedakan siang dan malam. Satu-satunya alat yang membantu dan menjadi tumpuan harapan di dalam medan yang sangat tidak bersahabat, yaitu kompasku, seolah-olah menentangku dengan selalu menunjukkan arah ke pohon-pohon tumbang atau rawa-rawa yang dalam.

Kerumunan tawon hitam yang ditakuti mengelilingiku. Dari waktu ke waktu, tawon-tawon itu membuka serangan secara massal. Pakaianku nyaris tidak mampu memberi perlindungan. Tawon-tawon itu dapat menembus hampir semua bagian dari tubuhku untuk sekadar memberi sengatan tajam yang dapat menimbulkan infeksi yang parah.

Di belakang kawanan tawon menyusul pasukan lintah, mahluk-mahluk seperti monster sepanjang hampir 3 cm, yang menggigit kulitku dengan keras dan bahkan dapat masuk lewat lubang-lubang tali sepatuku dan melihat kaki-kakiku berdarah. Ular-ular piton sepanjang hampir tujuh meter disana-sini tampak bermalas-malasan pada sore hari. Ular-ular yang tanpa upaya menyambar dan melilit babi hutan yang lewat, dapat saja sekonyong-konyong berbuat yang sama terhadap pengembara hutan tanpa pertahanan diri seperti aku.

Tinggi di atas kepalaku, burung-burung cendrawasih mengantarkan perjalananku yang berat dengan kicauan-kicauan yang ramai. Pada malam hari, suara mereka yang gaduh ditingkahi oleh menggerisiknya ular, laba-laba, dan kalajengking, yang mengelilingi diriku bak musuh yang tak kasat mata. Aku berusaha untuk tidur sambil mengacuhkan luka-luka dan kaki yang bengkak.

Hutan belantara merupakan musuh tanpa ampun. Perjalanan empat hari tamsiran orang di Timika, bergema dibenakku ketika kuinjak hari kesepuluh.

Pada hari yang sama, hampir saja sebuah Lockheed Neptune milik AL Belanda ditembak jatuh oleh dua Hawker Hunter AU Belanda/Foto: vlucht door detijd

Sebenarnya, dipergokinya diriku oleh 15 orang penduduk bersenjata yang di luar dugaan muncul di depanku, lebih merupakan penyelamatan daripada ancaman. Orang-orang itu ramah-tamah, suka membantu, dan suka menerima tamu. Gambaran yang diberikan Romo Pastur Jos tentang orang Papua kuingat kembali, ketika di depanku orang-orang itu terlibat diskusi yang ramai. Dengan sisa kekuatan yang masih kumiliki, kedua telapak tanganku tetap kuletakkan di kudukku sebagai tanda menyerah. Akhirnya, seorang yang lebih tua mendekat secara hati-hati untuk memeriksa barang bawaanku.

Penasihatku seorang Papua di Timika, telah menitipkan sepucuk surat yang sederhana bagi orang yang dituakan di desa. “Orang baik”, begitulah kira-kira isi surat tersebut karena salah seorang penduduk bersenjata yang lebih tua tampak tersenyum dengan ramah. Yang lainnya mengubah arah acungan senjata dari diriku.

Salah seorang penduduk menguasai sedikit bahasa Melayu dan menjadi juru bahasa. Kuceritakan bahwa aku sedang mencari jenazah ayahku yang telah jatuh dengan pesawat di pegunungan Carstensz. Ia meneruskannya kepada pimpinannya, dan kembali kepadaku sambil berkata: “Pemimpin kami bilang bahwa kedatangan Anda disambut baik di desa ini dan bahwa Anda boleh menginap di sini.”

Orang-orang yang suka menerima tamu. Romo Pastur Jos benar. Jarang saya mendapat teman-teman begitu cepat seperti di desa ini. Orang-orang Papua memberikan segala macam perhatian. Dari dalam gubuk-gubuk yang mirip cendawan raksasa dan tersebar di bukit-bukit, mereka memberi senyum penuh persahabatan, setelah pemimpinnya memberitahukan bahwa aku orang baik.

Aku mengalami kejutan ketika foto reruntuhan X-11 yang kuperlihatkan untuk menjelaskan tujuan ekspedisi yang tidak biasa ini, membangkitkan ingatan beberapa penduduk. Pemimpin desa menunjuk ke arah pegunungan yang tampak menjulang ke langit di kejauhan.

Dua hari lamanya aku menjadi tamu orang-orang Papua yang riang gembira. Kekuatanku sudah pulih kembali untuk meneruskan perjalanan. Beberapa penduduk yang ramah-tamah bahkan mengiringi diriku selama beberapa hari.

Perlahan-lahan hutan belantara diganti oleh batu-batu karang yang tajam. Pemandangan di sekelilingku didominasi oleh arakan awan tipis dan panjang yang lewat di atasku dan ditiup oleh angin kencang dingin seperti es. Aku tidak dapat mengandalkan kompas lagi karena adanya endapan lapisan-lapisan logam di pegunungan itu. Aku terpaksa berlindung di bawah batu-batu yang menjorok selama berjam-jam sambil menunggu terangnya kembali penglihatan.

Tujuan akhir dari perjalananku tercapai 16 hari setelah berangkat dari Timika. Tampaknya seperti pemandangan di bulan yang menyeramkan, dikelilingi oleh dinding-dinding gunung raksasa yang menjulang tinggi dan menyeramkan. Di salah satu sisi pada ketinggian 4.100 meter tergeletak ekor Dakota yang berwarna kelabu dan dihiasi tanda kebangsaan AU Kerajaan Belanda merah-putih- biru yang menyala, diapit oleh nomor registrasi X-11. Itulah adegan yang selama bertahun-tahun menghantuiku.

Aku berkemah selama dua hari di antara horor sisa-sisa sedih X-11 yang hancur lebur. Di areal yang luas, kutemukan puing-puing terdiri dari sobekan aluminium yang dulunya merupakan badan pesawat, motor-motor pesawat yang hancur dengan baling-baling yang bengkok, sebuah sepatu, sebuah boneka, dan beberapa buah kaos kaki. Sama sekali tidak ada jasad para kru dan penumpang yang semula ingin kuberikan penghormatan terakhir di dalam kesunyian di pegunungan yang dahsyat ini. Apa yang telah terjadi dengan jasad mereka?

Aku dengar dari para pekerja tambang tembaga, tidak jauh dari reruntuhan pesawat, sekelompok mahasiswa Indonesia tahun 1981 telah mendahuluiku. Mungkin mereka dapat menjawab pertanyaanku.

Melalui kawan-kawan Indonesia di Bandung, aku bertemu dengan tiga orang. Mereka menceritakan bahwa proyek pendakian gunung universitasnya menugaskan mereka untuk mendaki pegunungan Carstensz pada 1981, ketika secara kebetulan mereka menemukan reruntuhan pesawat. “Tabrakannya begitu hebat,” kata salah seorang mahasiswa sambil menggigil sehingga reruntuhannya benar-benar tersebar di mana-mana.

Mereka berkemah selama kurang lebih sebulan dan setiap hari melakukan pencarian di sekitarnya. “Kami menemukan sepucuk Uzi, kereta bayi, beberapa potong pakaian dan sebuah buku catatan,” kata si mahasiswa. Buku catatan yang mereka temukan disimpan di universitas, ternyata milik ayahku.

Para mahasiswa telah mengumpulkan jasad-jasadnya dengan seksama, dimasukan ke dalam sebuah peti dan dikebumikan dengan khidmat di bawah tumpukkan batu. Aku mendapat sebuah foto dari kuburan itu. Setelah hampir 30 tahun, akhirnya aku mengetahui nasib yang dialami mendiang ayahku.

Dalam bulan Januari 1991, 14 bulan sesudah perjalananku yang penuh bahaya, AU Kerajaan Belanda dibawah tekanan untuk melakukan sesuatu mengenai X-11. Pihaknya mengizinkan ekspedisi yang terdiri dari lima orang untuk mengevakuasi jasad-jasadnya.

Aku mendapat izin untuk ikut serta. Kami diangkut dengan helikopter ke lokasi. Setelah mendirikan perkemahan, kami melakukan pemeriksaan yang seksama. Di bawah tumpukan batu seperti yang diperlihatkan oleh foto para mahasiswa, kami memang menemukan peti berisi jasad-jasad para kru dan penumpang. Bagiku merupakan saat yang sangat mengharukan dan memuaskan. Tugasku telah terlaksana. Ayah akhirnya akan pulang.

Tanggal 19 Februari, jasad-jasad para korban diangkut ke negeri Belanda. Tanggal 22 Maret dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Kehormatan di Loenen. Tinggi di pegunungan Carstensz, kini tinggal sejumlah reruntuhan dan prasasti yang menyebutkan nama para korban. Prasasti dibuat oleh anggota-anggota ekspedisi, yang mengenang bencana 29 tahun sebelumnya.

Harian Kompas tanggal 18 April 1981 memberitakan: “Pendakian Salju Khatulistiwa. Tim Mapala UI menemukan es Jayawijaya menyusut 200 m. Sisa pesawat DC-3 Belanda ditemukan.” Mengenai sisa pesawat selanjutnya diberitakan: “Reruntuhan DC-3.Tim pendakian ekspedisi telah melacak rute selatan Pegunungan Carstensz dan berhasil menemukan reruntuhan pesawat terbang DC-3 (maksudnya C-47-red) Dakota milik Belanda. Tim ini juga berhasil mendaki lagi puncak tertinggi Carstensz Pyramide (4.884 m), dengan menyertakan dua pendaki wanita, Karina Arifin dan Ita Budi.

Kelly dari TVRI Jakarta dibantu Arianto, berhasil merekam peristiwa penelitian, pendakian, dan penemuan reruntuhan pesawat dengan kamera 16 mm. Diharapkan hasil rekaman nanti menambah keterangan tentang hasil yang telah diperoleh Mapala UI.

Dari survei rute selama dua hari, akhirnya tim melalui rute selatan berhasil mendapati rute sebenarnya ke arah reruntuhan pesawat. “Waktu survei dua hari, pendakian yang benar hanya empat jam. Badan pesawat mulai pintu tengah sampai ekor boleh dikata utuh, lainnya berantakan,” kata Arianto. Diterangkan juga, pesawat menabrak dinding padas, lalu pecah, dan sisa badan pesawat terjerembab di atas teras batu ditutupi lumut.

Berhasil ditemukan beberapa tulang pinggul, tangan, serta sisa tempurung kepala manusia. Selain jaket penyelamat, gear box, dynamo wiper, helio-gram, mirror, segulung film positif 8 mm, dan beberapa temuan lainnya.

“Pesawatnya berwarna hijau loreng, masih kelihatan gambar bendera Belanda. Memang Atase Militer Kedubes Belanda, Brigjen J. Linzell, juga mengatakan hal yang sama. Mereka pernah memotret reruntuhan itu, kami pun banyak mendapat informasi darinya,” ujar Arianto lagi.

Harian yang sama dalam edisi 27 April 1981 menurunkan tulisan yang menceritakan bahwa reruntuhan pesawat C-47 Dakota ditemukan pertama kali oleh Norman Edwin pada tanggal 3 April 1981, pukul 10:30 WIT. “Setengah badan pesawat itu masih utuh, rupanya menabrak dinding selatan Carstensz lalu ambruk di teras,” tutur Kelly Saputro, juru kamera TVRI Jakarta yang mengikuti ekspedisi Mapala UI. “Bagian depannya mungkin hancur dan terlontar ke tempat lain.”

Pesawat Dakota itu milik Belanda, mendapat kecelakaan setelah melanggar dinding gunung tinggi saat terbang dari Merauke ke Biak pada masa konfrontasi Indonesia-Belanda tahun 1963. “Memang penemuan ini yang pertama kali, sedangkan pesawat udara yang ditemukan beberapa tim pendaki sebelumnya milik Amerika,” kata Kelly sambil menerangkan lagi, “Tahun 1944 ada pesawat Dakota kargo milik AU AS jatuh di komplek pegunungan Jayawijaya. Tak lama kemudian, Komisi Korban Perang AS sempat mendatangi dan membawa beberapa sisa tubuh korban untuk dimakamkan di negaranya.


Sumber :
(R.J. Salatun, ANGKASA N0.10 Juli 2002/Th. XII)
http://www.mapalaui.info/2006/07/18/mendaki-carstensz-demi-ayah/

milis sadagori (Setyabudhi)

Kredit Foto:
www.korean-war.com/images/KWAirc...C-47.jpg
matanews.com/wp-content/uploads/...TENZ.JPG
http://misteriintim.blogspot.com/2008/08/gunung-cartenz-jayawijaya.html


Mei 04, 2011


PANGKAL PINANG, - Mayoritas terumbu karang transplantasi di Teluk Limau, Bangka mati. Kematian diduga akibat tutupan sedimen yang berasal dari penambangan laut.

Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung (UBB) Indra Ambalika mengatakan, 100 terumbu karang transplantasi ditanam pada 2009.

"Pada pemantuan Oktober 2010 diketahui empat terumbu karang buatan itu mati. Terumbu karang itu tertutup lumpur. Sisanya terlihat masih hidup dan mulai menempel di konsentrat balok semen yang dirancang untuk terumbu karang transplantasi itu," ujarnya di Pangkal Pinang, Senin (2/5/2011).

Namun, tim UBB pesimis terhadap terumbu karang lain saat memantau lokasi pada Maret 2011. Saat itu ada 17 kapal hisap timah dan puluhan tambang apung beroperasi di sekitar lokasi transplantasi. Kami khawatir karena kapal-kapal hisap dan tambang apung itu membuang berton-ton lumpur limbah penambangan. Arus laut membawa lumpur ke lokasi penanaman terumbu karang, tuturnya.

"Kekhawatiran itu terbukti dalam pemantauan pada Minggu (1/5/2011). Hanya dua terumbu karang bertahan. Sementara 98 lain mati karena tertutup lumpur. Terumbu karang tidak bisa bertahan karena sedimen lumpur terlalu tinggi. Air terlalu keruh dan tidak cocok untuk pertumbuhan. Padahal, dulu lokasi itu kami pilih karena ekosistemnya masih mendukung. Setelah kapal hisap beroperasi, daya dukung ekosistem menyusut drastis," tuturnya.

Sementara Kepala Dinas Kelautan Kepulauan Bangka Belitung Sugianto mengatakan, hal itu dampak ketidakjelasan tata ruang di Bangka Belitung. "Peraturan tata ruang tidak kunjung selesai dibahas karena banyak faktor. Belum ada pembagian jelas suatu wilayah untuk apa. Jadi, terbuka kemungkinan semua wilayah dipakai untuk apa saja," tuturnya.

Pihaknya sudah membuat ketetapan penambangan harus beroperasi minimal 1,5 mil dari pantai. Wilayah dalam radius 1,5 mil itu dianggap tempat berkembang biak ikan. Selain itu, sebagian nelayan juga lebih aman bergerak dalam wilayah itu.

Namun, banyak penambangan beroperasi di dalam wilayah 1,5 mil itu. Tambang apung dengan jarak kurang dari 200 meter dari pantai bisa terlihat di hampir seluruh pantai di Pulau Bangka. Tambang apung akan lebih banyak lagi beroperasi bila ada kapal hisap atau kapal keruk di suatu pantai.

Sampai saat ini, PT Timah saja mengoperasikan 11 kapal keruk. Sementara mitra PT Timah mengoperasi 55 kapal hisap. Tidak di ketahui berapa jumlah kapal keruk dan kapal hisap yang dioperasikan pihak lain di perairan Bangka Belitung. Pasalnya, tidak ada data pasti.

Sumber : Kompas


Jambi - Kegiatan illegal logging di Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah mengikis kelestarian taman nasional Berbak (TNB) yang sebagian besar berada di daerah itu.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Desa (Fokmades) Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Arie Suriyanto, di Muarasabak, ibu kota Kabupaten Tanjabtim, Selasa.

Arie menjelaskan, kawasan membentang di dua kabupaten yakni Kabupaten Tanjabtim dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) dengan luas mencapai 162.700 hektar. Sementara, sekitar 139.000 hektar diantaranya berada dikawasan Tanjabtim.

"Diperkirakan kerusakan kawasan TNB di Tanjabtim mencapai 60 persen dari luas keseluruhan di daerah ini sejak 2001 silam," ujarnya.

Menurut dia, dari 60 kerusakan tersebut terbagi dalam beberapa jenis kerusakan. 40 persen diantaranya termasuk kategori sangat parah karena dinilai telah punah akibat ulah manusia melalui illegal logging dan perambahan liar. 20 persen termasuk kerusakan sedang dan ringan, sehingga bisa dilakukan peremajaan kawasan hutan melalui reboisasi.

Hanya saja, upaya reboisasi juga dinilai belum bisa mengembalikan kelestarian TNB dikawasan Tanjabtim seperti sediakala.

"Yang patut disayangkan, kegiatan illegal logging sangat tersistem dan mengindikasikan adanya keterlibatan oknum aparat hukum dan pemerintah daerah," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, hampir setiap hari puluhan kubik kayu hasil olahan yang bersumber di kawasan TNB keluar dari sejumlah anak sungai dan bermuara di sungai Batanghari.

"Setiap ada yang ditangkap itu hanya pelaku di lapangan. Sementara aktor intelektual dibalik kegiatan illegal itu belum terjamah. Ini harus menjadi catatan khusus bagi aparat hukum agar lebih tegas mengungkap kegiatan illegal logging di Jambi," ujarnya.

Dia menambahkan, meski sering diadakan razia di kawasan TNB yang melibatkan pihak kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, upaya tersebut tetap saja bocor dan tak jarang berbuah tangan kosong.

"Untuk itulah, perlu adanya upaya konkret dan menyeluruh. Harus ada niatan yang baik mulai dari pemerintah dan kepolisian, sebab, TNB merupakan salah satu warisan bagi anak cucu kita di masa depan," tambahnya.

TNB dengan luas 162.700 hektar memiliki potensi alam menjanjikan yang tidak dipunyai daerah lain.

Sebagai Taman Nasional, Berbak mempunyai ekosistem yang masih asli, serta keunikan ekosistem lahan basahnya yang merupakan satu kesatuan ekosistem hutan rawa gambut dengan luas dua pertiga bagian dan hutan rawa air tawar yang sepertiga bagian, serta adanya kawasan pantai yang merupakan kawasan persinggahan burung-burung migran ditiap tahunnya.

Sebagai kawasan konservasi lahan basah yang masih asli dan unik serta kepentingannya bagi dunia internasional, maka melalui Keppres No. 48 tahun 1991 kawasan ini dimasukkan kedalam kawasan konvensi Ramsar yaitu perlindungan lahan basah secara internasional.

Sebelumnya Berbak merupakan kawasan suaka marga satwa yang penetapannya dilakukan sejak tahun 1935 oleh pemerintah Belanda.

Sumber : ANTARA News

April 22, 2011

Oleh : Yusuf Yanuardi Wibowo


Pada 27 Juni – 3 Juli 2010 yg lalu saya dan 3 orang rekan melakukan perjalanan menuju gunung tertinggi di pulau Jawa, yaitu Gn. Semeru (3676 mdpl) dengan puncaknya yang dikenal dengan sebutan Mahameru. Selain sebagai salah satu syarat untuk mendapat nomor pokok anggota PPA Sadagori, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung yang selalu saya impikan untuk bisa saya taklukkan sambil membayangkan berada dititik tertinggi Pulau Jawa, pulau yang saya tinggali.

Dalam perjalanannya saya mendapati kejadian yang belum pernah saya alami sebelumnya, dimana salah satu anggota tim saya mengalami gejala Hipotermia. Saya sendiri bingung dan tidak tahu bagaimana cara penanggulangannya tapi beruntung salah satu anggota tim kami pernah menghadapi kondisi seperti itu sehingga langkah awal pertolongan pertama pada penderita pun dapat dilakukan.

Inilah yang saya ingin bagi kepada rekan – rekan tentang apa itu Hipotermia dan bagaimana pencegahan dan penanggulangannya, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika beraktifitas di alam bebas.

Pengertian

Hipotermia adalah kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan untuk mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh mencapai 35 derajat C atau dibawahnya tubuh manusia mampu mengatur suhup adazonater monetralyaituantara 36,5 – 37,5 derajat C, diluar suhu tersebut respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan suhu panas dalam tubuh.

Gejala dan Indikasi

Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan seperti biasa, seperti badan menggigil gemetaran. Bila tubuh basah maka serangan Hipotermia akan semakin cepat dan hebat. Puncak dari gejala Hipotermia adalah ketika korban tidak lagi merasa kedinginan malah merasa kepanasan (dalam buku Norman Edwin disebut “Paradoxical feeling of warmt”). Sehingga korban akan merasa kepanasan hingga membuka pakaiannya satu persatu walaupun suhu saat itu sangat dingin.

Hipotermia bergerak dengan pelan menyerang saraf, oleh karena itu korban tidak merasa kalo dia sudah menjadi korban Hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan harus selalu aware terhadap rekan satu timnya, apabila ada yang menunjukkan gejala yang tidak biasa maka kita harus waspada dan terus memperhatikan sambil menjaga kawan kita tetap sadar dan tidak bertambah parah.

Hipotermia juga dapat menimbulkan halusinasi pada penderitanya, sehingga dia seolah-olah melihat sesuatu dan terkadang mengejarnya. Kondisi halusinasi ini terkadang terjadi sebelum “paradoxical feeling of warmt” terjadi.

Pencegahan

Selama kita akan melakukan kegiatan di alam bebas selalu sediakan ponco atau rain coat khususnya ketika curah hujan sedang tinggi. Jaket dan pakaian – pakaian yang melindungi kita dari suhu dingin juga merupakan perlengkapan wajib yang harus selalu dibawa. Sarung tangan, kupluk/balaclava, sepatu pendakian yang menutup hingga mata kaki jugasangat penting, jangan pernah sekali – kali melakukan pendakian menggunakan sandal gunung atau bahkan sendal jepit. Usahakan untuk selalu menutup seluruh anggota tubuh khususnya ujungjari, telinga dan bagian-bagian yang banyak mengandung saraf reseptor.

Bawa makanan yang dapat menjadi kalori seperti gula jawa, kurma, coklat dll. Itu semua dapat dijadikan “cemilan” sambil jalan untuk mengganti energi yang hilang.

Jangan menunggu hingga hujan turun untuk memakai rain coat atau ponco, perhatikan selalu kondisi cuaca. Selalu usahakan agar pakaian kita tetap kering.

Jangan merasa ragu atau malu untuk berbicara kepada rekan seperjalanan atau team leader ketika kondisi tubuh kita mulai terasa kurang fit atau melemah.

Sumber :
Djuni.wordpress.com
Wikipedia.com
Dr. AryaYudhistira Sp. F

Maret 24, 2011



Sabtu terakhir pada bulan Maret 2011 akan diadakan kembali sebuah kegiatan global yang di organisir oleh WWF berupa pemadaman lampu dan alat-alat listrik yang tidak terpakai selama satu jam. Pada tahun ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 8.30 malam sampai 9.30 malam waktu lokal.

Earth Hour yang pertama kali terselenggara pada tahun 2007 ini telah memasuki tahun kelima dimana jumlah peserta di tahun 2011 ini 224 negara telah bersedia berpartisipasi mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang hanya diikuti oleh 126 negara. Ada peningkatan 77% dari tahun sebelumnya membuktikan bahwa kampanye ini semakin diterima oleh banyak negara di belahan dunia.

Pada tahun 2010 dilaporkan setelah mematikan lampu selama 1 jam telah berhasil menghemat konsumsi listrik sebanyak 811 megawatt untuk Jakarta dan Bali. Jakarta dan bali merupakan konsumen listrik terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 78% dari total seluruh konsumsi nasional.

Di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 90 juta warga Amerika Serikat berpartisipasi, termasuk Las Vegas, Empire State Building dan Air Terjun Niagara. Di Filipina 1.067 kota dan lebih dari 15 juta warga Filipina berpartisipasi, di Vietnam negara ini berhasil menghemat 500 megawatt pada tahun 2010 tersebut, tiga kali lebih besar ketika negara itu berpartisipasi pertama kali pada tahun 2009.

Dan..lebih dari 4000 kota diseluruh dunia ikut ambil bagian termasuk bangunan-bangunan terkenal seperti Big Ben, Empire State Building, Sydney Opera House, Menara Eiffel, Parthenon, Gerbang Brandenburg, dan Kota Terlarang.




Tahun ini tema yang diusung adalah "Setelah 1 jam, jadikanlah gaya hidup" ,pada kesempatan ini Gubernur Jakarta sangat mendukung program ini dan berharap hemat energi dapat diajdikan pola hidup kita kedepan.

"Earth Hour jangan dilihat sekadar matikan lampu, menghemat listrik, tetapi kita ingin melihat ini sebagai way of life. Menghemat energi sebagai bagian pola hidup kita ke depan," Fauzi Bowo kepada Antara

Menurut WWF-Indonesia, jika 10% warga Jakarta berpartisipasi, maka Jakarta akan menghemat konsumsi listrik sebesar 300 Mwh selama satu jam. Jumlah tersebut setara dengan mematikan satu pembangkit listrik dan dapat menyalakan sekitar 900 desa serta mengurangi emisi karbon setara dengan 267,3 ton, menghemat lebih dari 267 pohon, oksigen untuk lebih dari 535 orang dan menghemat biaya sebesar 200juta.

Pada tahun 2010 perayaan earth Hour di Jakarta dipusatkan di taman Monas Jakarta Pusat, dan Pemrpov DKI memadamkan lima ikon kota lainnya yaitu Bundaran HI dan air mancurnya, Monas dan air mancur menarinya, Gedung Balaikota, Patung Pemuda, dan Air Mancur Patung Arjuna Wijaya (depan gedung Depbudpar). Selain itu dilakukan aksi dibeberapa kota lainnya seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Sayangnya di Bandung, solidaritas Earth Hour 2010 kurang tampak, seperti yang ditulis oleh Kompas




WWF-Indonesia menjelaskan tujuan Earth Hour 2011 adalah untuk melanjutkan target efisiensi energi dan perubahan gaya hidup di kota-kota besar di dunia dengan konsumsi listrik tinggi, dan berusaha mengaitkannya dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang lebih bersih dan berdampak minimal pada lingkungan.

Pada intinya, kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti: menggunakan kendaraan umum atau bersepeda untuk bepergian, hemat air, menanam pohon, dan lain-lain

Dalam jangka panjang, diharapkan Earth Hour mengangkat dan memancing semangat kepemimpinan di semua sektor agar bisa diadaptasi oleh pemerintahan dan korporasi di negara-negara partisipan untuk secara signifikan memasukkan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai bagian dari kebijakan yang mereka miliki supaya penurunan emisi gas rumah kaca bisa dilakukan secara komprehensif.

Jadi Earth Hour tidak bisa berhenti di 1 jam saja, melainkan diharapkan bisa diadaptasi oleh pemerintahan di negara-negara partisipan dan publik yang telah berkomitmen menjadi partisipan.

Harapan lainnya adalah untuk menjadikan hemat energi menjadi suatu gaya hidup di masyarakat dunia. Solidaritas tiap kota merupakan salah satu faktor yang menyebabkan partisipan Earth Hour terus bertambah. Dan terakhir sekedar mengingatkan..."sisakan" energi untuk anak cucu kita...

sumber : wikipedia, wwf, kompas

Maret 23, 2011


Hari Air Sedunia (World Water Day) diinisiasi oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 pada tanggal 22 Maret akan diperingati dan dilaksanakan oleh seluruh anggota PBB sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day). Peringatan ini diumumkan pada Sidang Umum PBB ke 47 pada tanggal 22 Desember 1992 dan setiap negara anggota PBB berkewajiban dan berkomitmen untuk berpartisipasi pada peringatan tersebut.





Peringatan ini ditujukan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Peringatan tiap tahun ini biasanya mempunyai tema, seperti pada tahun 2009 temanya adalah "Shared Water, Shared Opportunities, tahun 2010 bertema "Clean Water for a Healty World" dan untuk tahun ini 2011 bertema "Water for Cities:Responding To The Urban Challenge"

Indonesia, berdasarkan data dunia memiliki 6 persen ketersediaan air dunia. Apakah jumlah ini besar? Seperti kita ketahui, bumi kita ini terdiri dari 70% air dengan jumlah sekitar 1,4 ribu juta kilometer kubik. Angka yang sangat besar, sayangnya yang bisa benar-benar dimanfaatkan hanya sekitar 0,003 persen saja. Dan 6 % dari dari angka tersebut berada di Indoensia.

Seperti yang dikutip dari Kompas, berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2010 baru 36,6 persen penduduk Indonesia yang benar-benar bisa mengakses air bersih secara optimal, yakni minimal 100 liter per orang per hari. Secara nasional, penduduk yang kesulitan air bersih (di bawah 20 liter per orang sehari) jumlahnya berkurang dari 16,2 persen jadi 14 persen.

Namun, lima provinsi kondisinya berkebalikan, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Gorontalo, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah. DKI Jakarta— ibu kota negara—justru yang terparah. Pertambahan penduduk yang kekurangan air bersih (2007-2010) mencapai 11 persen. Ancaman penyakit akibat infeksi pencernaan, seperti diare, muntaber, tifus, dan kolera, kerap muncul.





Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih.

Tidak mengherankan jika ketersediaan air bersih menjadi menjadi masalah utama. Misalkan yang terjadi di Afrika 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan negara, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Sumber : wikipedia

Maret 22, 2011

Maret 09, 2011

Salam Alam...

Saya menerima surat ini di milling list gpid - volunteers , dan atas ijin dari Morgan Adrian, saya mempublikasikannya di Sida Acuta. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang terjadi di Belitung, dan tulisan ini adalah suatu penyataan sikap dari warga belitung yang diwakili oleh saudara Morgan Adrian.

Tidak ada tendensi lain selain menyuarakan apa yang terjadi di Belitung...


oleh Morgan Adrian

Masyarakat Belitung Menolak Proyek DOLPHIN ISLAND dan KAPAL ISAP di Perairan Kulauan Belitung

Belitung, 25 February 2011

Belitung, Propinsi Babel dikenal sebagai Pulau yang indah panorama dengan Panorama baharinya, namun sangat Disayangkan Pulau ini penuh dengan Bekas Tambang Berupa ’kolong-kolong’ dan lahan ex-tambang ...yang tidak terurus secara kasat mata dapat disaksikan dari udara. Menurut Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun Anggaran (TA) 2007 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pengendalian Kerusakan Pertambangan Umum Dan Penerimaan Royalti Tahun 2003 – 2007 di Bangka Belitung, diperkirakan lahan bekas pertambangan yang belum direklamasi sekurang-kurangnya mencapai 10.544, 95 ha. Dengan luas pulau Belitung yang hanya 480.010 hektar, lahan dan kolong ex-tambang yang belum direklamasi merupakan permasalahan serius terkait dengan kelestarian lingkungan hidup dan kelangsungan hidup masyarakat.

ilustrasi Pulau Belitung

Namun ironisnya di tengah gencar-gencarnya Belitung berupaya mempromosikan diri sebagai destinasi baru pariwisata nasional bahkan internasional, bukannya mereklamasi ribuan ha lahan kritis bekas tambang dan mengoptimalisasikan ratusan pulau-pulau/pantai alam tak terurus yang potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata namun nir-infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Belitung justru melakukan reklamasi 4.237 ha kawasan perairan Tanjungpendam dan sekitarnya, kawasan pesisir kuasa penambangan PT Timah yang sudah direklamasi beberapa waktu lalu menggunakan Kapal Hisap, dalam mega-proyek pulau buatan bernilai investasi Rp 3 Trilyun yang dinamakan Dolphin Island. Berdasarkan Memorandum of Understanding (MOU) yang sudah dilakukan pada akhir tahun 2010 lalu, Bupati Kab. Belitung akan menyerahkan investasi dan pembangunan proyek tersebut kepada PT Mekar Mulia Mandiri, perseroan baru berdiri tahun 2009.

Dolphin Island adalah rencana pemerintah Kabupaten Belitung untuk ‘membuat’ sebuah pulau, konon akan dijadikan sebagai kawasan wisata baru yang akan dibangun dengan menghisap material dasar laut dari kawasan perairan seluas 4.237 ha menggunakan 5 kapal hisap di sepanjang Pesisir Desa Juru Sebrang, Pantai Tanjung Pendam, Air Saga, hingga ke Batu Itam. Diatasnya akan dibangun lapangan golf, mall, fasilitas olah raga, dan sebagainya. Jika diasumsikan pengerukan sejauh kurang lebih 4-6 km ke arah laut maka panjang pesisir yang akan dikeruk sekitar 7-11 km selama kurun waktu 5 tahun yang direncanakan.

Pembangunan proyek pulau buatan Dolphin island di kawasan Pantai Tanjungpendam dan sekitarnya sebagai konsep pengembangan kawasan wisata bahari di Kabupaten Belitung patutlah dipertanyakan. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Tim Program Magister Ilmu Geografi Universitas Indonesia beberapa waktu lalu dan sempat dipresentasikan di Badan Pengembangan Daerah Kabupaten Belitung, bahwa kawasan pesisir-pesisir tesebut adalah kawasan yang mempunyai tingkat kesesuaian yang rendah untuk dikembangkan sebagaimana diatur dalam Keputusan Dirjen Pariwisata Nomor : Kep-17/U/II/1988 yang didasarkan analisis terhadap variabel perairan, variabel fisik pantai, serta variabel sosial ekonomi masyarakat, dikarenakan mempunyai penduduk yang padat yang merupakan perkotaan (Tanjung Pandan), serta bahan dasar lautnya berlumpur dengan arus dan gelombang yang cukup kuat. Bahkan beberapa kawasan pantai seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi

Penggunaan kapal hisap dengan alasan reklamasi menunjukkan rendahnya komitmen otoritas Kabupaten Belitung khususnya dan Pemprov Babel terhadap kelestarian lingkungan hidup daerahnya. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Laboratorium Perikanan FPBB Universitas Bangka Belitung dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), pengoperasian kapal hisap di peraritan Bangka telah membuat kerusakan parah di ekosistem terumbu karang (coral reef) di sejumlah perairan Kepulauan Bangka.

Degradasi terumbu karang (coral reef) yang parah ini berdampak pada turunnya produksi perikanan tangkap, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Berdasarkan penelitian Walhi Simpul Babel, pengoperasian Kapal Hisap di desa Permis, Rajik dan Sebagin (Bangka selatan), telah mengakibatkan penurunan 80% (Rp 300.000/sekali melaut) pendapatan nelayan di sekitar perairan tersebut. Proyek Dophin Island dikatakan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, namun kalau berpotensi menghilangkan pendapatan ratusan Nelayan di sekitar perairan sebesar Rp 300.000/sekali melaut selama minimal 5 tahun, di manakah letak kesejahteraannya?

Berdasarkan Pasal MOU yang ditandatangani oleh Bupati Kab. Belitung, Darmanshay Hussein dan perwakilan PT Mekar Mulia Mandiri, disebutkan bahwa kandungan mineral yang didapatkan dari reklamasi akan manjadi kepemilikan PT MMM. Hal ini menunjukkan adanya motivasi penambangan Timah di balik proyek reklamasi pesisir dan pariwisata sebagaimana yang sering disampaikan kepada publik oleh pihak Bupati dan Pemkab Belitung. Apabila memakai skema perhitungan yang digunakan oleh Pemerintah Kota Pangkal Pinang dalam proyek yang hampir serupa yaitu Water Front City di pantai Pasir Padi Bangka, maka diperkirakan bahwa reklamasi proyek Doplhin Island berpotensi menghasilkan 34. batang timah dengan kapitalisasi kurang lebih sebesar Rp 4 Trilyun dibandingkan dengan nilai investasinya sebesar Rp 3 trilun.

Berbagai misteri dan ketertutupan proses pembangunan Dolphin Island telah menimbulkan keresahan dan pertanyaan di dalam masyarakat Belitung bahwa proyek Dolphin Island adalah proyek penambangan timah berkedok reklamasi dan pariwisata. Untuk itu 42 RT/RW masyarakat di pesisir proyek DI yang terkena dampak langsung, masyarakat Belitung di perantauan dan berbagai LSM seperti LIRA dan Walhi simpul Sumatra Selatn telah menyatakan penolakan terhadap proyek Dolphin island dan kapal hisap di perairan Belitung. Bahkan tanpa sepengetahuan dan keterlibatan masyarakat sebagaimana dijamin oleh Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, proses AMDAL dan ijin prinsip pengoperasian kapal hisap sudah diam-diam berlangsung. Bupati dan jajaran Pemkab Belitung telah nyata melanggar UU Np.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ketidak-transparanan proses proyek Dolphin Island ini sekalipun tidak menggunakan APBN/APBD berpotensi tereksploitasinya kekayaan alam negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Atas kenyataan tersebut, masyarakat belitung yang concern menyatakan :
1. MENOLAK TANPA SYARAT PROYEK DOLPHIN ISLAND DAN KAPAL HISAP DI KABUPATEN BELITUNG. Dan mendesak Bupati Kab, Belitung, Darmansyah Hussein dan DPRD Kabupaten Belitung untuk segera membatalkan MOU dengan PT Mekar Mulia Mandiri dan menghentikan segala proses izin yang sedang berlangsung.
2. Mendesak Presiden SBY, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kelautan, Komisi II, Komisi IV, Komisi VII, Komisi X DPR RI, Gubernur dan DPRD Provinsi Bangka Belitung untuk melakukan intervensi menghentikan segala proses dan izin yang tengah berlangsung untuk proyek Dolphin Island.

Rapat Akbar Warga Belitung Tolak Pembangunan Dolphin Island

BELITUNG - Rapat akbar dihadiri lebih dari 1000 warga Belitung untuk menolak proyek pembangunan Dophin Island. Rapat akbar ini sekaligus menolak kehadiran kapal isap di perariran Belitung.

Rapat akbar digelar di halaman Gedung Nasional Tanjungpandan, Belitung, Sabtu (26/2/2011). 13 orator bergantian berorasi membakar semangat warga.

Sebelum aksi berakhir, perwakilan warga yang datang dari seluruh pesisir Kabupaten Belitung diminta membubuhkan tandatangan di atas sehelai kain putih sepanjang sekitar 20 meter. Tanda tangan tersebut sebagai bentuk kebulatan tekad menolak proyek Dolphin Island dan kehadiran Kapal Isap di peraiaran Kabupaten Belitung.

"Kepada seluruh warga yang hadir di Gedung nasional ini dipersilahkan menuliskan tandatangan di atas kain putih yang ada di depan saudara. Tandatangan ini akan kami bawa ke pusat sebagai bukti penolkan masyarakat Belitung terhadap Dolphin Island.

Mendengar ajakan Idil tersebut beberapa warga yang belum sempat membubuhkan tandatangan bergegas menghampiri kain yang dibentangkan di halaman Genas di depan panggung orasi. Kain sepanjang kurang lebih dua meter tersebut akhirnya penuh dengan tandatangan dan kesab pesan warga.
"Pertemuan ini bukan yang terakhir, tapi ini adalah awal kebangkitan masyarakat Belitung untuk lebih perduli terhadap lingkungan di Pulau Belitung ini.

kreadit foto : berita unik

Maret 07, 2011


Masyarakat yang masih menganggap luhur nilai kearifan tradisional, yang selalalu mengedepankan kesetimbangan antara kebutuhan mental spiritual dan fisik material.

Keseimbangan mereka terapkan pada setiap orang dan harus dilakukan setiap hari, Cinta kepada Pencipta, cinta pada Alam lingkungan dan cinta pada sesama manusia.Walaupun masyarakat adat ini telah berinteraksi dengan masyarakat luar adat mereka selama 150 tahun, tetapi tetap setia pada nilai kearifan tradisional yang mereka anut.

Filosofi cinta mereka kepada pencipta yaitu dengan ngabaratapakeun – ngabaratanghikeun (meng hayati dan mengamalkan) titipan dari Adam Tunggal; yaitu dengan mengadakan beberapa upacara adat ritual yang mengakui eksistensi keberadaan sang pencipta. Cinta kepada lingkungan Dengan pemahaman filosofi “ Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang di sambung “ (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, yang dianut oleh masyarakat adat Baduy, arti dari filosofi tersebut lebih mengingatkan pada manusia untuk tidak melawan hukum alam dan selalu tunduk dan bertasbih sebagaimana mahluk tuhan lain dan jagat raya, dan melalui upaya menjaga kelestarian lingkungan alamnya.

Homo hominus socius bukan hanya jargon semata tapi istilah ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, dengan selalu menjalin hubungan silaturahmi, menjauhi sifat kekerasan. Bahkan bila hutan larangan mereka dirusak oleh masyarakat di luar masyarakat adat masyarakat Baduy ini tidak main hakim sendiri, mereka melaporkan hal ini pada pihak pemerintah (Pengurus Kabupaten setempat) alangkah malunya masyarakat kota yang konon katanya terpelajar dan beradab, tetapi dalam kenyataannya masih ada yang kurang ajar dan tak biadab.

Keasrian dan keindahan alam baduy dilengkapi pila oleh rasa kebersamaan mereka, bila kita masuk ke daerah baduy dalam sepanjang jalan antara kempung ada beberapa rumah yang terletak diluar perkampunyan, manakala kita masuk ke halaman rumah tersebut di amben (teras rumah bamboo) kita akan menemukan buah2an dan kendi yang berisi air dan itu boleh dimakan oleh siapapun yang lewat dan memerlukan itu. Alangkah luhurnya budi mereka yang selalu menanamkan rasa kasih, sayang dan hormat pada sesama mahluk Allah…

Nu keur sono jarambah . . .

# Deni Rahadian 06032011- 22 : 25 #

Maret 04, 2011


oleh Bayu Bharuna

I decided that adventure was the best way to learn about writing. - Lloyd Alexander

Membaca selembar demi selembar catatan perjalanan Ibnu Battuta akan terasa ada kedekatan didalam hati dibandingkan membaca cerita para penjelajah lainnya. Antara lain karena catatannya merupakan yang pertama dalam mengulas keberadaan Kerajaan Islam pertama di nusantara yaitu Samudera Pasai. Kala sampai di Aceh pada tahun 1345 Ibnu Batuta melukiskan Samudra Pasai sebagai negeri yang hijau dengan kota pelabuhan yang besar dan indah. Penguasa kerajaan adalah Sultan Mahmud Malik al-Zahir yang dinilainya berpengetahuan luas dan memerintah dengan baik. Ia juga sempat menyinggung mengenai kerajaan Majapahit di Jawa.

Meski kepulauan nusantara telah lama dikenal oleh para geograf Arab, baru Ibnu Battuta yang menuliskan hasil kunjungannya kala itu, sehingga kisah perjalanannya lebih penting dari sudut sejarah. Bahkan ia mungkin satu-satunya pengelana yang menulis perjalanannya di seluruh dunia Islam di zaman Klasik.

Walau terkadang penulis dari Barat menggambarkan Ibnu Battuta sebagai pengelana gagah berani yang kerap mempertaruhkan nyawa menuju terra incognita, sebenarnya ia lebih mirip ulama yang selalu berkelana sambil memberikan pelayanan keilmuannya. Ia bukanlah seperti para pionir dari Eropa yang datang dengan kapal perang. Alih-alih ia merupakan cendikiawan yang setia terhadap nilai-nilai spiritual, moral dan sosial diatas ketaatan lainnya.

Pada tahun 1325 saat berusia 21 tahun Ibn Battuta memulai pernjelajahannya dengan mengarungi lautan dan menjelajah daratan sepanjang 117.000 kilometer. Ia menjelajahi Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, jazirah Arab, India, Asia Tenggara hingga Cina. Petualangannya yang terakhir adalah safari melintasi gurun Sahara menuju kerajaan Mali dengan rombongan unta. Setelah petualangannya yang terakhir tahun 1355 ia kembali untuk menetap di tanah kelahirannya di Maroko untuk melayani tugas kerajaan dalam bidang peradilan dengan jabatan terakhir sebagai pejabat kehakiman di sebuah provinsi. Sang maestro meninggal pada tahun 1363 meninggalkan kelautan ilmu yang luas.

Karena Ibnu Battuta bukan seorang ahli seni sastra, ia dibantu oleh Ibnu Juzayy dalam menyiapkan sebuah laporan perjalanan mengenai pengalaman-pengalamannya, untuk disajikan demi kesenangan Kerajaan Maroko. Penguasa Maroko sendirilah yaitu Sultan Abu ‘Inan yang secara pribadi meminta Ibnu Battuta menuliskan cerita-ceritanya. Ibnu Juzayy menyusun laporan perjalanan Ibnu Battuta dalam suatu bentuk karya sastra yang baik, sesuai standar kesusasteraan sebuah rihla.

Karya sastra rihla merupakan laporan perjalanan yang dipusatkan pada perjalanan ke Mekah. Sebagai suatu jenis sastra Arab, rihla merupakan karya yang populer di Afrika Utara antara abad ke-12 hingga abad ke-14. Rihla bukanlah sebuah buku harian atau suatu himpunan catatan harian sesuai kronologis perjalanan, sehingga amat berbeda dengan catatan perjalanan terkenal lainnya seperti Book of Marcopolo. Kadang dituangkan dalam bentuk syair, mengungkap hal-hal yang aneh dan kesimpulan-kesimpulan retoris. Laporan perjalanan itu dituangkan ke dalam suatu kisah yang menghibur dan memberi kenikmatan bagi telinga dan mata.

Laporan perjalanan ini lebih menyerupai karya sastra, sebagian berupa riwayat hidup dan sebagian merupakan ikhtisar yang ditulis pada akhir riwayat pekerjaannya. Penyusunan rihla ini sendiri baru dilakukan setelah Ibnu Battuta kembali dari petualangan-petualangannya dan menetap di tanah kelahirannya. Karena bentuk sastranya, dapat dipahami bila dalam rihla yang ditulis jauh setelah petualangannya selesai itu memiliki beberapa keraguan, kekeliruan dan terkadang memaksakan sikap kritis pembaca. Namun walau terhalang oleh kabut, dengan mempelajari secara lebih seksama para sejarawan akan dapat menarik ketepatan yang mengagumkan secara keseluruhan.

Tulisannya tak akan seperti catatan perjalanan lain yang mencatat hanya risalah geografi empiris, namun rihla secara keseluruhan menggambarkan kepribadian sang musafir, merekam budaya kosmopolitan sebuah peradaban, kesalehan yang terjaga dan keilmuan yang terang benderang. Perjalanan-perjalanannya memperlihatkan betapa luasnya dunia Islam di abad tersebut, dan ia dengan penuh kerendahan hati memperlihatkan sikap setianya terhadap nilai-nilai universal, moral dan sosialnya sebagai warga Dar al-Islam.

Sesuatu yang lain bisa dipelajari dari rihla karya Ibnu Battuta selain pengembaraannya itu sendiri, adalah bahwa sebagai pengelana seseorang tak terlepas dari pribadinya sendiri. Ia datang dari sebuah tempat yang jauh, latar belakang yang berbeda, pola pikir yang berlainan dan ide-ide yang tak sama. Menjadi menakjubkan bila perjumpaannya dengan pengalaman-pengalaman baru di tempat yang asing kemudian dapat diramu dalam sebuah “kisah yang menghibur dan memberi kenikmatan bagi telinga dan mata” tanpa ada tendensi apapun.
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff